
"Maaf ma, tapi Mayra sama Rey tetap akan pergi ke rumah ayah karena sudah lama kami tidak pergi kesana," ucap Satria menolak permintaan Nilam yang melarang Amayra dan Rey ke tempat Harun.
"Tidak! Mama tidak mau kalian membawa cucu mama ke tempat kumuh seperti itu. Kalau mau menginap, ya tinggal bapak kamu saja yang suruh menginap disini!" Nilam menyarankan agar Harun saja yang menginap disana daripada Amayra dan Rey yang harus pergi ke rumah Harun.
"Maaf ma, tapi rumah ayah saya tidak kumuh. Rumahnya bersih kok, meski tempatnya berada di gang kecil." Amayra mulai kesal karena ibu mertuanya terus bicara tentang rumah ayahnya yang kumuh.
"Hah! Apa kamu sedang membantahku sekarang?" tanya Nilam sinis.
"Ma, udah dong ma.. jangan cari ribut terus. Besok sudah memasuki bulan puasa. Masa mau ribut terus sih ma? Kendalikan emosi mama," ucap Satria seraya menenangkan Amayra dan Nilam.
"Istri kamu ini! Ajarkan dia bicara yang sopan sama orang tua. Mama ngasih tau demi kebaikannya dan Rey juga," ucap Nilam tak mau kalah.
Demi mencegah keributan, akhirnya Satria mengambil keputusan agar Harun saja yang menginap di rumah mereka. Sambil makan sahur pertama bersama mereka disana. "Aku akan jemput ayah, kamu dan Rey di rumah saja ya."
"Ya udah," jawab Amayra cuek.
"Nah iya mending gitu aja, simple kan?" kata Nilam sambil menggendong cucunya. "Cucunya Oma makin ganteng aja nih," ucap Nilam lembut pada cucunya.
Satria melihat kekesalan di wajah istrinya, sebelum berangkat menjemput Harun. Satria mengajak Amayra bicara didalam kamar. "May, kamu marah?"
"Enggak," jawabnya singkat.
"Jelas kamu marah sayang. Kenapa kamu marah? Karena aku mengambil keputusan itu? Kamu merasa aku membela mama?" tanya Satria sambil duduk disamping istrinya.
"Aku gak marah, cuma sedih aja. Sudah lama aku tidak datang ke rumah ayah dan menginap disana,"
"Maafkan aku ya.. tapi menurutku yang penting ada ayah disini bersama kita, bukan dimana tempatnya kan?" tanya Satria sambil memegang kedua bahu istrinya.
"Tapi aku rindu kamar lamaku, ya walaupun kamarku kecil.."
"Ya udah kita pergi lain kali, aku juga mau lihat kamar kamu. Kita nginap di rumah ayah sama Rey juga, kamu jangan marah ya sayang?" bujuk Satria pada istrinya.
"Ya udah deh," gumam Amayra dengan bibir mengerucut.
"Dasar ambekan," Satria mencubit gemas hidung istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Amayra dan Rey tidak jadi menginap di rumah Harun, tapi Harun lah yang menginap di rumah Satria-Amayra. Dia dijemput oleh Satria, sebelum Satria pergi ke rumah sakit.
Suasana di rumah Satria, tidak nyaman karena kehadiran Bu Nilam. Sikap Nilam pada Amayra dan ayahnya berbeda dengan sikapnya pada Rey yang lembut.
Sikapnya belum berubah menjadi lebih baik. Saat Nilam pulang, barulah Amayra bisa bernapas lega.
"Alhamdulillah, haaahhh.." ucap Amayra sambil menghela napas.
"May, kamu gak boleh gitu sama mertua kamu. Mau bagaimana pun sikapnya, Bu Nilam adalah mertua kamu,"
"Maaf yah, kalau mama Nilam menghinaku..aku tidak akan bicara.Tapi kalau soal ayah, aku gak bisa tinggal diam,"
"Tetep saja, kamu tidak boleh terpancing emosi. Lain kali tidak boleh begitu ya, bentar lagi bulan ramadhan. Harus jaga hati, jaga amarah, banyak bersabar." Harun menasehati putrinya.
"Iya yah, maafkan Amayra. Astagfirullah... sabar sabar," ucap wanita itu sambil mengelus dada.
"Oh ya, bulan depan katanya Satria pergi ke Afrika?" tanya Harun sambil melihat cucunya yang berbaring di kasur busa.
"Iya yah,"
"Makasih ayah," Amayra tersenyum lebar.
Harun tersenyum melihat anaknya, dia tidak tau berapa lama lagi dia akan bersama Amayra. Harun berharap bahwa Satria akan kembali bersama Amayra dan Rey, sebelum dia melakukan operasi otak.
...*****...
Malam itu Bram menjemput Diana di depan rumahnya, dia memakai setelan baju Koko berwarna biru tua dan memakai peci berwarna hitam. Pria itu tampak berbeda dengan setelan religius, penampilannya sehari-hari selalu memakai jas hitam yang rapi dan penampilan formal. Kini dia tampil berbeda, wajahnya terlihat cerah.
Diana keluar dari rumahnya dengan setelan baju panjang, dia memakai kerudung instan berwarna biru. Sama dengan warna baju Bram, Diana tersenyum melihat penampilan si CEO narsis itu.
"Wow.. masyaallah ya CEO narsis, anda terlihat sangat cocok dengan pakaian ini."
"Apa itu pujian?" tanya Bram yang juga melemparkan senyuman indah dibibirnya.
"Ya iyalah, memangnya kamu pikir ini ejekan?" ucap Diana tulus memuji.
__ADS_1
"Kamu juga terlihat lebih cantik, memakai baju muslim dan kerudung itu," ucap Bram memuji penampilan Diana yang biasanya selalu keluar dengan setelan dokter dan rambut pendeknya yang selalu terlihat. Kini dia memakai pakaian tertutup yang menutupi ujung kepala sampai kakinya.
"Jadi, kita mau pergi kemana dengan setelan seperti ini?" tanya Diana keheranan.
"Kamu akan tau nanti, ayo jalan." Bram berjalan melewati mobilnya.
"Eh, gak pakai mobil?" tanya Diana heran karena Bram berjalan kaki keluar dari gerbang rumahnya.
"Gak usah, tempatnya gak jauh kok dari rumah kamu," jawab Bram santai.
Diana mengikuti Bram dari belakang, tepat diujung kompleks itu terlihat beberapa orang berpakaian muslim sedang berkumpul disana.
Didepan orang-orang itu ada panggung megah dengan lampu berkelap-kelip. "Acara tabligh Akbar ya? Kok aku gak tau sih ada acara ini?" Diana kebingungan, karena dia tidak tahu ada acara itu di kompleks rumahnya.
"Iya ya, kenapa kamu gak tau padahal acara tabligh Akbar ini diadakan di komplek rumahmu?" tanya Bram yang ikut heran juga. "Oh ya, tablig Akbar sebelum ramadhan ini...diisi oleh ustadz Arifin,"
"Ustad yang mengajarkan kamu itu?" tanya Diana yang ingat bahwa Bram pernah bercerita tentang ustad Arifin, orang yang mengajarinya tentang agama.
"Iya...makanya aku bisa tau. Ayo kita cari tempat duduk dulu," ajak Bram pada Diana.
"Oke,"
Bram mencari tempat duduk yang masih kosong disana, akhirnya dia dan Diana mendapatkan tempat duduk di bangku paling belakang. Karena tempat duduk sudah terisi penuh dengan jamaah yang ingin mendengarkan tabligh Akbar dengan judul Marhaban ya ramadhan.
Diana dan Bram mendengarkan ceramah ustad Arifin sambil memakan sosis bakar yang dijual disana. Karena keduanya belum makan malam.
"Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat dirindukan oleh umat muslim, karena dibulan ini pahala amal kebaikan kita dilipatgandakan, dan di bulan ramadhan ini pula memiliki beberapa keistimewaan sebagai berikut : Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT membebaskan penghuni neraka pada setiap malam bulan. Puasa bulan Ramadhan adalah sebagai penebus dosa hingga datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Puasa Ramadhan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat, dengan syarat puasanya ikhlas. Memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang puasa tersebut. Sedekah yang paling baik adalah pada bulan Ramadhan. Orang yang banyak beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Doa orang yang berpuasa adalah mustajab, puasa dan ِAl-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberi syafaat kepada orang yang mengerjakannya kelak dihari kiamat.
Orang yang melaksanakan Umrah pada bulan Ramadhan maka mendapat pahala seperti melakukan Haji,"
Bram dan Diana mendengarkan dengan seksama ceramah pak ustad Arifin.
...----****----...
__ADS_1