
Satria pergi keluar dari kamar, meninggalkan istri dan kedua anaknya disana. Dia mendekat ke arah suara wanita yang berteriak-teriak itu. Satria melihat Nilam, Bram, Diana dan seorang anak berpakaian lusuh berada di tengah rumah.
"Ada apa ma? Kenapa mama teriak-teriak?" tanya Cakra yang baru saja menuruni anak tangga, dia turun ke bawah karena mendengar ada keributan disana.
"Ada apa ma?" Tanya Satria pada Nilam yang berwajah merah karena merah.
"Pa, Satria...coba kalian lihat siapa yang dibawa oleh Diana dan Bram! Mereka membawa pengemis ke rumah ini," ucap Nilam dengan suara meninggi, dia menunjuk ke arah anak laki-laki yang berpakaian lusuh.
"Ma, anak ini bukan pengemis! Mulai sekarang Reyndra akan tinggal di rumah ini sebagai anak Bram dan Diana!" Seru Bram pada mamanya.
Nilam, Satria dan Cakra kaget mendengar ucapan Bram yang akan mengangkat anak laki-laki itu sebagai anaknya dan Diana.
Reyndra? Namanya sama seperti Rey.
"A-apa? Apa kamu sudah gila Bram? Anak ini kamu mau jadikan anakmu?! Anak yang tidak tau asal usulnya dan seperti pengemis ini? Jangan gila kamu Bram!" Nilam sudah jelas menolak mentah-mentah anak laki-laki itu menjadi anak angkat Bram dan Diana.
"Tidak ma, ini sudah keputusan Diana dan Bram. Lagipula Reyndra bukan anak yang tidak tahu asal-usulnya, dia adalah-"
"Mama gak mau tau! Pokonya kamu kembalikan anak itu ke jalanan! Daripada kamu memungut anak, mendingan kamu dan Diana ambil saja salah satu bayi kembar Satria..yang sudah jelas asal-usulnya!"
Lagi-lagi ucapan Nilam menimbulkan kontroversi di rumah yang awalnya tenang itu, bahkan Satria terkejut mendengar ucapan tentang ambil salah satu bayi kembarnya. Semua orang tercengang mendengarnya, meeka tak percaya bahwa Nilam akan mengatakan hal seperti itu. Hal yang menyinggung perasaan banyak orang, termasuk Satria.
"Astagfirullahaladzim mama!" Teriak Cakra murka.
Bahkan di hari baik seperti ini saja, mama masih saja membuat gaduh. Ya Allah, harus aku apakan lagi mulut istriku ini?
"Po-pokoknya, mama gak mau ada anak ini di rumah kita! Mama gak sudi kamu dan Diana adopsi anak dari sembarang tempat!" Nilam menghela nafas, dia pun pergi setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan pada semua orang disana terutama Diana dan Bram.
Satria juga menahan marah, berusaha menganggap ucapan Nilam hanyalah angin lalu saja. "Sat, omongan mamamu jangan dimasukkan ke dalam hati ya!" Cakra menepuk bahu putranya seraya menenangkannya.
"Haaahh... iya pah, astagfirullahaladzim..." Satria beristighfar, untuk menenangkan telinga dan hatinya dari ucapan Nilam yang tajam.
"Oh ya! Dan kamu Bram,Diana... sepertinya kita harus bicara." ucap Cakra sambil menatap anak dan menantu perempuannya itu.
"Baik pa," jawab Diana dan Bram bersamaan. Mereka tau bahwa Cakra pasti membutuhkan penjelasan dari semua ini.
__ADS_1
Sementara itu, Reyndra terlihat menundukkan kepala dengan wajah yang sedih. Diana dan Bram meminta maaf pada Reyndra karena dia harus menyaksikan pertengkaran ini.
Cakra pun meminta Satria untuk membawa Reyndra pergi terlebih dahulu karena Cakra akan bicara dengan Diana dan Bram. Satria pun membawa Reyndra ke kamarnya, dia melihat Amayra baru saja menidurkan Zayn dan membaringkan anak itu di atas ranjang tidurnya.
"Mas, siapa..." Amayra menatap Reyndra yang tidak berani mengangkat kepalanya.
Siapa anak ini? Dia terlihat kasihan.
"May, nanti aku jelaskan. Kamu bisa bantu aku bersihkan dulu badannya dan kasih dia baju hangat?" tanya Satria meminta pada istrinya untuk mengurus Reyndra. Dia merasa kasihan saat melihat anak itu karena ada beberapa luka di wajah dan tubuhnya yang lain. Luka lebam dan memar seperti habis dipukul.
"Baiklah mas. Bisa kamu jaga Zahwa sebentar?"
"Apa? Dia belum tidur?"Tanya Satria sambil duduk diatas ranjang bersama bayi perempuannya yang masih belum tidur dan bergerak kesana kemari.
"Iya mas, kamu tau sendiri kan...Zahwa memang suka tidur telat, beda sama kakaknya Zayn." ucap Amayra sambil menghampiri Reyndra. Dia menatap anak itu sambil tersenyum ramah. "Hey nak, kenalkan Tante adalah mama si kembar, nama Tante...Amayra. Kamu bisa panggil Tante, Tante May. Oh ya dan nama kamu siapa?" Amayra berusaha membuat anak itu bicara.
Reyndra mengangkat sedikit kepalanya dan menatap Amayra. Amayra tercekat melihat luka di wajah Reyndra, lebam berwarna ungu. "Namamu siapa nak?" tanya Amayra sekali lagi.
"Rey, Reyndra..." jawab Rey dengan mata polos menatap Amayra.
"Nama yang bagus nak, sekarang...apa boleh Tante memandikan kamu?" bujuk Amayra pada anak itu.
"Saya mau mandi, tapi saya bisa mandi sendiri kok." jawab Reyndra sambil tersenyum tipis.
Tante ini baik sekali, sama seperti ibu.
"Baiklah, Tante akan tunggu diluar." Amayra tersenyum pada Reyndra..
Amayra menyiapkan baju anak laki-laki milik suaminya waktu kecil, untuk dipakai oleh Rey. Setelah selesai membersihkan dirinya, luka-luka ditubuh Rey diobati oleh Amayra. Di sela-sela obrolan itu, Amayra menanyakan kenapa Rey bisa terluka. Rey menjawab dengan jujur, bahwa bapaknya yang memukulinya dan dia juga bercerita bahwa ibu dan adiknya meninggal karena bapaknya. Dia juga menceritakan tentang Diana dan Bram yang sempat menolong ibunya, namun sang ibu tak selamat.
Satria dan Amayra semakin iba merasa kasihan pada anak yang bernama Reyndra itu. Tak heran jika Diana dan Bram membawanya ke rumah, apalagi anak itu terlihat seperti anak yang baik.
"Om, Tante...maaf ya. Saya tidak bermaksud untuk menangis." Reyndra menyeka air matanya. "Padahal ibu bilang, kalau aku gak boleh cengeng." tambahnya lagi.
"Tidak apa-apa nak, kamu bisa menangis sebanyak yang kamu mau..." Amayra menepuk-nepuk pundak kecil anak itu.
__ADS_1
"Maafkan saya, tapi apa saya boleh pinjam sajadah, sarung dan juga peci?" tanya Reyndra sambil melihat ke arah Amayra dan Satria.
Masya Allah, anak ini masih kecil tapi dia sangat baik. Satria memuji ketaatan anak itu.
"Ada nak, Tante ambilkan ya." jawab Amayra sambil tersenyum.
Masya Allah, anak ini baik sekali...dia juga sholeh dan sepertinya sangat berbakti pada orang tua.
"Makaish Tante, saya hampir lupa belum shalat isya." ucap Reyndra sambil tersenyum.
Satria juga tersenyum pada anak itu, dia mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
*****
Sementara itu, Bram, Diana dan Cakra masih berada di ruang tengah dan membicarakan tentang mereka yang akan mengadopsi Rey sebagai anak mereka.
"Papa gak akan ngelarang kalian untuk mengadopsi anak, tapi harusnya kalian bicarakan dulu dengan mama kalian sebelum membawanya kemari. Kalian tau gimana sifat jelek mama kalian?"
"Iya pa, maafkan kami. Tadinya kami juga mau berdiskusi dulu dengan mama dan papa, tapi kami ingin memberikan keamanan untuk keselamatan Rey." jelas Bram pada papanya.
"Keselamatan Rey? Apa maksud kamu Bram?" tanya Cakra pada anaknya.
"Bapak Rey adalah seolah penjudi dan pemabuk, dia sering memukul Rey dan ibunya. Belum lama, ibunya yang sedang hamil meninggal karena di siksa oleh bapaknya dan sekarang bapaknya adalah buronan. Papa lihat kan? Luka di wajah, tangan dan kakinya? Itu ulah bapaknya!" Bram menjelaskan tentang Rey pada Cakra.
"Iya pa, makanya kami langsung membawa Rey kemari. Kami juga berniat mengadopsinya." ucap Diana menambahkan.
Cakra tercengang mendengar nasib malang Reyndra. "Ya Allah! Kasihan sekali anak itu!"
"Maka dari itu pa, tolong bantu yakinkan mama...kalau Bram dan Diana mau adopsi Rey." pinta Bram pada Cakra untuk membujuk Nilam agar setuju pada keputusan Bram dan Diana.
"Haaahh...baiklah, papa akan coba bujuk mamamu." ucap Cakra setuju pada Bram dan Diana.
Pasangan suami istri itu tersenyum lebar, "Makasih pa...makasih banyak!"
****
__ADS_1