
Keisha dan Ken panik melihat Amayra yang muntah-muntah tak terkendali. Ken langsung berlari memanggil dokter saat itu juga, sementara Keisha mengambil keresek dan menenangkan Amayra.
"Uwekkk.. uwekkk.."
Apa aku hamil? Sudah sebulan aku tidak mendapatkan haid ku.. Amayra berpikir dalam hatinya.
"Tahan ya May, dokter akan datang sebentar lagi!" kata Keisha yang mulai panik melihat kondisi wanita itu.
"Dok! Cepat periksa teman saya!" ujar Ken pada dokter Mira.
Dokter Mira segera memeriksa kondisi Amayra, dia pun memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kepala saat itu juga dengan CT scan. Takutnya ada hal ini berhubungan dengan cedera kepalanya, tapi Amayra malah berpikir yang lain-lain.
Amayra masuk ke ruang CT scan, sementara Keisha dan Ken menunggu di luar ruangan itu.
"Dokter.. "lirih Amayra memanggil dokter itu.
"Ya?" dokter Mira menoleh ke arah Amayra.
"Apa saya muntah-muntah karena saya hamil dok?" tanya Amayra dengan polosnya.
"Amayra, kenapa kamu berpikir begitu?" tanya dokter Mira sambil melihat hasil CT scan Amayra.
"Karena saya sudah tidak mendapatkan haid saya selama satu bulan," jawabnya.
"Kamu tidak hamil, muntah-muntah kamu ini disebabkan oleh gegar otak ringan," jelas dokter itu pada Amayra.
"Gegar otak ringan?" ucap wanita itu dengan terpana.
Amayra langsung menarik napas dalam-dalam, ternyata dia tidak hamil. Dia kecewa karena benih Satria belum tertanam di dalam rahimnya , kemudian dia berfikir kembali dengan positif. Mungkin belum saatnya Rey memiliki adik, Allah masih belum memberikan lagi kepercayaan itu padanya. Dan juga Rey masih terlalu kecil untuk punya adik.
Setelah selesai pemeriksaan, Amayra dan dokter Mira keluar dari ruangan pemeriksaan. Ken dan Keisha langsung memburu Amayra dengan pertanyaan.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Keisha cemas.
"Otaknya masih berfungsi dengan baik, kan? Dia masih waras?" tanya Ken.
"Ken!" teriak Keisha marah pada adiknya.
"Setelah melakukan pemeriksaan, hasilnya positif gegar otak ringan. Namun kalian tenang saja, karena gejala pusing dan mualnya akan hilang dalam beberapa hari. Karena gegar otaknya tidak parah, tidak ada yang perlu dikuatirkan.." jelas dokter Mira menjelaskan.
"Alhamdulillah, makasih ya dok.." ucap Keisha dengan napas yang lega.
Syukurlah Ken tidak membuat anak orang sampe hilang ingatan. Tetap saja kelakuan Ken sangat keterlaluan.
Keisha memapah Amayra sampai ke dalam kamarnya pada tengah malam itu. Amayra kembali berbaring di ranjangnya. Dia melamun memikirkan Rey dan Satria.
__ADS_1
"May, aku minta maaf sekali lagi atas kelakuan Ken.." Keisha memohon maaf sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Gak apa-apa kak, kakak gak usah minta maaf kayak gitu. Aku jadi gak enak.." ucap Amayra sambil tersenyum.
"Tetap saja.. kelakuan Ken sudah keterlaluan!" kata Keisha masih merasa bersalah.
"Gak apa-apa kak, kata dokter aku juga gak apa-apa. Besok juga sudah boleh pulang," ucap Amayra sambil tersenyum seraya memenangkan.
"Hei... gue.."
"Ken.. yang benar minta maafnya!" ucap Keisha pada adiknya.
"Amayra, gue minta maaf ya. Gue benaran gak sengaja," Ken menundukkan kepalanya didepan wanita itu, terlihat penyesalan di dalam dirinya.
"Ya udah gak apa-apa," jawab Amayra sambil tersenyum tipis. Dia sudah memaafkan Ken atas semua yang terjadi.
Pagi harinya, Amayra di jemput oleh Bram dari rumah sakit. Bram memperkenalkan dirinya sebagai kakak Amayra. Ken mencoba terlihat baik didepan Bram, dia bahkan bersikap sopan.
"Terimakasih sudah menjaga adik saya semalam, Bu Keisha dan pak Kenan.." ucap Bram sopan.
"Tidak pak! Jangan berterimakasih, ini adalah kesalahan saya yang tidak sengaja mendorong Amayra.." ucap Ken sopan.
Keisha dan Amayra melongo melihat sikap sopan Ken, dia terlihat menjaga sikapnya didepan Bram.
Ada apa dengan Ken? Apa kepalanya terbentur sesuatu? Kenapa aku merasa dia sedang cari perhatian pada pak Bram?
"Iya kak," jawab Amayra patuh.
"Oh ya May, hari ini sama besok kamu istirahat aja di rumah. Gak usah ikut ospek hari ke 3 dan ke 4, lagian tinggal penutupan aja kok." Kata Keisha perhatian.
"Beneran gak apa-apa kak?" tanya Amayra pada Keisha.
"Iya gak apa-apa kok, kamu istirahat aja di rumah ya!" kata Ken menimpali.
Keisha melirik heran pada adiknya itu yang tiba-tiba saja baik dan sopan. Amayra memalingkan wajahnya, dia tidak senang dengan perhatian Ken padanya.
"Oh ya, soal biaya rumah sakit...berapa yang harus saya-"
"Tidak perlu pak Bram, ini sudah tanggungjawab kami." Keisha langsung memotong ucapan Bram yang ingin membayar biaya rumah sakit Amayra.
Amayra dan Bram pun pulang ke rumah Calabria, sementara Keisha dan Ken juga pulang ke rumah mereka untuk berganti baju sebelum ke kampus lagi.
Di dalam perjalanan pulang, Bram mengatakan kalau teman Amayra menitipkan pesan bahwa Satria sempat menelponnya. Amayra tercekat begitu mendengar kabar suaminya yang menelpon, namun saat Bram mengatakan sambungan teleponnya terputus. Amayra langsung sedih.
Sepulangnya ke rumah, Amayra langsung menggendong anaknya dengan penuh kerinduan dan rasa bersalah. Rasa sakit kepalanya hilang seketika begitu melihat bayi kecil dan mungil itu. Tak lupa dia berterimakasih pada ayah dan ibu mertuanya karena sudah membantu merawat Rey, Diana juga sudah membantu menjaga Rey kemarin sore sepulang bertugas. Semuanya bekerjasama untuk merawat Rey.
__ADS_1
"Hoaa..haaoo.." Rey mengoceh sambil memegang perban di kepala Amayra.
"Rey cemas sama mama ya? Mama gak apa-apa kok sayang, maaf ya semalam mama gak temenin Rey.." Amayra mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia juga mengganti popok Rey yang sudah penuh.
Rey tersenyum manis pada mamanya. Tangan dan kakinya bergerak lincah kesana kemari. "Hehe...Rey gak pernah capek ya.. diam dong sayang," ucap Amayra sambil tersenyum senang.
*****
10 hari kemudian...
Tidak ada kabar dari Satria, telepon ataupun email yang masuk untuk Amayra. Wanita itu juga sibuk menanyakan kesana kemari tentang Satria pada dokter dokter di rumah sakit. Namun, mereka juga lost kontak dengan tenaga medis yang saat ini ada di Afrika.
Amayra mulai resah karena tidak ada kabar dari suaminya. Keresahan itu akhirnya terjawab saat Amayra dan Lisa sedang berada di perpustakaan kampus. Amayra sudah mulai aktif kuliah dan kuliahnya tidak tiap hari.
"May, jadi ini gini ya ngerjainnya?" tanya Lisa sambil menyodorkan buku soal matematikanya.
"Iya itu udah bener," jawab Amayra sambil melihat ke arah buku itu.
Amayra dan Lisa mengambil jurusan yang sama, yaitu matematika. Sejak dulu Amayra sangat menyukai mapel matematika dan dia ingin menjadi guru matematika.
"Hei! Kalian lagi ngapain?" tanya Ken pada dua orang wanita yang sedang duduk di meja perpustakaan.
"Kami lagi belajar, kamu gak lihat ya?" Amayra menanggapi Ken dengan ketus.
"Biasa aja kali jawabnya, huh!" gerutu Ken kesal dengan sikap Amayra padanya.
Kenapa sih dia selalu saja ketus padaku?
"Eh Anton.. gimana kelas kamu? Seru gak?" tanya Lisa.
"Jurusan ekonomi pada serius orangnya, kalau bukan karena mamaku yang ingin aku masuk situ. Ogah deh!" curhatnya pada Lisa, dia tidak suka masuk jurusan ekonomi.
Tv yang berada diatas perpustakaan itu dinyalakan oleh pustakawan disana. Muncullah sebuah berita tentang Zimbabwe yang sedang terkena bencana alam.
"Jumlah korban bencana alam di Zimbabwe, Afrika setiap harinya semakin bertambah. Dan sekarang muncul lagi badai susulan yang menyebabkan putusnya komunikasi, dari informasi terakhir yang kami dapat bahwa para petugas medis dari rumah sakit xxxx yang menjadi suka relawan disana juga ada yang menjadi korban dalam badai ini. Namun kami masih belum tau siapa korbannya, karena sambungan komunikasi dan akses ke Zimbabwe masih belum terhubung,"
Deg!
Amayra beranjak dari tempat duduknya, dia menatap layar televisi dan mendengarkan berita yang sedang dibawakan oleh pembaca berita itu. Jantungnya seakan berhenti, mendapatkan berita tidak mengenakkan itu.
"Kak Satria..." gumam Amayra dengan mata berkaca-kaca.
"May, Lo kenapa?" tanya Anton cemas melihat Amayra yang akan menangis. Ken dan Lisa juga menatap Amayra yang berdiri menatap tv.
Ya Allah.. kak Satria.. cobaan apa lagi ini?
__ADS_1
...----****----...