
...🍁🍁🍁...
"Fania?" sambut Amayra pada temannya itu.
Kenapa Fania bisa sama kak Bima ya?
"Hai May," Fania tidak berani menatap ke arah Amayra, dia terlihat malu.
"Temannya Mayra ya? Ayo masuk, silahkan duduk dulu." Nilam juga menyambut ramah Fania yang dikenali sebagai teman Amayra.
"Iya, makasih Tante." Fania melangkah masuk dengan malu-malu, dia duduk di sofa yang ada disana. Bima juga duduk disampingnya, Fania semakin malu-malu apalagi ketika Amayra dan Nilam menatapnya dengan heran.
Kenapa Bima nempel nempel sama temannya Amayra?. Nilam bertanya-tanya dalam hatinya.
Ada apa dengan suasana ini? Kenapa kak Bima begitu?. Amayra juga mempertanyakan hal yang sama.
"Ma, mana papa?" Tanya Bima pada Nilam dengan wajah serius.
Nilam berkata, "Papa kamu, dia ada di-"
"Papa disini Bim, ada apa?" Pertanyaan Cakra membuat ucapan Nilam terpotong. Pria paruh baya itu sedang menuruni tangga.
"Dewi! Buatin minuman buat dua orang ya!" Teriak Nilam pada pembantunya yang ada di dapur, Zayn masih berada di pangkuannya.
"Baik nyonya!" Sahut Dewi yang berada di dapur.
Cakra menghampiri Bima dan semua orang yang ada disana. Cakra duduk di sofa, menatap Bima yang berwajah serius. "Ada apa Bim?"
"Pa, Bima mau minta izin sama papa!" Seru Bima sambil memegang tangan Fania. Fania menatap Bima, dia kaget dengan genggaman tangan Bima.
Aduh mas Bima, malu banget nih dilihatin semua orang.
"Ya, izin apa?" tanya Cakra sambil melihat ke arah tangan Bima yang menggenggam tangan Fania.
Bima yang selalu menolak dekat dengan wanita, kenapa dia berpegangan tangan dengan wanita ini? Apa mataku salah lihat?
"Pa, tolong bantu aku lamar Fania pada ibunya." ucap Bima serius pada papanya.
Cakra, Nilam, Amayra tercengang saat mendengar ucapan Bima tentang melamar Fania. Cakra bahkan sampai tersedak ludahnya sendiri.
Fania di lamar sama kak Bima? Sejak kapan mereka dekat? Apa karena masalah utang itu?. Bibir Amayra membulat saat mendengarnya. Dia tak percaya mendengar kata pernikahan dari mulut Bima.
"Bima, apa kamu serius dengan ucapan kamu?" Tanya Cakra serius pada putranya.
__ADS_1
"Iya pa, Bima mau melamar Fania dan kami akan menikah." kata Bima tanpa keraguan sedikitpun.
"Fania, apa kamu juga setuju? Kamu tidak di paksa oleh Bima kan?" Tanya Cakra pada Fania.
"Papa..."
"Iya om, saya menyukai pak Bima." jawab Fania sambil tersenyum malu-malu.
Cakra melihat keseriusan di wajah Bima dan Fania. Dia dan Nilam langsung setuju karena mereka tau Fania adalah anak yang baik, teman dekat Anna dan Amayra juga.
Mereka pun memberikan selamat Fania dan Bima, tanpa berlama-lama Bima pun melangsungkan pernikahan yang sederhana saja bersama dengan Fania. Setelah menikah, Bima mengajak Fania pindah ke kota lain karena Bima sudah mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan di kota lain.
🍀🍀🍀
Tak terasa waktu pun berlalu, 6 tahun kemudian. Pagi yang cerah di rumah keluarga Calabria, hari itu adalah hari Minggu dimana Amayra, Satria dan kedua anaknya selalu menginap disana.
"Mas, ayo bangun...jangan malas-malasan lagi, pamali loh mas tidur setelah subuh." ucap Amayra sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
"Sayang, aku masih mau bobo...biarkan aku bobo lebih lama, ini kan hari libur. Semalam aku begadang karena operasi," Satria tidur sambil tengkurap, menandakan bahwa dia lelah.
"Haaahhh....baiklah, jangan kelamaan tidurnya. Kamu kan harus sarapan, mas."
"Siap sayang...10 menit lagi aku bangun," jawab pria itu dengan suara yang parau karena lelah.
"Zahwa! Ini punyaku, kamu ini anak nakal ya!" Suara anak kecil terdengar berteriak dari luar kamar.
Satria langsung membuka sedikit matanya, dia mengenali suara itu dengan baik. "Itu pasti Zayn."
"Dia pasti digangguin adiknya lagi. Ckckck...biar aku lihat mereka ya mas, kamu bobo aja."
"Oke Bu guyuu.. kalau ada apa-apa kamu panggil aku ya?" Satria kembali menutup matanya, dia sangat lelah dan berat untuk membuka mata.
Amayra pergi keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju ke asal suara itu. Di tengah rumah, dia melihat seorang anak perempuan berhijab merah dan seorang anak laki-laki yang tampan sedang berebut tablet.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar lagi? Hem?" Amayra meletakkan kedua tangannya di pinggang, dia menatap tajam pada Zayn dan Zahwa yang kini sudah beranjak dewasa. Usia mereka sudah 6 tahun.
"Ma, lihat Zahwa...dia gangguin aku lagi ma.." Zayn menghampiri Amayra dan memeluk mamanya, dia mengadu.
"Zahwa..." Amayra menatap putrinya.
"Aku cuma mau pinjem tabletnya kok! Aku gak gangguin kakak Zayn," jawab anak perempuan itu dengan wajah polosnya. Namun wajah polos itu tidak seperti kelihatannya.
"Bohong ma! Zahwa bukan pinjam tabletnya, tapi mengambilnya dengan paksa. Aku kan belum kasih pinjam, dia sudah ambil saja. Zahwa juga gelitikin telingaku pakai bulu ayam, ma!" Ucap Zayn sambil mengadukan Zahwa pada mamanya.
__ADS_1
Kedua anak itu saling menatap tajam, tidak mau kalah. Mereka selalu bertengkar karena masalah kecil, lebih tepatnya Zahwa yang selalu usil pada kakaknya.
"I-itu...aku gak ngelakuin itu," Zahwa tidak berani bicara, dia menundukkan kepalanya sambil memainkan kuku jempolnya.
Amayra tersenyum, dia melihat kebiasaan Zahwa jika berbohong dia pasti akan memainkan kuku jarinya. "Zahwa, mama pernah bilang apa? Jangan bohong nak, kamu ingat tidak Al Qur'an surat An-nahl ayat 105, Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. Kamu mau disebut sebagai orang yang tidak beriman?"
"Tuh dengerin mama!" Kata Zayn sambil menjulurkan lidahnya mengejek Zahwa. "Ra-sa-in.." bisik Zayn pada Zahwa.
Zahwa terdiam sebenarnya dia menahan kesal, dia menundukkan kepalanya saat dinasehati oleh mamanya.
"Zayn, kamu juga tidak boleh pelit sama adikmu! Kalau adikmu mau pinjam sesuatu, kamu pinjamkan nak. Ayo cepat maafan, gak boleh bertengkar ya nak?" Amayra meminta kedua anak kembarnya untuk saling bermaafan.
Zahwa dan Zayn terdiam, mereka malah saling buang muka satu sama lain.
"Astagfirullahaladzim, Zayn... Zahwa? Mama bilang apa, ayo maafan?" Amayra menatap tajam pada kedua anaknya itu.
Ya ampun Zayn dan Zahwa ini saudara kembar tapi berantem terus. Beda sama kak Bima dan mas Satria, mereka akur akur aja!
Zahwa dan Zayn pun berjabatan tangan.
"Zahwa...maaf ya," kata Zayn memulai kata maaf lebih dulu.
"Zayn, aku juga minta maaf,"
"Panggil aku kakak!" Kata Zayn marah lagi pada Zahwa.
"Kamu kan hanya berbeda 2 jam dari aku, kita lahir di hari yang sama." jawab Zahwa yang menolak memanggil kakak pada Zayn.
"Apa? Dasar Kalima Zahwa Jawharah!!' teriak Zayn marah. Dia menyimpan tabletnya lalu mendorong-dorong adiknya.
Zayn tidak pernah melakukan itu sebelumnya, Amayra terkejut. "Hey! Kenapa kalian malah berantem lagi? Astagfirullah.. allohuakbar!" Amayra mencoba memisahkan keduanya namun dia kesulitan karena kedua anaknya ini sangat lincah.
Zahwa dan Zayn saling memegang, mereka merengkuh tubuh dengan emosi. Akhirnya Zayn yang kalah oleh Zahwa, anak itu jatuh lebih dulu ke lantai. "Bweee...bweee..." Zahwa mengejek Zayn dengan menjulurkan lidah.
"Mama... huuu..huu..." Zayn menangis tersedu-sedu.
Amayra menepuk jidatnya, pagi hari dia sudah pusing oleh kelakuan anak kembarnya. "Zayn, kamu jangan nangis nak..."
Seorang anak laki-laki berbadan tinggi berjalan menuruni tangga. Usianya sekitar 12-13 tahunan, wajahnya terlihat sangat tampan. Ketika dia tersenyum, kedua lesung pipinya terlihat.
"Apa Zayn dan Zahwa berantem lagi, Tante?"
...*****...
__ADS_1