Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 56. Tante Amayra


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


.


.


Anna dan Satria tertawa kecil, sementara Amayra berada di dalam kerumunan semua orang yang menanyakan keadaan nya dan bayinya. Mereka bersimpati dan memberikan Amayra semangat untuk tetap tegar. Mendoakan wanita itu agar selamat sampai persalinan nya nanti. Amayra bahagia, juga sangat berterimakasih kepada semua orang yang sudah mendukungnya.


Setelah acara kelulusan itu selesai, Cakra mengajak anggota keluarga nya makan-makan disebuah restoran mewah. Ketika sedang makan-makan, Cakra melihat kerukunan antara Amayra dan Satria. Cakra menyesal karena sebelumnya dia pernah berniat memisahkan Amayra dan Satria.


Hampir saja aku melakukan kesalahan dengan memisahkan mereka berdua. Satria terlihat sangat mencintai Amayra, dia bahkan menerima bayi yang dikandung oleh Amayra seperti anaknya sendiri. Amayra juga terlihat sangat mencintai Satria.


"May, kamu mau ayam goreng nya?"tanya Satria pada istrinya.


"Iya kak, aku juga mau sambelnya!" Mata Amayra berbinar-binar melihat sambal berwarna merah diatas piring kecil.


"Kamu gak boleh makan yang pedas-pedas, gak baik untuk bayi." Satria mengingatkan istrinya agar dia tidak boleh makan pedas.


"Ya udah deh,"


"Sabar ya May," Satria tersenyum lembut pada istrinya, dia mengelus perut buncit itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya kak gak apa-apa, hehe." Amayra nyengir, dia terlihat bahagia memiliki Satria, pria yang sudah menyelamatkan nya dari jurang bernama penderitaan. Dia adalah kstaria dalam hidupnya.


Cakra tersenyum, dia menambahkan nasi ke dalam piring Amayra. Anna juga melakukan hal yang sama, dia menambahkan lauk pauk ke dalam piring Amayra.


"Papa, Anna! Ini banyak sekali, aku tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian ,"Amayra terkejut mendapati banyak makanan di piringnya.


"Sendirian? Disana kan ada cucu papa, jadi kamu makan berdua sama cucu papa!" Cakra tersenyum sambil melihat ke arah perut buncit menantu nya itu.


"Benar opa, Amayra kan berdua sama sepupuku.. jadi makannya harus banyak," Anna setuju dengan ucapan opa nya itu.


"Ehem, Anna!" Satria tiba-tiba berdehem dan melirik tajam pada Anna.


"Iya om, Anna ngerti kok. Maksud aku ta-tante Amayra," Anna tersenyum, dia kesulitan saat memanggil Amayra sahabatnya dengan panggilan Tante.

__ADS_1


"Bagus,"Satria mengacungkan jempolnya pada Anna, sambil menyunggingkan senyuman lebarnya.


"PFut.. Hahaha," Amayra tertawa terbahak-bahak mendengar Anna memanggilnya tante. "Haha.. geli sekali, geli sekali aku mendengar nya,"


"Haha.." Cakra juga ikut tertawa mendengar Anna memanggil Amayra dengan sebutan tante.


"Jangan tertawa berlebihan, nanti perutmu sakit May!" Satria mengingatkan istrinya.


"Iya tante Amayra, benar kata om Satria!" Seru Anna sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia tersenyum menggoda ibu hamil itu.


"Hahaha, Tante! Tante!" Amayra tertawa terbahak-bahak. "Aduh duduh.." Wanita itu tertawa sampai perutnya sakit.


"Tuh kan, aku bilang juga apa? Sakit kan?" Satria tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cakra bahagia, melihat Satria bahagia dengan Amayra. Anita, lihatlah anak kita.. dia tersenyum dan tertawa bahagia dengan menantu kita, Amayra.


Nilam juga melihat kerukunan Satria dan Amayra, bahkan dia mengira Satria bersikap seperti ayah dari bayi yang dikandung oleh Amayra. Sebenarnya dalam hati dia mengakui kalau Amayra mengandung cucunya, karena ciri-ciri Amayra selama kehamilannya mirip ketika dia mengandung Bram dulu.


Tapi Nilam ingat, kalau dia juga punya Alexis yang sedang mengandung anak Bram. Bahkan mereka juga sudah menikah di luar negeri dan hidup bersama di Inggris.


Walaupun Nilam selalu cuek padanya, tapi Amayra selalu membalasnya dengan sopan dan lembut.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sebuah apartemen mewah negara Inggris, Alexis terlihat sedang sendirian. Dia terlihat santai menikmati kemewahan yang diberikan oleh suaminya. Bram dan Alexis telah menikah secara siri, setelah Alexis diketahui sedang hamil 2 bulan sejak kejadian malam bersama itu. Padahal sebenarnya Alexis sudah hamil 3. bulan.


"Enaknya jadi wanita hamil, tidak perlu bekerja! Apalagi punya suami konglomerat, haha..enaknya hidup mu Alexis." Alexis tertawa bahagia mendapatkan semua yang dia inginkan dari Bram. Setiap hari Bram sibuk bekerja menyelesaikan proyek yang diberikan oleh papa nya dan jarang pulang ke apartemen.


Kasih sayang, uang, semua yang dia mau pasti dikabulkan oleh Bram. Namun Alexis masih was was, dia takut suatu saat nanti Bram tau kalau anak yang dikandung nya bukan anak Bram tapi anak pria lain.


Ting tong!


🎢🎢🎢


"Itu pasti Bram! Tapi, kenapa dia memencet bel?"Alexis beranjak dari sofa empuknya, dia berjalan mendekati pintu.

__ADS_1


Tanpa melihat siapa yang di depan pintu, Alexis langsung membukanya. Dia terkejut melihat orang yang memencet bel apartemen nya, itu bukanlah suaminya tapi mantan pacarnya.


"Vincent? Kenapa kamu ada disini?" Alexis terbelalak melihat pria itu masuk menerobos ke dalam apartemen nya.


"Akhirnya kamu membuka pintu untukku, lalu kenapa kamu tidak memblokir nomorku sayang?" tanya Vincent sambil meraih tubuh Alexis dan mendekap nya dengan erat.


"Vin-Vincent lepaskan aku! Kamu sudah gila ya, bagaimana kalau ada yang lihat? Bagaimana kalau suamiku melihat kamu disini?!" Alexis mencoba melepaskan dirinya dari genggaman Vincent.


Alexis menutup pintu dan mengunci pintu apartemen itu dari dalam. Dia terlihat takut dan waspada. Vincent duduk di sofa sambil minum dari gelas yang sama dengan Alexis.


"Vincent, apa kamu berniat membunuh ku?" Alexis menatap pria itu dengan marah.


"Membunuh? Apa maksudmu honey? Aku kesini karena rindu padamu.." pria bule itu tersenyum genit, dia bahkan mengedipkan sebelah matanya pada Alexis.


"Rindu? Kamu lupa ya kalau kita sudah putus! Lebih baik kamu pergi dari sini, karena aku sudah mempunyai suami!" Alexis menunjukkan pada Vincent bahwa di jari manisnya, ada cincin berlian yang tersemat.


"Lalu apa kamu lupa kalau bayi yang ada di dalam kandungan kamu adalah milikku?" tanya Vincent sambil menatap tajam ke arah Alexis.


Pria itu mencium paksa Alexis dan memeluknya dengan erat. "Kamu gila Vincent! Ini anak Bram, bukan anakmu!" Wanita itu mendorong Vincent hingga pria itu melepaskan dirinya.


"Ayolah Alexis, aku tau kalau anak ini adalah anak kita. Jangan berbohong padaku, karena aku tau!" Vincent memegang perut Alexis yang masih datar itu.


"Kalau ini memang anakmu, lalu kenapa? Apa yang mau kamu lakukan?"tanya Alexis pada pria itu.


"Bercerai dengan Bram, dan menikahlah denganku!" Vincent memegang tangan Alexis, kemudian mencium punggung tangan nya.


"Menikah dengan kamu?" Alexis menyingkirkan tangannya dari Vincent, dia tak percaya bahwa Vincent yang sebelumnya bilang tidak mau berkomitmen dengan seseorang, mengajaknya menikah.


KLAK!


Pintu apartemen itu terbuka, terlihat seorang pria berdiri disana dengan wajah marah.


"Oh, jadi seperti ini hubungan kalian?"


...---***--...

__ADS_1


Mau lanjut lagi?🀭🀭🀭


__ADS_2