
Bima meminta suster membawa Amayra kembali ke ruang rawat karena dia tidak bisa menggendong Amayra dengan lengan terluka.
"Mas...kalau kamu gak bisa gendong aku gak apa-apa. Tapi kamu jangan pergi." Amayra memegang erat baju Bima seraya memohon padanya agar tidak meninggalkan dirinya.
"Saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa mbak," ucap Bima cuek, dia melepaskan tangan Amayra yang memegang tangannya.
Aku harus pergi dan bicara dengan dokter dulu tentang drama ini.
"Mas...jangan pergi." Amayra memegang tangan Bima, merengek meminta pria itu bersamanya.
Wanita ini benar-benar beban Satria dan keponakanku. Kalau bukan demi Satria, aku tidak akan mau melakukannya.
Pria itu menepis tangan Amayra, kali ini dia sedikit mendorongnya. Bima menatap tajam pada dua orang suster yang berdiri dibelakang Amayra. "Pasien sedang terluka dan kalian malah berdiri saja seperti orang bodoh. Bawa dia kembali ke ruangannya." ucap Bima tegas.
"Bu Amayra, mati masuk ke dalam."
Amayra tersentak kaget, dia merasa suaminya seperti orang asing. Itu karena Bima bukanlah Satria dan Amayra tidak tahu itu.
Kenapa mas Satria tidak mengenali aku? Kenapa dia seperti orang asing?
Bima mengisyaratkan Jack untuk membantu membawa Amayra masuk ke dalam ruangannya. Jack dan suster membawa wanita hamil itu kembali ke ruangannya. Amayra terlihat syok dengan perubahan Bima yang dianggapnya sebagai Satria.
Amayra kembali ke ruangannya, sementara Bima pergi ke ruangan dokter yang tadi merawatnya dan Amayra. "Dokter, saya ingin bicara sesuatu pada anda!" Bima menatap dokter pria itu dengan tajam dan wajah serius.
Bima berbicara cukup lama bersama dokter itu, dia membicarakan masalah Satria dan dirinya yang akan pura-pura kehilangan ingatan demi keselamatan Amayra dan bayinya. Satria akan dirawat di rumah sakit itu dan sementara waktu keberadaannya akan disembunyikan dulu dari keluarga Calabria.
Setelah pembicaraan itu, dokter dan Bima pergi ke ruangan Amayra untuk melihat keadaannya. Amayra terbaring dalam keadaan tertidur.
"Dok, dia dan bayinya beneran baik-baik saja kan?" Bima menatap tajam ke arah Amayra.
"Iya, tidak ada masalah serius. Hanya saja kondisi psikisnya yang saya khawatirkan, seperti yang bapak lihat tadi...Bu Amayra sangat syok begitu tau kalau pak Satria kritis dan berpengaruh pada kesehatan janinnya. Apalagi jika Bu Amayra tau kalau pak Satria sedang dalam keadaan koma, saya yakin bahwa keadaan Bu Amayra dan bayinya akan terpengaruh oleh berita ini."
"Lalu dokter...apa yang akan saya lakukan ini salah? Saya melakukan ini demi kebaikan."
__ADS_1
Dokter itu terdiam dan tak bisa menjawab apa-apa atas pertanyaan Bima.
Dua jam kemudian, keluarga Calabria. Cakra, Anna, Bram dan Diana datang ke rumah sakit itu dengan panik. Nilam tidak ikut karena dia masih berada di tempat tidur dalam keadaan tidak sehat.
Setelah mendengar Satria dan Amayra mengalami kecelakaan, mereka semua kecuali Nilam, langsung pergi ke rumah sakit Purwakarta.
"Pa, katanya Amayra dan Satria berada di kamar nomor 205 bangsal melati!" seru Bram yang baru saja bertanya pada bagian informasi.
"Ayo kita kesana!" seru Cakra terburu-buru.
Mereka naik lift ke lantai 3, tempat dimana Amayra dan Satria dirawat. Cakra, Bram, Diana dan Anna tiba di depan kamar 205 bangsal melati. Anna membuka pintu itu lebih dulu, dia melihat Amayra dan Bima berada di dua ranjang berbeda, mereka masih belum sadarkan diri.
Cakra, Bram dan Diana juga masuk ke ruangan itu dan melihat keadaan mereka. "Dilihat dari luar, sepertinya keadaan mereka baik-baik saja." ucap Diana sambil mengecek denyut nadi Amayra.
"Alhamdulillah..." Cakra dan Bram merasa lega.
"Mas...mas Satria..." gumam Amayra sambil membuka matanya perlahan-lahan.
Cakra, Diana dan Bram juga lega melihatnya.
Begitu bangun dari tidurnya, Amayra langsung menanyakan tentang suaminya. "Dimana mas Satria?"
Tadi aku bermimpi kalau mas Satria tidak mengenaliku dan dia seperti orang asing. Itu pasti hanya mimpi.
Bima juga ikut bangun begitu tau Amayra sudah sadar. Cakra menyambut Bima, dia menanyakan keadaannya. "Satria, kamu sudah sadar nak?"
Bima menatap Cakra dari dekat, dia merasa senang dan sedih karena dia baru pertama kali melihat ayah kandungnya dari dekat. "Maaf, siapa Satria? Dan siapa bapak?" tanya Bima berakting pura-pura hilang ingatan.
Cakra, Bram, Anna, Amayra dan Diana tercengang karena pertanyaan Bima. Mereka menatap Bima dengan keheranan. "Satria, jangan bercanda kamu nak!"
"Maaf pak, saya tidak kenal siapa Satria dan siapa bapak!" kata Bima tegas.
Apa aktingku sudah bagus ya?
__ADS_1
Amayra beranjak turun dari ranjangnya, dia dibantu oleh Diana turun dari sana. Amayra menghampiri Bima. "Mas...apa kamu benar-benar gak ingat aku? Ini aku istri kamu mas..."
Apa yang tadi itu bukan mimpi? Apa mas Satria benar-benar lupa padaku?
"A-aku akan panggil dokter!" Bram langsung mengerti apa yang terjadi. Dia pergi keluar ruangan itu dan memanggil dokter.
"Om, ini aku Anna...masa om gak ingat aku?" Anna bertanya pada Bima yang dianggapnya Satria.
Bima melihat semua orang dengan tatapan bingung. Dia merasa bahwa semua orang sedang mencemaskan dirinya. Dia merasa Satria sangat beruntung karena dia memiliki keluarga yang sayang padanya. Tidak seperti dia yang terlantar dari usia 14 tahun.
Beruntung sekali kamu Satria, kamu punya keluarga yang sangat menyayangi kamu.
Tak lama kemudian, Bram datang ke ruangan itu bersama seorang dokter. Dokter itu adalah dokter yang merawat Bima sebelumnya. "Dok, apa yang terjadi? Kenapa adik saya tidak mengingat kami semua?" Tanya Bram cemas pada Satria.
Bima melirik ke arah Bram dan memperhatikan pria itu. "Walaupun dia dan Satria adalah saudara tiri...apakah hubungan mereka memang sebaik ini? Dia terlihat sangat mencemaskan Satria "
"Sepertinya pak Satria terkena benturan yang hebat, hingga menyebabkan kepalanya cedera dan saya menyimpulkan bahwa efek dari benturan keras itu adalah amnesia."
Amnesia atau hilang ingatan adalah gangguan yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengingat fakta, informasi, atau kejadian yang pernah dialaminya. Meski bersifat ringan, gangguan daya ingat akibat amnesia juga bisa mengganggu kehidupan penderitanya.
Amnesia ditandai dengan hilangnya sebagian atau seluruh ingatan penderitanya. Meski demikian, penderita amnesia umumnya masih dapat mengingat identitas dirinya, hanya saja mereka cenderung kesulitan untuk mengingat hal baru atau mengingat kejadian di masa lalu.
Amayra dan semua keluarga Calabria terkejut saat mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi Bima yang amnesia atau Satria yang amnesia.
"Astagfirullahaladzim..." Amayra menangis mendengar berita tidak baik itu. Diana menepuk-nepuk punggung Amayra seraya menenangkan
"Ya Allah Satria..." Cakra ikut prihatin dengan kondisi Satria alias Bima itu.
Tuh kan istri si Satria ini memang beban, dikit-dikit nangis. Satria, gimana bisa kamu bertahan dengan cewek menye kayak gini.
Ketika semua orang menatapnya dengan cemas, Bima hanya diam saja memperhatikan semua orang di keluarga Calabria satu persatu.
...----*****----...
__ADS_1