
Pria bertopi yang tidak terlihat wajahnya itu, melihat kepergian Satria dengan tatapan sedih. "Haruskah aku masuk ke dalam sana meski keberadaanku tidak mereka ketahui? Lebih baik aku pergi saja." ucap pria bertopi itu dengan wajah sedih.
Satria terlihat bahagia dengan keluarganya. Dia juga tidak tau keberadaan ku, ternyata dia juga sudah memilki seorang istri.
Kemudian langkahnya terhenti ketika dia akan pergi dan dia menatap curiga pada sebuah mobil yang mengikuti mobil Satria. Pria itu pun mengikuti Satria dengan motor yang dikendarainya.
Didalam mobil Satria, Amayra terlihat sedang makan buah jambu dengan lahap. Anna dan Satria menggodanya yang banyak makan.
"Dari tadi bumil makan terus nih, gak takut gemuk apa." ucap Anna sambil menatap Amayra yang duduk di kursi depan.
Amayra langsung menyimpan buah yang sedang dimakannya di depan mobil. Wajahnya berubah menjadi cemberut.
"Kenapa berhenti makannya sayang?" tanya Satria sambil melirik sedikit pada istrinya.
"Gak ah, aku takut gemuk." jawab Amayra baper.
"Cie...bumil baperan." Anna terkekeh, dia menggeleng-geleng sambil tersenyum. Melihat Amayra yang mudah baper dan sensitif. Bahkan Amayra berubah menjadi sangat manja pada suaminya.
"Anna, hus!" Satria meminta Anna untuk diam. "Sayang, gak apa-apa kamu gemuk juga. Kamu kan sedang mengandung anak kita, jadi gak masalah kalau kamu gemuk dan banyak makan. Aku jadi bahagia dong!" Satria memuji istrinya setinggi langit.
"Jadi, gak apa-apa kalau aku gemuk?" Amayra menoleh ke arah suaminya.
"Gak apa-apa sayang, kamu tetap cantik kok. Dan anak kita sehat didalam sini." Satria mengelus perut Amayra pelan-pelan.
Anna tersenyum melihat kemesraan omnya dan istrinya itu. Dia juga jadi ingin segera menikah dan bermesraan, pria yang ada didalam fantasinya itu adalah Ken.
"Oh ya Mas, ngomong-ngomong dimana pak Sandy?" tanya Amayra.
"Dia berangkat agak siang, katanya ada urusan sebentar. An, aku titip istriku ya sama kamu sebelum pak Sandy datang."
"Siap om! Kebetulan Anna masih belum ada kelas kok!" Anna memberi hormat pada Satria sambil tersenyum.
"Mas apaan sih, emangnya aku anak kecil apa pakai dititip titip segala?"
"Iya, kamu memang anak kecil." ucap Satria sambil tersenyum.
__ADS_1
Ketika mereka akan sampai ke kampus, tiba-tiba saja mobil Satria ditabrak dari belakang.
DUAK!
Anna, Amayra dan Satria terantuk ke depan mobil. "Astagfirullahaladzim!" Pekik Amayra terkejut sambil memegangi perutnya.
"Ya Allah...itu orang nyetirnya gimana sih. May, An? Kalian gak apa-apa?" tanya Satria cemas pada dua wanita yang berada di dalam mobilnya.
"Aku gak apa-apa om," jawab Anna sambil mengangguk.
"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Satria pada istrinya.
"Aku juga gak apa-apa Mas," jawab wanita hamil muda itu sembari tersenyum.
Setelah memastikan istri dan keponakannya baik-baik saja. Satria keluar dari mobil, dia bermaksud untuk menegur orang yang sudah menabrak bagian belakang mobilnya.
"Loh, itu om Satria mau kemana?"
"Kita turun juga yuk, An!" Amayra dan Anna turun dari mobil.
"Pak! Tolong keluar!" Satria mengetuk kaca mobil berwarna putih itu dengan kesal.
"Mas, astagfirullahaladzim...jangan marah gitu dong sama orang tua." Amayra memegang tangan suaminya seraya menenangkan Satria.
"Maafkan saya pak, saya tidak sengaja." ucap pria tua itu seraya mengatupkan kedua tangannya. Memohon maaf pada Amayra dan Satria.
Uuhh... gara-gara pemotor yang tidak jelas itu, aku jadi tidak bisa mencelakakan mereka. Pemotor itu selalu menghalangi jalanku! Siapa dia?. Batin si pria tua kesal.
Ketika Satria, Anna dan Amayra masih mengobrol didekat kampus. Pria misterius yang memakai topi itu memperhatikan mereka dari jauh.
"Kenapa bisa ada orang yang mencelakai Satria dan istrinya? Heh! Mereka belum tau saja siapa aku! Berani sekali dia mencelakai adik dan adik iparku!" Pria itu mengambil ponsel di sakunya, gayanya terlihat seperti preman, jaket kulit, celana jeans sobek-sobek menjadi ciri khas pria itu.
Tutt...Tutt...
"Ya, halo bos?" tanya seorang pria yang bicara dengannya di telpon.
__ADS_1
"Kenapa kamu lama sekali angkat telponnya?" tanya Pria itu membentak.
"Ma-maaf bos Bima, saya baru beres setor. Ada apa bos?" tanya pria itu pada pria yang bernama Bima.
"Aku ingin kamu periksa plat mobil ini, lalu menyingkirkan noda. Paham?" kata Bima dengan seringai diwajahnya.
"Saya paham bos. Sampai mati atau tidak?"
"Hanya disingkirkan, tidak dibasmi. Maka jangan sampai mati, selidiki saja orang ini..paksa sampai buka mulut. Aku yakin ada dalang dibalik semuanya," ucap Bima pada anak buahnya itu.
Entah siapa Bima ini, dia memiliki aura tajam yang kuat. Dia seperti preman, namun wajahnya tak terlihat jelas karena ditutupi masker.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian. Kamu harus selalu bahagia adikku," ucap Bima sambil menatap ke arah Satria yang sudah pergi dari kampus Amayra.
Amayra dan Anna masuk ke lingkungan kampus mereka. Bima yang iseng mengikuti mereka dua wanita itu. Dia ingin melihat-lihat seperti apa keluarga Satria, apalagi istrinya.
Bima masih memakai masker yang menutupi setengah wajahnya. Ketika sedang fokus pada Amayra dan Anna, tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf Mas! Saya gak sengaja!" kata Ken yang ternyata adalah orang yang menabrak Bima.
"Iya, gak apa-apa." jawab Bima cuek.
Entah bagaimana ceritanya, masker yang dipakai Bima terlepas karena mengait di jam tangan Ken. "Maaf Mas," Ken mengambil masker Bima yang jatuh ke lantai.
Ken terperangah saat melihat wajah pria yang baru saja ditabraknya itu. "Eh, pak dokter?" Ken menatap pria yang wajahnya sangat mirip dengan Satria itu.
Apa pria ini mengenali aku sebagai Satria?
Mata Bima melebar melihat ke arah Ken. Begitu pula dengan Ken yang terkejut melihat tampilan berbeda dari Satria yang biasa dia lihat. "Wow...pak dokter, penampilannya beda banget ya. Kayak anak ABG, metal! Saya tidak tahu kalau anda punya sisi seperti ini, tapi.. apa Amayra tau kalau pak dokter metal?" Ken menggoda Bima sambil tersenyum.
Aku harus ngomong apa? Masa aku harus bilang kalau aku bukan Satria. Tidak, keberadaanku belum boleh diketahui.
"Jangan bilang-bilang sama Amayra ya, kalau saya kesini dengan penampilan seperti ini." Ucap Bima sambil memakai maskernya kembali.
"Oke deh pak dokter. Pak dokter keren!" Ken mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Bima pergi begitu saja dengan cueknya, dia pergi keluar dari kampus itu untuk menghindari masalah. "Wajahnya kayak dokter Satria, tapi kok gayanya aneh ya. Bahkan cara jalannya juga kayak preman?" Ken mengernyitkan dahinya menatap punggung pria yang mirip wajahnya dengan Satria. Dia terlihat bingung.
...----*****----...