
...πππ...
"Papa izinkan kamu menikah dengan Alexis, tapi sebelum kalian menikah.. tangani dulu proyek dengan perusahaan GN,"
Bram tercekat menndengar nya, "Perusahaan GN, perusahaan yang berpusat di Inggris, kan?" tanya Bram.
"Benar, pergilah kesana dan bereskan proyek itu dulu. Barulah kalian bisa menikah dan melakukan apapun yang kalian mau, papa tidak akan melarang mu lagi," Cakra sudah pasrah dengan Bram yang keras kepala dengan pilihannya pada Alexis.
"Baiklah pah, Bram akan menyelesaikan proyek nya seperti kemauan papa." Bram menyetujui permintaan papa nya.
"Jangan lupa Bram, perjalanan kamu disana bukan hanya satu atau dua bulan, tapi sekitar 5 bulan. Apakah kamu sanggup?" tanya Cakra meyakinkan sekali lagi kesanggupan anaknya untuk pergi keluar negeri selama bulan.
Demi Alexis aku akan melakukan apapun.
"Baik pah, tapi setelah itu papa tidak boleh melarang lagi hubungan kami," ucap Bram tajam.
"Papa janji Bram!" Seru Cakra tegas berpegang teguh pada janjinya.
Setelah mendapatkan kabar baik dari ayahnya, Bram hendak pergi menemui kekasihnya itu. Bram nampak senang karena dia sudah mendapatkan semua fasilitas nya kembali, dari mulai mobil, kartu ATM, bahkan posisi nya sebagai Presdir juga kembali.
"Lebih baik aku belikan dulu Alexis bunga dan makanan kesukaan nya," sebelum menemui kekasihnya di apartemen, Bram memberhentikan mobilnya di pinggir jalan sebelah toko bunga.
Dia masuk ke dalam toko bunga itu, dan melihat-lihat bunga yang ada disana. Seorang wanita pegawai toko bunga itu menghampiri nya dan bertanya bunga apa yang ingin Bram cari.
"Saya mau bunga mawar merah, satu buket ya mbak!" Pesan Bram pada pegawai toko bunga itu.
"Baik mas,tunggu sebentar ya. Saya akan bungkus kan dulu bunga nya, silahkan tunggu dan duduk dulu saja mas!" pegawai toko itu dengan ramah meminta Bram menunggu, dan duduk di kursi panjang disana.
Bram duduk di kursi panjang itu sembari menunggu pegawai toko merangkai dan membungkus bunga nya dulu. Pandangan Bram tiba-tiba tertuju pada bunga matahari yang berjejer dan bersinar dengan indahnya di dalam rumah kaca toko bunga itu.
Melihat bunga matahari itu, dia tiba-tiba dipikirannya terlintas sosok wanita berjilbab.
#Flashback
Sekitar 2 bulan yang lalu..
Pagi itu Amayra sedang duduk jongkok di halaman belakang rumah Calabria. Dia fokus melihat tanaman di dalam pot bunga yang baru tumbuh sedikit daun diatasnya.
"Haahh.. ini sudah 2 bulan, tapi belum tumbuh juga bunga nya," Amayra terlihat lesu melihat tanaman tanaman di pot bunga nya masih berbentuk tunas. Dia tak sabar ingin melihat tanaman bunga nya segera tumbuh.
"Kamu sedang apa?" tanya Bram yang sudah berdiri di depan pintu.
"Astagfirullahaladzim!" Amayra terkejut karena tiba-tiba mendengar suara Bram.
__ADS_1
"Lebay banget sih kamu, memangnya aku setan?" tanya Bram kesal melihat Amayra yang terkejut.
Amayra memalingkan wajahnya, dia terlihat cuek dan matanya fokus melihat tanaman yang belum tumbuh itu. Bram kesal karena Amayra mengabaikan pertanyaan nya. "Hei! Aku tanya sedang apa kamu disini?" tanya Bram ketus.
"Seperti nya aku mendengar ada yang bicara, tapi kok gak ada orangnya ya? Haha seperti nya aku salah dengar, mungkin itu suara angin!" Amayra tertawa sinis, tanpa melihat ke arah Bram.
"Hei! Kamu!" Bram mendesis kesal dengan tingkah Amayra yang kekanakan. Bram mendekati Amayra dan menghancurkan pot bunga yang sedang ditatap oleh wanita itu.
BRAK!
Bram juga menginjak-injak biji tanaman matahari yang akan ditanam oleh Amayra. "Hei! Apa yang bapak lakukan? Kenapa bapak menghancurkan tanaman saya? Saya sudah lama menunggu tunas nya tumbuh!" Protes Amayra marah kepada Bram.
"Rasakan! Siapa suruh kamu mengabaikan ku?!" Bram tersenyum puas setelah menghancurkan tanaman yang membuatnya diabaikan itu.
"Anda memang suka nya menghancurkan ya! Sungguh kekanak-kanakan sikap anda ini bapak Bram!" Amayra menatap tajam ke arah Bram, matanya berkaca-kaca. Menatap tanaman dan pot bunga nya yang dia tanam susah payah hancur semua oleh Bram.
"Apa? Aku kekanakan?" Bram tercengang dan menaikan alisnya, dia tidak terima dikatai kekanakan oleh gadis yang usianya terpaut 13 tahun darinya.
"Kekanakan dan tidak punya perasaan! Selain itu anda memang hobi menghancurkan seseorang, seperti anda menghancurkan masa depan saya!" Amayra menahan air matanya, kemudian dia menginjak kaki kanan Bram dengan kesal.
DUAK!!
"Adaw! Sakit!" Bram memegang kaki nya yang baru saja diinjak oleh Amayra, dia merintih kesakitan.
"Hei! Kemari kamu, kaki ku sakit! Tanggungjawab sini!" Seru Bram memanggil Amayra yang sudah pergi meninggalkan nya.
#End Flashback
"Haha," Bram tertawa sendiri, dia mengingat wajah Amayra yang kesal dengannya. "Kenapa aku tiba-tiba ingat dengannya? Aku pasti sudah gila!"
Deg
Deg!
Kenapa setiap memikirkan nya jantungku berdebar?
"Mas, ini bunga nya." Ucap pegawai toko bunga , sambil menyerahkan sebuket bunga mawar itu pada Bram.
"Makasih mbak, tolong sekalian bungkus juga bunga matahari nya ya." Bram melirik bunga matahari yang ada di depannya.
Ya, aku harus mengganti bunga nya. Ini bentuk tanggungjawab ku saja.Aku bukan penghancur!. Bram merasa bersalah karena sudah menghancurkan tanaman bunga matahari milik Amayra.
"Mau berapa tangkai mas?"tanya pegawai toko ramah.
__ADS_1
"Satu buket saja, ah dan biji nya juga ya!" jawab Bram.
"Baik mas, tunggu sebentar ya!"
Beberapa menit kemudian, pegawai toko itu memberikan buket bunga matahari dan beberapa biji untuk ditanam pada Bram. Bram menyembunyikan buket bunga matahari itu di bagasinya, dia takut Alexis tau kalau dia memberikan bunga untuk wanita lain.
Sebelum menemui Alexis, Bram berniat menemui Amayra di rumah baru Satria. Dia mendapat alamat rumah itu dari papa nya. Sesampainya disana, Bram mengeluarkan bunga matahari itu dari bagasi.
"Suasana disekitar sini benar-benar sepi, udaranya juga seperti nya tidak cocok untuk ibu hamil. Bagaimana bisa Satria membawa dia tinggal disini?" gumam Bram yang merasa tidak nyaman dengan suasana di sekitar perumahan itu.
Ketika Bram berjalan menuju ke gerbang, langkah nya terhenti melihat Satria dan Amayra sedang menanam sesuatu di depan halaman rumah mereka. Satria sedang memotong rumput dan Amayra menanam tanaman.
"Kak, apa sudah selesai memotong rumput nya?" tanya Amayra yang tangannya masih sibuk menanam tanaman di dalam pot.
"Belum selesai, ada apa?" tanya Satria sambil memotong rumput liar.
"Kalau sudah selesai bilang ya, aku mau masak makan siang," ucap Amayra sambil tersenyum bahagia menanam tanaman itu dengan sepenuh hatinya.
"Gak usah, aku udah pesan makanan lewat jasa antar online. Hari ini gak usah masak," ucap Satria.
Saat Amayra sedang fokus menanam tanaman, Satria masuk ke dalam rumahnya. Dia mengambil setangkai bunga matahari dan memberikan nya pada Amayra.
"Nih, tanam juga sekalian!" Seru Satria sambil tersenyum lebar.
"Bunga nya kan sudah dipangkas, mana bisa ditanam kembali? Tapi, darimana kakak mendapatkan bunganya?" tanya Amayra sambil mengambil bunga itu.
"Aku memetik nya dari rumah tetangga," jawab Satria.
"A-Apa?! Apa kakak mencuri?" tanya Amayra tercengang.
"Tidak, aku tidak mencuri! Aku minta izin pada pemiliknya kok. Aku bilang istriku sedang ngidam ingin bunga matahari, lalu tetangga kita memberikan nya,"
"Alhamdulillah kalau tidak mencuri, tapi kenapa menjadikan ngidam ku sebagai alasan?" Amayra cemberut.
"Ma-maaf, aku tidak tahu harus memikirkan alasan apa lagi. Aku ingat kamu ingin melihat bunga matahari dan menanam bunga matahari, jadi aku-" Satria gelagapan di depan wanita yang cantik nya luar dalam itu.
"Makasih kak, aku memang ingin melihat bunga matahari! Aku sangat senang!" Amayra mencium bunga matahari itu, dia tersenyum lebar. Satria juga tersenyum melihat istrinya bahagia.
Disaat pasangan suami-istri itu tersenyum bahagia, Bram menatap mereka berdua dengan tatapan terluka. Dia meremass buket bunga matahari yang dibawanya dan menginjak-injak nya di aspal.
...---***---...
Mau up lagi? Hayo komen dulu, like nya jangan lupa ,yang mau kasih Gift ditunggu βΊοΈβ€οΈβ€οΈπ
__ADS_1