
...🍀🍀🍀...
Bima mengingat pertemuannya dengan Amayra, dia melihat kedua matanya yang polos, sikapnya lembut tapi menyebalkan. Dia tidak suka pada Amayra karena dia adalah tipe wanita yang paling Bima benci di dunia.
Wanita lemah, polos dan mudah dibodohi. Dia beranggapan Amayra tidak cocok dengan Satria. Tapi dia juga mengakui bahwa Amayra adalah wanita yang baik, sebab dia menolong seorang kucing dan membahayakan hidupnya.
"Dia emang baik tapi dia bego!" gumam Bima sambil tersenyum memandang ke arah bross itu.
Bima ingin sekali menunjukkan dirinya didepan Satria dan keluarganya yang lain, tapi dia belum berani menemui mereka. Mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Bima. Itu karena Bima diambil oleh paman ibu Satria tanpa sepengetahuan Cakra dan seorang wanita yang membawa Satria saat masih bayi ke dalam keluarga Calabria. Bima juga baru tau dari pamannya bahwa ternyata selama 25 tahun ini, dia mempunyai ayah dan saudara kandung yang masih hidup.
*****
3 bulan kemudian, setelah yakin suasana di rumah mereka sudah aman. Satria dan Amayra kembali ke rumah lama, tentu saja dengan pengawasan ketat dari orang-orang Bram. Selama itu pula, orang-orang Bima terus menjaga keluarga Satria terutama Amayra yang sedang hamil. Hingga Clara tidak bisa mendaki Amayra.
Rencanannya sudah benar dengan menargetkan Satria. Dia akan mencari celah untuk mencelakai Satria saja. Kandungan Amayra juga sudah menginjak usia 6 bulan dan perutnya sudah semakin membesar.
Sudah tiga bulan berlalu dan sudah setengah tahun Diana dan Bram menikah. Namun belum ada kabar baik dari mereka soal momongan. Setiap hari ucapan Nilam yang menyindir Diana semakin menjadi-jadi saja, terkadang Diana tidak tahan dengan ucapan ibu mertuanya itu.
Hingga pada suatu hari, siang itu pada hari Minggu di rumah keluarga Calabria. Diana dan Lulu sedang menyiapkan makan siang, kini Diana sudah mulai belajar memasak dari Lulu dan Amayra.
"Kemampuan masak Diana semakin bagus saja. Menantu papa memang hebat," kata Cakra memuji Diana dengan tulus.
"Makasih pa, Diana banyak belajar dari May dan bi Lulu. Maafkan Diana kalau masih banyak kekurangan," ucap Diana sambil duduk disamping suaminya. Dia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
"Iya kamu tuh memang masih punya kekurangan. Jadi jangan senang dulu ya sudah dipuji sama papa mertuamu." ucap Nilam dengan senyuman sarkasnya.
Nilam tak ragu untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap Diana. Apapun yang dilakukan Diana, tidak dianggap oleh Nilam karena dia belum hamil juga.
"Ma! Jangan bicara seperti itu pada istriku!" Bram membentak mamanya.
"Tuh kan...kamu selalu saja belain istri kamu." kata Nilam tidak senang. "Kamu jadi durhaka gara-gara istri kamu," timpal Nilam dengan ketusnya.
"Mas, kamu gak boleh bentak mama kayak gitu! Dosa, mas." ucap Diana seraya menenangkan Bram.
__ADS_1
"Lihat tuh Amayra, kandungannya sudah besar. Dia juga cepat hamil...lalu kamu? Ini sudah enam bulan loh kalian menikah, apa kalian yakin gak ada masalah?" Nilam menatap tajam pada menantunya itu.
"Gak ada Ma! Gak ada masalah diantara kami, hanya saja Allah belum memberikan amanah kepada kami." ucap Bram sambil mengepalkan tangannya dengan geram.
"Hem, gitu ya? Dulu waktu kamu melakukan sama Amayra, dia langsung hamil. Bukankah ada masalah kalau sekarang kamu belum punya anak? Ya kan Diana?" Nilam melirik sinis pada Diana.
Wanita itu tercengang, air matanya menggenang di bawah mata. Dia mulai tak tahan dengan perkataan pedas mertuanya itu.
"Mama!" Bram melotot pada mamanya, dia marah. Jelas itu semua karena perkataan mamanya yang membuat istrinya menangis.
"Ma, cukup ma!"
Suasana makan siang itu menjadi hancur karena terjadi perdebatan antara Bram dan mamanya. Diana dan Cakra berusaha melerai mereka. Diana memegang tangan suaminya, agar pria itu tidak emosi lagi pada Nilam.
"Kenapa Bram? Kenapa kamu marah? Apa kamu merasa bahwa ucapan mama benar? Kalau kamu merasa tidak benar, ayo kalian periksa ke rumah sakit fertilitas!" kata Nilam tegas.
"Mama! Apa yang mama katakan? Aku dan Diana tidak akan pernah kesana...karena kami baik-baik saja!" Kata Bram tidak mau kalah.
Apa selama ini Diana selalu diperlakukan seperti ini sama mama? Tidak bisa dibiarkan!
Diana berhasil membawa Bram ke dalam kamar, pria itu masih mendengus kesal. Makan siang pun menjadi kacau balau. Diana masih terus menangis, hatinya masih terluka oleh ucapan Nilam.
Bram duduk berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di ranjang, "Sayang, maafin aku ya...apa mama selama ini selalu mengatakan hal-hal seperti ini padamu? Kamu jangan dengarkan mama," tangan Bram menyeka air mata istrinya.
"Aku gak apa-apa mas. Emang faktanya kita belum punya anak, mungkin ini memang kesalahanku..hiks.."
Kenapa air mataku belum berhenti juga?
"Gak sayang, Allah saja yang belum kasih. Jangan dengerin mama ya, jangan nangis lagi.."
"Aku gak nangis...aku gak apa-apa." Diana masih menangis sampai sesegukan.
Bram memeluk Diana seraya menenangkannya. Bram tidak mau Diana terus membatin tinggal bersama orang tuanya. "Sayang, ayo kita bereskan barang-barang."
__ADS_1
"Kenapa Mas? Kita mau kemana?"
"Kita pindah ke apartemenku, jangan tinggal disini lagi!" Kata Bram tegas.
"Kenapa kita pindah mas? Jangan pindah...mama sama papa gimana nanti?"
"Aku gak mau kamu terluka lagi sayang. Apa kamu gak mau menuruti perintah suamimu?" tanya Bram sambil menatap tajam pada istrinya.
"Ya udah kalau itu mau mas, tapi kita pergi setelah keadaan tenang saja. Jangan sekarang ya? Kamu masih marah dan mama juga masih dalam keadaan marah."
"Gak bisa Diana! Justru dalam keadaan seperti ini kita harus pergi."
"Mas.." lirih Diana berusaha membujuk suaminya.
"Diana, cepat bereskan barang-barang... jangan bawa banyak. Cukup bawa baju saja, cepat!"
Tekad Bram sudah bulat, dia ingin pergi bersama Diana keluar dari rumah itu. Mereka membawa koper dan turun dari lantai atas, Cakra dan Nilam masih berada di lantai bawah.
"Kamu mau kemana Bram? Kenapa kamu koper begitu?" tanya Nilam tajam.
Bram tidak menjawab, dia terus mendorong kopernya. "Diana, ayo!"
"Bram kamu mau kemana?" Nilam menatap Bram dan Diana dengan cemas. Dia mulai panik ketika Bram dan Diana membawa koper besar.
"Kami mau kemanapun bukan urusan mama," jawab Bram ketus.
"Bram, Diana? Kalian mau kemana bawa koper besar begini?" tanya Cakra cemas.
Bram menghela nafas, "Ma...pa, kami memutuskan untuk hidup mandiri. Jadi, kamu akan meninggalkan rumah ini." ucap Bram tegas.
Nilam dan Cakra kaget mendengarnya. Nilam melarang Bram dan istrinya untuk pergi. Ketika Bram dan Diana sudah anak naik ke mobil, Nilam berteriak memanggil Bram. Tiba-tiba saja tubuh Nilam ambruk tak sadarkan diri.
Sontak saja hal itu membuat Bram dan Diana menghampiri Nilam. "Ma! Mama," Cakra memegang tubuh istrinya itu dengan cemas.
__ADS_1
"Mama!"
...----****----...