Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 186. Jangan lengah Satria!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Satria membawa istrinya ke rumah sakit, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Amayra duduk di sampingnya sambil memegang perutnya.


"Astagfirullah... astagfirullahaladzim.." tak hentinya Amayra mengucapkan kata istighfar sambil memegang perutnya. Wajah wanita yang tengah hamil muda itu berkeringat.


Ya Allah, kenapa darahnya masih terus mengucur? Tidak mungkin aku kehilangan anakku lagi...tidak...ku mohon jangan.


"Sayang.. tahan ya." Satria semakin kencang melajukan mobilnya.


Anak kami dan amanah dari Allah....pasti akan baik-baik saja.


"Mas...kamu jangan ngebut.. menyetir dengan hati-hati..." Amayra mengingatkan suaminya, dengan nafas terengah-engah.


Rasanya seperti akan melahirkan, ya Allah... selamatkan anakku dan Mas Satria.


"Iya sayang...kamu tahan ya..kamu dan anak kita pasti kuat." ucap Satria seraya menenangkan istrinya. Padahal dia sendiri sangat cemas dengan kondisi Amayra.


"Insya Allah Mas.." Amayra tersenyum pahit, sambil memegang perutnya.


Semoga amanah ini masih bisa aku jaga.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Satria keluar dari mobil lebih dulu, kemudian dia menggendong Amayra keluar dari mobilnya. Wanita itu terlihat menahan sakitnya, ingin nya dia berteriak saat itu juga. Tapi dia tak mau Satria semakin panik padanya.


Satria membawa Amayra masuk ke dalam rumah sakit. Amayra langsung di larikan ke ruang UGD agar segera mendapatkan perawatan.


Tangan Satria berlumuran darah dari tubuh istrinya. Dia menunggu Amayra di depan ruang UGD. Salah satu dokter kandungan yang berjaga malam, dia lah yang menangani Amayra.


"Astagfirullah! Ini salahku! Semuanya salahku, kalau saja aku tidak meninggalkan Amayra sendiri.. kejadiannya tidak akan begini!" Satria menyesal meninggalkan Amayra sendirian didalam rumah walau hanya 10 menit. Tangan Satria masih berlumuran darah dan belum dibersihkan.


Ditengah kebingungan itu, Satria teringat untuk menelpon salah satu anggota keluarganya. Dia ingin memberitahukan keadaan istrinya pada Bram terlebih dahulu.


Bram sedang berada di dalam kamar bersama Diana. Pasangan suami istri itu masih dalam suasana yang hangat-hangatnya. Diana dan Bram sedang bercumbu di atas sofa kamar mereka.


Dreett...


Dreet..


Bram sibuk mencium sang istri dan memeluk istrinya dengan mesra. "Mas...stop!" Diana menutup mulut Bram dengan telapak tangannya.


"Apa sih? Suruh suruh berhenti.." Bram mencium tengkuk leher sang istri dengan lembut.

__ADS_1


"Mas.. hentikan dulu sebentar! Ada yang menelpon tuh," ucap Diana sambil melihat ke arah ponsel yang menyala dan bergetar diatas meja.


"Biarkan saja... angkat telepon bisa nanti." CEO perusahaan Calabria itu tak peduli dengan panggilan masuk di telponnya. Yang saat ini dia pedulikan hanyalah istrinya saja.


Dia mendorong tubuh Bram, "Siapa tau itu penting, mas."


"Ah.. kamu ini.." dengus Bram kesal.


Bram beranjak duduk diatas sofa, dia mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Selagi Bram mengangkat telepon, Diana memakai pakaiannya kembali dan merapikannya.


Satria? Ngapain dia telepon malam-malam begini?


"Siapa Mas?"


"Satria, sayang.." jawab Bram sambil mengangkat telponnya. Dia meletakkan ponselnya ke telinga.


"Assalamualaikum Sat,"


"Waalaikumsalam kak...tolong.."


"Ada apa Sat? Kenapa suara kamu lemas begitu?" Bram bertanya pada Satria dengan cemas. Diana juga kaget mendengarnya.


"Pendarahan? Gimana bisa?!" Diana bertanya mendahului suaminya yang akan menanyakan hal yang sama juga.


"Ada seseorang yang menyerang Amayra, aku gak tau siapa orangnya. Tapi tujuannya jelas, dia ingin melukai May. Kak Bram, tolong bantu aku selidiki siapa orang gila itu!" Satria meminta tolong pada kakaknya.


"Oke Sat, kamu tenang saja. Aku pasti akan bantu kamu." Bram terlihat cemas dengan keadaan adik iparnya.


"Sat, sekarang aku sama mas Bram ke rumah sakit ya!" kata Diana pada adik iparnya itu.


"Gak usah kak,"


"Gak usah gimana? Kamu tuh.. pokoknya aku dan mas Bram akan kesana!" Diana langsung menutup teleponnya bahkan sebelum Satria mengucap salam.


Diana dan Bram pun bersiap pergi ke rumah sakit. Mereka resah dan cemas karena belum melihat kondisi Amayra secara langsung. Diana dan Bram paham bahwa saat ini Satria membutuhkan seseorang untuk disampingnya.


"Apa kita beritahu papa dan mama juga?" tanya Diana.


"Gak usah jangan dulu. Lagian ini udah malam, mereka pasti sudah beristirahat. Kita pergi saja berdua ke rumah sakit." ucap Bram sambil tersenyum.


Mereka berdua keluar lewat pintu belakang secara diam-diam agar orang rumah tidak terbangun karena mendengar suara kepergian mereka.

__ADS_1


Bram dan Diana pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobil. Anna yang belum tidur, melihat mobil om nya keluar dari garasi. "Om Bram sama Tante Diana mau kemana ya malam-malam begini? Kenapa mereka rusuh banget, ya?"


Setelah menempuh 15 menit perjalanan, Bram dan Diana sampai di rumah sakit. Mereka melihat Satria berada di depan ruang tunggu UGD.


"Satria, gimana keadaan May?" tanya Diana buru-buru.


"Dokter Mira belum keluar, May masih diperiksa." Satria memegang kepalanya, pria itu tak hentinya menghela nafas. Melihat ke ruangan UGD berkali-kali.


"Itu darah siapa ditangan kamu, Sat?" tanya Bram melihat darah ditangan Satria.


"Ini darah Mayra," jawab Satria dengan mata berkaca-kaca, dia mengkhawatirkan keadaan istri dan anaknya.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Gimana kejadiannya? Dan orang gila siapa maksud kamu ditelpon tadi?" tanya Bram penasaran dengan kejadian yang menimpa adik dan adik iparnya itu.


Satria menceritakan apa yang terjadi pada Diana dan Bram. Tentang teror di rumahnya. Diana pun menyarankan pada Satria agar menginap dulu di rumah keluarga Calabria bersama Amayra sementara waktu sampai pelakunya tertangkap. Satria setuju dengan usul Diana.


Ketika mereka sedang mengobrol, pintu ruangan UGD itu. Dokter Mira salah satu rekan Diana yang juga adalah dokter kandungan, baru saja selesai memeriksa Amayra.


"Dokter Mira, bagaimana kondisi istri dan anak saya?" tanya Satria pada dokter Mira.


"Alhamdulillah Bu Amayra dan bayi yang ada didalam kandungannya selamat, saya sudah memberikan suntikan penguat kandungan karena kondisi kandungan Bu Amayra sedang lemah. Namun saat ini keadaan bu Amayra masih belum stabil dan memerlukan banyak istirahat." begitulah penjelasan dokter Mira pada Satria.


"Alhamdulillah ya Allah..." Satria mengusap dada sambil menghela nafas lega. Dia masih diberikan amanah oleh yang kuasa untuk merawat calon anak mereka.


Diana dan Bram juga merasa lega karena Amayra baik-baik saja.


"Saya akan memindahkan Bu Amayra ke ruang perawatan, mohon dokter Satria untuk menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu." ucap dokter Mira formal.


"Biar aku yang ke bagian administrasi, kamu temani saja istri kamu di ruang perawatan." Kata Diana sambil tersenyum.


"Makasih kak Diana," Satria lega ada Diana dan Bram disampingnya saat ini.


"Aku akan telpon orang-orang ku untuk mengawasi rumah kamu," ucap Bram sambil mengangkat telponnya. "Oh ya...kalau kamu tau orang itu gila, kamu jangan lengah ya Satria!" kata Bram mengingatkan adiknya untuk menjaga Amayra.


"Makasih kak Bram, aku pasti akan menjaga istriku baik-baik." Ucap Satria yakin.


Ketika Diana dan Bram sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Satria masuk ke ruangan tempat istrinya dirawat. Dia melihat Amayra terbaring lemas diatas ranjang. Amayra tertidur karena efek obat penguat kandungan yang di suntikkan ke tubuhnya itu.


...*****...


Hai Readers 🥰 berhubung ini hari Senin, apa author boleh minta gift sama vote nya? 🤭

__ADS_1


__ADS_2