Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 75. Masih belum menyerah


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Amayra membawa baby Rey masuk ke dalam rumah, hari sudah semakin gelap. Tak lama lagi magrib akan segera tiba. Sementara itu Bram masih berdiri disana, mood nya berubah menjadi buruk ketika dia melihat seorang wanita dengan perut buncit datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Alexis? Mau apa wanita itu datang menemuinya? Bukankah seharusnya dia sudah masuk penjara karena perbuatannya? Begitulah pikir Bram dalam hati.


Malas meladeni Alexis, Bram melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah. Namun, Alexis menahan Bram di depan rumah.


"Bram! Tunggu!" Alexis memegang tangan Bram, wajah wanita itu masih tetap memelas seperti biasanya.


"Mau apa lagi kamu kemari?" Bram tidak menunjukkan sikap yang ramah ketika melihat mantan istrinya itu, yang ada hanya rasa marah dan muak. Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Alexis dan Vincent


"Bram, aku ingin menjelaskan semuanya! Aku tidak mau kamu salah paham lagi kepadaku," ucap Alexis seraya memohon pada Bram.


"Aku heran kenapa kamu masih berada disini, bukannya di kantor polisi?" Bram mengerutkan keningnya, dengan penuh pertanyaan.


"Bagaimana bisa polisi menangkapku kalau tidak ada bukti?" Alexis tersenyum santai.


"Dasar wanita gila!" Celetuk pria itu dengan wajah yang suram, "Pak Muin! Pak Muin, pak Cecep!" Teriak Bram memanggil supir dan satpam yang bekerja dirumahnya.


Cecep dan Muin segera menghampiri Bram begitu dipanggil. "Ya tuan?"


"Bagaimana sih kalian bekerja? Kenapa wanita ini bisa masuk ke dalam rumah? Bukankah aku sudah pernah bilang kalau wanita ini dilarang masuk kemari!" Bentak Bram kepada dua pria tua itu.


"Ma-maafkan saya tuan, tapi Bu Alexis sedang hamil,"


"Lalu kenapa kalau dia sedang hamil? Memangnya aku peduli, hah?"


Mendengar Bram marah-marah dan tidak menghormati orang tua seperti itu, Amayra semakin tidak suka pada Bram. Amayra tak sengaja mendengar Bram dari ruang tengah, karena teriakan Bram terdengar sampai ke dalam rumah.


Sayang, kamu tidak boleh seperti ayah kandungmu. Kamu harus seperti ayah Satria. ucap Amayra dalam hatinya sambil mencium pipi Rey dengan lembut penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Diluar ada ribut-ribut apa, May?" tanya Nilam sambil mendekati Amayra dan Rey dengan kursi rodanya. Nilam mendengar ada suara ribut diluar rumahnya.


"Ada Bu Alexis, mah." jawab Amayra sambil menyusui anaknya dan menepuk pelan punggung Rey.


Mendengar nama Alexis disebut, sontak saja membuat raut wajah Nilam berubah drastis, "Apa? Wanita itu lagi?"


Amayra cuek dan terlihat tidak mau ikut campur urusan Bram, dia diam saja dan tidak ikut Nilam yang pergi keluar rumah. Nilam mendorong kursi rodanya sendiri sampai keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Dia melihat Bram dan Alexis sedang adu mulut. Alexis memaksa ingin tinggal di rumah itu dengan alasan bahwa dia mengandung anak Bram.


"Tidak mah! Dia bohong, jelas-jelas pria bule itu mengatakan kalau anak ini adalah anaknya!" Seru Bram yakin.


"Tidak ma, beneran kok ini bayinya Bram." Alexis masih belum menyerah untuk kembali bersama mantan suaminya yang kaya raya itu.


"Pergi kamu dari sini! Pak Muin, pak Cecep bawa dia!" Titah Nilam pada kedua pria tua itu.


"Baik nyonya," jawab Muin dan Cecep patuh. Mereka tak mau dimarahi lagi oleh Bram.


Cecep dan Muin membawa Alexis dengan hati-hati dari sana. Alexis dimasukkan paksa ke dalam taksi untuk diantar pulang. Nilam langsung menasehati anaknya untuk tidak berhubungan lagi dengan Alexis, jika benar anak di dalam kandungannya bukanlah anak Bram.


Dini hari itu Amayra sedang menimang-nimang Rey yang menangis. "Sayang, kamu kenapa? Kamu lapar?" tanya Amayra pada anaknya dengan lembut.


"Owaa...owaaa..."


Dalam keadaan ngantuk dan lelah, Amayra menggendong anaknya dengan penuh kesabaran. Dia sendirian tanpa Satria disampingnya, dia bingung dan ingin meminta bantuan pada orang di rumah, tapi dia tidak mau merepotkan orang-orang yang sedang tidur pada jam istirahat seperti ini.


"Sayang, kamu kenapa nak?" Amayra berusaha mencari tau apa yang membuat anaknya rewel. Dia membaringkan Rey di ranjangnya, memeriksa apakah badan bayi mungil itu kesakitan atau ada hal lain yang membuat dia rewel.


"Uwee..uweee.." Rey masih menangis.


"Ah.. sayang maafin ibu ya, ternyata kamu pup. Mama bersihkan dan gantikan popok kamu sebentar ya," Amayra menatap anaknya seraya menenangkan. Dia melihat popok dan b*kong anaknya yang kotor. Amayra segera menyiapkan air hangat untuk membasuh bekas pup itu. "Sebentar ya sayang, air panasnya habis," Amayra melihat air panas didalam termosnya sudah habis.

__ADS_1


Amayra meninggalkan Rey sebentar didalam kamar untuk mengambil air hangat di dapur. Beberapa saat kemudian, Amayra kembali dengan membawa air hangat. Dia terkejut melihat Bram berada di dalam kamarnya dan berada dekat dengan Rey.


Wanita itu langsung marah dan meminta Bram menjauh dari Rey, "Apa yang kakak ipar lakukan disini? Jauh-jauh dari anak saya!" Amayra langsung mengambil anaknya dengan waspada kepada Bram.


"Hei tenanglah, aku cuma bantu kamu buat menemaninya. Tadi ada nyamuk yang mau menggigitnya. Lagian kenapa sih kamu meninggalkan Rey sendirian? Aku juga mendengarnya menangis?" tanya Bram heran.


Amayra menatap pria itu dengan tajam, dia tidak senang dengan Bram yang masuk ke kamarnya dan Satria begitu saja tanpa izin.


Kenapa aku merasa dia sedang bersikap sebagai seorang ayah? Astagfirullah, ayah Rey hanya kak Satria! Kenapa aku berpikir macam-macam?


"Saya mengambil air hangat di dapur dan itu juga bukan urusan kakak! Lebih baik kakak pergi dari sini! Tidak baik malam-malam kakak masuk ke kamar adik ipar kakak disaat suaminya tidak ada disini," Amayra berkata dengan ketus, sambil membersihkan kotoran di tubuh Rey. Dia membuang popok yang kotor itu dan memasukkannya ke dalam plastik.


Bram bergerak mengambil plastik berisik popok yang kotor itu dan membantu Amayra membuangnya ke tempat sampah yang berada di dapur. Bram juga menggantikan air galon di kamar Amayra yang sudah mulai habis, selain itu dia juga membantu Amayra membawakan tong sampah kedalam kamar agar Amayra mudah ketika akan membuang sesuatu.


"Terimakasih, tapi sebenarnya itu tidak perlu!" Amayra menggendong Rey setelah mengganti popok basah itu dengan yang kering. Rey sudah menjadi lebih tenang ditimang oleh ibunya.


"Aku melakukan ini untuk anakku," jawab Bram sambil tersenyum santai.


"Anda bisa pergi dari sini kakak ipar, pintu keluarnya disana. Silahkan!" Amayra melihat ke arah pintu depan kamarnya, mengusir Bram dengan kata yang halus tapi ketus.


"Baik, karena Rey sudah tenang aku pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu panggil saja aku,"


Aku bersungguh-sungguh ingin berbagi dalam mengurus Rey bersama dengan kamu Amayra.


Rupanya Bram masih belum menyerah untuk mengambil hati Amayra dan Rey. Bram memilih mengalah dan keluar dari kamar itu. Tiba-tiba saja Bram batuk dan memuntahkan darah. "Ohok ohok.."


Amayra tercengang melihatnya. "Kak Bram! Kamu?"


...---***---...

__ADS_1


Apakah Amayra akan luluh dengan Bram? Mohon sabar ya Readers ku tersayang, ini ujian cinta ❀️☺️🀭


Jangan lupa like, vote, komen, gift nya ya πŸ˜πŸ˜πŸ‘πŸ₯°


__ADS_2