
...🍀🍀🍀...
Demi menyenangkan istrinya yang sedang sedih, Satria turun sendiri ke dapur dan memasak untuk istrinya.
"Kakak yakin mau memasak?" tanya Amayra ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu kamu kan tau kalau aku jago memasak, apa kamu meragukan kemampuan memasak suamimu?" Tanya Satria sambil menyingsingkan lengan bajunya. Dia bersiap untuk pergi ke dapur. "Kamu mau makan apa? Bilang saja, chef Satria Rorimpandey siap melayani!"
"Kakak apa-apaan sih? Hahaha udahlah jangan masak, biar aku saja yang masak. Kakak kan baru pulang, masa pulang-pulang langsung memasak untukku? Itu kan tugasku!" Seru Amayra dengan tawa kecilnya melihat tingkah Satria.
"Enggak bisa, kamu harus diam dulu malam ini. Biarkan aku dapat pahala karena membahagiakan istriku. Aku akan memasak, kamu tunggu saja disini dan jaga Rey..ya sayang.." Satria mendudukkan Amayra diatas ranjang. Kemudian dia mengecup kening sang istri penuh kasih sayang.
Ayah, aku janji akan selalu membuat putri dan cucu ayah bahagia.
"Ya udah," jawab wanita itu sambil mengangguk patuh.
Satria pergi ke dapur untuk memasak, dia melihat Bram juga disana. Presdir Calabria grup itu memakai celemek sambil memegang spatula.
"Kakak? Ngapain kakak malam-malam begini ada di dapur dengan penampilan seperti itu?" tanya Satria terheran-heran.
Kok bau gosong ya?
"Hahaha.. gak apa-apa Sat, aku cuma lapar dan mau makan sesuatu saja." Bram menjawab sambil tertawa canggung.
Sebenarnya aku lapar dan sekalian aku belajar masak untuk aku tunjukkan pada Diana nanti. Tapi.. haihhh...
"Oh gitu kak, kakak memasak apa?" tanya Satria sambil melihat wajan diatas kompor. Satria ternganga melihat wajan yang gosong itu dan didalam wajan ada makanan, entah makanan apa yang digoreng oleh Bram sampai gosong seperti itu.
Bram terlihat bingung sendiri, "I-itu aku memasak telur, tapi apinya terlalu besar.. jadi gosong!" kilah Bram menyalahkan api yang membuat telurnya gosong.
"PFut... subhanallah, sampai gosong begini. Sudah kak, kakak lapar kan? Biar aku aja yang masak," Satria mengambil spatula yang ada ditangan Bram.
"Eh, emang kamu mau makan juga?"
"Iya, Amayra juga belum makan lagi. Tadi makannya cuma sedikit," ucap Satria sambil menyimpan wajan gosong itu ke tempat cucian piring. Dia memutar keran air dan merendam wajan gosong dengan air.
"Iya, kasihan dia nangis terus. Kamu harus menjaganya dengan baik ya Sat," ucap Bram yang kasihan pada Amayra yang sekarang menjadi anak yatim piatu.
"Iyah kak, itu sudah kewajiban ku sebagai suami untuk menjaga dan membahagiakan istriku," jawab Satria sambil tersenyum. "Eh kakak? Apa kakak mau diam saja disitu? Ayo bantu aku masak!" ujarnya pada Bram.
"Aku?"
"Ya, apa kakak gak mau?" tanya Satria sambil melihat ke arah Bram yang sedang duduk di kursi dapur.
Bram langsung beranjak dari kursinya, "Mau dong, sekalian belajar."
"Oke, kakak tugasnya potong-potong bahan-bahan dulu," titah Satria sambil mengambil nasi yang tersisa di dalam tempat nasi. Dia mengambil wajan batu kemudian meletakkannya diatas kompor. Pria itu gayanya sudah seperti Chef saja.
"Bahan bahan apa nih? Emangnya kamu mau buat apaan?" tanya Bram penasaran.
"Nasi goreng cinta!" Satria tersenyum lebar.
"Haha, nasi goreng cinta?" Bram tersenyum mendengar ucapan Satria.
Ketika kedua pria itu sedang asik duel memasak di dapur. Anna turun dari lantai dua dan pergi ke arah dapur, dimana dia merasakan ada harum masakan yang menggugah selera.
"Wah, pasti bi Lulu lagi masak nih? Tapi kok malam-malam begini ya? Masak buat siapa?" Anna bertanya-tanya.
Dia berjalan ke dapur dan melihat kedua om nya sedang beraktivitas didapur. Mereka terlihat bahagia ketika melakukan aktivitas mereka.
Anna melihat Bram sedang menata piring, Satria sedang memasak. "Woah, om lagi pada ngapain nih? Lagi menangkap jadi chef ya?" ucap Anna sambil menghampiri kedua om nya itu.
"Eh Anna?" sapa Bram pada keponakannya itu.
Disisi lain Satria, memindahkan nasi goreng dari dalam wajan ke dalam 3 piring yang sudah ditata Bram.
__ADS_1
"Wah, nasi goreng...mau dong!" Kata Anna yang ngiler melihat nasi goreng yang sudah tersaji diatas piring spesial telur dan sosis.
Satria dan Bram saling melirik satu sama lain dengan bingung. "Gimana nih kak, cuma ada 3 porsi?"
"Emang gak ada lagi nasinya?" tanya Bram setengah berbisik.
"Abis kak," Satria menggeleng-geleng. "Ya udah An, ambil aja punya om. Gak apa-apa," ucap Satria sambil tersenyum menyerahkan sepiring nasi goreng pada Anna.
"Benaran om? Gak apa-apa ini buat Anna?" Anna menatap nasi goreng itu dengan mata berbinar-binar.
"Iya gak apa-apa," jawab Satria sambil mengelus rambut pendek Anna dengan penuh kasih sayang.
"Ini nasi goreng punya ku aja, aku gak terlalu lapar kok," ucap Bram menawarkan.
"Gak usah kak, udah punyaku aja." kata Satria tidak keberatan.
"Woah makasih om Satria! Om emang paling the Best,"
"Kamu juga harus belajar masak ya nanti, biar suami kamu makin cinta. Jangan mau dimasakin terus," Bram mengacak-acak rambut Anna seraya menggoda gadis itu.
"Aduh om.. iya deh om iya, nanti aku belajar masak sama Amayra atau sama bi Dewi," ucap Anna dengan bibir yang mengerucut sebal pada Bram.
"Anna, panggil Tante Amayra!" Ralat Satria sambil menatap Anna.
"Aduh om.. aku belum terbiasa manggil Tante," ucapnya dengan suara kecil.
"Panggil Tante!" Bram berkata tegas sambil berkacak pinggang.
Anna langsung menciut sambil memakan nasi gorengnya disana. Anna makan nasi goreng bersama Bram di dapur. Sementara Satria membawa nasi goreng itu ke dalam kamar. Dia dan Amayra makan sepiring berdua saling menyuapi.
Malam itu adalah malam yang panjang untuk Amayra, karena Amayra kesulitan untuk tidur. Satria terjaga menjaga Amayra, hingga wanita itu bisa menutup mata didalam pelukan suaminya.
Pelukan yang selalu dirindukan Amayra, pelukan suaminya yang hangat. Menggantikan pelukan sang ayah yang telah tiada.
"Selamat malam sayang, tidur yang nyenyak," ucap Satria sambil mengecup kening Amayra penuh kasih sayang. Wanita itu menjadikan lengan Satria sebagai bantalan.
Pagi itu adalah pagi yang cerah, karena Satria dan Amayra akan kembali menjalankan aktivitas mereka.
Satria yang sudah kembali dari Afrika dan kembali ke rumah sakit sebagai dokter kepala bedah sesuai dengan prestasinya. "Selamat pagi jagoan papa sayang," sapa Satria sambil mengecup lembut pipi Rey.
"Selamat pagi Papa," sapa Amayra sambil tersenyum pada Satria. Dia menggerakkan tangan kecil Rey.
"Eh lupa, istriku sayang juga selamat pagi." Satria mengecup kening istrinya dengan semangat.
"Sepertinya hari ini berbeda dari hari biasanya, kira-kira kenapa papa bisa sebahagia ini ya Rey?" Amayra bertanya pada Rey tapi matanya melirik pada Satria.
"Hem.. kenapa ya?" Pria itu dokter di kursi meja makan.
Tentu saja hari itu adalah hari cerah untuk Satria karena hari ini adalah hari pertamanya kembali masuk rumah sakit dengan posisi kepala bedah.
Satria dan Amayra sarapan bersama, tak lupa Amayra memberikan bekal makan siang untuk Satria ke dalam kotak bekal. Bukan maksud menghemat, tapi dia ingin menunjukkan cintanya pada sang suami.
"Hari ini kamu ada kelas, May?" tanya Satria sambil mengambil tas hitamnya yang berbentuk persegi panjang itu.
"Iyah kak, nanti siang.." jawab Amayra sambil merapikan dasi suaminya.
"Ehm.. May.."
"Ya?" Sahutnya.
"Kok aku tiba-tiba ingin dipanggil Mas ya?"
"Hah? Apa?" Amayra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, aku ingin dipanggil Mas. Kayaknya lebih romantis aja daripada kakak,"
__ADS_1
"Kakak ini ada ada aja deh, masa mau dipanggil Mas?" Amayra melihat ke arah Rey yang sedang berbaring di roda bayi.
"Coba panggil aku begitu," Satria merengkuh tubuh istrinya, hingga mereka bersentuhan.
"Kak, ada bi Dewi di belakang.." ucap Amayra setengah berbisik pada suaminya.
"Bi Dewi kan dibelakang, kita ada disini lalu apa masalahnya sayang?" tanya Satria sambil memeluk Amayra semakin erat.
Sekarang panggilan sayang itu sudah terbiasa di ucapkan Satria, padahal dulu kata sayang itu terasa asing di lidahnya. Kini sudah menjadi rutinitas dan kewajibannya, itu karena Satria sangat mencintai istrinya.
"Malu dong nanti kalau bi Dewi lihat," ucap wanita itu sambil menunduk malu-malu.
"Kalau bi Dewi gak lihat dan gak dengar, berarti gak malu kan?" Goda Satria pada istrinya.
Sudah lama dia tidak melihat Amayra malu-malu, dia senang sekali menggodanya.
"Kakak.. lepas ih.."
"Bilang dulu, Mas.."
"Tidak mau, kak!" katanya tegas.
"Bilang dulu Mas, atau ku cium kamu sekarang!" Satria menggunakan mode mengancam pada istrinya.
"Kakak!"
"Maasss.." ucapnya meralat.
"Mas.." lirih Amayra memanggil suaminya dengan malu-malu.
Melihat pipi merah dan suara lembut sang istri, membuat Satria dimabuk kepayang olehnya. Dia mencium bibir sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Hemmphh!" Mata Amayra membulat seketika saat bibir Satria menyentuh bibirnya.
"Mulai sekarang dan seterusnya, kamu harus panggil aku Mas." Satria tersenyum setelah berhasil mencuri kecantikan bibir itu.
"Kakak bilang kalau-"
Cup!
Satria membuat istrinya bungkam dengan satu kecupan manis.
"Salah, panggil Mas!" Ralat Satria setengah memaksa.
"Mas, kenapa bibir kamu selalu main nyosor saja?" protes Amayra yang udah mulai marah pada suaminya.
Tanpa sadar aku memanggil Kak Satria dengan panggilan Mas?
"Maaf sayang, sudah lama bibir Mas tidak bersentuhan dengan bibirmu. Nanti malam aku akan meminta jatahku," ucap Satria seraya tersenyum menggoda istrinya.
"Jatah apa Mas?" tanya Amayra dengan wajah polosnya.
"Jatah yang sudah dua bulan tidak ku dapatkan darimu," ucap Satria sambil tersenyum.
Amayra langsung bungkam saat itu juga. Dia menunduk malu.
"Ya sudah kalau sudah mengerti, aku berangkat dulu ya may. Rey, papa berangkat dulu nak... jangan rewel ya sama bi Dewi nanti. Kamu kabari aku kalau mau pergi kuliah, nanti aku antar.." kata Satria cerewet pada anak dan istrinya.
"Tidak usah, aku bisa naik ojeg. Mas kan sibuk, ini hari pertama Mas bekerja lagi. Jangan buat masalah," ucap Amayra sambil mencium tangan suaminya.
"Baiklah, kabari aku kalau terjadi sesuatu. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Amayra melihat kepergian suaminya sambil tersenyum bahagia. Dia senang suaminya telah kembali pulang dengan selamat, tapi disisi lain jauh dilubuk hatinya yang terdalam. Dia masih sedih karena pak Harun.
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong soal jatah itu... nanti malam aku dan Mas Satria? Ah! Tidak!" Amayra menggeleng-geleng tidak karuan. Dia sudah mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. "Mas Satria bukan mau minta itu...kan?" gumam wanita itu sambil memegang kedua pipinya yang panas dan merah.
...----****----...