
...๐๐๐...
Bukannya pergi tidur seperti yang dikatakan oleh Amayra, Satria malah asyik bersama Rey didalam kamarnya. "Kak, aku kan sudah bilang untuk pergi tidur. Nanti kakak ngantuk lho kalau kerja malam lagi." Ucap Amayra sambil merapikan baju-baju Rey selagi Rey sedang tidur.
"Aku bisa tidur malam nanti kok, tenang aja." ucap Satria sambil membantu Amayra merapikan baju-baju Rey.
"Kenapa? Kakak gak jaga malam lagi?" tanya Amayra sambil melirik ke arah sang suami.
"Enggak, mulai besok jadwalku pagi lagi. Jadi hari ini aku bisa main sama Rey." Satria memandangi Rey dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Kalau kakak mau main sama Rey, kakak harus mandi dulu! Kakak belum mandi kan?" Amayra tersenyum menggoda suaminya.
Satria tersenyum, dia memang belum mandi. Dia lupa sehabis subuh tadi tidak langsung mandi malah bermain dengan Rey. Sebagai istri yang baik, sudah kewajiban Amayra untuk memenuhi kebutuhan suami dan anaknya. Amayra bergegas pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Satria, memastikan air itu tidak terlalu panas atau terlalu dingin untuk Satria.
Ketika sedang menyiapkan mengecek suhu air didalam bathtub, Amayra dibuat terkejut dengan sepanjang tangan melingkar ke perutnya. Tubuh telanjang dada Satria memeluk sang istri dari belakang. "Kak Satria."
"May, mandi bareng yuk?" tanya Satria dengan bibir yang menyusuri leher Amayra dibalik hijabnya.
Pertanyaan Satria sontak saja membuat Amayra tersentak kaget. Bagaimana bisa Satria melontarkan pertanyaan seperti itu? Apa Amayra sedang bermimpi? Amayra menjadi malu mendengar pertanyaan suaminya itu, ajakan untuk mandi bersama.
Napas Satria berhembus terasa hangat dileher Amayra. Pria itu dalam keadaan telanjang dada, Amayra merasakan tubuh kekar Satria mendekapnya dengan erat, "Maaf kak, tapi aku sudah mandi." ucap wanita itu dengan senyuman merekah dibibirnya.
Satria membalikkan tubuh sang istri hingga mereka berhadapan, "Kamu lagi godain aku ya?" tanyanya sambil menatap sang istri dengan cinta. Tangannya menggenggam tangan cantik itu.
"Siapa yang godain? Aku emang udah mandi kok," jawabnya malu-malu.
Saliva Satria naik turun, lagi-lagi terbersit hasrat ingin mencumbu istrinya. Wajah cerah, cantik Amayra, membuatnya tidak bisa menolak akan gairah. Pelan-pelan Satria melepas hijab yang dikenakan istrinya, "Kak.." lirih Amayra dengan suara sedikit bergetar. Kini rambut indah Amayra terlihat oleh Satria, sang suami membelai rambutnya.
"May, apa boleh aku mencium kamu?" tanya Satria dengan suara lembut, napas yang memburu.
"Boleh, asal jangan sampai melakukan itu. Karena ada larangannya," ucap Amayra sambil menatap suaminya. Dia menjelaskan kepada suaminya hadist tentang itu.
__ADS_1
ููุนููู ุฃูููุณู ุฑุถูู ุงูููู ุนููููู ุฃูููู ุงููููููุฏู ููุงูุช ุฅูุฐุง ุญูุงุถูุชู ุงูู ูุฑูุฃูุฉู ููููููู ู ููู ู ููุคูุงูููููููุงุ ููููุงูู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ุงุตูููุนููุง ููููู ุดููุกู ุฅููุงูู ุงููููููุงุญู
Artinya:ย
Dari Anas Radhiyallahu โanhu bahwa orang Yahudi bila para wanita mereka sedang mendapat haid, mereka tidak memberikan makanan kepada para wanita itu. Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda: โLakukan segala yang kamu mau kecuali jimaโ (hubungan badan)โ.โ (HR. Muslim)
"Oh jadi gitu, maaf ya May aku belum menjadi suami yang sempurna untuk kamu. Hal seperti ini saja aku tidak tau," Satria insecure karena pengetahuan agamanya masih jauh dari pengetahuan Amayra tentang agama.
Sepertinya aku harus belajar lebih banyak lagi tentang agama dari ustad Arifin.
"Eh kok kakak bilang gitu sih? Kakak sangat sempurna untukku, kakak imamku dan ayah terbaik Rey. Soal pengetahuan tentang agama, kita kan bisa belajar sama-sama." Jelas Amayra sambil memeluk suaminya.
"Terimakasih, aku akan mencoba yang terbaik. Jadi gimana? Bolehkah aku mencium kamu?" tanya Satria dengan tangan yang menggerayangi rambut panjang Amayra.
"Ya udah, cepetan.. nanti Rey keburu bangun, kak!" Jawab Amayra dengan wajah tersipu malu.
"Ya May,"
"Kak Satria.." lirih Amayra kegelian dengan ciuman lembut suaminya.
"Aku cinta kamu, May.." Satria mengutarakan lagi cintanya dengan lembut.
"Aku juga kak," Amayra mendongakkan kepalanya, dia tersenyum melihat suaminya.
Terpaksa mereka harus menghentikan suasana romantis itu, ketika Rey terbangun dan menangis. Amayra segera meminta Satria menyelesaikan mandinya.
"Uh.. sayang, kenapa? Kamu haus?" Amayra melihat bayinya yang terbaring di atas ranjang. Dia mengecek kondisi Rey apa yang membuat anaknya menangis tidak nyaman. "Oh.. ternyata popoknya basah ya? Anak ibu gak nyaman ya? Ibu ganti popoknya ya sayang," Amayra selalu tersenyum ketika melihat bayi mungilnya itu. Dia tak pernah mengeluh lelah meski dia banyak begadang dan menggendong Rey ketika anaknya sedang rewel.
Dia tau kewajiban seorang ibu, walaupun Amayra sejak kecil sudah diurus oleh ayahnya karena sang ibu sudah lama meninggal. Tidak ada yang mengajarkannya menjadi seorang ibu, tapi semua berjalan sesuai dengan alurnya. Kini dia adalah seorang ibu dan dia harus bersikap layaknya seorang ibu.
1 bulan telah berlalu, sejak Amayra, Satria dan Rey tinggal di rumah itu. Keesokan harinya akan diadakan acara aqiqah untuk baby Reyndra. Anna yang sudah kembali ke Inggris untuk melanjutkan kuliah, akhirnya kembali lagi pulang ke Jakarta, dia mengambil cuti kampus selama 3 hari untuk menghadiri acara aqiqah adik sepupunya itu. Bram sudah melakukan operasi otak, dia sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari. Semenjak saat itu Bram banyak berubah.
__ADS_1
Setiap minggunya dokter Diana datang ke rumah besar keluarga Calabria untuk memeriksa kondisi Rey dan Amayra. Hari itu adalah hari dimana jadwal check up Amayra dan Rey. Diana datang ke rumah itu dengan membawa peralatannya, tapi dia datang kesorean karena jadwal prakteknya menjadi lebih lama.
"Assalamualaikum," ucap Diana sambil mengetuk pintu rumah yang mewah itu.
"Waalaikumsalam, eh ada dokter Diana. Ayo dok, masuk dulu. Mau cek kondisi baby R ya?" Anna yang sedang berada di dekat pintu, menyambut Diana dengan ramah dan hangat.
"Iyah, makasih ya Anna." Diana tersenyum lebar seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.
Diana dipersilakan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Sambil menunggu Amayra dan Rey yang masih ada di kamar, Dewi membawakan segelas air minum untuk Diana.
Tak lama kemudian, Amayra datang menghampiri dokter Diana sambil mengendong baby Rey. Seperti biasanya, mereka saling menanyakan kabar satu sama lain. Amayra sudah terbiasa memanggil Diana dengan sebutan kakak, hubungan mereka sudah menjadi lebih dekat.
"Apa ada keluhan May? Kamu gak merasa ada apa-apa ditubuh kamu?" tanya Diana sambil mengecek tekanan darah Amayra dengan alat medis yang dia bawa.
"Gak ada kok kak, alhamdullillah aku baik." jawab Amayra.
Diana melihat tekanan darah Amayra, dia menggeleng cemas. "Astagfirullah, tekanan darah kamu rendah May, kamu yakin gak apa-apa? Gak pusing?" Diana terlihat cemas melihat tekanan darah ibu muda itu.
"Enggak kok biasa aja, mungkin itu karena aku kurang tidur." jawab Amayra lemas.
"Pastilah, kamu banyak begadang ya? Bayi baru lahir masih dalam siklus bangun-tidur, apalagi kalau malam." Jelas Diana.
"Lalu harus bagaimana biar tekanan darahnya kembali normal?" tanya seorang pria dengan pakaian rapi yang tengah berdiri didepan pintu.
Diana dan Amayra langsung menoleh ke arahnya.
...---***---...
Hai Readers! Maaf kemalaman up nya, dikarenakan sinyal disini sedang kurang memadai, ๐ insyaallah besok author up 2 ya.. semoga sinyal bisa diajak kompromi!
Jangan lupa like, komen, gift vote nya ya buat author ๐๐๐๐ฅฐ
__ADS_1