Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 226. Bibirmu manis


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bima termenung saat dia disuruh pulang oleh Bram untuk menemui Satria yang sudah siuman. Tanpa bicara, Bima memutuskan telponnya. Hatinya berdebar-debar, bahagia dan bingung bercampur aduk didalam perasaannya.


"Alhamdulillah...Satria sudah siuman. Tapi bagaimana aku bisa menemuinya? Apa yang harus aku katakan saat menemuinya nanti? Belum apa-apa, aku sudah berdebar." ucap Bima sambil memegang dadanya, matanya berkaca-kaca. Belum apa-apa dia sudah terharu, saat akan bertemu dengan Satria.


Dia menjadi bingung, padahal hal ini yang sudah dia nantikan sejak lama. Pertemuan dengan saudara kembar yang selama ini jauh darinya. "Satria, apa kamu akan suka padaku? Apa kamu akan menerimaku sebagai saudaramu?"


Bima masuk ke dalam mobil yang selalu dikendarai Satria, dia tancap gas menuju ke rumah Calabria sambil senyum-senyum sendiri. Tak sabar ingin bertemu dengan saudara kembarnya dan bicara langsung dengan Satria.


*****


Malam itu, Amayra baru saja selesai menyiapkan teh hangat dan memasak nasi goreng tanpa kecap kesukaan suaminya. Dia menghampiri suaminya yang duduk di atas roda, Satria baru saja shalat isya.


"Mas, ini aku bawakan teh dan nasi goreng kesukaan kamu." ucap Amayra sambil menunjukkan nasi goreng dan segelas teh diatas nampan.


"Sayang, aku kan udah bilang...kamu gak usah buatin aku." ucap Satria pada istrinya.


Amayra menggeleng. "Mas, udah lama aku menantikan saat-saat ini...aku kangen masak nasi goreng dan buatkan teh hangat untuk kamu. Jadi, jangan protes ya mas? Hari ini aku juga akan menyuapi mas Satria!"


"Sayang..." lirih Satria sambil menatap istrinya dengan tatapan sedih.


"Hussshh...bukan aku saja yang mau suapi kamu, tapi anak kita juga mas." Amayra mengambil sendok yang berisi nasi goreng, dia tersenyum sambil menatap Satria penuh harapan.


Kamu pasti gak akan menolak kalau berkaitan dengan anak kita kan, mas?


"Haahh...ya udah, suapi aku. Ayo!" ujar Satria sambil tersenyum tipis.


"Asyik!!" Amayra tersenyum senang, lalu dia menyuapi Satria penuh perhatian dan secara perlahan-lahan.


Mas, aku akan selalu menjadi kekuatan untuk kamu. Apapun yang terjadi, aku akan menemani kamu mas. Jadi, kamu juga harus kuat.. aku tau didalam hatimu, kamu sedang sedih. Amayra menatap kedua mata suaminya yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Gimana mas? Nasi goreng buatanku masih favorit mas Satria kan?" tanya Amayra sambil mengambil kuning telur di piring itu.


"Hem...rasanya masih sama, enak kok sayang." ucap Satria sambil tersenyum memuji istrinya.


"Alhamdulillah kalau masakanku masih favorit di lidah mas Satria."


"Favorit dihatiku juga." ucap Satria bermulut manis seperti biasanya.


"Hehe, mas buat aku malu deh." ucap Amayra sambil tersenyum.


"May...sini deh!" Satria melambaikan tangannya seraya meminta Amayra lebih dekat padanya.


"Ya mas?" sahut Amayra.


"Sini bentar, aku mau bisikin sesuatu yang lebih manis." Satria mengangkat kedua alisnya, seraya tersenyum.


"Hah?"


Amayra patuh dan mendekatkan wajahnya pada wajah Satria. Awalnya Satria mendekati telinga Amayra, namun dia merengkuh wajah sang istri lalu mengecup bibirnya.


"Mas Satria.." wajah ibu hamil itu merona, dia memegang bibirnya yang baru saja dikecup suaminya dengan jari telunjuk. "Katanya mau bisikin yang manis manis, tapi kok malah cium aku." ucap Amayra dengan bibir yang mengerucut.


"Oh aku bilang gitu ya? Ya udah aku ganti deh jadi tunjukkan sesuatu yang manis manis aja."


"Tunjukkan sesuatu yang manis? Dimana?"


"Itu barusan, bibir yang aku kecup kan rasanya manis May." ucap Satria sambil tersenyum lembut.


"A-apa?" kedua mata wanita itu melebar, dia tersipu malu.


"PFut... hahahaha...sudah lama aku gak lihat wajahmu yang memerah itu May." Satria menertawakan istrinya yang terlihat malu-malu.

__ADS_1


"Mas...kamu masih aja suka godain aku." ucap Amayra sebal.


Satria membelai wajah Amayra dengan lembut, dia menatap istrinya penuh kerinduan."Kenapa wajahku yang dibelai terus?"


"Terus, kamu mau aku belai bagian mana?"


"Anak kita juga dibelai dong, mereka udah lama loh gak dibelai sama papanya." ucap Amayra sambil tersenyum.


Tangan Satria beralih pada perut buncit istrinya. Satria berbicara pada perut itu, pada anak-anaknya yang ada didalam sana dan meminta maaf pada mereka. "Sayang, maafkan papa ya...papa sudah lama tidak menyapa kalian. Anak papa sehat-sehat kan selama papa koma?" Satria mengelus perut itu penuh kasih sayang.


Amayra mengusap rambut suaminya, dia merasakan lepek dan berminyak pada rambut Satria. "Mas...rambutmu sudah panjang dan juga lepek, besok mas potong rambut dan keramas ya mas." ucap Amayra mengingatkan.


"Iya yah? Sudah hampir sebulan aku gak keramas dan hanya tidur ditempat tidur saja. Baiklah sayang, lakukan yang kamu mau." ucap Satria sambil tersenyum." ucap Satria memasrahkan semuanya pada Amayra.


"Mas jangan protes ya, nanti aku yang keramasin...pak Muin yang potongin rambut." ucap Amayra sambil tersenyum, dia tak sabar ingin mengurus suaminya.


"Iya sayang, iya..." Satria manggut-manggut saja.


Tiba-tiba saja Amayra terdiam, dia memikirkan Bima. Bagaimana cara dia memberitahu tentang Bima?


"Mas... sebenarnya aku mau cerita kalau kamu-"


Tok,tok, tok


Seseorang mengetuk pintu kamar Amayra dan Satria, hingga ucapan Amayra terputus. Pintu kamar itu terbuka lebar, orang yang baru saja mengetuk pintu juga terlihat. Seorang pria dengan wajah mirip Satria.


"Kamu...siapa kamu?" Satria menatap pria yang seperti copy-annya itu. Dia tercengang melihat Bima.


Wajahnya begitu mirip denganku, siapa dia?


"Mas Bima?" Gumam Amayra saat melihat Bima berada di ambang pintunya.

__ADS_1


Kenapa mas Bima sudah datang? Bukankah aku sudah menyuruhnya untuk datang nanti aja?


...*****...


__ADS_2