
...🍁🍁🍁...
["May, kamu masih ada disitu kan?"] tanya Satria yang tak kunjung mendengar suara istrinya.
"Iya kak aku masih disini. Kakak gak usah khawatir, kami akan baik-baik saja disini. Sebaliknya kakak yang harus baik-baik saja disana. Aku khawatir karena disana masih rawan dengan badai," ucap Amayra sambil tersenyum.
["Iya May, keadaan disini memang agak kacau. Semoga aku bisa pulang lebih cepat, doakan aku ya sayang.."]
"Aamiin, semoga kak Satria selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Jauh dari marabahaya, godaan setan dan hal-hal buruk disana. Sehat selalu ya kak, tidak apa jika kakak sibuk atau berada dalam sinyal yang kurang bagus... jangan paksakan diri untuk menelpon ku. Karena aku baik-baik saja disini," ucap wanita satu anak itu, tak mau suaminya khawatir.
["Baiklah sayang, terimakasih doanya. Semoga kita bisa menjaga hati dan menjaga diri kita selama kita berada didalam jarak yang jauh. Aku cinta kamu May,"]
"Aku juga cinta kakak," ucap Amayra dengan setulus hatinya.
Satria yang sedang duduk di dalam ranjang salah satu camp, tersenyum pahit mendengar kata cinta dari istrinya. Rasanya dia ingin memeluk Amayra dan Rey saat ini juga, rindu ini sudah membuat hatinya galau.
Ya Allah ternyata rindu ini sangat menyiksa. Semoga pekerjaanku bisa cepat selesai disini.
Saat sedang menelpon, seorang dokter memanggil Satria dan mengajaknya untuk segera beristirahat karena pagi harinya. Satria dan juga dokter lain harus segera melaksanakan tugas mereka sebagai sukarelawan di negeri yang sedang terkena badai itu.
["Sayang, aku tutup telponnya dulu ya."]
"Iyah kak, jangan lupa makan dan-"
Tut.. Tut.. Tut...
"Dan istirahat.. assalamualaikum kak.." Amayra tidak sempat mengucapkannya karena telpon itu sudah terputus.
Bram yang baru saja bangun, dia berjalan menuruni tangga dan melihat kegalauan di wajah adik iparnya itu. Bram menghampiri Amayra yang pucat.
"May, siapa yang telepon? Kenapa wajah kamu begitu?" tanya Bram sambil memegang cangkir kopinya.
"Eh, kak Satria yang telpon."
"Jadi dia sudah sampai ya? May kamu semangat ya, pasti Satria akan baik-baik saja. Bismillah, percaya sama Allah.." ucapnya menyemangati Amayra.
Gadis itu tersenyum ceria, "Iya kak,"
Kamu tenang saja Sat, aku akan menjaga adik iparku dan Rey, dengan baik bersama Diana.
"Bukankah kamu harus persiapan untuk kuliah?" tanya Bram menyinggung soal kuliah Amayra yang tidak lama lagi.
"Iya kak,"
__ADS_1
"Lalu apa kamu sudah belanja?"
"Memangnya harus belanja ya?" tanya Amayra polos.
"Tentu saja ,baju, tas, buku-buku yang kamu butuhkan. Belanja lah bersama Diana," ucap Bram pada Amayra.
"Terimakasih kak, aku bahkan belum kepikiran hal itu."
"Tentu saja, kamu kan hanya memikirkan Satria dan Rey!" Seru Bram sambil tersenyum dan duduk di sofa.
Setelah itu Amayra menghampiri Rey untuk menyusuinya.
...*****...
3 Minggu telah berlalu sejak kepergian Satria. Sesekali Satria menghubungi Amayra dan mengirim email padanya jika sinyal sedang tidak mendukung, dia mengirimkan foto-foto kegiatannya disana. Hanya ada 2 kali telpon dan 2 kali email dalam waktu 4 minggu itu.
Amayra juga selalu membalas email suaminya, dengan mengirimkan foto Rey untuk mengobati rindu Satria kepada rumahnya dan keluarga kecilnya. Kiriman email itu menandakan bahwa suaminya baik-baik saja disana.
Alhamdulillah kak Satria baik-baik saja, walaupun begitu aku masih cemas karena masih ada satu bulan lebih sebelum kak Satria kembali. Tapi tidak terasa sudah 3 Minggu berlalu...
"Semangat Amayra! Hari ini adalah kuliah hari pertama!" Amayra tersenyum semangat, dia sudah memakai jilbab berwarna dusty, dengan rok panjang berwarna hitam. Dia melihat Rey yang sedang berguling-guling di ranjang. "Rey, ayo kita berangkat sayang.."
Amayra menggandeng tas gendong dan menggendong anaknya juga. Dia bermaksud membawa anaknya pergi kuliah. Saat Cakra dan Nilam melihatnya, mereka bingung.
"Iya Pa, ini hari pertama aku kuliah."
Oh ya, hari ini adalah orientasi mahasiswa juga.
"Lalu kenapa kamu bawa Rey? Rey biar di rumah aja, kamu pergilah kuliah sendiri!" Ujar Nilam pada menantunya.
"Tapi ma.. nanti merepotkan mama,"
"Gak apa-apa kok. Masa kamu mau bawa Rey ke kampus? Dia kepanasan nanti disana, sudah sini.. mama gendong Rey," ucap Nilam sambil mengambil Rey dari gendongan mamanya.
"Iya May, fokus saja kuliah ya. Papa juga ada disini, papa bisa jagain Rey kok." Kata Cakra menimpali, seraya menenangkan Amayra.
Amayra tersenyum haru dengan perhatian yang diberikan keluarga suaminya itu. Padahal sebelumnya dia tidak sedekat ini dengan keluarga Calabria, sejak kepergian Satria semuanya bahu membahu membantu Amayra.
Alhamdulillah ya Allah, semuanya sayang sama Rey. Semua orang mendukung cita-citaku.
"Makasih ya ma, pa. May berangkat dulu!" Amayra tersenyum sambil memberikan salam pada ayah dan ibu mertuanya dengan sopan. "Assalamualaikum,"
"Rey, mama pergi dulu ya sayang? Jangan rewel sama Oma dan Opa," Amayra mengecup kening anaknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Haaa..haaoo.." Rey merespon dengan pengucapan yang sama.
Amayra bersiap memulai hari pertama kuliahnya dengan semangat. Tak lupa dia meminta doa ayahnya juga lewat telpon sebelum dia berangkat ke kampus. "Ayah, doakan May.. hari ini May masuk kuliah,"
"Iya nak, semoga lancar semuanya ya. Belajar yang baik dan rajin, jangan tinggalkan shalat! Shalat lah tepat waktu, hati-hati ya nak."
"Aamiin, terimakasih ayah." Wanita itu menutup telponnya dengan hati bahagia. Doa dari sang ayah dan suami sudah dikantonginya.
Bismillah, ayo semangat Amayra! Walaupun kak Satria tidak ada disini. Tapi, doanya selalu menyertaimu.
Amayra berangkat bersama pak Muin ke kampus barunya itu, dia meminta turun dari mobil sebelum sampai ke kampusnya.
"Non, kenapa berhenti disini? Kampusnya lumayan masih jauh lho?" tanya Pak Muin keheranan.
"Gak apa-apa pak, disini saja. Saya tidak mau kelihatan mencolok oleh mahasiswa lainnya."
"Ya udah non, nanti non telpon saya saja ya kalau sudah pulang. Nanti saya jemput," kata pak Muin ramah.
"Iya pak," jawab Amayra.
Aduh semoga cepat-cepat deh acara perkenalannya. Biar aku bisa cepat ketemu Rey.
Setelah melihat pak Muin pergi darisana, Amayra berjalan menuju ke kampusnya dengan hati yang berdebar-debar. Sudah lama dia tidak sekolah dan mungkin di kampusnya ini, dia tidak akan bertemu dengan teman-temannya di zaman SMA. Kalaupun bertemu lagi, pasti berbeda kelas atau jurusan. Amayra baru saja memulai kuliahnya, sedangkan teman-temannya sudah berada ditingkat senior.
Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah kuatkan mentalku! Rey, doakan mama.. kak Satria, doakan aku ya.
Wanita itu hendak masuk ke gerbang kampus, dia melihat beberapa mahasiswa baru yang juga masuk ke dalam sana.
Brum!
Brum!
Pengendara motor dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arahnya.
"Astagfirullahaladzim!" Amayra terkejut dan jatuh terduduk di aspal.
Pengendara motor itu berhenti didepan Amayra, dia melihat Amayra dibalik helmnya. "Woy, Lo mau mati ya!" teriak pengendara motor itu para Amayra terserempet olehnya.
Apaan sih? Dia yang nyerempet, dia juga yang marah? Huh!
...----****-----...
Mau up lagi kak? Komen dan kasih giftnya ya 😍🙏 bagi yang punya 🤭🤭
__ADS_1