Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 71. Baby R


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Anna dan Fania segera menyerbu masuk ke dalam ruangan itu. Mereka tersenyum bahagia melihat Amayra dan bayinya selamat dari kecelakaan itu dalam keadaan baik-baik saja. Malah Amayra sedang duduk di kursi roda sambil menyusui anaknya.


Fania menghampiri Amayra dan anaknya, matanya berbinar-binar bahagia.


"Anna, kamu sudah datang?" Sambut Cakra pada cucunya yang baru saja tiba dari luar negeri.


"Iya opa, aku naik pesawat dari kemarin dan akhirnya baru sampai sekarang deh. Mana sepupuku yang lucu, aku mau lihat!" Anna bersemangat ingin melihat keponakannya.


"Baby boy nya disini, An." Ucap Nilam sambil melihat ke arah bayi yang sedang digendong oleh Amayra.


Anna tersenyum cerah, dia memegang pipi bayi itu. Tiba-tiba saja Anna duduk berlutut di depan Amayra, gadis itu meneteskan air mata. "Anna, kamu kenapa?" tanya Amayra heran melihat Anna seperti itu.


"Aku gak apa-apa, terimakasih sudah selamat ya May, terimakasih dan selamat datang ke dunia ya malaikat kecilnya kakak," Anna menangis, tangannya mengelus pipi lembut bayi yang baru lahir itu. Dia masih sulit memanggil Amayra dengan sebutan Tante.


Anna masih terjebak rasa bersalahnya, Amayra harus melahirkan di usia muda. Bahkan dia melahirkan bayinya secara prematur dan hampir kehilangan nyawanya, tapi dia tidak mengutarakan rasa bersalahnya. Dia hanya bisa menangis sambil tersenyum tipis ketika melihat bayi kecil itu.


"May, bayi kamu tampan dan menggemaskan! Tapi apa bayi kamu sudah diberi nama?" tanya Fania penasaran.


"Namanya Reyndra Aqmar Calabria," jawab Satria yang sudah berdiri di depan ruangan itu.


Semua orang disana menatap ke arah Satria, pria berjas dokter yang tampak rapi itu. Satria menghampiri istrinya yang baru selesai menyusui si bayi.


"Oh berarti baby R ya?" Fania tersenyum mendengar nama itu. Nama yang indah untuk baby R.


"Iya, aku dan kak Satria sudah memikirkan nama ini dari jauh-jauh hari. Reyndra artinya cerdas, beruntung, Aqmar dalam bahasa Arab artinya cemerlang, kami ingin anak ini memiliki kecerdasan dan masa depan yang cemerlang," Amayra menjelaskan arti nama bayinya, dia menatap baby R dengan penuh kasih sayang.


"Nama yang bagus Satria, Amayra," ucap Nilam setuju dengan nama yang diberikan Satria dan Amayra pada baby R.


"Ya, semoga anak ini menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua, pintar dan cemerlang," ucap Cakra sambil mengelus kepala baby R dengan lembut.


"Aamiin," jawab Harun.


"Alhamdulillah kalau ayah, mama dan papa setuju," Amayra tersenyum lembut. Dia melihat bayinya yang tertidur pulas setelah meminum air susu ibunya.

__ADS_1


Nilam ingin sekali menggendong baby R cucu laki-laki pertamanya dari Bram, tapi sayangnya tangan Nilam masih kaku untuk menggendong bayi itu. Mulutnya sudah mulai kembali normal. Keadaan Amayra yang belum pulih dari operasi sesar nya, membuat Amayra harus kembali ke ruangannya dan meninggalkan baby R disana. Baby R masih dalam pemantauan dokter.


Anna,Fania dan Harun mengantar Amayra kembali ke ruangannya untuk beristirahat. Sementara Satria berkata bahwa masih ada yang harus dia kerjakan, karena dia sudah kembali dalam masa bertugas.


"Lho, kenapa kamu masih ada disini? Bukannya kamu ada pekerjaan?" tanya Cakra sambil mendorong kursi roda tempat Nilam duduk. Dia heran karena Satria masih berada disana.


"Pa, ma, ada yang ingin Satria bicarakan pada mama dan papa," ucap Satria dengan wajah tegang, matanya menatap Cakra dan Nilam dalam-dalam.


"Ada apa Satria?" tanya Cakra pada anak bungsunya itu.


"Ini soal kak Bram, tapi sebaiknya kita tidak bicara disini. Pa, ma, kita bicara di ruangan Satria," jelas Satria secara singkat.


Melihat raut wajah Satria, membuat Nilam dan Cakra was-was. Apa kira-kira yang akan disampaikan Satria pada mereka? Ini seperti nya bukan berita yang baik? Tentang Bram? Kenapa dengan Bram?


Cakra dan Nilam mengikuti Satria ke ruangannya. Mereka berbicara serius disana bersama dokter Daniel yang merawat Bram juga.


Daniel menjelaskan kondisi Bram pada kedua orang tuanya, dia mengatakan bahwa Bram mengalami kerusakan otak akibat kecelakaan yang mengharuskan kepalanya di operasi.


"Astagfirullahaladzim, lalu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan Bram?" Cakra terkejut karena mengetahui anaknya sakit parah.


Nilam langsung lemas mendengar putranya harus dioperasi. Apalagi setelah Daniel menjelaskan lebih detail pasca operasi itu dilakukan, Bram mungkin akan mengalami kebutaan atau mungkin kehilangan sebagian ingatannya.


"Pa, apa yang harus kita lakukan pa?" Nilam menangis dan memegang tangan sang suami, dia sedih merayapi nasib Bram.


Nilam sadar bahwa musibah yang datang bertubi-tubi padanya dan Bram ini mungkin balasan dari yang kuasa, atas apa yang pernah mereka lakukan pada Amayra dan anaknya.


"Bagaimana jawaban Bram? Apa dia setuju untuk operasi?" tanya Cakra pada Satria dan Daniel.


"Kak Bram tidak mau melakukan operasi," jawab Satria dengan kepala menggeleng lemah.


"Apa? Dia tidak mau?" tanya Nilam tercengang.


"Pak Bram menolak untuk operasi, maka dari itu saya mohon kepada ibu dan bapak untuk membujuk pak Bram untuk melakukan operasi," Daniel meminta pada Cakra dan Nilam untuk membujuk Bram melakukan operasi.


Ketika mereka berada ditengah obrolan, pintu ruangan itu di buka oleh seseorang.

__ADS_1


"Suster Arini, ada apa?" tanya Satria tegas menatap ke arah suster itu.


"Permisi dokter Daniel, dokter Satria, mohon maaf saya masuk tanpa pemberitahuan lebih dulu. Saya hanya ingin memberitahukan pada dokter kalau pasien bernama Bramastya menghilang dari kamarnya," ucap seorang suster.


"Menghilang?"


Cakra, Nilam dan Satria tercengang mendengar pemberitahuan dari suster Arini, bahwa Bram tidak akan dilamarnya.


...****...


Di dalam ruang rawat Amayra, Anna dan Fania sedang sibuk menyuapi Amayra makan, wanita itu belum makan apa-apa sejak kemarin karena dia beristirahat total.


"Ayo May, makan dulu ya," Fania menyodorkan sendok berisi nasi dan sayuran untuk Amayra.


"Iya, aku bisa makan sendiri kok. Gak apa-apa," ucap Amayra tak enak disuapi oleh Fania.


"Gak apa-apa, aku mau suapi kamu!" Fania kekeh ingin memberikan kasih sayang nya pada Amayra. Amayra mengangguk setuju, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima.


Fania dengan senang hati menyuapi Amayra, Anna juga membantu Fania menyuapi Amayra sambil mengajak wanita itu mengobrol. Amayra sangat bahagia karena dia memiliki teman-teman yang sangat baik kepadanya.


Setelah melihat anaknya selesai makan dan minum obat, Harun pamit pulang karena dia harus kembali bekerja. Harun berkata bahwa dia akan mengunjungi Amayra dan cucunya nanti. Tak lama setelah Harun pergi, Bram masuk ke dalam kamar Amayra dengan kondisi yang tidak baik dan menggendong baby R.


Dibelakangnya ada suster dan petugas medis yang mengikutinya. Dia meminta agar Bram mengembalikan bayi yang masih dalam perawatan itu ke ruang inkubator.


"Pak Bram, kenapa anda membawa Reyndra?" tanya Amayra terkejut melihat pria itu berjalan dengan kaki gemetar sambil menggendong baby R.


"Oh, jadi namanya Reyndra? Nama yang bagus, tapi aku tidak suka nama itu," Bram tersenyum sinis pada Amayra dan membuat wanita yang baru melahirkan itu takut melihat perangai Bram.


"Om Bram?" Anna terpana melihat om nya berdiri dengan wajah pucat sambil menggendong bayi.


"Pak! Tolong kembalikan bayi itu ke tempatnya, bayi itu masih membutuhkan perawatan!" Seru suster pada Bram memohon. Dia menatap Bram dan baby R dengan cemas.


Bram menatap tajam ke arah Amayra, entah apa yang akan dia lakukan dengan membawa baby R bersamanya.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2