Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 80. Sayang


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Melihat Amayra diam saja ,membuat Satria mengerutkan kening hingga kedua alisnya seperti menyatu. Jari jemari Satria membelai lembut pipi sang istri, tatapannya tak luput dari perasaan sayang.


"May, kita berjanji untuk saling jujur kan? Kamu tau bohong itu dosa, aku sedang bertanya padamu dan kamu bohong..jangan bilang kamu bohong untuk kebaikan, karena kali ini aku tidak akan mendengarnya. Katakan padaku, ada apa denganmu? Apa yang membuat kamu sedih?" Kata Satria lembut.


Amayra kenapa sih? Kebiasaan deh kalau udah diam gini. Haahhh..


Amayra menggeleng-geleng lemah, matanya berkaca-kaca. Walau sudah melahirkan menjadi seorang ibu dan seorang istri, Amayra masih tetap seorang wanita yang baru akan menginjak 18 tahun. Usia remaja dan masih ada sifat kekanakan di dalam dirinya. Satria mengerti itu, dia tau sifat istrinya dengan baik.


"May, kalau kamu gak bicara.. aku mau tanya sama orang-orang rumah aja. Kenapa kamu nangis, pasti ada hubungannya sama mereka kan?" tanya Satria sambil beranjak dari ranjangnya.


Amayra memegang tangan Satria, dia menggeleng dengan wajah cemberut. "Jangan! Iya aku bilang.. tapi kakak ganti baju dan ke kamar mandi dulu sana, kakak kan baru pulang. Aku siapkan dulu minuman untuk kakak," ucap Amayra seperti biasa.


Ya Allah apa yang aku lakukan? Mengapa aku malah membuat kak Satria yang lelah pulang bekerja, melihatku begini?


"Oke, setelah itu baru bicara. Awas ya kalau kamu tidak bicara padaku!" Ancam Satria dengan mata yang tajam. Kedua jarinya menunjuk pada mata berwarna coklat muda milik istrinya itu.


"Hehe, iya kak." Amayra terkekeh melihat suaminya.


"Tunggu dulu May.." Satria berjalan mendekati Amayra, tangan kokohnya meraih pinggul Amayra dan mendekap sang istri. "Kak Sat-"


Bibir Satria menyerobot duluan menutup bibir Amayra yang sedang bicara. Hingga kata-katanya tidak tuntas. Entah kenapa Satria jadi semakin ingin menyentuh Amayra, bahkan menginginkan lebih dari itu.


Satria melahap bibir cantik ranum milik sang istri dengan rakus seperti kelaparan. Dia menggigit bibir Amayra, membuat bibir cantik itu terbuka. Amayra mengalungkan kedua tangannya pada leher Satria, kakinya sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi badan Satria yang jauh dari tinggi badannya.


Ya Allah.. aku sangat ingin, tapi-


Amayra menyambut baik sentuhan intim suaminya dengan mesra dan lembut. Tangan Satria masih memeluk Amayra. Setelah lama berciuman, Satria melepaskan Amayra. Wajahnya memerah, keduanya terlihat malu-malu.


"A-aku mandi dulu.." Satria mendadak panas dingin.


Hampir saja aku kelepasan. Astagfirullah. Satria membatin. Hati dan tubuhnya menginginkan Amayra lebih dari dari ciuman saja.


"A-aku siapkan air panas ya kak?" tanya Amayra sambil memegang bibirnya yang baru saja disentuh oleh Satria.


"Tidak usah May, aku mandi air dingin aja."

__ADS_1


"Tapi ini sudah malam lho kak? Apa gak apa-apa mandi air dingin?" tanya sang istri cemas, apalagi melihat wajah suaminya yang memerah.


"Aku memang lagi butuh air dingin, gara-gara kamu aku harus mandi air dingin," ucap Satria sambil mengusap-usap kepalanya.


Amayra mendongak kaget dengan wajah polosnya, "Kenapa gara-gara aku? Memangnya aku berbuat apa?"


"Kamu membuat aku naik dan...ah sudahlah, siapkan saja susu hangat untukku. Aku mau ke kamar mandi dulu," Satria mengusap lembut kepala Amayra yang ditutupi hijab itu. Dia tak bisa sembarangan membuka hijab disana karena itu adalah rumah mertuanya, meski hanya di kamar.


Satria masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan keinginannya disana sendirian, ditengah guyuran shower air dingin, "Ah... uuuh...kapan aku bisa melakukannya dengan Mayra?" gumam Satria yang baru saja bermain solo. Satria memegang kepalanya dengan gusar, dia selalu saja menahan-nahan itu.


Satria membersihkan dirinya cukup lama didalam sana, tak lupa dia keramas juga. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handuknya. Dada bidang Satria, otot-otot yang tersembunyi dibalik jas, kini terlihat jelas. Rambut Satria terlihat masih basah.


Dia melihat sang istri sedang menyusui Rey yang terbangun karena haus, "Kak, bajunya ada di atas kasur.." ucap Amayra yang masih sibuk menimang-nimang Rey.


"Iya makasih ya," Satria mengambil piyama yang sudah ada di atas ranjangnya. Dia segera memakai piyama itu.


"Susunya ada di atas meja sana!" Seru Amayra seraya melirik ke arah meja yang ada di sudut kamar itu.


"Makasih sayang," Satria berjalan lalu duduk di kursi. Dia menikmati susu hangat itu, jika kebanyakan pria akan merokok. Satria tidak melakukannya, dia lebih suka minum minuman hangat dan bernutrisi.


Sayang? Apa kak Satria baru saja memanggilku sayang?


Hati Amayra tersentak kaget mendengar suaminya memanggil dia sayang. "Kakak?" Amayra melirik ke arah


"Apa?" Satria baru beres menyeruput susu coklat yang hangat itu dari gelasnya. Dia melirik ke arah Amayra.


"Kak Satria, barusan panggil aku a-"


"Sayang, aku panggil sayang.." Satria memangkas ucapan istrinya.


"Kakak?" Wanita itu terperangah.


"Kenapa? Salahkah aku memanggil sayang pada istriku sendiri?" Satria tersenyum manis, dia mengedipkan matanya seraya menggoda sang istri.


Astagfirullahaladzim, kak Satria kenapa?


Amayra melongo heran melihat suaminya yang biasanya bersikap kalem, kini terlihat menggoda. "Sini sayang, duduk disini.. bawa Rey kita juga, aku mau interogasi kamu!" Tangan Satria menepuk sofa empuk disampingnya itu seraya meminta Amayra dan Rey untuk duduk disebelahnya.

__ADS_1


Dia menggendong Rey, kemudian dia berjalan ke arah suaminya. Dia pun duduk di samping Satria, matanya menatap waspada.


"Sayang, sekarang katakan padaku.. apa yang membuatmu menangis?" pria itu bertanya dengan sikap manis.


Amayra memegang kening Satria,"Sebelum itu sepertinya kakak harus minum obat dulu deh,"


"Memangnya aku kenapa?" tanya Satria serius.


"Kakak.. aneh..."


"Karena aku memanggilmu sayang?" Satria tersenyum pada istrinya.


Amayra mengangguk pelan.


"Kamu gak suka aku panggil sayang?"


"Bukannya gitu, hanya saja.. ini pertama kalinya kakak panggil aku begitu." Amayra menunduk malu dengan panggilan suaminya.


"Hehe, gak apa-apa dong. Kita kan suami istri, kamu juga bisa panggil aku sayang," Satria tersenyum lembut pada istrinya.


"Hem iya.." jawab Amayra malu.


Satria meminta menggendong Rey dari Amayra. Dia menimang-nimang bayi kecil itu penuh kasih sayang itu, hingga dia tertidur pulas didalam gendongan Satria. Kini mereka pun memulai pembicaraan serius, tentang apa yang membuat Amayra menangis.


Amayra pun jujur dan terbuka pada suaminya, dia menceritakan apa yang terjadi tanpa dilebih-lebihkan. Satria langsung naik pitam mendengarnya, dia beranjak dari sofa kemudian dia membaringkan Rey di ranjangnya.


"Ckckck, pantas saja tadi ayah terlihat sedih.."


"Kakak, kakak mau kemana?" Amayra cemas melihat Satria melangkah pergi keluar dari kamar dengan wajah marah.


"Membereskan masalah!" Satria pergi dengan langkah besar dengan wajah marah.


"Kak jangan, besok juga kita kan pindah setelah aqiqah Rey.."


"Itu kan besok, aku mau bereskan masalah yang sekarang!" Kata Satria tegas.


...---***--...

__ADS_1


__ADS_2