
Like tembus 100, komen tembus 25! Author double up! 🥳
...🍀🍀🍀...
"Bram, kamu bercanda kan?" tanya Alexis tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bram kekasihnya.
"Kamu bilang kamu lelah, ya sudah kita akhiri saja semuanya!" Bram terlihat kesal, terlebih lagi saat Alexis melemparkan uang hasil keringat nya, seolah tidak menghargai kerja kerasnya.
Bram beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan meninggalkan Alexis yang masih duduk di kursi restoran itu. Alexis panik, melihat wajah serius Bram. Bagaimana bisa pria yang selama ini selalu tergila-gila padanya akan meminta putus padanya begitu saja? Alexis mengejar Bram yang baru saja sampai di depan restoran.
Tidak! Aku harus pura-pura bersabar dulu, aku tidak boleh putus dari Bram. Bagaimana pun juga Bram adalah pewaris Calabria grup. Jika aku kehilangan nya, maka aku kehilangan tambang emas dan masa depan bahagia ku.
Siapa wanita yang tidak mau dengan Bram? Memang secara material dan fisik, Bram tidak ada tandingannya. Semua wanita banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, dari mulai model, artis, sampai pengusaha juga. Wajah tampan menjadi salah satu modalnya di kagumi kaum hawa. Selain itu Bram adalah anak laki-laki pertama di keluarga Calabria, yang mewarisi perusahaan Calabria. Perusahaan besar yang namanya sudah mendunia. Bermodalkan tampan, status dan harta kekayaan, membuat Bram menjadi incaran wanita di luar sana. Namun, Bram hanya mencintai satu wanita yaitu Alexis, wanita yang sudah bertunangan dengannya selama 2 tahun.
Cinta mereka terhalang restu pak Cakra yang tidak suka kalau Alexis menjadi menantunya. Dia menilai sifat Alexis seperti wanita kebanyakan, yang mendekati pria karena uang, jabatan dan kekayaan nya saja. Tapi Bram tidak melihat semua itu pada diri Alexis, dia hanya tau bahwa dirinya sangat mencintai Alexis, wanita yang dia temui di kampus.
"Bram! Bram tunggu, sayang!" Alexis memanggil Bram yang sudah bersiap memakai helm nya.
"Ada apa lagi?" Tanya pria itu ketus.
"Sayang, aku minta maaf.. maafkan aku karena aku tidak sabar. Kenapa kamu bilang putus begitu mudahnya? Kita berhubungan sudah lebih dari dua tahun! Masa kamu bilang begitu saja!" Alexis menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kamu sendiri kan yang bilang lelah? Aku cuma ikuti maunya kamu." Suara Bram terdengar dingin dan ketus. Dia seperti sudah lelah dengan gerutu dan keluhan Alexis. Pasalnya selama dua bulan masa hukuman, Alexis selalu mengeluhkan dibelikan ini dan itu meski gaji Bram tidak cukup, tapi dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Alexis. Dengan cara meminjam uang pada Nilam secara diam-diam. Tapi, Alexis tetap saja mengeluh dan selalu merasa kurang.
Alexis takut ditinggalkan, dengan terpaksa dia memohon pada Bram untuk memberikan nya kesempatan untuk berubah. Melihat air mata Alexis, Bram pun luluh dan akhirnya memaafkan Alexis. Dengan catatan, Alexis harus berusaha lebih keras mengambil hati keluarga nya terutama papa nya. Supaya masa hukuman Bram berakhir.
"Aku janji Bram, aku akan berusaha mengambil hati mama dan papa kamu. Terutama papa kamu, tolong jangan bilang putus lagi setelah semua yang kita lakukan."
"Aku kan sudah bilang, kecuali kalau kamu yang bilang putus, aku gak akan putusin kamu Lex..Aku sayang sama kamu." Bram membelai lembut pipi kekasihnya itu, bibirnya tersenyum.
Tangan Alexis meraih leher Bram dan melingkar disana, dia mencium bibir Bram dengan gemas. Mata Bram membulat, padahal dia sudah sering melakukan kontak fisik seperti ini tapi kali ini berbeda. Dia malah melihat Alexis kekasihnya sebagai wanita lain.
__ADS_1
"Om Bram.."
Bram terkejut, dia membayangkan Amayra memanggil namanya dengan suara lembut dan hangat. Padahal di depannya itu bukan lah Amayra, melainkan Alexis. Bram mendorong Alexis menjauh.
Aku pasti sudah gila!
"Bram, kamu kenapa?"tanya Alexis heran dengan pria yang mendorong nya menjauh.
"Sayang ini di tempat umum, kalau ada orang yang lihat bagaimana?" Bram terlihat gugup, dia membayangkan Amayra.
"Biasanya kamu gak begini loh, kamu aneh banget." Alexis menggerutu keningnya, dia tak tau apa yang ada di dalam pikiran Bram.
"Ayo aku antar pulang!" Bram memakaikan helm berwarna merah muda pada kepala Alexis.
Aku ini kenapa sih? Kenapa aku terus kepikiran dia dan anaknya? Ini pasti karena ucapan Wildan dan Ivan waktu itu. Bram bingung dengan perasaannya sendiri.
Huh, kalau bukan karena kamu anak orang kaya! Aku juga tidak mau bersabar seperti ini, apalagi naik motor begini. Gerutu nya dalam hati, sambil naik ke kursi belakang motor yang dikendarai oleh tunangan nya itu.
"Ya sayang." jawab Alexis sambil melingkarkan tangannya di perut Bram dengan erat.
Bram mengantar Alexis pulang ke rumah nya dengan motor itu.
****
🍀Rumah sakit 🍀
Keesokan harinya, pagi itu Satria bangun lebih awal. Dia beranjak dari sofanya, dan terheran-heran melihat ada selimut di atas tubuhnya. "Perasaan semalam aku tidak tidur memakai selimut." gumam Satria bingung.
Satria melihat istrinya yang masih tertidur pulas, namun dia terkejut karena handuk yang dipakai Amayra jatuh ke lantai. Membuat rambut panjang nya yang berwarna hitam itu tergerai di atas ranjang pasien, tempat dimana Amayra berbaring.
Satria tersenyum menikmati pemandangan itu, istrinya tanpa hijab dengan rambut panjang nya tergerai. Ini pertama kalinya dia melihat Amayra tanpa jilbab nya. "Tidak ku sangka kalau dia cantik juga tanpa jilbab." gumam Satria terpesona. "Kamu sangat cantik, May."
__ADS_1
Cekret..
Mendengar suara pintu dibuka, membuat Satria terperanjat dan berdiri tegap. Tatapannya langsung mengarah pada orang yang membuka pintu, dia juga menutupi Amayra yang tidak memakai hijab.
"Hehe, tenanglah Sat. Ini aku." Diana tersenyum pada sahabatnya itu.
"Ah.. ya ampun, aku pikir laki-laki." Satria bernapas lega, dia kira yang datang adalah laki-laki ternyata itu adalah Diana yang akan memeriksa kondisi Amayra.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau pria lain melihat kecantikan istri kecilmu?" Diana tersenyum dan menggoda teman kuliahnya itu.
"Kecilkan suaramu! Dia masih tidur.." Satria mengisyaratkan pada Diana untuk menurunkan nada bicaranya.
"Aku pikir dia sudah bangun, ya sudah aku akan kembali lagi nanti."
Satria terlihat benar-benar menyukai istrinya, walau aku dengar dari gosip kalau Satria terpaksa menikah dengannya. Lalu, Clara harus mundur.. aku harus ingatkan anak itu. Mendambakan seseorang yang sudah menikah itu adalah salah.
Satria masih menunggu Amayra, selagi menunggu istrinya bangun. Satria membereskan barang-barang milik Amayra dengan rapi ke dalam tas. Wanita itu masih tertidur pulas. Satria duduk dulu sejenak di sofa dan melihat ponselnya, dia mengsearch di google tentang doa doa shalat yang dia lupa.
"Wah, banyak sekali yang harus aku hapalkan." Satria takjub karena begitu banyak yang harus dia hapalkan. Karena banyak yang dia lupakan, bahkan bacaan-bacaan shalat. "Seperti nya aku harus membeli bukunya, biar bacaannya lengkap dan ada tatacara nya juga."
Aku harus menjadi imam yang baik, seperti makmum ku yang baik.
Ketika sedang asyik membaca doa doa di dalam ponselnya, Satria melihat Amayra terbangun. Gadis itu mengangkat kedua tangannya, mulutnya komat-kamit, seperti nya dia membaca doa bangun tidur.
"Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur," Kedua tangan itu menyentuh wajahnya.
"Kamu sudah bangun?" Satria menyambut Amayra yang baru bangun tidur dengan senyuman.
"Astaghfirullah al adzim!! Rambutku!" Amayra memekik keras, ketika dia menyadari rambutnya tergerai, dan tanpa sehelai kain di atas kepalanya.
Satria langsung mengerutkan keningnya, apa yang terjadi dengan sang istri? Mengapa dia begitu terkejut?
__ADS_1
...---***--...