Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 249. Syukuran Zahwa Zayn


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Wanita itu kebingungan dengan sikap Satria yang tidak biasa. Daritadi dia merasa ada yang aneh pada suaminya. Maka, dia langsung menanyakan kenapa Satria bersikap seperti itu. "Mas, kamu kenapa sih? Dari tadi kayaknya kamu gak suka lihat aku dandan?"


Satria menghindari kontak mata dengan istrinya. "Gak kok," jawab Satria ketus.


"Bohong! Jelas-jelas kamu marah lihat aku dandan dan pakai pakaian bagus. Kenapa sih kamu mas?"


"Ehem, perasaan kamu aja kali. Aku gak marah kok." Satria lagi-lagi menyangkal bahwa dia marah pada istrinya.


"Kalau gak marah, terus kenapa kamu bilangnya seolah menuduhku mau mempercantik untuk seseorang? Siapa seseorang yang kamu maksud itu, mas?" tanya Amayra dengan suara tegas, meminta penjelasan dari ucapan Satria.


"Ya, siapa tau...kamu mau menunjukkan kecantikan kamu pada orang yang baru datang dari jauh itu." Satria terus saja menyindir Amayra tentang Iqbal.


Namun sayangnya, Amayra tidak menyadari Apa maksud dari ucapan Satria itu. "Siapa sih orang yang baru datang dari jauh itu?" Amayra menatap suaminya dengan polos, dia tidak paham juga dengan cemburunya Satria.


Tok, tok, tok!


Seseorang membentuk pintu kamar itu, kemudian Amayra dan Satria menoleh ke arah pintu. "May, Sat, ayo keluar...Ustad Iqbal sudah datang dan acaranya mau dimulai." kata Nilam memberitahu kepada pasangan suami istri itu, bahwa acara syukuran si kembar akan segera dimulai, karena ustaz Iqbal sudah datang.


Mendengar kedatangan Iqbal dari mamanya, Satria semakin cemberut saja. Dia tidak bisa menahan rasa kesal dan cemburunya pada pria itu.


"Ya ma, kami akan segera kesana. Mas, ayo kita keluar!" ajak wanita berjilbab putih itu pada suaminya.


"Iya," jawab Satria malas.


Satria dan Amayra keluar dari kamar, mereka menggendong si kembar. Satria menggendong Zahwa dan Amayra menggendong Zayn.

__ADS_1


Terlihat di ruang tengah, para tamu sudah hadir dalam acara syukuran itu. Termasuk Iqbal yang sudah duduk ditengah-tengah bapak bapak yang akan melakukan pengajian disana.


Tiba-tiba saja Amayra meneteskan air mata, hingga membuat Anna yang ada disampingnya, bertanya ada apa dengannya.


"Tante, Tante kenapa nangis?" Anna bertanya dengan tangan yang menepuk pundak Amayra.


"Aku gak apa-apa kok An," Amayra menyeka air matanya, ketika dia melihat para tamu undangan yang hadir.


Ya Allah, ini hari baik anak-anakku...aku gak boleh sedih di hari yang baik ini. Rey dan ayah, pasti mereka juga melihat semua ini kan dari atas sana? Mereka pasti bahagia, tapi kenapa aku malah menangis?


Rupanya penyebab Amayra sedih adalah karena dia teringat dengan ayahnya dan Rey, yang sudah tiada. Kedua orang yang sangat berharap baginya, mereka yang sudah berada didekat Allah saat ini.


Melihat para tamu yang hadir, mengingatkannya tentang syukuran Rey dulu. Jika Rey masih ada, mungkin usainya sekarang sudah hampir dua tahun. Namun sayang umurnya tak panjang. Melihat istrinya yang bersedih, Satria menghampiri Amayra dan bertanya ada apa dengannya. "Sayang, kenapa?"


"Aku hanya teringat alm ayah dan alm Rey," jawab wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


Owa....owaa....


"Mas, kayanya Zayn haus...aku susui Zayn dulu ke kamar ya?" Amayra menatap Zayn yang tiba-tiba menangis, dia pun membawa anak laki-lakinya itu ke kamar untuk segera di beri ASI.


Sementara Satria berada di dekat para tamu sambil menggendong Zahwa yang tertidur. "Satria, kemana kakak kamu dan Diana? Kamu bilang mereka sudah pergi lebih dulu dari kamu, kok mereka belum datang juga ya? Mana acara udah mau mulai lagi..." Cakra bertanya pada Satria tentang Bram dan Diana yang belum datang juga.


"Apa? Kakak sama kak Diana belum datang? Jelas-jelas tadi mereka naik mobil lebih dulu dari aku, pa. Coba papa telepon kak Bram atau kak Diana, takutnya ada apa-apa di jalan." Kata Satria mencemaskan kakak dan kakak iparnya.


Lalu datanglah Bima dengan setelan baju Koko nya, dia menghampiri Satria dan melihat wajah keponakannya yang cantik itu.


Disisi lain Cakra menelpon Bram dan menanyakan dimana putranya berada, Bram pun menjelaskan bahwa dia dan Diana akan pulang terlambat karena mengurus pasien darurat di rumah sakit. Bram meminta pada Cakra untuk memulai acara lebih dulu tanpa dirinya dan Diana.

__ADS_1


Setelah itu, acara pun dimulai dengan sambutan, doa-doa dan pengajian bersama sambil melakukan cukur rambut bayi. Acara yang dipimpin oleh Iqbal berlangsung dengan lancar.


Sampai di penghujung acara, semua keluarga Calabria berkumpul bersama dengan Iqbal. Namun, saat itu semua orang tercengang begitu melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar satu tahun berjalan menghampiri Iqbal dan memanggilnya. "Abi...Abi..."


"Abi? Bukannya itu artinya ayah, ya?" bisik Anna pada Amayra.


"Iya An, benar..." jawab Amayra membenarkan.


"May, anak itu mirip kak Iqbal ya!' Anna berbisik lagi pada Amayra sambil melihat ke arah anak kecil yang tampan dan berkulit hitam manis seperti Iqbal.


"Rayhan, anaknya abi...mana umi?" Iqbal menggendong anak laki-laki itu dan dia mengakui bahwa Rayhan adalah anaknya.


Rayhan menunjuk ke arah seorang wanita berjilbab panjang yang sedang berjalan ke arah sana. "Assalamualaikum..." wanita itu mengucapkan salam dengan sopan.


"Waalaikumsalam," semua orang menjawab salam wanita itu.


"Pak Cakra, pak Satria, pak Bima, semuanya...kenalkan ini istri saya Fatimah dan anak saya Rayhan." Iqbal memperkenalkan istri dan anaknya didepan semua orang disana.


Satria yang sedang minum langsung tersedak mendengarnya, perlahan-lahan wajah yang cemberut itu berganti dengan senyuman.


Ternyata Iqbal udah menikah dan bahkan sudah punya anak?


"Wah ternyata ustadz Iqbal sudah menikah ya..." ucap Nilam sambil tersenyum ramah.


"Iya Bu Nilam," Iqbal tersenyum sambil menaikkan Rayhan dipangkuannya.


Amayra melihat raut wajah suaminya yang terlihat bahagia itu. Lalu dia berbisik pada Satria, "Kamu udah tenang kan Mas?"

__ADS_1


...****...


__ADS_2