
...πππ...
Sakit, perih sekali...
Zahwa berusaha bangkit setelah di pukul oleh pria itu oleh balok kayu. Gadis itu merasakan punggungnya seperti akan patah. Dia terkena pukulannya karena ketahuan akan kabur ketika si bapak itu sedang tidur.
Mama, papa, kakak Zayn...kakak Rey...aku mau pulang.
Zahwa menangis, seberani apapun dirinya dia tetaplah anak kecil yang berusia 6 tahun. Siapa yang tidak akan takut saat disekap bahkan di pukul oleh pria yang mentalnya terganggu? Orang dewasa juga pasti akan ketakutan.
"Bapak kan sudah bilang! Bapak akan berikan semua mau kamu, tapi kenapa kamu mau kabur nak?" Pria itu menangis, dia memeluk Zahwa.
Gadis kecil itu mencoba menyingkirkan tangan si bapak, namun dia takut di pukuli lagi. Luka dipunggungnya saja masih basah, dia tak mau dipukuli lagi. Pikirnya dia harus baik-baik saja untuk bisa kabur dari sana.
"Tiara gak kabur pak, Tiara cuma mau tutup pintu aja biar bapak gak kedinginan...tadi pintunya sedikit terbuka. Tiara gak akan kemana-mana kok, pak." Zahwa mencoba berakting sebagai Tiara, yang dia tak tahu siapa.
Ya Allah, maafin Zahwa bohong.
"Oh gitu ya nak? Maafin bapak ya, bapak pikir kamu mau kabur meninggalkan bapak sama seperti ibu kamu. Ya sudah, bapak tutup pintunya ya..."
Bapak itu beranjak dari lantai, dia mengunci pintu dan mengambil kuncinya agar Zahwa tidak bisa kabur. "Nah sekarang sudah tertutup, anak baik...anak cantik, yuk sekarang tidur yuk!" ajak bapak itu lembut pada Zahwa.
"Iya pak, tapi punggung Zah--punggung Tiara sakit!" Keluh Zahwa pada si bapak itu.
"Oh ya, bapak akan obati luka kamu ya nak? Tunggu sebentar, bapak punya salepnya." Bapak itu langsung mencari salep di lemari kamarnya yang tidak terawat itu.
Zahwa menunggu disana sambil menahan sakit dipunggungnya, dia rindu pada keluarganya. "Mama, papa, kakak...apa kalian cemas sama aku? Apa kalian cari aku?"
****
Rumah besar Calabria.
Zayn, masih kesakitan dibagian punggungnya padahal setelah di periksa oleh Amayra. Anak itu baik-baik saja dan tidak ada luka.
"Zayn, mama sudah oles salep ke punggung kamu. Apa kamu masih sakit?" Tanya Amayra pada putranya itu.
"Masih perih Ma, sakit banget..." Zayn meringis kesakitan, tanpa sebab padahal dia tidak terluka.
Antara tertegun dan teringat dengan Zahwa, mungkin terjadi sesuatu pada Zahwa dan Zayn merasakannya juga. Bagaimana pun juga, Zahwa dan Zayn adalah saudara kembar. Mereka berdua bersama dalam rahim yang sama, berbagi segala hal disana. Mana mungkin jika tidak ada ikatan,bukan? Mungkin ikatan batin diantara mereka cukup kuat, hingga yang satunya sedang sakit dan saudara yang satunya bisa merasakan sakitnya.
Ya Allah, apa terjadi sesuatu pada Zahwa? Apa dia merasa kesakitan seperti ini dan apakah ini yang namanya ikatan batin?
Malam itu setelah Amayra berhasil menidurkan Zayn, Amaya pergi keluar dari kamarnya dan dia tidak bisa tidur, dia menunggu kabar dari suaminya dan kedua kakak iparnya tentang Zahwa. Namun belum ada kabar dari mereka, hingga membuat seorang ibu menjadi gelisah karena cemas.
"Zahwa, kamu dimana nak? Semoga kamu baik-baik saja nak, kamu pasti akan baik-baik saja kan? Ya Allah..." Amayra memandangi langit sambil menangis sedih.
"May, kamu belum tidur?"
Seseorang menepuk bahu Amayra, dia adalah Diana. "Kak Diana?" Buru-buru Amayra menyeka air matanya.
"Kamu mikirin Zahwa ya?" Diana menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.
__ADS_1
"Iya kak," jawab Amayra membenarkan.
"Belum ada kabar dari Satria?"
"Belum ada kabar sama sekali dari Satria, kak Bram atau kak Bima, kak..."
Terlihat keresahan di wajah Diana, jika dia diposisi Amayra dan terjadi apa-apa pada Reyndra, dia pasti akan galau juga. Saat ini Diana hanya bisa memenangkannya, tidak dapat membantu banyak, hanya doa yang bisa dia panjatkan agar Zahwa bisa segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
"Makasih ya kak, doa lebih mujarab dari apapun di dunia ini. Makasih..."
Diana memberikan pelukan pada Amayra untuk menumpahkan air matanya. Amayra menangis didalam pelukan Diana.
****
2 hari berlalu, Zahwa masih belum ditemukan juga. Satria sampai menyerahkan pekerjaannya di rumah sakit kepada dokter lain demi mencari anaknya. Bima menunda kepulangannya ke Surabaya, untuk mencari Zahwa. Anak itu masih belum ditemukan juga, mereka (pihak kepolisian) mengira Zahwa dibawa ke tempat terpencil. Maka mereka pun memutuskan mencari ke tempat terpencil di setiap sudut kota itu terlebih dahulu.
"Gimana Sat, Bram? Zahwa udah ada kabarnya?" Tanya Nilam menyambut Satria dan Bram yang baru saja pulang setelah dua hari mencari Zahwa.
Bram menggeleng lemah.
Satria juga menggelengkan kepalanya, "Belum ada kabar Ma,"
Amayra melihat wajah suaminya yang lelah, dua hari setelah mencari anak mereka. Matanya penuh harapan menatap Satria, "Mas...apa Zahwa udah ketemu? Kamu pulang sama Zahwa kan?" harapannya tentang Zahwa sangat tinggi. Dia berharap Zahwa bisa pulang ke rumah.
"Maaf sayang, kami sudah berusaha mencarinya...tapi belum ada kabar dimana Zahwa berada."
Patah hati Amayra!
"Benar-benar gak ada kabar dari polisi, mas?" tanya Amayra lagi.
"Belum sayang, tapi polisi dan anak buah kak Bima masih mencari Zahwa di tempat terpencil...ada kemungkinan Zahwa bukan dibawa ke kota," Satria menatap wajah cemas istrinya itu.
"Ya sudah mas, kamu istirahat dulu ya. Aku siapakan makanan untuk kamu."
Amayra berusaha tegar walau hatinya sakit, dia menyambut dan melayani suaminya. Setelah Satria selesai mandi, Amayra sudah menyiapkan makanan untuknya. "Sayang, dimana Zayn?"
"Zayn lagi sama Rey di lantai atas, Zayn masih gak mau sekolah mas."
Satria menghela nafas, "Iya, gak apa-apa. Aku tau keras kepalanya mirip aku, dia pasti khawatir pada saudaranya makanya dia begitu. Tapi, besok kamu harus bujuk dia agar sekolah lagi ya?"
Ya Allah, aku gak semangat mau makan...hatiku gak tenang mikirin Zahwa. Satria melihat piring berisi nasi dan lauk pauk yang sudah tersaji didepannya.
"Iya mas,"
Tiba-tiba saja Amayra menangis tersedu-sedu, Satria melihat istrinya itu. "Sayang..."
"Gimana kita bisa makan seperti ini mas? Kita bahkan gak tau, Zahwa makan atau enggak...dia tidur apa enggak? Dia baik-baik aja apa enggak? Aku takut mas...aku takut Zahwa."
Satria semenjak dari tempat duduknya lalu menghampiri sang istri dan memberikan pelukan hangat. "Sayang, Zahwa akan baik-baik saja...Allah akan melindungi anak kita,"
"Mas..."
__ADS_1
Dreett..
Dreett...
πΆπΆπΆ
Ponsel Satria berbunyi, dia segera melepaskan pelukannya dari Amayra. "Siapa Mas?!"
"Kak Bima," jawab Satria sambil melihat panggilan di ponselnya. Satria langsung mengangkat telepon itu, "Ya kak?"
"....."
"Sudah ada kabar dari Zahwa?"
"...."
"Alhamdulillah, aku akan segera kesana kak!" Kata Satria dengan mata melebar.
Setelah berbicara dengan kakaknya, Satria terlihat buru-buru. Dia memakan sedikit makanan di atas piring untuk mengisi tenaga dan dia meneguk air minum dengan cepat.
"Mas ada apa? Apa kata kak Bima?" Amayra menatap suaminya.
"Tempat Zahwa di sekap sudah ditemukan dan disana juga ada orang gila yang menyekapnya. Aku mau kesana dan melihat keadaannya,"
"Aku ikut mas!"
"Sayang, kamu disini aja!"
"Aku ikut Mas!" Katanya kekeh.
"Oke, ayo." Satria menepuk keningnya.
Satria dan Amayra berjalan masuk ke dalam mobil dan buru-buru. Di dalam mobil, Satria dan Amayra terkejut melihat ada dua orang anak duduk dibelakang. "Rey, Zayn? Kenapa kalian ada disini?"
"Papa mama mau jemput Zahwa, kan? Aku ikut," Zayn menyilangkan kedua tangannya didada.
"Zayn, Rey turun!" Seru Satria pada kedua anak itu.
"Gak mau!" Zayn menolak tegas.
"Rey, adiknya dibujuk dong?" Amayra menatap Rey dan anak itu juga cuek saja. Dia tampak setuju dengan Zayn.
"Maaf Tante,"
Aku juga mau tau keadaan Zahwa.
"Haihhh...ya sudah, kalian boleh ikut tapi kalian gak boleh bandel!" Kata Satria yang lalu menyalakan mobilnya.
Rey dan Zayn saling melempar senyum.
...****...
__ADS_1