
Amayra mengikuti kelas itu dengan kepala terantuk beberapa kali ke atas meja. Lisa melihat Amayra yang terlihat lemas itu. Seusai kelas, Amayra menyandarkan kepalanya diatas meja.
"Non, nona kenapa?" tanya Sandy sambil menghampiri Amayra.
"Saya gak apa-apa." jawab Amayra sambil menundukkan kepala.
"May, kamu gak apa-apa?" tanya Lisa cemas pada sahabatnya itu.
Amayra menggelengkan kepalanya, "Aku gak apa-apa. Cuma ngantuk terus bawaannya," wanita hamil itu menguap, dia menutup mulutnya yang ternganga dengan satu tangan.
"Kayaknya bawaan hamil tuh," jawab Lisa sambil tersenyum.
"Saat aku hamil Rey dulu, aku gak gini. Kenapa sekarang kok aku ngantuk terus ya? Pak Sandy, ayo kita pulang aja!" Seru Amayra sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya non. Apa perlu saya telepon pak Satria? Takutnya non Amayra sama bayinya kenapa-napa." Sandy terlihat cemas dengan keadaan Amayra.
"Pak Sandy gak usah cemas ya, Mayra cuma ngantuk biasa. Itu bawaan bayi," ucap Lisa sambil tersenyum pada bodyguard tampan itu.
Bodyguardnya Mayra kayaknya ganteng banget walau pakai kacamata. Apa dia lajang ya?.
"Oh gitu ya, maaf saya gak tau tentang ibu hamil." ucap Sandy polos.
"Apa jangan-jangan pak Sandy masih lajang?" Tanya Lisa dengan harapan pria muda itu masih lajang.
"Pak Sandy masih lajang sih, usia 25 tahun." jelas Amayra singkat. "Ya kan pak Sandy?" tanya Amayra pada Sandy. Pria itu hanya mengangguk.
"Cocok dong!" Lisa bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.
Ah gila! Ternyata masih jomblo.
"Cocok?" Amayra dan Sandy menatap Lisa dengan bingung.
"Haha.. maksudnya pak Sandy cocok dengan pekerjaan ini, masih muda dan..hem.. pokoknya cocoklah!" kata Lisa gugup.
Setelah itu Amayra dan Sandy berjalan pulang ke rumah Calabria. Amayra terlihat lemas dan ngantuk, entah kenapa dia juga lapar terus. Bahkan cemilan dari Nilam saja sudah dia habiskan sendiri satu toples, sisanya dia berikan pada Anna. Didalam perjalanan pulang, Amayra melihat pohon jambu di depan rumah.
Buah jambunya tampak menggoda di mata ini hamil itu. "Pak Sandy, berhenti dulu!" Seru Amayra pada Sandy yang duduk di kursi depan menyetir mobil.
"Ya non?"
"Berhenti dulu pak!" titah Amayra pada Pak Sandy.
Sandy menepikan mobilnya dipinggir jalan, Amayra langsung berlari keluar dari mobil dengan mata berbinar-binar menatap pohon jambu yang menggoda matanya. Sandy mengikutinya keluar.
"Non! Hati-hati, jangan lari-lari begitu...tuan Satria bilang non jangan lari-lari!" Sandy mengingatkan Amayra untuk berhati-hati dalam langkahnya.
"Maaf ya pak Sandy..hehe." Amayra hanya nyengir saat diingatkan oleh Sandy.
Sekarang aku paham kenapa tuan Satria dan pak presdir sangat protektif padanya. Non Amayra seperti anak kecil yang harus dijaga, kalau lengah sedikit saja mungkin bisa terjadi sesuatu. Sandy akhirnya paham kenapa Satria dan Bram sangat protektif terhadap ibu hamil itu.
"Non, kenapa non meminta saya menghentikan mobilnya?" tanya Sandy pada Amayra yang sedang melihat pohon jambu didepan rumah orang lain itu.
__ADS_1
Amayra mengelus perutnya, menunjukkan raut wajah memelas. Dia menatap pohon jambu itu. "Non Amayra kenapa? Non mau buah jambu?"
Amayra mengangguk-angguk.
"Kita bisa beli jambunya non," ucap Sandy.
"Gak mau, saya mau jambu yang disana itu." Amayra menunjuk ke arah pohon jambu yang berada didalam rumah.
"Non, tapi itu jambu ada yang punya." Sandy melihat ke arah pohon jambu itu.
Amayra mengambil ponselnya di dalam tas. Kemudian dia menelpon seseorang. "Mas...kamu dimana?" tanya Amayra yang ternyata menelpon suaminya.
"Aku lagi dijalan mau pulang sayang, ada apa? Oh ya kamu sama pak Sandy ada dimana?" tanya Satria sambil menyetir mobil.
Kalau aku suruh Mas Satria kesini sekarang dan suruh dia ngambil buah jambu ini. Kasihan juga, Mas Satria kan baru pulang dia pasti capek. Tapi gak tau kenapa aku mau mas Satria ngambil buah itu.
Lama tak mendengar suara dari istrinya, membuat Satria cemas. "Sayang? Kamu kenapa?" tanya Satria lembut.
"Ah gak apa-apa Mas. Aku juga mau pulang kok sama pak Sandy," jawab Amayra cepat.
"Mau aku jemput sayang? Kamu dimana?" tanya Satria perhatian pada istrinya.
"Gak usah mas, aku dijalan mau pulang kok." ucap Amayra.
Setelah pembicaraan itu, Amayra masuk ke dalam mobil bersama Sandy. Sandy heran karena Amayra tidak jadi memintanya mengambil buah jambu. Raut wajahnya terlihat tidak tenang, Sandy tidak paham apa yang terjadi pada wanita hamil itu.
Satria sampai lebih dulu dirumah, berbeda beberapa detik dengan Amayra. Satria dan Amayra masuk ke dalam rumah Calabria bersama-sama. Sandy juga mengikuti sampai ke dalam rumah untuk memastikan bahwa Amayra baik-baik saja.
"Pak Sandy terimakasih ya sudah menjaga Utari saya. Bapak bisa pulang sekarang, karena sudah ada saya." Satria berterimakasih pada Sandy yang sudah menjaga Amayra.
"Mas, aku ke kamar duluan." ucap Amayra lemas dengan wajah cemberut.
Satria melihat istrinya pergi dengan wajah sedih. Dia pun bertanya pada Sandy, mungkinkah ada yang menganggu istrinya di kampus. Atau ada kejadian yang membuat Amayra sedih.
"Tidak ada yang menganggu nona, pak."
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa wajah istriku begitu?" tanya Satria keheranan.
"Tadi nona Amayra mengantuk di kelas, terus pas pulang dari kampus..."
Sandy menceritakan pada Satria tentang pohon jambu yang dilihat Amayra sebelum pulang. Dan bagaimana wanita hamil itu bersedih saat menatapnya. Satria pun paham, dia berpikir istrinya sedang ngidam ingin jambu.
Setelah Sandy selesai bertugas, dia pulang kerumahnya yang berada cukup jauh jaraknya dari rumah keluarga Calabria. Dia tinggal di sebuah kontrakan kecil. Walau memiliki gaji besar, Sandy tidak tinggal di rumah mewah atau membeli rumah. Padahal dia mampu membelinya, namun semua uang dia berikan pada ibunya yang sedang berobat di Singapura.
Malam itu, Satria melihat istrinya sedang rebahan di atas ranjang dengan wajah cemberutnya. "Sayang.."
"Apa Mas?" sahut Amayra sambil melihat ke arah istrinya.
"Lihat ini aku bawa apa," ucap Satria sambil membawakan keranjang berisi banyak buah jambu.
Awalnya Amayra semangat melihat buat jambu itu, akan tetapi raut wajahnya kembali menjadi suram. "Loh.. loh sayang, kenapa wajah kamu gitu lagi?"
__ADS_1
"Gak apa-apa." jawab wanita itu muram.
"Kebiasaan deh cewek, kalau bilang gak apa-apa pasti ada apa-apa. Sayang, aku bawa buah jambu yang kamu mau....kamu lagi ngidam jambu, kan?" Satria menawarkan kembali buah jambu yang dibawanya itu.
"Bukan jambu itu yang aku mau," jawabnya dengan bibir yang mengerucut.
"Terus kamu mau jambu apa?"
"Jambu batu,"jawab Amayra.
Satria menyodorkan jambu batu didalam keranjang buah itu pada istrinya, "Ini kan jambu batu sayang,"
"Bukan jambu yang itu," Amayra menggelengkan kepala.
"Terus?" Satria tidak paham dengan ucapan istrinya.
"Aku mau jambu yang...ah gak jadi," Amayra mendesis kesal.
Satria menatap istrinya dengan bingung, keningnya berkerut melihat Amayra yang sudah mulai tidak jelas.
Amayra lagi hamil, kok dia kayak orang Pms ya? Kata kak Diana orang hamil itu harus dituruti ngidamnya, kalau enggak anaknya ileran.
"Mau jambu yang gimana, sayang? Bilang aja sama aku."
"Aku mau jambu yang ada di rumah itu,"
"Rumah? Rumah siapa?" tanya Satria keheranan.
"Pokoknya yang di rumah itu, aku mau jambu yang ada di pohon itu." ucap Amayra menjelaskan.
"Oke, rumah yang mana? Aku kesana sekarang ya, aku ambilkan jambu itu untuk kamu."
"Enggak Mas, aku harus ikut kesana. Aku mau lihat kamu ngambil buah jambunya!" Amayra langsung duduk tegap, bangkit dari rebahannya.
"Sayang.. ini udah malam,"
Amayra langsung memalingkan wajahnya, dia terlihat kesal pada Satria. Satria menepuk jidat, akhirnya dia menurut pada Amayra. Malam itu dan detik itu juga, Satria dan Amayra akan berangkat ke rumah yang ada pohon jambu itu.
Amayra dan Satria sama-sama memakai jaket, mereka bersiap untuk pergi. Bram yang baru pulang bekerja keheranan melihat Amayra dan Satria seperti akan pergi.
"Kak, baru pulang?"tanya Satria.
"Iya Sat. Lah, kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Bram sambil melihat ke arah Amayra dan Satria secara bergantian.
"Mau ngambil buah jambu," jawab Satria.
"Bukannya Bi Lulu udah belanja banyak buah jambu?"
"Bukan jambu yang itu kak, tapi jambu ngidam." ucap Satria sambil melihat ke arah istrinya yang sudah berada didepan rumah.
"Hah?"
__ADS_1
Apaan tuh jambu ngidam?
...-----*****-----...