
Maaf untuk bab ini agak sedikit action!
...****...
Bima terkejut melihat musuhnya ada disana dan menodongkan senjata kepadanya. Tidak cukup dengan menodongkan senjata, dia juga mengancam menggunakan keselamatan Amayra.
Benar-benar sial! Bagaimana dia bisa mengikutiku dari Singapura? Tidak, bagaimana dia bisa tau kalau aku berada disini. Dan dia juga tau tentang Amayra, dia pasti sudah tau tentang keluarga Calabria yang lain.
"Kamu berani melakukan ini ditempat umum, Pierre? Banyak CCTV disini, apa kamu tidak takut ketahuan polisi?" Bima terlihat tenang walau dia berhadapan dengan pria yang terlihat seperti bule itu.
"Oke, kalau begitu kita cari tempat yang sepi untuk bicara...my old friend." Pierre menepuk bahu Bima, satu tangannya lagi menodongkan senjata ke tubuhnya.
"Tapi sebelum itu..dimana Amayra?"
"Oh, jadi nama si wanita berhijab itu adalah Amayra. Dia siapa sih? Kenapa kamu menyamar menjadi suaminya?" tanya Pierre sambil tersenyum menyeringai. "Oh...my old friend, kenapa kamu tidak gemetar mendengar ucapanku dan tetap tenang begini? Kan jadi tidak seru!"
Bima tidak menggubris perkataan Pierre kepadanya. Dia hanya memikirkan bagaimana keadaan Amayra. Kalau jadi sesuatu pada wanita itu, dia akan sangat menyesal karena tanpa sengaja dia sudah melibatkannya dengan musuhnya.
Pierre membawa Bima ke tempat parkir, dia meminta Bima untuk masuk ke dalam mobil. Bima masih curiga pada pria itu, dia menolak naik mobil sampai dia mengatakan dan menunjukkan dimana Amayra berada.
"Rupanya kamu bisa peduli pada orang lain ya Abimana! Nih, dia berada disini..." Pierre menunjukkan foto Amayra di ponselnya. Wanita hamil itu terikat oleh tali dan duduk di kursi dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Bima tercengang melihat foto itu. Dia menelan ludahnya.
Ya Allah, seharusnya aku tidak masuk dalam keluarga Calabria. Sekarang keselamatan Amayra dan anaknya berada dalam bahaya.
"Kamu sudah lihat kan? Gimana kalau sekarang kamu menurut saja, maka dia dan anaknya akan selamat."
"Katakan apa yang kamu mau?" tanya Bima tanpa basa-basi.
"Berikan aku akses ke sky night." jawab Pierre tegas meminta pada Bima.
Sky night adalah anggota serikat mafia terbesar di luar negeri. Bima tercekat mendengar penting Pierre. "Mau apa kamu meminta akses ke sana?"
Bima sudah bisa menebak bahwa niat Pierre meminta akses ke Sky night bukanlah dengan niatan yang baik. Dia memiliki dendam pada ketua sky night yang membuat adiknya tiada. Sedangkan ketua serikat sky night adalah teman dekat Bima di luar negeri.
"Kamu sudah tahu apa alasannya, kenapa kamu masih bertanya?!" Ujar Pierre setengah berteriak kepada pria itu.
"Aku tidak bisa memberikannya!" Bima menolak dengan tegas, tangannya terkepal dengan tegas.
__ADS_1
Pierre tersenyum menyeringai, dia pun melakukan video call dengan salah satu anak buahnya. "Lepaskan...kalian siapa? Lepaskan aku!! Jauhkan.... kumohon...jauhkan!"
Suara Amayra berteriak membuat Bima tercekat panik. "Bagaimana? Apa kamu tertarik sekarang?" Pierre tersenyum menyeringai dan tampak menyeramkan.
Bima melihat di video itu, Amayra sedang didekati ular-ular. Orang-orang suruhan Pierre mempermainkan Amayra dengan ular-ular itu.
"Ahh!! Jangan! Jangan sakiti aku!! Astagfirullahaladzim!!" Amayra menjerit ketakutan, ketika salah satu ular itu melilit kakinya. Tubuhnya menggelinjang dan berusaha berlari, tapi sayangnya dia tidak bisa karena tangan dan kakinya terikat. Keringat bercucuran membanjiri wajahnya, dia menangis tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi untuk berlari dari sana.
"Hahaha..." orang-orang suruhan Pierre hanya tertawa melihat wanita hamil itu ketakutan.
"Bagaimana Abimana? Apa kamu masih tidak mau memberitahu akses ke sky night? Atau kamu mau menunggu wanita ini kehilangan nyawanya." Pierre mengancam lagi Bima dengan
Bima mengepalkan tangannya dengan kesal, dia memberikan bogem mentah pada Pierre. "Kau! Dasar bajing*n gila! Psikopat!"
Ini sudah sangat serius, kalau terjadi sesuatu pada Amayra dan bayinya. Aku tidak akan memaafkan diriku, lalu bagaimana pertanggungjawaban ku pada Satria nanti?
Pierre tersungkur ke tanah, dia mengusap darah disudut bibirnya akibat bogem mentah yang di layangkan Satria. "F*ck! Kau membuat wajah tampanku rusak."
Bima menarik baju Pierre dengan kasar tanpa takut. "Lepaskan wanita itu sekarang juga!"
"Kalau kamu beritahu akses ke sky night. Aku akan membebaskan dia." Pierre tersenyum menyeringai.
Bima akan menuruti perintah Pierre,tapi dia minta dipertemukan dengan Amayra face to face. Pierre menyanggupi permintaan Bima untuk mempertemukan dirinya dengan Amayra.
Pierre dan Bima sampai di sebuah gedung terbengkalai di pinggir hutan. Bima melihat Amayra sedang ketakutan bersama ular-ular itu. "Aahhh! Jangan...jangan....tolong...jauhkan dariku. Kasihanilah bayi yang ada didalam perutku, kumohon...Aahhh!!" Amayra ketakutan setengah mati, dia sangat
Astagfirullahaladzim...bagaimana ini, perutku menegang. Sebenarnya siapa orang-orang ini, kenapa mereka menculikku?
Klak!
Pintu ruangan itu terbuka lebar, Bima DNA Pierre masuk ke dalam sana. "Abimana... aku sudah mempertemukanmu dengan wanita hamil ini, bagaimana dengan janjimu?" tanya Pierre langsung menanyakan tentang janjinya.
"Aku tidak bilang akan memberikan akses itu kepadamu,"
"Brengsek! Jangan main-main denganku! Disini bukan tempat kau bisa memiliki. Disini, akulah bosnya! Aku yang bisa menentukan hidup dan matimu saat ini...beraninya kau mengingkari janjimu."
Amayra mendengar percakapan dua pria itu, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Bima dan pria bule itu.
Abimana? Apa aku tidak salah dengar? Mengapa mas Satria dipanggil Abimana? Kenapa mas Satria seperti orang asing?
__ADS_1
Amayra memiliki banyak pertanyaan dengan apa yang dia dengar dan apa yang terjadi saat ini. Termasuk mengapa Satria alias Bima terlibat dengan orang-orang jahat?
"Mas..." lirih Amayra memanggil suaminya.
"Lepaskan dia dulu dan akan aku berikan apa yang kamu mau." Bima menatap tajam ke arah Pierre.
"Berikan dulu aksesnya!" Pierre menadahkan tangannya pada Bima, dia tidak mau kalah dari pria itu. Dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan lebih dulu sebelum Bima mendapatkan Amayra.
Kedua pria itu saling menatap tajam satu sama lain.
Sial! Ini tidak akan berakhir baik. Semoga saja Jack dan yang lainnya segera datang.
Baru saja Jack terlintas didalam pikirannya, terdengar suara perkelahian dari luar ruangan itu.
"Dasar licik!" dengus Pierre penuh amarah.
Dia mendekati Amayra yang duduk di kursi, dia menodongkan pisau ke perut buncit wanita hamil itu. "Ahh!" pekik Amayra terkejut saat pisau yang dipegang Pierre menyentuh perutnya.
Anakku, tidak...
"Lepaskan dia Pierre!" Teriak Bima sambil melotot ke arah
"Tidak akan, kalau aku lepaskan dia kau tidak akan membiarkanku pergi." Pierre melepaskan ikatan Amayra, dia menarik wanita itu perlahan menjauh dari sana.
Orang-orang Pierre sudah kalau oleh orang-orang Bima. "Bos Bim, semua sudah beres!" Jack memberikan laporan pada Bima.
"Bagus." jawab Bima dengan wajah dinginnya.
Amayra tercengang, dia melihat suaminya tampak berbeda. Apalagi ketika Bima mengeluarkan senjata api dari bajunya. "Pierre, lawan aku...satu lawan satu! Jangan libatkan dia!"
"Aku menolak. Hey wanita hamil, ikut aku atau bayimu mati!" Pierre tidak hanya sekedar menggertak. Dia menarik Amayra dengan kasar dan masih menodongkan pisaunya.
Bima mendesah, dia berlari dengan cepat sambil membawa pistolnya ke arah Amayra dan Pierre.
DOR!!
Sebuah peluru pecah disana!
...---+*****---...
__ADS_1