
Satria melepaskan pagutan bibirnya dari bibir cantik itu, begitu pula dengan tangan nya yang merengkuh bahu Amayra. Tak lama setelah itu Amayra memegang bibirnya, wanita hamil itu tampak linglung dengan apa yang baru saja dialaminya.
Benarkah dia berciuman dengan suaminya untuk pertama kalinya? Apakah ini hanya mimpinya? Dulu Amayra pernah berciuman dengan Bram, karena paksaan. Dan sekarang rasanya ciuman itu berbeda. Lembut dan hangat, dia menerima nya dari Satria. Anehnya, Amayra juga menerima dan tidak berontak dengan apa yang dilakukan Satria.
Wajah polosnya memerah, penyebabnya sudah pasti karena kegiatan yang dia dan suaminya lakukan. Mereka berciuman! Keduanya sama-sama berdebar dengan apa yang baru saja terjadi. Keduanya malu-malu dan saling memalingkan wajah.
Satria, ternyata kamu menganggap nya sebagai wanita. Kamu menyukai nya Satria! Kamu menciumnya! Baiklah Satria, kamu harus mengatakan nya. Satria terpana sendiri, pria itu terlihat malu-malu sama seperti wanita yang baru saja diciumnya.
Ya Allah, apa aku baru saja berciuman dengan kak Satria? Kak Satria mencium ku? Tapi, kenapa?
"Ehm, Amayra." Satria menoleh ke arah Amayra yang masih tidak berani menatap Satria. "Amayra, tolong tatap mataku! Aku sedang bicara dengan kamu." Satria meminta istrinya melihat kearahnya.
"Ma-maaf, aku hanya..hanya.." Sekuat tenaga Amayra mengondisikan wajahnya yang merah itu, dia malu ketika matanya harus bertemu dengan mata Satria yang menatapnya.
Saliva Satria naik turun, begitu dia melihat pipi merah merona istrinya. Dia semakin yakin bahwa perasaan nya pada Amayra bukan perasaan ingin melindungi saja. Tapi, dia memiliki rasa yang lain.
"May, jangan berhenti menyukai ku." Satria memberanikan dirinya menatap Amayra.
"A-Apa? Ke-kenapa? Bukankah kakak yang mengatakan sebelumnya kalau aku sudah seperti keponakan kakak sendiri." Amayra tergagap di depan suaminya. Bibir yang disentuh oleh Satria masih terasa panas.
"Apa setelah kita melakukan itu barusan, kamu masih belum mengerti? Apa aku harus bilang?" Satria menatap Amayra dengan berbeda dari sebelumnya. Mungkin hatinya memang sudah mantap dan sudah terikat pada Amayra.
Mata Amayra membulat, dia semakin malu mendengar ucapan Satria. Dia menatap Satria dalam-dalam, berusaha mencari jawaban pertanyaan nya dari wajah Satria. Apa maksud pria itu?
Dilihat dari wajahnya, seperti nya aku harus mengatakan nya sekarang.
"May, aku bukan orang yang tidak suka berbasa-basi. Ketika aku menyukai sesuatu, ketika aku tidak suka sesuatu aku pasti akan menunjukkan nya dengan sikap." Jelas Satria sambil meraih tangan lembut istrinya.
"Ya? Jadi, apa maksudnya?" tanya Amayra dengan wajah polosnya.
"Aku sebenarnya me-"
BRUK!
__ADS_1
Ucapan Satria harus terputus, bahkan tangannya yang menggenggam Amayra terlepas begitu saja. Ketika pintu ruangan itu terbuka lebar, dan ada dua orang yang tergeletak di lantai.
"Hahahaha, kalian teruskan saja! Kami cuma lewat!" Anna tersenyum lebar, sambil mendongak ke arah Satria dan Amayra yang menatap nya dan Fania, dengan terbelalak.
Sejak kapan Anna dan Fania disitu? Apa mereka melihat semuanya?. Amayra semakin memerah.
"Hahaha." Fania ikut tertawa, dia merasa menjadi pengganggu suasana disana.
"Sejak kapan kalian berada di belakang pintu?" tanya Satria sambil menajamkan pandangannya pada Fania dan Anna.
"Hehehe." Anna dan Fania langsung berdiri, mereka terlihat malu.
Untuk menghindari rasa malu, Anna berusaha mencairkan suasana dengan membuka martabak yang dia bawa di dalam keresek. Dia dan Fania membeli makanan untuk Amayra. Selagi Amayra bersama kedua sahabatnya, Satria pamit untuk pulang ke rumah sebentar karena dia belum berganti baju atau membersihkan dirinya.
Kali ini Satria tidak ragu menunjukkan perhatian nya pada Amayra, dia bahkan mengatakan bahwa Anna dan Fania untuk menjaga Amayra selama dia tidak ada. "An, kalau ada apa-apa segera hubungi om ya?"
"Siap om!" Anna patuh, dia tersenyum lebar karena om nya sudah mulai membuka hati.
"Ehem, nanti aku mau ke toko dessert, kalian mau titip apa?" tanya Satria sambil berdehem, mencuri-curi pandang pada Amayra.
"A-aku nawarin buat kalian bertiga lah! Bukan buat Amayra aja!" Satria bicara dengan bibir mengerucut.
Amayra tersenyum, baru pertama kali dia melihat sikap Satria yang malu-malu seperti ini. Ternyata suaminya memiliki sisi pemalu, dan dia tidak hanya bisa bersikap dingin, juga cuek.
"PFut.. si om pake malu-malu segala. May, tuh om Satria nanyain kamu mau dessert gak?" tanya Anna pada Amayra.
"Enggak, aku udah kenyang kok. Tadi siang kan udah makan soto." Jelasnya sambil tersenyum.
"Hey! Itu kan tadi, ini kan sekarang! Kamu pasti lapar lagi, aku kan sudah bilang jangan menahannya kalau kamu lapar."
Anna dan Fania tak percaya kalau Satria yang biasanya jarang bicara, akan menjadi orang cerewet karena Amayra.
"Aku kan tidak lapar kak." Amayra menggeleng.
__ADS_1
"Sekarang memang tidak lapar, nanti kamu pasti akan lapar. Kamu kan suka makan tengah malam, cepat katakan! Kamu mau cemilan apa, aku belikan!" Satria mengerutkan kening menatap istrinya.
"Tapi aku belum mau" jawab nya sambil menunduk.
"Aku belikan buah buahan saja yang selalu kamu makan di rumah ya, ya sudah aku pergi. Assalamualaikum."
Satria berpamitan dengan buru-buru, padahal Amayra belum sempat bicara lagi. Anna dan Fania menemani Amayra di rumah sakit sambil makan martabak pisang keju.
"May, gimana keadaan kamu? Maaf ya aku baru sempat menemui kamu lagi." Fania memeluk sahabatnya itu dengan penuh rindu.
"Alhamdulillah aku sudah baikan, kata dokter.. anakku juga sudah tidak apa-apa." Jawab Amayra sambil tersenyum.
"Jadi si kecil ini kuat ya? Sini peluk dulu sama atee.." Fania memeluk peluk Amayra yang masih terlihat datar itu dengan penuh kasih sayang. Kedua sahabat nya ini tidak menghujat atau menghina nya seperti yang lain.
"Makasih ya kalian masih mau berteman sama aku, padahal aku ini sangat memalukan." Amayra memegang tangan Anna dan Fania, dia merasa sangat bersyukur karena ada kedua sahabatnya itu.
"Apa yang kamu bicarakan May? Siapa yang memalukan? Kamu tidak memalukan kok, malahan kami sangat bangga sama kamu May!" Fania tersenyum pada sahabat nya itu.
"Bangga? Kenapa?" Amayra bingung, apa yang patut dibanggakan dari dirinya yang hamil diluar nikah.
"Kamu itu panutan kami May.. ketika orang lain di luar sana mungkin akan memilih jalan buruk dengan mengugurkan anak ini, atau bunuh diri. Tapi, kamu memilih untuk mempertahankan nya. Kamu sangat tegar May, kami bangga sama kamu. Kami senang mempunyai teman seperti kamu." Anna tersenyum sambil memeluk Amayra.
Disaat orang lain menghina ku, mencelaku, hanya kalian yang selalu berada disisi ku.
"Makasih ya! Makasih banyak. Alhamdulillah kalau kalian masih mau berteman sama aku," Amayra tersenyum dan berpelukan dengan kedua sahabatnya.
"Oh ya, May.. aku lupa bilang kalau kemarin kak Iqbal datang ke sekolah." Ucap Fania memberitahu sahabatnya itu.
"Kak Iqbal??" Amayra terpana mendengar nama pria itu. Lelaki baik yang berasal dari keluarga ustad. Dia adalah lelaki yang menyimpan rasa pada Amayra.
"Dia nanyain kamu." jawab Anna sambil menatap Amayra dengan bingung.
...---***---...
__ADS_1
Mau apa ya Iqbal menanyakan Amayra?
Mau author up lagi? Yok kasih gift, vote, like dan komennya ya ❤️🤭🤭