
Baca setelah buka puasa atau ketika tidak puasa ya, ok?🙏🙏😅
Dibawah umur, minggir dulu!
...****...
Satria menatap istrinya dengan penuh cinta, dia melepaskan kerudung Amayra dengan perlahan-lahan. Kini terlihatlah rambut panjang lurus berwarna hitam yang indah itu.
Dimulai dengan belaian lembut penuh kasih. Satria menggerakkan jari-jarinya menelusuri rambut sang istri.
"May, boleh gak?" tanya Satria sambil berbisik ke telinga istrinya.
Amayra mengangguk patuh, dia juga sudah lama tidak merasakan sentuhan suaminya. Dia bulan dia kesepian tanpa Satria. Dia merindukan belaian itu. "Mas..mau disini atau di kamar sebelah?"
"Kalau kamu bisa menjamin untuk tidak bersuara, maka kita lakukan disini. Semuanya tergantung kamu sayang.." ucap Satria sambil mencium pipi istrinya. Nafas Satria memburu, wajahnya memerah. Dia sudah lama menahan hasratnya sebagai pria normal yang memburu seorang wanita, seorang pria yang sudah lama berpuasa.
"Eh.. aku.." Amayra bingung.
"Kalau kamu gak yakin, gimana kalau kita percobaan dulu?" Satria memiliki ide lain dikepalanya.
"Percobaan?"
"Begini.."
Satria mendorong tubuh Amayra ke atas ranjang yang empuk itu. Satria berada di atasnya. Dia membuka baju tidurnya dan melemparnya ke atas ranjang bagian yang lain.
Tubuhnya yang telanjang dada terekspos nyata. Tanpa sadar jari-jemari Amayra menyentuh otot-otot dada milik suaminya.
"Masih sama ya, sejak terakhir kali kita..." Gumam wanita itu sambil memandang keindahan tubuh suaminya.
"Kenapa? Terakhir kali kita apa?" Satria mengambil satu tangan istrinya, dia mencium lembut punggung tangan itu. Kemudian dia memasukkan jari telunjuk Amayra ke dalam mulutnya dan menghisap jari itu. Dia menjilat dan menggigitnya.
"AHHHhhh...Mas...Ahhh...."
__ADS_1
Pria itu menghentikan aktivitasnya, "Tuh kan? Baru segini saja kamu sudah bersuara. Aku bahkan belum mulai," Satria menangkup tubuh istrinya. Dia menggendong Amayra dan membawanya ke kamar sebelah kamar itu.
Kamar yang selalu mereka gunakan untuk melakukan hubungan suami istri atau bisa disebut juga dengan bersenggama.
Dengan hati-hati Satria menempatkan Amayra diatas ranjang itu. Seperti biasanya Satria yang memulai semuanya, karena sang istri selalu malu-malu kucing kalau disuruh melayani.
Dimulai dengan bismillah. Dia menatap wanita itu dengan cinta, seakan itu adalah malam pertama mereka lagi. Padahal sudah berapa kali mereka melakukannya. Atau ini karena mereka sudah lama tidak bertemu, makanya mereka saling rindu serasa suasana malam pertama?
Satria melakukan pemanasan, dia memulai semuanya dengan bibir. Benda kenyal yang letaknya di bawah hidung itu, menyentuh dan menelusuri badan Amayra perlahan-lahan. Dia melepaskan baju istinya, hingga pelindung dua buah gunung itu juga ikut dilepaskannya.
Tangan Amayra refleks menutup kedua buah gunung miliknya itu. Dia menatap sang suami dengan mata memicing.
"Jangan ditutupi sayang, biarkan suamimu melihatnya." Satria memegang tangan Amayra. Dia menatap tubuh istrinya dengan tatapan nanar.
"Aku malu, Mas.."
"Hee.. aku semakin suka melihat wajahmu ini. Aku rindu kamu May," Satria membelai lembut pipi Amayra. Dia menikmati sepuasnya wajah yang selalu dia rindukan saat berada di Afrika sana.
Kini dia bisa memeluk Amayra sepuas hatinya.
Beberapa kali Amayra menggelinjang kegelian, dia mendesah dengan penelusuran bibir suaminya. Baru kali ini Satria bergerak bebas, seperti sudah mahir saja. Apakah ini karena dia sangat rindu?
Setelah bibir yang menjelajah habis tubuh cantik wanita itu, kini tangan Satria mulai bergerilya kesana kemari. Menelusuri setiap bagian sensitif tubuh istrinya, dia tau benar dimana dia harus meletakkan tangan itu.
Beberapa kali Amayra berteriak dan mendesah karenanya.
Satria mencium bibir Amayra dengan penuh gairah dan kerinduan. Kedua tubuh dua insan yang akan berpadu menjadi satu itu sudah sangat memanas menuju ke puncak.
"May?"
"Ya?" Sahutnya sambil mencoba mengatur nafas.
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan?"
__ADS_1
"2 hari yang lalu kak, baru berhenti.." jawab Amayra yang berada dibawah kungkungan tubuh kekar Satria.
"Bagus," Satria tersenyum lembut. Entah apa yang dia pikirkan saat itu.
"Bagus? Kenapa?" Tanya Amayra dengan wajah polosnya.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Satria langsung gempur dengan semangat meminta jatahnya. Malam itu mereka berpacu dalam suasana penuh cinta. Tubuh mereka menyatu dalam kerinduan yang mendalam.
Satria tidak hanya menjamah satu kali, bahkan dia sampai meminta tiga kali hingga Amayra sulit mengimbangi kekuatannya.
"Mas...sudahlah, aku lelah ih...haahhh.." Amayra menghela nafas dengan tubuh berkeringat dan tengkurap diatas ranjang.
Uh... pinggangku rasanya mau remuk seperti terlindas truk saja!
"Oke, kita cukupkan sampai disini. Aku susah puas kok, terimakasih sudah melayani suamimu sayang," ucap Satria sambil mengecup Amayra penuh cinta.
Cup! Muach..
"Setelah kembali dari Afrika, kamu semakin kuat Mas.."
"Benar, aku semakin kuat karena aku sangat merindukanmu selama ini. Aku kesulitan untuk menahannya," ucap Satria menjelaskan.
"Oh begitu ya?" Amayra mengerutkan kening sambil menatap tajam pada suaminya.
"Kamu tidur dulu saja, aku mau mandi duluan di kamar sebelah sambil menjaga Rey."
"Tidak usah biar aku saja," ucap Amayra merasa tidak enak.
"Aku saja! Tidurlah, jangan pikirkan apapun selain istirahat. Nanti sebelum subuh aku akan bangunkan kamu." Satria tersenyum puas penuh kemenangan. Dia mengecup kening Amayra untuk ke sekian kalinya.
Satria benar-benar suami idaman untuk Amayra dan juga ayah terbaik untuk Rey. Amayra tertidur pulas, sementara Satria pergi ke kamar sebelah sambil melihat Rey yang masih tertidur pulas.
"Rey jagoannya papa, gak apa-apa kan kalau kamu cepat punya adik?" bisiknya pada bayi mungil itu.
__ADS_1
Ya Allah semoga setelah ini Amayra bisa memberiku anak kedua.
...----****----...