Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 78. Air mata


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Pria itu adalah Bram yang baru saja pulang kerja. Terlihat dari wajah lelah dan bibir pucat nya, dia pulang lebih awal karena kepalanya terasa penat bekas operasi. Karena efek operasi itu, dia mengalami penurunan daya ingat. Dia menjadi mudah lupa dan sering sakit kepala.


Amayra dan Diana melihatnya dengan tatapan tidak senang. Mereka sudah tau niat Bram bersikap baik pada Amayra karena dia ingin memiliki baby Rey.


Diana dan Amayra mengabaikan pertanyaan Bram. Menganggap pria itu seolah tidak ada disana. Bram menahan kesal dengan sikap kedua wanita itu dan bersabar.


"Assalamualaikum,"


Ketika mengucapkan salam, barulah kedua wanita yang sedang duduk di sofa itu angkat bicara dan menjawab salamnya. "Waalaikumsalam,"


Saat aku mengucapkan salam saja mereka menjawabnya, sedangkan pertanyaan ku tadi diacuhkan.


"Kamu harus tidur dan makan yang banyak agar tekanan darahnya tidak rendah," ucap Bram sambil melirik ke arah Amayra.


"Terimakasih kakak ipar," jawab Amayra tanpa menatap ke arah Bram dengan suara dingin.


Bram hanya tersenyum tipis melihat Amayra yang memang selalu mengabaikan dan mengacuhkannya. Bram juga menyadari kalau kesalahannya dimasa lalu, tak pantas untuk dimaafkan begitu saja. Kesalahan itu menjadi sebuah cacat yang besar di dalam hidup Amayra, menghancurkan semua mimpi indahnya sebagai anak berprestasi yang memiliki image sholehah di mata orang banyak.


Namun sepertinya Bram juga sudah terbiasa dengan sikap Amayra padanya. Dia tidak terlihat marah sama sekali dan berubah menjadi penyabar.


"Dokter Diana, tolong beritahu saya apa yang harus dia makan dan dia minum untuk meningkatkan tekanan darahnya kembali menjadi normal? Dia juga sempat mengeluh air susunya menjadi sedikit," Bram menjelaskan kondisi Amayra pada dokter spesialis kandungan itu.


Amayra dibuat terkejut dengan perhatian Bram, dia tidak tahu bahwa Bram sampai mengetahui keadaannya sedetail itu. Apa Bram memerhatikan semua gerak-gerik Amayra? Bahkan keluhan kecilnya pun, Bram bisa tau. Ya memang Bram selalu memperhatikan Amayra, terlebih lagi disaat Satria tidak ada di rumah.


Kenapa dia bisa tau kalau air susuku berkurang? Padahal aku baru memberitahu bi Dewi saja. Amayra bingung sendiri.


Bram selalu meminta Dewi atau Lulu untuk melayani Amayra dengan baik, memberikan ibu dari anaknya kenyamanan terutama dalam hal makanan. Bahkan ketika Amayra mengeluh tentang air susunya yang menjadi sedikit pada Dewi dan Bram bisa tau.


"May, benarkah ASI kamu jadi sedikit?" tanya Diana pada Amayra.


"Iya kak," jawabnya.


Aduh, aku sempat lupa soal menanyakan tentang Asi ku.


"Ya ampun kamu tuh, kenapa gak bilang? Ini pasti karena tekanan darah rendah juga. Aku akan meminta Satria membelikan makanan-makanan yang bagus buat menaikan yg tekanan darah. Aku kasih resep vitaminnya juga ya," ucap Diana sambil menuliskan resep vitamin dan beberapa makanan penambah darah di secarik kertas kecil.


Setelah melihat Diana selesai menulis, Bram langsung mengambil kertas itu dan pergi begitu saja meninggalkan Diana, Amayra dan Rey disana.


"Eh! Kok diambil sih? Itu buat Satria!" Diana mendengus kesal melihat kelakuan kasar Bram yang semena-mena. "Huh! Nyebelin!" gerutu Diana kesal.


Amayra menghela napas, sikap Bram memang sedikit berubah. Tapi dia tetaplah pria pemaksa yang dia kenal. Keras kepala dan tidak mau dibantah, berbeda jauh dengan sikap adiknya Satria yang terlihat cuek, tapi lemah lembut terhadap wanita.


Diana menulis kembali resep vitamin dan makanan yang harus dikonsumsi oleh Amayra. "Nih May, udah aku tulis ulang!" Seru Diana sambil menyerahkan secarik kertas kecil itu pada Amayra.


"Makasih ya kak." Amayra mengambil kertas itu, dia tersenyum ramah.


"May, lebih baik kamu hati-hati deh sama si Bram. Dia tuh punya maksud lain sama kamu dan Satria." Diana mengingatkan Amayra tentang


"Iya dia ingin merebut Rey dariku dan kak Satria," jawab Amayra dengan bibir yang mengerut, keningnya juga ikut berkerut. Dia menangkap niatan Bram memperhatikannya dan Rey adalah untuk mengambil Rey darinya.


Diana tersenyum melihat kepolosan Amayra.


Rupanya dia masih belum sadar kalau maksud Bram mendekatinya bukan hanya ingin baby Rey, tapi dia menginginkan kamu juga May. Diana mengucapkan itu di dalam hatinya.


"Aku rasa dia bukan hanya menginginkan Rey kecil saja, dia menginginkan hal lain juga. May, kamu harus jaga cinta kamu untuk Satria ya. Selalu ada cobaan dalam berumah tangga, jika ada masalah jangan dipendam sendiri ya. Kamu harus selalu berkomunikasi dengan Satria, jangan ada yang disembunyikan sekecil apapun. Pernikahan bukan hanya tentang satu orang, tapi dua orang dengan pemikiran yang berbeda. Terkadang kalian akan berselisih paham, tapi aku harap kalian bisa melewatinya dengan kepala dingin," jelas Diana tegas seraya memberikan nasehat pada Amayra.


Dokter kandungan berusia 27 tahun itu sudah memiliki pengalaman dalam pernikahan, dia pernah menikah dengan seorang dokter gigi. Pernikahannya kandas pada tahun kedua, karena hadirnya orang ketiga dalam pernikahannya dan sang suami. Diana tidak mau hal yang sama terjadi pada Amayra dan Satria.

__ADS_1


Usia pernikahan mereka bahkan baru seumur jagung yang baru tumbuh. Banyak hal yang bisa meruntuhkan hubungan mereka. Diana ingin Amayra dan Satria tetap langgeng sampai tua. Diana menangkap maksud Bram sebagai orang yang akan menyusup kedalam pernikahan Amayra dan Satria.


"Insyaallah kak, minta doanya ya semoga aku dan kak Satria bisa selalu langgeng. Makasih ya nasehat kakak," jawab Amayra sambil tersenyum lembut.


Setelah hampir setengah jam mengobrol, Diana pamit pulang. Dia meminta Amayra untuk menjaga kesehatannya, karena kesehatannya adalah kesehatan untuk Rey juga.


Tak lama setelah dokter Diana pergi meninggalkan rumah itu, Harun datang membawa sekantong keresek yang entah apa isinya. Dia bermaksud menengok anak dan cucunya.


Cakra menyambut pria paruh baya itu dengan ramah dan hangat, tapi Nilam istrinya. Dia menyambut Harun dengan setengah hati. Dia masih tidak suka dengan profesi Harun sebagai tukang sampah di kompleks rumahnya, hal itu terlihat dari cara Nilam memandang Harun yang saat itu masih memakai seragam oranye khas seragam petugas kebersihan alias tukang sampah.


"Silahkan duduk pak Harun. Mau minum apa pak?" tanya Cakra dengan senyuman ramah dibibirnya.


"Tidak usah pak Cakra, saya tidak akan lama-lama. Saya kemari hanya ingin memberikan sesuatu untuk Rey," jelas pria itu dengan senyuman di wajah lelahnya. Dia baru saja pulang bekerja dan langsung mampir ke rumah Calabria.


"Eh, bapak harus minum dulu. Bapak baru pulang kerja kan? Bagaimana kalau dengan minuman dingin?" Cakra menawarkan minuman pada besannya.


"Ya sudah pak, boleh deh," jawab Harun.


"Lulu, siapkan jus jeruk yang seger ya!" Teriak Cakra pada pembantu rumah tangganya itu.


"Baik tuan," jawab Lulu patuh. Dia bergegas menyiapkan jus jeruk untuk Harun.


"Mah,panggilkan Amayra dan bawa Rey juga kemari!" Pinta Cakra pada Nilam untuk memanggil Amayra yang sedang berada di kamarnya.


"Iya pah," jawab wanita paruh baya dengan wajah masamnya.


Nilam berjalan menuju ke kamar Amayra. Dia melihat Amayra sedang menggendong Rey sambil membaca lantunan Asmaul Husna. Melihat ibu mertuanya berdiri di depan pintu, Amayra menyelesaikan lantunan Asmaul Husna nya, kemudian mengakhirinya dengan shadaqallahul adzim.


"Ada apa mah?" tanya Amayra kepada ibu mertuanya dengan suara lembut mengalun indah.


"Ada bapak kamu di depan, katanya dia mau ketemu sama kamu dan Rey," jelas Nilam singkat.


Ayah? Ayah kesini?


"Ada di ruang tamu," jawab Nilam malas.


Amayra merapihkan hijabnya, dia senang sekali akan bertemu ayahnya. "Rey, ada kakek datang.. kakek mau ketemu sama Rey," ucap wanita itu kepada bayi mungil dalam gendongannya.


"Oh ya May! Kalau bisa jangan sampai bapak kamu menggendong Ray dulu ya," katanya ketus.


"Lho? Memangnya kenapa mah?" tanya Amayra mengerutkan kening dengan heran. Mengapa ini mertuanya melarang Harun menggendong Ray.


"Bapak kamu baru saja pulang ngangkut sampah, pasti banyak bakteri disana. Jangan sampai Rey digendong olehnya lalu terkena kuman, kalau Rey sakit bagaimana?" Nilam yang baru saja sembuh dari sakitnya, kembali ke sifat lamanya. Perkataan sinis, sarkastik dan ketus kembali dia lontarkan pada orang-orang disekitarnya. Terutama pada Harun dan Amayra.


Amayra sempat mengira kalau Nilam berubah, tapi nyatanya dia salah besar. Setelah sembuh, Nilam malah kembali pada sifat lamanya. Selalu menyakiti orang dengan kata-kata dan sikapnya.


"Em.. " Wanita satu anak itu terlihat bingung menjawab ucapan mertuanya.


Ya Allah mama Nilam, kenapa mama Nilam menjadi seperti ini lagi?


"Kamu dengar gak sih, apa yang mama bilang? Jangan sampe bapak kamu gendong Rey, nanti dia kena kuman!"


"Mah, cukup! Jangan gitu lah," kata Bram yang entah muncul darimana. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di belakang mamanya.


"Kamu jangan ikut campur Bram, ini juga demi anak kamu dan cucu mama. Mama gak mau kalau cucu mama terjangkit penyakit dari sampah," ucap Nilam ketus.


"Itu gak akan terjadi ma, mama sadar gak sih ucapan mama bisa menyinggung Amayra dan pak Harun?" Bram tidak terima ucapan ketus dan sinis ibunya pada Amayra terutama ayahnya. Bram melihat mata Amayra yang sudah mulai berkaca-kaca, hati Bram sedih melihat Amayra begitu.


Ya Allah, hatiku sakit melihat Amayra seperti ini.

__ADS_1


Nilam tidak bicara, hanya saja wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak setuju dengan perkataan Bram. Nilam masih bertahan dengan statementnya, dia tidak mau cucunya nanti digendong oleh Harun.


Hati Amayra seperti tersayat mendengar perkataan Nilam tentang ayahnya. "Ya ma, nanti May bilang sama ayah." Amayra memilih mengalah di depan ini mertuanya, karena dia tidak mau memperbesar masalah.


Ya Allah sabar kan selalu hatiku.. besok aku, kak Satria dan Rey akan pindah dari sini dan kembali ke rumah lama kami. Semuanya akan baik-baik saja.


"Nah gitu dong. Mama bicara begini juga untuk kebaikan kamu dan Rey," Nilam tersenyum puas mendengar jawaban Amayra.


"Mah!" Bentak Bram pada mamanya.


"Udah Bram, kamu diam saja deh!" ujar Nilam seraya meminta Bram untuk diam.


Tanpa mereka sadari, Harun berada disana dan mendengar percakapan mereka. Harun kembali ke ruang tamu dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.


"Eh pak Harun? Bapak udah ketemu Rey sama Amayra?" tanya Cakra ramah.


"Eh.. iya pak. Maafkan saya pak, sepertinya saya harus pulang sekarang," ucap Harun dengan senyuman pahit dibibirnya.


"Kenapa buru-buru pak? Tunggu sebentar pak, bapak pulang diantar sama pak Cecep ya?" Cakra menawarkan pada Harun untuk diantar oleh supir keluarganya.


"Tidak usah pak. Saya titip mainan sama baju untuk Rey ya," Harun menolak tawaran Cakra, dia mengucapkan salam dan segera pergi dari sana. Amayra menggendong Rey, dia keluar dari kamarnya untuk menemui Harun. Bram dan Nilam berjalan dibelakangnya.


"May?"


"Pah, dimana ayah?"tanya Amayra yang tidak melihat ada ayahnya disana.


"Bukannya kamu tadi sudah bertemu ayah kamu?" Cakra mengernyitkan dahi. "Ayah kamu tadi ke kamar kamu," sambungnya dengan suara lirih.


Ayah tadi ke kamar? Apa tadi ayah mendengar ucapan mama Nilam? Astagfirullahaladzim..


Amayra membawa Rey, kemudian menyusul ayahnya yang belum jauh. Dia melihat ayahnya berada didepan gerbang rumah mewah itu. Di memanggil sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayah! Kenapa ayah pulang yah?" Amayra menghampiri ayahnya dengan menggendong Rey.


"Kenapa kamu kesini May? Udah sore, kasihan Rey dingin," Harun melihat anaknya dengan cemas. Amayra sedih begitu menatap mata sang ayah yang berkaca-kaca dan wajahnya yang merah.


Dia sudah menduga bahwa ayahnya mendengar ucapan Nilam. Amayra mengambil tangan ayahnya dan mencium tangan sang ayah. Harun segera menyingkirkan tangannya dengan cepat, "May, tangan ayah kotor!"


"Enggak, tangan ayah bersih kok. Ayah gak kotor, enggak yah.." Amayra menahan air matanya, dia sedih karena Harun mendengarkan ucapan Nilam. "Mencium tangan ayah, bisa bawa May ke surga yah.."


Harun terharu dengan kata-kata lembut itu, tanpa sadar air matanya menetes. "Ayah.. jangan nangis yah, jangan nangis..."


"Siapa yang nangis? Ayah gak nangis kok nak," ucap Harun sambil tersenyum dan menyeka air matanya.


"Maafin May, yah.. maafin May udah buat ayah nangis," Amayra merasa bersalah karena sudah membuat Harun menangis, meski bukan salahnya.


"Enggak May, ayah yang harusnya minta maaf. Ayah sudah membuat kamu malu.." Harun tersenyum pahit didalam tangisnya.


"Gak yah, ayah gak salah apa-apa. Ayah, ayo ayah gendong Rey.. Rey mau digendong kakeknya," Amayra mencoba meredakan kesedihan ayahnya. Dia menawarkan pada sang ayah untuk menggendong Rey.


"Tidak May, tangan ayah kotor." Harun menolak.


Amayra memaksa Harun untuk menggendong bayi mungil itu, dia menyerahkan Rey pada Harun. Tanpa mempedulikan ucapan Nilam sebelumnya. Harun menggendong cucunya, menatap bayi kecil yang tampan itu dengan penuh kasih sayang. "Ayo yah, cium Rey!" Pinta Amayra sambil tersenyum.


Harun terlihat ragu, dia teringat ucapan Nilam. Harun menyerahkan kembali Rey pada Amayra lalu segera pergi dari sana. Dia meninggalkan Amayra dan Rey.


"Ayah! Ayah..!!" Amayra menahan tangisnya melihat Harun pergi begitu saja.


Ayah maafin May.. maafin May sudah membuat ayah menangis.

__ADS_1


...---***---...


Maaf ya readers ku tersayang, ini sinyal Ngajak berantem 🤧🤧 jadi telat lagi up nya.. 😭 Pengen up lagi semoga sinyal mendukung ya ❤️🥰 jangan lupa dong like, komen, gift dan vote ny..


__ADS_2