Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 74. Aku bersama kakak


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Ma, pa, semuanya.. aku susul kak Satria dulu ya," Amayra pamit untuk menyusul suaminya yang terlihat kesal.


"Iya, jangan khawatir sama Rey. Biar mama dan Anna yang jagain," ucap Nilam ramah pada Amayra.


Padahal sebelumnya wanita paruh baya ini sangat kasar pada Amayra, sekarang dia mulai berubah perlahan. Meski dia masih mempunyai niat tersembunyi ingin menyatukan Bram dan Amayra.


"Makasih ma," jawab Amayra sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke kamarnya dimana Satria berada.


Bram melihat Amayra dengan senyuman tipis dibibirnya. Dia merasa sudah menang 1-0 dari Satria. Fakta yang membuat Satria kalah darinya.


"Ughh.." Bram memegang kepalanya, dia merintih kesakitan.


"Kamu kenapa Bram?" tanya Cakra cemas.


"Bram, kamu juga harus beristirahat. Kamu kan baru keluar dari rumah sakit," ucap Nilam pada anaknya yang sedang sakit itu.


"Iya ma, sepertinya Bram harus beristirahat. Tapi sebelum itu, Bram mau menggendong Rey dulu," Bram meminta pada Anna dan Nilam, dia ingin menggendong Rey.


"Apa om Bram bisa menggendongnya?" tanya Anna tidak percaya. Sebelumnya Bram menggendong Rey dengan tidak benar, saat dia mengancam Amayra dengan surat perjanjian itu.


"Menggendong anakku sendiri, tentu aku harus bisa," ucap Bram sambil tersenyum.


Anna tercekat mendengar ucapan Bram. Dia jadi berfikir apa yang membuat Satria pergi dengan wajah marah, itu karena dia tersinggung dengan ucapan orang-orang disana. Anna jadi merasa bersalah pada om nya yang baik itu, tanpa sadar dia sudah menyinggung Satria dengan mengatakan Rey mirip Bram.


Satria yang sudah menganggap Rey sebagai anaknya sendiri, pasti hatinya sangat terluka. Cakra juga menyadari hal yang sama dengan Anna, dia merasa bersalah pada Satria.


Anna memberikan Baby Rey pada Bram dengan hati-hati. Bram menggendong bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang, tapi Rey menangis di dalam pelukannya.


"Owaa...owaa..."


"Eh, kok dia nangis sih?" tanya Bram heran mendengar anaknya yang tadi sedang tenang di pelukan Anna, langsung menangis saat berada di gendongannya.


"Sepertinya Rey gak nyaman di dekat om," jawab Anna dengan wajah kesal.


"Ma, Bram, kalian tolonglah jangan seperti itu di depan Satria. Papa tau kalian berdua punya niat terselubung untuk menganggu Amayra dan Satria!" Cakra tegas.


"Niat terselubung apa sih pa?"tanya Nilam pura-pura tidak mengerti.


"Jangan pura-pura tidak tau ma. Kamu juga Bram, kenapa kamu seperti ini? Papa tau kamu adalah ayah kandung dari Rey, tapi Satria lebih berhak menjadi papanya. Kamu harus tau diri Bram, Amayra dan Rey adalah untuk Satria," ucap Cakra pada istri dan anaknya yang memiliki niat menghancurkan rumah tangga Satria dan Amayra.


"Mama hanya ingin semua kembali ke tempatnya pa," secara tidak langsung Nilam mengaku pada suaminya bahwa dia berniat begitu.


"Semuanya udah terlambat, sejak anak tidak bertanggungjawab dan pengecut ini meninggalkan Amayra dan Rey! Kamu jangan lupa Bram, kamu dulu meminta Amayra menggugurkan bayinya,"


"Pa, itu sudah menjadi masa lalu. Kenapa masih diungkit sih? Lagian aku sedang mencoba berubah, aku mau bertanggungjawab untuk mereka!" Seru Bram tegas.


"Tidak Bram, kamu belum berubah," Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya, dia yakin putranya belum berubah.


"Owaa..owaa.."


Seakan mengerti pertengkaran orang dewasa di sekitarnya, baby Rey menangis dan terlihat tidak tenang.


"Sini om, Rey nya biar aku gendong. Dia nangis terus digendong sama om," Anna meminta baby Rey pada Bram.


Kasihan melihat anaknya terus menangis, Bram pun memberikan Rey pada Anna. Di dalam gendongan Anna, Rey terdiam dan menjadi tenang. "Rey.. ini kakak, tenang ya sayang. Cup cup cup," Anna tersenyum lebar melihat bayi mungil itu.


Sekali lagi Cakra mengingatkan pada Bram dan Nilam untuk menganggu hubungan Satria dan Amayra. Cakra memutuskan bahwa Satria, Amayra dan Rey, akan pergi dari rumah itu dalam satu bulan setelah acara aqiqah baby Rey.


****


Di dalam kamar, Satria terlihat menghela napas dan terlihat sedih. Sang istri menghampirinya dan bertanya apa Satria baik-baik saja.


"Kak, kakak gak apa-apa kan?" tanya Amayra sambil duduk disamping suaminya.


"Kamu bertanya seperti ini karena kamu sudah tau aku tidak baik-baik saja, kenapa masih bertanya?" Satria mendengus kesal.


"Hem, kak..apa kakak marah karena apa yang dikatakan mama Nilam dan Anna?" tanya Amayra berhati-hati.

__ADS_1


Ya Allah sepertinya kak Satria, marah dan sedih.


Satria tidak menjawab, wajahnya masih saja kesal kalau mengingat itu. "Kak, aku bersama kakak. Terlepas dari fakta Rey adalah anak kandung pak Bram, kakak tetaplah ayahnya Rey! Bagiku kakak adalah suami dan ayahnya Rey, kakak juga adalah pria kedua yang aku cintai,"


Satria langsung melirik tajam ke arah Amayra begitu mendengar kalian terakhir yang dikatakan istrinya, "Pria kedua yang kamu cintai? Lalu siapa yang pertama?"


Apa itu Bram?


"Ayahku tentulah cinta pertamaku dan kakak adalah yang kedua," jawab Amayra sambil tersenyum.


"Haahhhhhh, aku pikir," Satria menghela napas lega.


"Aku pikir kakak akan tertawa, ternyata sama sekali gak lucu ya?" Amayra tersenyum memandang ke arah Satria.


"Apakah hal serius seperti itu bisa dijadikan candaan? Sama sekali gak lucu," Satria tersenyum tipis melihat wajah polos dan cantik istrinya.


"Katanya gak lucu, tapi kakak tersenyum!" Seru Amayra melihat sedikit senyuman tersirat di bibir sang suami dan mulai merekah.


Satria membelai pipi sang istri, "May, apa aku adalah orang penting buat kamu?" tanya Satria ragu.


Amayra balik bertanya,"Kenapa kakak tanya gitu? Udah berapa kali aku mengatakan perasaan ku pada kakak, apa itu belum cukup?"


"Maaf karena aku tidak percaya diri. Aku merasa kalau-"


Dengan berani Amayra mengecup pipi sang suami. Dia ingin keraguan dan amarah itu lenyap dari suaminya. "May, kamu-" Satria memegang pipinya yang baru saja bersentuhan dengan bibir cantik Amayra.


"Aku cinta kakak, kakak adalah suamiku selamanya dan kakak adalah ayahnya Rey! Itulah arti kakak bagiku!" Amayra memegang pipi suaminya dengan kedua tangan cantiknya. Membuat sang suami menatap dirinya dengan penuh keyakinan.


Amayra berusaha meyakinkan kstaria penolongnya itu untuk selalu percaya diri bahwa Amayra hanya mencintainya seorang. Satria mengecup lembut punggung tangan sang istri, kemudian dia bertanya. "Apa kamu dan Rey tidak akan kembali pada kak Bram?"


"Astagfirullah kakak.. kenapa aku dan Rey harus kembali kepadanya sedangkan sejak awal aku dan Rey tidak pernah bersamanya? Hanya kakak tempatku dan Rey untuk kembali," Amayra tersenyum lembut pada suaminya.


Benar Amayra, terlepas dari siapa ayah kandung Rey. Suamimu adalah kak Satria dan ayah Rey adalah kak Satria.


"Justru aku yang harusnya bertanya pada kakak, apakah kakak masih mau bersamaku dan menerima Rey menjadi bagian dalam hidup kakak?" tanya Amayra pada suaminya. Dia merasa punya banyak kekurangan untuk mendampingi Satria, pria sempurna yang menjadi kstaria pelindungnya. Sedangkan dia adalah wanita yang punya banyak kekurangan, dia hamil di luar nikah, mempunyai anak dengan pria lain, tapi Satria masih mau menerimanya.


Kata-kata Satria merasuk ke dalam hati Amayra, membuat wanita itu menangis haru. Dimana ada pria yang dulu melindunginya seperti Satria? Dan mana mungkin dia meninggalkan Satria, apalagi untuk Bram. Jika Amayra bersama Bram, maka dia seperti jatuh ke dalam lubang yang sama. Jika Satria diibaratkan sebagai pahlawan, maka Bram adalah penjahatnya.


"Terimakasih kak, kakak sudah menerima ku dan Rey. Kakak jangan ragu lagi pada kami ya?" Amayra membalas pelukan suaminya dengan erat.


"Iya, maafkan aku ya karena bicara seperti ini." Sesal Satria karena sempat ragu pada cinta Amayra.


Pasangan suami-istri itu kembali berbaikan dan memutuskan untuk saling percaya satu sama lain. Mereka percaya mungkin ini adalah ujian agar perasaan mereka semakin menguat.


"Kakak nanti malam tugas lagi kan?"


"Iya, maaf ya aku kebagian jaga malam karena kemarin aku ambil cuti." desisnya kesal, dia ingin menemani Amayra dan Rey di hari pertamanya di rumah keluarga Calabria.


"Tidak apa-apa kak, ada Anna, mama dan yang lainnya disini. Mereka bisa membantuku menjaga Rey," ucap Amayra seraya menenangkan hati sang suami yang akan pergi mengerjakan tugas mulianya.


"Iya May, ingat ya kamu harus menjaga diri kamu juga! Aku bukannya gak percaya sama kamu, tapi aku hanya..."


"Aku ngerti kok, kakak tenang saja. Aku akan menjaga diriku. Kakak percaya padaku ya?" Amayra memberikan sentuhan lembut pada suaminya.


"Iya, kalau gitu aku mau mandi dulu ya. Mau siap-siap tugas malam." Satria menghindari Amayra, dia tiba-tiba gugup.


Gawat! Hanya disentuh olehnya saja tubuhku jadi panas, bagian bawahku juga kenapa berdiri?


"Aku siapkan air hangatnya ya?"


"Gak usah, aku mandi pakai air dingin aja. Sepertinya aku harus mandi air dingin," Satria memalingkan wajahnya dari sang istri.


Aku harus meredakan panas di tubuhku ini.


"Kak Satria kenapa?" Amayra hendak menyentuh pipi merah suaminya, namun dengan cepat Satria menghindar.


"Eh, aku mandi dulu!" Satria mengambil handuk dan segera berlari kecil menuju ke kamar mandi. Amayra heran melihat suaminya seperti itu.


...🍀🍀🍀...

__ADS_1


Sore itu Satria pamit untuk kerja jaga malamnya, dia meminta Amayra untuk menjaga Rey baik-baik dan menelponnya jika terjadi sesuatu.


"Rey, ayah pamit dulu ya sayang. Doakan ayah ya sayang." Satria mengecup lembut kening bayi mungil yang sedang tiduran di atas ranjang bayi berkelambu itu.


Baby Rey tersenyum, tangan mungil dan halusnya, menggenggam ibu jari Satria. "Kayanya dia gak mau ayahnya pergi tuh," ucap Amayra sambil tersenyum melihat pemandangan itu.


"Besok pagi atau besok subuh nanti, ayah pulang kok dek. Kamu jagain ibu ya," Satria tersenyum melihat Rey yang menggemaskan.


"Kebalik dong, harusnya kakak yang bilang begitu padaku. Ibu jagain Rey ya, harusnya gitu!" protes Amayra pada Satria.


"Aku gak percaya tuh sama kamu," Satria tersenyum jahil.


"A-Apa? Kak Satria kenapa kakak-"


Amayra belum selesai memarahi suaminya, kecupan mesra dibibir dari Satria membuatnya bungkam. Amayra menutup matanya, ketika bibir panas Satria menyentuh bibirnya.


Kenapa kak Satria sangat bersemangat?


Lidah Satria masuk menyapu langit-langit mulut Amayra dengan bersemangat. Tidak seperti biasanya sangat kalem dan lembut. Tangan Amayra memegang erat tangan kekar Satria yang berada dibalik jas dokternya.


Kamu adalah istriku May, kamu istriku.


Amayra mulai kesulitan bernapas dengan ciuman suaminya yang menggebu-gebu itu. Hingga pada akhirnya Satria melepaskan nya,


"Haahhh.. kakak kenapa sih?" Amayra menghela napas lega, dia heran dengan suaminya yang menggebu.


"Maaf, aku terlalu bersemangat," ucap Satria meminta maaf pada istrinya telah menciumnya begitu dalam.


"Hehe, kenapa minta maaf? Kita kan sudah halal, bahkan jika kakak meminta tubuhku juga tidak apa-apa. Kita suami istri." Wanita itu tersenyum lebar.


"I-iya," jawab Satria yang ingin segera bersatu jiwa dan raganya dengan sang istri. Namun, keadaan Amayra belum memungkinkan mereka melakukan hal itu.


Sabar Satria, kamu harus menunggu hingga keadaan Amayra sudah membaik, dia masih terluka.


Amayra menggendong baby Rey, mereka mengantar kepergian Satria sampai depan rumah. Satria masuk ke dalam mobil, dia mengucap salam sambil melambaikan tangannya pada Amayra dan anaknya.


"Ayah pergi dulu ya," Satria tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


"Dadah ayah, hati-hati ya jangan lupa makan." Amayra bersikap seolah dia adalah Rey yang mengucapkan selamat jalan pada ayahnya.


Dari dalam mobil, Satria melihat Bram berdiri dibelakang Amayra dan Rey dengan seringai diwajahnya. Satria cemas melihat kakak nya berada di dekat istri dan anaknya, seolah dia melihat bahaya yang mendekat.


May, semoga hati kamu tetap untukku.


Amayra melepas kepergian suaminya dengan senyuman semangat. Ketika mobil Satria sudah keluar dari gerbang rumah. Amayra dan baby Rey berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


Kak, aku selalu bersama kakak. Percaya padaku kak..


"Tidak baik bayi yang baru lahir berada di luar terlalu lama," ucap Bram sambil menyelimuti baby Rey dengan selimut bayi yang dibawanya.


Amayra yang tadinya tersenyum, raut wajahnya langsung berubah ketika melihat pria itu di dekatnya. Dia menyerahkan kembali selimut bayi pada Bram, "Tidak apa kalau sebentar." Ucap Amayra sinis.


Tidak Bram, jangan menyerah. Sabar Bram, katanya wanita akan luluh dengan kata-kata dan sikap lembut.


"Aku lihat Rey belum punya selimut hangat, jadi aku belikan dia selimut hangat dan beberapa perlengkapan bayi," ucap Bram mencoba tersenyum menahan emosinya dengan sikap Amayra.


"Oh, terimakasih sebelumnya. Tapi suami saya sudah membeli semua perlengkapan Rey, anda tidak usah repot-repot. Berikan saja perlengkapan bayinya pada ibu Alexis yang sedang hamil," kata Amayra sebal dan selalu emosi pada Bram.


"Kenapa aku harus memberikannya pada Alexis?" tanya Bram heran, "Apa kamu cemburu pada Alexis?" tanya Bram lagi dengan percaya diri.


"PFut..hahaha, kenapa saya harus cemburu? Tuh, Bu Alexis sudah ada disini. Serahkan saja perlengkapan bayi itu padanya, saya sudah ada suami yang memenuhi kebutuhan kami," Amayra menertawakan kepercayaan diri Bram.


Alexis ada disini?


"Bram!"


...---***---...


Assalamualaikum, mohon maaf author lupa menambahkan part Amayra dan Satria ijab kabul ulang setalah Rey lahiran. 🙏🙏😁 Jadi anggap saja udah ijab kabul ulang ya

__ADS_1


__ADS_2