Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 214. Amayra siuman


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bram terlihat gemetar penuh emosi saat mendengar nama Clara disebut. Dia menanyakan sekali lagi pada supit truk. "Apa benar dia orangnya?! Kamu ada bukti?" tanya Bram pada pria itu dengan teliti.


Dia berniat menjebloskan Clara ke penjara agar dia tidak berbuat ulah lagi dan untuk mewujudkannya, harus ada bukti kuat agar dia tidak lolos dari hukuman.


"Iya...ada di ponsel saya...pesan...to... long, air..." ucap pria itu terbata-bata tak berdaya, ia sudah sangat kehausan.


Clara, benar-benar iblis. Batin Bram emosi.


Bima memenuhi janjinya, setelah supir truk mengatakan siapa pelakunya. Dia langsung memberikan segelas air minum pada pria itu, bahkan menyuapinya.


"Kak, siapa Clara ini?" tanya Bima yang tidak tahu menahu tentang Clara.


"Sebelumnya, dia adalah seorang dokter junior di rumah sakit tempat Satria dan Diana bekerja. Tapi dia dikeluarkan dan pindah ke rumah sakit lain karena masalah yang dia sebabkan sendiri. Dia menyukai Satria dan tentu saja Satria menolaknya, selain itu ayahnya adalah pria yang sudah membuat ayah Amayra meninggal dunia. Pokoknya dia orang jahat! Aku pikir dia sudah berubah, ternyata...dia malah semakin menjadi-jadi!" Bram mendengus saat menceritakan tentang Clara. Wanita yang terobsesi pada Satria dan menghalalkan segala cara untuk membuat Amayra dan Satria berpisah.


Bima ikut kesal mendengarnya, dia akan membantu Bram untuk menjebloskan Clara ke penjara. "Kak, beri aku alamat si wanita itu!"


"Mau apa kamu?" Bram mendongak, matanya melebar menatap Bima.


"Haha, tenang saja kak. Aku tidak akan menyiksanya, aku hanya ingin sedikit bermain dengannya sebelum kita mengakhirinya!" Bima tersenyum menyeringai, entah apa yang akan dia lakukan pada Clara. Dia seperti tidak sabar ingin menyembelih wanita bernama Clara itu.


Beraninya dia menganggu Satria dan Amayra. Masuk penjara terlalu mudah untuknya, aku ingin menemaninya bermain dulu.


"Akan kuberikan, tapi kamu harus cepat bermainnya." Bram menghela nafas.


"Ternyata kak Bram tau, kalau aku suka bermain-main." Bima tersenyum mendengar ucapan Bram yang langsung memahami apa maksud Bima.


*****


Keesokan harinya, di rumah sakit.


Amayra masih belum sadarkan diri dari tidurnya, entah karena apa dia masih seperti itu. Padahal hasil pemeriksaannya dan bayinya baik-baik saja.


"Katamu dia baik-baik saja, Diana...tapi kenapa dia masih belum bangun?" tanya Nilam cemas melihat Amayra masih belum siuman.


"Hasil pemeriksaannya tubuh dan USG bayi juga dalam keadaan baik-baik saja, ma. Mungkin Amayra tertidur karena dia lelah." Diana tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Amayra masih tertidur.


"Hem...kalau dia terus tertidur seperti ini, bukankah berbahaya juga untuknya dan bayinya? Dia belum akan apapun sejak kemarin siang." Nilam menatap Amayra dengan kening berkerut.


Diana tidak bicara lagi, dia dan dokter yang lain juga tidak bisa memastikan ada apa dengan Amayra yang masih tertidur itu. Mereka mengasumsikan bahwa Amayra kelelahan dan syok, yang membuat dia tertidur lebih lama.


Anna, Fania, Lisa, Anton dan Ken datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Amayra. Mereka kasihan karena Amayra harus mengalami cobaan bertubi-tubi, seolah tidak diizinkan untuk berlama-lama dalam rasa bahagia.


"An, ternyata Mayra masih belum sadar." Fania melihat sahabatnya masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Kasihan bayinya, mereka pasti belum makan atau minum dari kemarin kan?" Lisa juga cemas pada Amayra. Anna terdiam dan hanya menatap Amayra dengan khawatir, dia berharap Tantenya itu cepat sadar.


"May, cepat bangun dong!" Anton juga prihatin dengan keadaan ibu hamil itu.

__ADS_1


Mereka berlima duduk di sofa ruang rawat itu sambil menunggu Amayra. Fania dan Lisa duduk paling dekat dengan Amayra. Fania bahkan membantu membersihkan tangan Amayra dengan handuk basah agar Amayra nyaman.


"Lap juga pipinya Lis," ucap Fania sambil tersenyum.


"Ya, ini mau." jawab Lisa sambil mengangguk.


Ketika Lisa akan mengusap wajah Amayra dengan lap handuk, dia melihat mata Amayra berkedut dan jarinya bergerak-gerak.


"Fan, kamu lihat itu?" tanya Lisa pada Fania.


"Iya, Amayra siuman." jawab Fania. "Ken, Anna, Anton! Amayra sudah siuman!" ujar Fania pada ketiga orang yang sedang duduk di sofa itu, dia memberitahu bahwa Amayra sudah siuman.


Anna, Anton dan Ken langsung beranjak dari tempat duduk, kemudian menghampiri Amayra ditempat tidurnya. "May!"


Amayra membuka matanya perlahan, dia melihat orang-orang di sekitarnya. "Hum..."


"A-aku akan panggil dokter!" kata Lisa buru-buru.


"Gue aja Lis!"


Anton mendahului Lisa, dia pergi keluar dari ruang rawat Amayra untuk memanggil dokter. Teman-teman Amayra senang karena Amayra sudah siuman.


Namun mereka heran karena melihat ada air mata jatuh dari matanya dan membasahi wajah Amayra. "May, ada apa? Apa kamu sakit? Tunggu bentar ya, Anton lagi panggil dokter." ucap Anna sambil memegang tangan Amayra.


"Mas...mas Satria...di..mana?" tanya Amayra dengan suara terbata-bata, di hidung dan mulutnya masih terpasang nebulizer.


"Ya, aku tau tapi..."


Tak berselang lama, Anton datang bersama Diana yang kebetulan sedang jam istirahat. Dia menggunakan stetoskop untuk memeriksa Amayra. "May, apa ada yang sakit?" tanya Diana cemas.


Amayra menggeleng lemah, dia terus bicara dan menanyakan di mana Satria berada. Diana mengatakan bahwa Satria berada di tempat aman. "Kamu tenang saja May, Satria berada ditempat yang aman."


"Jadi...mas Satria masih hidup kan?" tanya Amayra sambil menatap Diana dengan mata yang sayu.


"Iya, dia masih hidup. Kamu gak usah cemas, nanti setelah kamu merasa baikan...kita temui Satria bersama-sama ya?" Diana membujuk Amayra agar wanita hamil itu untuk rileks terlebih dahulu.


Sebaiknya jangan beritahu dulu pada Amayra kalau Satria dalam keadaan koma. Dia harus stabil dulu, baru saja dia mengalami syok.


"Iya kak, tapi aku ingin bertemu mas Satria sekarang juga."


"Tidak bisa May, kamu belum pulih." Diana melarang.


"Kalau begitu, suruh saja mas Satria kemari. Katanya dia baik-baik saja kan? Kenapa dia tidak menemuiku dan malah ada mas Satria yang palsu." Amayra masih kesal dengan adanya Bima yang menggantikan suaminya.


"Satria...dia belum bisa menemui kamu May." jawab Diana bingung.


"Apa jangan-jangan mas Satria gak baik-baik saja? Makanya dia gak bisa menemui aku?" Amayra mulai berpikir yang bukan-bukan tentang suaminya.


"Enggak, bukannya gitu." kata Diana tegas.

__ADS_1


"Kalau mas Satria tidak bisa datang menemui aku. Aku yang akan pergi menemuinya." kata Amayra sambil beranjak duduk perlahan-lahan, menahan nikmatnya perut buncit itu.


Amayra yang keras kepala memang sulit dihadapi, sudah dibujuk oleh Diana dan teman-temannya. Wanita itu masih bersikeras ingin menemui Satria. Hingga akhirnya Cakra dan Bram berhasil membujuk Amayra untuk tetap tinggal.


*****


Di rumah sakit tempat Clara bekerja. Bima berada diruang tunggu dengan penampilan Satria.


Dari kejauhan Clara melihat pria itu sedang duduk di ruang tunggu. "Suster Mia, apa benar dokter Satria mencari saya?"


"Iya, dia menanyakan dokter Clara. Dokter lihat kan, dia sedang duduk disana." ucap suster Mia pada Clara.


Kenapa kak Satria menemui aku? Bukankah harusnya dia berada di rumah sakit karena wanita kampung itu sedang berada disana?


Clara tercekat, dia bingung kenapa Satria alias Bima menemuinya. Clara menghampiri Bima dengan kening berkerut.


"Kak Satria?"


"Hey, apa kamu yang namanya Clara?"


"Iya kak."


Aku dengar kak Satria hilang ingatan, sepertinya itu benar.


"Apa kamu masih suka padaku, Clara?" tanya Bima dengan wajah serius dan tatapan lembut pada Clara.


...*****...


Hai Readers, sambil nunggu up novelku...mampir ke karya temanku yuk🥰 seru banget, nih cuplikannya guys..


Judul: Penjara Cinta Untuk Stella


Penulis: Rini Sya


Stella ditalak sang suami, usai melakukan malam pertama. Sebab ia tidak mengeluarkan darah keperawanan di malam itu.


Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.


Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.


Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.


Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.


Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰


Penasaran dengan kelanjutannya? Silahkan mampir ya kesini 🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2