Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 66. Celaka


__ADS_3

...Ketika dunia mengkhianati ku, semua orang menghujat diriku, tak peduli dengan keadaan ku......


...Tidak mendengar penjelasan ku, betapa menderitanya aku saat itu.....


...Saat aku harus menanggung malu seorang diri......


...Hanya kamu yang selalu ada disampingku, suamiku, belahan jiwaku, mencintaiku apa adanya......


...Kamu adalah kstaria penyelamat ku.....


...Di setiap doa ku, aku berharap pada Allah agar selalu menyatukan kita berdua selamanya.....


...🍀🍀🍀...


Beberapa orang yang lewat disana melihat Amayra dan Satria berpelukan, bahkan ada yang berkomentar kalau Satria dan Amayra adalah pasangan serasi.


"May, kamu gak mau lepas nih?" Goda Satria pada istrinya.


Astagfirullah! Apa yang aku lakukan di tempat umum begini?


Amayra tersentak kaget, dia segera melepaskan pelukannya dari Satria. Wajahnya tersipu malu, apalagi saat orang-orang yang lewat melihat dirinya.


"Ma-maaf ya kak,"


"Kalau mau pelukan di rumah saja, kamu bisa memeluk ku sepuasnya," Satria tersenyum melihat pipi istrinya yang memerah.


"Kakak apaan sih!" Amayra menepuk bahu suaminya dengan wajah malu-malu.


"Haha udah ah godain ibu hamil nya. Ini minum dulu, kamu pasti haus!" Satria menyodorkan sebotol air minum pada Amayra.


"Hehe, makasih kak," Amayra mengambil botol air minum itu. Dia terus memandangi cincin yang tersemat dirinya dengan wajah ceria dan bahagia. Cincin pemberian Satria, bukan mas kawin yang dulu diberikan Nilam padanya.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka Jalan-jalan di taman bermain. Ketika adzan dhuhur berkumandang, Amayra dan Satria menghentikan aktivitas bermain mereka sejenak. Pasangan suami istri itu mencari mushala untuk melaksanakan ibadah shalat dhuhur.


Amayra berada di barisan belakang, barisan perempuan dan Satria di barisan depan barisan laki-laki. Seusai shalat mereka berdoa kepada Allah, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan sang penguasa alam kepada mereka, mereka juga memanjatkan doa agar mereka berjodoh sampai akhir hayat.


Satria dan Amayra keluar bersamaan dari mushala, mereka saling melemparkan senyum. "May, mau langsung pulang apa mau main lagi?" tanya Satria pada istrinya.


"Aku masih mau main, boleh gak?" Amayra menatap suaminya dengan mata yang polos.


Melihat matanya itu, aku tidak bisa bilang tidak.


Satria menggeleng sambil tersenyum melihat wajah istrinya.


"Ya udah, tapi kalau kamu capek...bilang ya," ucap Satria pengertian.


"Alhamdulillah! Yes!" Amayra tersenyum lebar. "Udah ini aku mau naik kincir, terus aku mau naik komedi putar lagi, ke rumah hantu juga, terus mau makan aromanis, ah ya aku juga mau makan bakso goreng!"


"Baiklah, baik. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau," Satria tersenyum melihat istrinya yang cerewet itu.


Gadis itu kembali ceria, dia terlihat nyaman dan terbuka pada suaminya. Tidak seperti dulu saat dulu mereka menikah. Amayra terlihat pendiam tidak banyak bicara dan banyak menangis. Tidak seperti saat ini, sikapnya kembali ceria dan banyak tersenyum.


"Hehe. Oh ya kak, orang bilang ketika istri menerima banyak cinta dari suaminya. Maka wajah sang istri akan lebih cerah dan bahagia,"


"Lalu apa kamu menerima banyak cinta dariku?" tanya Satria sambil berjalan disamping istrinya.


"Ih! Justru aku mau tanya sama kakak, apa aku terlihat seperti itu?" tanya Amayra.


"Ya, kamu terlihat cerah bahkan kamu terlihat sangat cantik," jawab Satria jujur sambil menatap wanita itu.


"Ehm! Yuk kita pergi!" Amayra yang malu segera mengalihkan perhatiannya.


Wanita hamil itu berjalan lebih dulu sambil menyembunyikan senyuman malu-malu nya. Ketika sedang berjalan, Satria meraih tangan Amayra dan menggenggamnya. "Eh, kakak?"


"Aku pegang kamu supaya kamu gak tersesat!" Seru Satria dengan wajah datarnya.


"Hehe, iya deh!"


Dasar, dia itu memang suka jaim.


Satria tersenyum sambil menggandeng tangan istrinya. Dia menghabiskan waktunya seharian bersama sang istri di taman hiburan. Bahkan mereka mengambil foto bersama-sama dan terlihat bahagia.


Sore itu setelah shalat Ashar, Amayra dan Satria melepaskan lelah mereka di sebuah tempat makan dessert yang masih berada di dalam taman hiburan itu.

__ADS_1


"Jangan banyak-banyak makan eskrim nya ya, nanti kamu sakit perut," ucap Satria mengingatkan istrinya untuk tidak makan banyak eskrim.


"Gak banyak kok kak," Amayra sibuk melahap eskrim di dalam mangkuk kecil.


"Gak banyak gimana? Kamu udah makan dua mangkuk eskrim, udah ah makannya!" Satria mengambil mangkuk eskrim ketiga yang sedang di makan istrinya.


"Kakak!" Rengek nya manja.


"Gak boleh, nanti kamu sakit perut!" Satria menghabiskan eskrim di dalam mangkuk itu dengan cepat, supaya Amayra tidak memakannya lagi.


"Huh! Kak Satria!" Amayra cemberut melihat Satria menghabiskan eskrim nya. Dia sebal pada Satria.


"Udah abis tuh," ucap Satria sambil tersenyum lebar. Dia senang melihat wajah cantik yang cemberut itu.


"Huh dasar jahat!" Gerutu Amayra sebal.


"Hahahaha," Satria tertawa melihat sang istri.


...****...


Sementara itu Alexis baru saja turun dari pesawat, dia berada di depan bandara dengan perut buncitnya.


"Bram, kamu tidak boleh meninggalkan aku begitu saja! Anak ini adalah anak kamu, dia bukan anak Vincent," ucap Alexis sambil memegang perutnya dengan mata berkaca-kaca.


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Alexis, dia mengangkat panggilan itu. "Halo,"


"Bos, kami sedang mengawasi ibu hamil itu," suara seorang pria terdengar berbicara pada Alexis.


"Oke, apa yang sedang dia lakukan? Dimana dia dan bersama siapa?" tanya Alexis sambil masuk ke dalam taksi yang berada di depan bandara. Tangannya memegang koper besar.


"Dia sedang jalan-jalan bersama suaminya, di taman hiburan," pria itu melaporkan keadaan ibu hamil yang dimaksud oleh Alexis yang entah siapa itu.


"Bagus, tetap pantau dia. Kalau aku suruh kalian bergerak, maka kalian harus bergerak! Paham?" Ucap Alexis dengan wajah datarnya.


"Baik bos!"


Alexis menutup telponnya dengan segera. Dia meminta supir taksi untuk mengantarkannya ke alamat kantor Bram. Kantor Calabria grup.


Di kantornya, Bram tampak tidak fokus dalam pekerjaannya. Wajah pucat, kantung mata hitam yang tebal, tidak semangat dalam melakukan apapun. Pikiran dan batinnya masih memikirkan Amayra yang saat ini sedang bahagia bersama suaminya.


Tangannya penuh dengan bekas luka dan ada perban disana. Ketika Bram sedang menandatangani dokumen dokumen di meja kerjanya. Erik, sekretarisnya masuk ke dalam ruangan itu.


"Aku kan sudah bilang, jangan ganggu aku!" Teriak Bram yang emosinya sedang tidak stabil.


"Maaf pak, ada Bu Alexis yang ingin ber-"


Belum sempat Erik menyelesaikan kata-kata nya, Alexis sudah menerobos masuk ke dalam ruangan Bram. Bahkan dia tidak mempedulikan petugas keamanan yang mencoba menghentikan dia.


"Ibu, maaf Bu.. ibu tidak boleh masuk!" Seru satpam di perusahaan itu.


"Bram! Bram ayo kita bicara dulu!" Seru Alexis pada Bram.


Bram beranjak dari kursinya dia memarahi petugas keamanan di kantor itu, "Apa kalian cuma makan gaji buta? Menghentikan satu wanita saja tidak bisa!" Bentaknya pada 3 orang petugas keamanan disana.


"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha untuk-"


Dengan tidak tahu malu, Alexis menggandeng tangan Bram. Dia merengek dengan wajah memelas, meminta agar Bram mendengarkan penjelasannya dan mereka harus bicara. Bram tidak tahan dengan Alexis yang terus merengek, akhirnya dia meminta semua orang pergi dan meninggalkan dia berdua dengan wanita hamil itu.


"Makasih Bram, kamu masih memberiku kesempatan untuk menjelaskan,"


Sudah kuduga kalau Bram masih memiliki rasa padaku. Dia masih ingin bicara denganku.


"Bukan memberi kesempatan, tapi menghargai wanita hamil untuk bicara. Oh ya, apa kamu membawa surat talak yang aku kirimkan? Sudah kamu tandatangani?" tanya Bram sambil tersenyum dingin.


Alexis tersentak kaget melihat kata-kata ketus yang keluar dari mulut Bram dan wajah dingin itu. Wajah yang tidak pernah ditunjukkan Bram kepada Alexis, wajah penuh cinta Bram padanya sudah tidak ada lagi. Lagi-lagi dia mengutuk Amayra dan bayinya di dalam hati, karena dia merasa sikap Bram berubah karena Amayra dan anaknya yang belum lahir.


"Aku tidak akan pernah menandatangani nya Bram! Aku tidak mau bercerai!" Ujar Alexis tegas.


Bram menaikan bahunya, dia tak percaya bahwa wanita yang hamil anak orang lain itu masih tidak tahu malu. "Hah? Tidak mau bercerai? Hei Alexis, kita sudah bercerai karena kita hanya menikah siri! Dengan satu kata talak dariku, kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi!"


Bagaimana bisa tatapan yang dulunya penuh cinta itu bisa berubah secepat ini? Apa aku sudah kehilangan cintamu Bram? Dulu kamu sangat tergila-gila kepadaku, apa karena wanita kampungan itu?


"Bram aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu! Anak ini benar-benar milik kamu, aku gak bohong!" Alexis mencoba meraih simpati Bram dengan menangis.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kamu ingin membuatku menjadi orang bodoh? Aku sudah buta oleh mu selama ini Alexis, kamu berbohong dan terus berbohong. Untuk kamu aku bahkan meninggalkan tanggungjawab ku kepadanya dan anak kandungku! Demi kamu Alexis, tapi apa yang aku dapatkan? Kamu menusukku begitu dalam dengan pengkhianatan!" Bram menatap Alexis dengan penuh amarah, dia murka dan sangat benci pada wanita yang pernah sangat ia cintai itu.


Air mata Alexis tampaknya sudah tidak mempan lagi pada Bram. Hati Bram seperti sudah mati rasa untuk Alexis. Wanita yang hamil anak orang lain lalu menikah dengannya secara siri. Bram benar-benar sudah dibodohi, tapi dia tidak mau dibodohi lagi.


"Aku.. aku.."


"Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, lebih baik kamu pergi dari sini Alexis! Aku malas melihat wajahmu," ucap Bram mengusir wanita itu dengan ketus.


Enggak, gak boleh kaya gini! Aku harus tetap menjadi istri Bram. Jika aku bersama Vincent si bule kere itu, aku gak akan bisa menikmati kemewahan lagi dan aku akan hidup miskin. Karirku sebagai model juga sudah hancur. Hanya Bram satu satunya harapan ku.


"Tidak Bram jangan usir aku! Apa kamu tega membiarkan aku sendirian dengan bayi ini?" Alexis memegang perut buncit itu dia masih dengan air mata palsunya.


"Bodoh amat! Aku tidak peduli, bayi itu juga masih punya ayah kan? Kenapa aku harus peduli padamu?" Bram menyeret Alexis keluar dari ruangan itu.


"Tapi ayah bayi ini tidak mau bertanggungjawab Bram,"


"Lalu apa aku harus bertanggungjawab untuk anak orang lain? Gila kamu ya!" Seru Bram penuh emosi. Dia merasa benar-benar buta karena bisa mencintai dan tergila-gila pada Alexis.


Penyesalan masih ada di dalam hatinya, andai saja dia dulu memilih Amayra dan anaknya mungkin dia sudah bahagia.


"Kalau kamu tidak mau kembali bersamaku, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada wanita kampung itu dan anak kandung mu!" Teriak Alexis sambil merogoh ponsel di dalam tas nya. Dia mengirimkan pesan singkat pada orang suruhannya dengan emosi.


Bram heran apa yang dilakukan Alexis dengan ponselnya itu. "Apa yang akan kamu lakukan pada Amayra dan anakku?" tanya Bram pada Alexis.


"Aku pastikan kamu akan melihat jasad mereka hari ini, Bram! Kalau kamu tidak menjadi milikku, maka kamu juga tidak bisa jadi milik orang lain! Kamu tidak bisa bahagia!" Alexis tertawa sinis setelah mengirim pesan itu.


Bram mengambil ponsel Alexis dengan paksa, dia melihat apa yang dikirimkan Alexis.


...Habisi ibu hamil itu!...


Tangan Bram mencekik leher Alexis dengan geram. "Kamu! Kamu sudah gila ya Alexis!" Bram melotot murka pada wanita hamil itu.


"Uhuk uhuk, Bram lepaskan aku!" Alexis kesakitan karena Bram mencekiknya dengan keras seolah ingin membunuh.


"Cepat batalkan perintah mu itu dasar wanita gila!" Seru Bram dengan bibir gemetar, dia memikirkan Amayra dan bayinya.


"Ti-tidak mau," Alexis terlihat kesakitan.


"Maka aku akan membunuhmu disini!"


"Silahkan saja, kalau kamu jadi pembunuh kamu akan masuk penjara dan kamu tidak akan sempat menyelamatkan mereka berdua!" Alexis mengancam Bram dengan seringai wajahnya, dia puas melihat Bram kelimpungan.


Celaka! Amayra dan anakku dalam bahaya!


"Kalau terjadi sesuatu pada mereka berdua, aku akan pastikan kamu menderita Alexis!" Ancam Bram dengan suara keras membentak.


Bram langsung melepaskan cekikan itu, dia mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Satria karena dia tidak tahu nomor telpon Amayra. "Kenapa tidak diangkat-angkat? Ya Tuhan!" Tangan Bram gemetar, hatinya terhenyak.


Pria itu mulai panik, telpon nya tidak diangkat-angkat oleh Satria. Dia pun menelpon papa nya, dia meminta nomor telpon Amayra. Bram berhasil mendapat nomor telpon Amayra, dia menelpon Amayra tapi tidak dijawab juga. Akhirnya Bram pergi dari kantor untuk mencari Amayra dan Satria.


🍂🍂🍂


Sore itu..


Di depan taman hiburan, Amayra dan Satria terlihat berjalan menuju ke tempat parkir. "Bagaimana? Apa seru jalan-jalan nya?" tanya Satria pada istrinya.


"Iya," jawab Amayra sambil tersenyum bahagia, dia senang sekali bisa menghabiskan waktu full seharian berdua dengan suaminya. Dia juga memeluk boneka beruang besar yang didapatkan Satria dari salah satu permainan disana.


"Alhamdulillah," ucap Satria lega mendengar nya. Satria merogoh saku celananya mencari ponsel dan kunci mobilnya. Satria terlihat bingung karena ponsel dan kunci mobil itu tidak ada.


"Ada apa kak?" tanya Amayra heran melihat suaminya kebingungan.


"May kamu tunggu sebentar ya, kayanya aku meninggalkan hp sama kunci mobil di tempat eskrim tadi deh," ucap Satria pada Amayra.


"Iya, aku tunggu disini ya kak," Amayra tersenyum dan mengangguk.


Satria kembali masuk ke taman hiburan untuk mengambil kunci mobil dan hp nya yang tertinggal. Dia meninggalkan Amayra sendirian di dekat tempat parkir. Tak lama kemudian, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya dan Amayra tidak melihat mobil itu.


"Kak Satria hebat banget, dia bisa dapatkan boneka yang besar ini!" Amayra memeluk boneka itu dengan penuh kasih sayang.


Mobil itu melaju kencang ke arahnya tanpa jeda, beberapa orang disana meneriakinya untuk minggir. Amayra sudah siap berlari, tapi jarak mobil itu tinggal beberapa sentimeter dari tempatnya berdiri.


BRAK!

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim!!"


...---***---...


__ADS_2