Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 260. Setelah 6 tahun menunggu


__ADS_3

Semua orang panik melihat Diana yang tiba-tiba jatuh pingsan saat jam makan siang. Terutama suaminya, Bram.


"Bram, cepat kamu bawa istri kamu ke kamar! Mama akan panggil dokter Bevan untuk memeriksa kondisi istrimu." ucap Nilam panik melihat Diana yang jatuh pingsan.


"Iya benar, rumah dokter Bevan kan sudah pindah ke kompleks ini. Lebih baik memanggilnya dan dibawa ke rumah sakit,"


"Ya ma," Bram langsung menggendong tubuh istrinya. Dia membawa Diana ke kamar Amayra dan Satria lebih dulu karena kamar itu letaknya di lantai bawah dan lebih cepat jika Diana di periksa disana.


Tak berselang lama, beberapa menit kemudian dokter Bevan yang sudah mulai menua itu datang untuk memeriksa kondisi Diana.


Terlihat Bram sedang mengusap-usap tangan istrinya. Meski sudah hampir 7 tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak kandung dari rahim Diana, rasa cinta antara Diana dan Bram tidak pernah berkurang. Keduanya masih saling mencintai dan setia, sabar menunggu keajaiban datang.


"Dokter Bevan, tolong periksa istri saya!" Seru Bram dengan kening berkerut menatap sang dokter berkacamata itu.


"Baiklah," dokter Bevan bersiap dengan stetoskopnya, dia memeriksa denyut nadi Diana.


Semua orang disana resah menunggu hasil pemeriksaan Diana. Mereka mengheran karena Diana biasanya selalu sehat dan kuat, jarang sekali Diana sakit apalagi sampai jatuh pingsan.


Terlihat dokter Bevan mengeluarkan raut wajah yang aneh, keningnya berkerut beberapa kali. Dia seperti sedang menelisik sesuatu pada diri Diana. Wajah Bevan yang aneh itu membuat Bram dan anggota keluarganya yang lain jadi bertanya-tanya.


"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?" Cakra bertanya pada dokter keluarganya itu.


"Iya dok, bagaimana? Kenapa dokter lama sekali memeriksanya?" Omel Nilam yang heran melihat dokter itu lama terdiam.


"Ehm... sepertinya---" Bevan menatap pada Bram, sesekali dia menggigit bibirnya seolah ragu dengan sesuatu.


"Sepertinya apa dok?" Tanya Bram tidak sabar.


"Saya merasakan dari denyut nadi Bu Diana, kalau Bu Diana sedang hamil."


Semua orang yang mendengarnya langsung tercengang, kedua mata mereka melebar terkejut. Apa katanya? Diana hamil? Apa mereka tidak salah dengar?

__ADS_1


Bram ternganga, dia sampai memegang tangan dokter itu dan mencengkeramnya. "Dok, apa maksud dokter? Istri saya HAMIL? Saya pasti salah dengar kan?"


"Dari denyut nadi Bu Diana saya merasakannya, bahwa Bu Diana memang sedang hamil--tapi jika bapak mau memastikannya lagi, silahkan lakukan pemeriksaan dengan tespeck atau pergi ke rumah sakit dan melakukan USG." jelas Bevan sambil tersenyum.


"Apa dokter yakin? Bukankah anak saya tidak bisa untuk--" Nilam menghentikan ucapannya, dia kini menjaga sikap dan perkataannya takut menyakiti orang di sekitarnya.


"Keajaiban bisa saja terjadi Bu Nilam," ucap Bevan sambil tersenyum.


Deg!


Sungguh Bram berdebar kencang, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu. Dia menatap Diana dengan wajah yang bingung. Bukan karena tidak percaya bahwa Diana mengandung anaknya, tidak ada sama sekali perasaan jelek seperti itu. Tapi yang Bram pikirkan, bagaimana bisa benihnya tumbuh didalam Diana sedangkan dia sudah divonis akan sulit punya anak.


"Dulu pak Bram di vonis akan sulit punya anak, bukannya tidak bisa. Mungkin saja saat itu belum waktunya dan sekarang adalah waktunya. Kalian sudah berbaik hati membesarkan anak yatim piatu seperti Reyndra, mungkin inilah buah dari kesabaran pak Bram dan Bu Diana." jelas Bevan yang turut bahagia dengan kebahagiaan Bram.


"Benar, jika Allah sudah berkehendak! Semuanya bisa saja terjadi," ucap Satria menimpali ucapan sang dokter.


Bram bahkan sampai menangis, dia tidak percaya akan semua ini. Nilam, Cakra, Rey dan si kembar juga merasa bahagia mendengar penjelasan dokter. "Apa aku akan punya adik?!" celetuk Zahwa tiba-tiba.


"Bodoh! Itu adiknya kak Rey bukan adik kamu." Celetuk Zayn pada saudara kembarnya.


Disisi lain, Rey tersenyum dia ikut bahagia karena mamanya ternyata sedang mengandung. Namun dihatinya dia juga merasa resah, entah kenapa.


"Sudah sudah... anak-anak ayo kita keluar," kata Amayra kepada Rey dan si kembar.


"Iya ayo kita keluar dulu, sepertinya kak Bram butuh waktu berdua dengan kak Diana." Satria melirik ke arah Nilam dan Cakra, mengisyaratkan mereka untuk keluar juga dari kamar itu.


Cakra dan Nilam paham, berita yang mengejutkan sekaligus membahagiakan ini pasti membuat Bram dan Diana syok. Semua orang keluar dari sana dan kini hanya ada Bram dan Diana disana.


****


Tak lama kemudian, Diana siuman setelah dia merasakan ada tetesan air yang jatuh membasahi tangannya.

__ADS_1


"Mas,"


"Sayang, kamu sudah siuman?" Bram masih menangis, namun dia lega karena Diana sudah siuman.


"Mas kenapa menangis? Terus kenapa aku bisa ada disini?"


"Diana...setelah enam tahun menunggu, kita akhirnya---" Bram bergumam, dia menatap Diana dengan mata berlinang air mata.


"Mas, kamu kenapa sih?"


"Kata dokter...kamu sedang hamil, kamu hamil!" Bram tidak sabar mengatakan berita bahagia itu pada Diana.


Diana tersentak kaget, "Mas, kamu jangan bercanda?"


"Aku tidak bercanda, ini benar-benar keajaiban...hadiah dari Allah atas buah kesabaran kita! Kamu hamil, kamu hamil!" Bram mengecup kening istrinya, kedua tangan kekar Bram memeluk Diana dengan erat.


Rasa haru bahagia bercampur didalam dirinya. Diana masih bingung, karena suaminya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.


Akhirnya mereka pun melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, dokter Mira merasa lucu karena Diana adalah dokter kandungan namun dia tidak sadar bahwa dirinya sedang hamil. Bram juga memeriksakan kesehatannya, benar-benar sebuah keajaiban bahwa Bram juga dalam keadaan baik meski kata dokter sp**** nya lemah.


Dokter menjelaskan bahwa usia kandungan Diana sudah menginjak 3 bulan. Bram dan Diana sangat senang mendengar berita bahagia ini, namun ada satu hal yang harus mereka garisbawahi. Bahwa kandungan Diana ini lemah karena s**** ayahnya yang lemah juga. Jadi, mereka harus memperhatikan kesehatan Diana dan Bram karena mereka tidak tahu apakah Diana akan hamil lagi atau tidak di masa depan.


Kabar bahagia ini membuat Nilam dan Cakra berencana untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk Diana dan Bram yang sudah 6 tahun lamanya belum kunjung dikaruniai anak kandung. Walaupun begitu, mereka sama sekali tidak melupakan Rey yang sudah menjadi cucu dan anak didalam keluarga itu. Kasih sayang Diana, Bram, Nilam dan semua orang tidak berkurang padanya.


****


Malam itu, di rumah keluarga Calabria. Terlihat banyak orang yang menghadiri acara syukuran itu.


"Katanya calon besanmu dan menantumu akan datang juga ya Sat?" Celetuk Bima sambil menatap ke arah Satria yang sedang berdiri di dekat pintu.


"Eh kakak! Kapan datang?" sambut Satria yang baru saja ngeh bahwa ada Bima disana.

__ADS_1


Bima menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar 3 tahunan yang mirip dengan Fania. Disampingnya juga sang istri yang menemani, kini Fania sudah berhijab.


...*****...


__ADS_2