Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 200. Ada dua


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Satria memapah istrinya yang sedang hamil besar itu dengan hati-hati. Mereka berdua bergandengan tangan, lalu masuk ke dalam rumah sakit bersama.


Orang-orang yang melihat kebersamaan Satria dan Amayra, bisa melihat bahwa Satria sangat mencintai istrinya itu. Begitu pula sebaliknya. Tiga dokter magang yang ngefans pada Satria, merasa patah hati melihat dokter yang mereka kagumi itu membawa istrinya.


"Guys, itu kan dokter Satria!" kata salah satu dokter magang gemas.


"Dia sama istrinya ya?"


"Ahhh...hatiku patah! Kalau saja aku yang digandeng seperti itu oleh dokter Satria,"


"Jangan berharap deh. Dokter Satria sangat mencintai istrinya dan tidak ada yang bisa menggantikannya." kata seorang dokter magang dengan wajah kecewa.


Mereka melihat Satria dan Amayra pergi ke dokter kandungan, yaitu dokter Mira. Dokter yang masih bertugas jaga hingga hari Minggu.


"Assalamualaikum dokter," sapa Amayra sembari mengucapkan salam dengan sopan.


"Assalamualaikum dokter Mira." kata Satria mengucap salam juga.


"Waalaikumsalam, kalian sudah datang ya? Mari silahkan, langsung berbaring saja ya Bu Amayra." titah dokter Mira pada Amayra, seraya meminta wanita hamil itu untuk berbaring.


"Sayang, aku bantu ya." Satria membantu istrinya untuk naik ke atas ranjang pasien.


"Makasih Mas," Amayra tersenyum memandang ke arah suaminya.


Pasangan suami-istri ini selalu saja manis, tidak heran si dokter magang itu sampai membicarakannya terus menerus. Mira merasakan atmosfer manis dari pasangan suami istri itu.


Setelah Amayra naik ke atas ranjang, Satria membaringkannya dengan hati-hati. Dia terlihat sangat menantikan hasil USG anaknya. "Sayang, aku cinta kamu."


Kata cinta dan kecupan manis diterima oleh Amayra secara tiba-tiba dari Satria. Tanpa peduli mereka ada disana. "Mas..."


"Ehem! Apa kalian lupa ya ada orang disini? Oh ya, apalah saya yang cuma ngontrak. Dunia kan milik kalian berdua," Mira berdehem, dia tidak tahan melihat keuwuan pasangan suami-istri itu.


"Dokter, maaf ya!" Amayra mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada dokter Mira.


"Kenapa minta maaf sama saya? Saya gak apa-apa kok," Mira tersenyum.

__ADS_1


Dokter spesialis kandungan itu mengambil stetoskop dan alat untuk pemeriksaan USG. Pertama-tama Mira memeriksa kondisi tubuh Amayra dari luar. "Gimana dokter Mira?"


"Alhamdulillah, keadaan Bu Amayra baik-baik saja kok. Tubuhnya sehat dan sepertinya tidak ada masalah dengan kehamilan. Oh ya, Bu Amayra sendiri... bagaimana? Apa ada yang ibu rasakan selama kehamilan? Mual dan muntah misalnya?"


Amayra menggelengkan kepalanya, "Alhamdulillah, tidak ada dok."


"Tampaknya anak kalian itu kuat ya, sama seperti cinta kalian." Kata dokter Mira memuji sambil tersenyum.


Satria dan Amayra tersipu malu dengan pujian itu. Mira pun menyingkapkan baju Amayra, dia mengoleskan sedikit gel di perut buncitnya lalu mengoleskan pelan perut itu. Dia menggunakan alat USGnya, memutar-mutar di sekitar perut itu.


Satria dan Amayra melihat ke arah layar monitor yang berada disana. "Dokter Satria, Bu Amayra...apa kalian melihat layar monitor disana?"


"Ya dokter, kenapa kepalanya terlihat seperti ada dua ya? Mas, apa aku salah lihat?" Tanya Amayra yang melihat di layar monitor itu tampak dua kepala.


"Enggak sayang, benar kok ada dua! Kamu gak salah lihat. Dokter Mira, kenapa disana terlihat dua? Padahal waktu USG 4 bulan, terlihat satu..." Satria terlihat bingung dengan adanya dua kepala di layar monitor itu.


"Selamat dokter Satria, Bu Amayra...bayi kalian kembar." Mira memberikan kabar bahagia ini kepada Amayra dan Satria sambil tersenyum lembut.


Satria dan Amayra terpana mendengar kabar yang tidak terduga ini. Mereka akan memiliki bayi kembar, ada dua kepala dan dua tubuh didalam layar monitor itu.


"Mas, bayi kita kembar?" Amayra tersenyum pada suaminya, dia bahagia karena mendapatkan kabar bahagia.


Amayra dan aku tidak punya kerabat yang lahir kembar. Biasanya bayi kembar itu kuat dengan genetik dari faktor turunan.


Setelah pemeriksaan USG, Satria meminta foto USG bayi kembar mereka. Mereka juga mendengarkan hasil pemeriksaan dari dokter Mira. Satria menolak pemeriksaan jenis kelamin anaknya, dia ingin hal itu menjadi surprise.


"Hasil pemeriksaannya baik-baik saja, ibu dan kedua bayi juga sehat tidak ada masalah. Tapi ibu Amayra tetap harus perhatikan makanan, tidak boleh melakukan aktivitas yang berat dan jangan lupa vitaminnya diminum ya." jelas dokter Mira sambil memberikan resep vitamin untuk Amayra kepada Satria.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Dokter Mira terimakasih," kata Amayra sopan.


Pasangan suami istri itu keluar dari ruangan dokter kandungan dengan wajah berseri-seri. "Sayang, aku tidak percaya kita akan memiliki bayi kembar!"


"Iya mas, Alhamdulillah. Mungkin ini cara yang kuasa untuk menggantikan luka dengan bahagia," ucap Amayra sambil tersenyum. "Tapi, apa mas punya saudara kembar?"


"Ini juga yang mau aku tanyakan sama kamu, apa kamu punya saudara kembar?" tanya Satria bingung.


"Enggak mas, aku gak punya." Amayra menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudahlah, jangan dipikirkan...yang penting kita dapat dua hehe. Semoga selamat sampai lahiran ya sayang, kamu dan anak kita." Satria memeluk istrinya dengan mesra.


"Aamiin...kita pulang yuk mas."


Mereka berdua makan siang lebih dulu di sebuah restoran di Purwakarta. Amayra ingin sekali makan sate Maranggi dan Satria membawanya ke restoran yang ada sate Maranggi disana. Mereka menempuh waktu dua jam untuk sampai dari Jakarta ke Purwakarta demi istrinya.


"Enak banget ya sayang?" tanya Satria melihat istrinya sangat bersemangat makan sate. Hingga sudah ada puluhan tusuk yang kosong di piring.


"Heem, iya mas. Gak tau kenapa aku pengen banget sate Maranggi." Amayra tersenyum lebar, dia memakan satenya dengan nasi.


"Iya gak apa-apa. Makan aja yang banyak ya, tapi kalau udah kerasa mual dan kenyang...makannya udahan ya sayang." Satria mengelus perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Iya mas. Makasih ya udah bela-belain sampai ke Purwakarta demi aku dan anak kita."


"Gak apa-apa sayang, sudah tanggungjawabku memenuhi semua keinginan kamu dan anak kita." ucap Satria sambil tersenyum.


"Sweet banget kamu mas. Alhamdulillah... aku bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan dan menyatukan kita walau dalam keadaan tidak terduga."


"Ini semua adalah takdir, mau jalan apapun yang kita lewati... seperti apa jalan itu. Kita akan tetap bertemu dan bersama." Satria menatap istrinya dengan penuh kasih sayang.


Setelah makan siang di Purwakarta, rencananya mereka akan segera kembali ke Jakarta untuk pulang ke rumah. Namun, mereka pergi dulu ke mushala terdekat untuk melaksanakan shalat dhuhur.


"Sudah selesai May?" Satria menggandeng tangan istrinya.


"Iya mas, ayo kita pulang. Bismillahirrahmanirrahim.." ucapnya sambil tersenyum. Berdoa untuk keselamatan mereka didalam perjalanan.


Pasangan suami istri itu masuk ke dalam mobil, tanpa mereka sadari ada seseorang mencurigakan yang mengikuti mereka. "Bos, mereka sudah berangkat." pria itu bicara dengan seseorang di telpon.


"Bagus, kamu yakin tidak ada yang mengikuti mereka selain kamu?" Clara bertanya pada pria itu.


"Tidak ada Bu, saya yakin!" jawab pria itu tegas.


Selama berbulan-bulan ini aku selalu mencoba segala cara untuk mencelakai Satria dan Amayra. Tapi, selalu saja ada orang dibelakang mereka. Sekarang, orang itu tidak ada dan ini kesempatan besar.


"Suruh temanmu untuk bersiap, jangan sampai gagal!" Seru Clara tegas.


Kali ini kalian tidak boleh lepas dari maut, aku yang akan menjemput kalian pada kematian.

__ADS_1


...****...


__ADS_2