
Satria menghubungi istrinya, ponselnya aktif namun tidak ada jawaban. "Apa May sedang sibuk ya?"
Satria mencoba menelpon ke telepon rumah, terdengar bunyi dering tersambung di ponselnya. Saat bunyi dering ke 3, seseorang mengangkat teleponnya. "Halo assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,maaf ini dengan siapa ya?" tanya bi Dewi pada Satria.
"Ini bi Dewi, ya?"
"Iya benar.. apa ini tuan Satria?" tanya Dewi yang langsung mengenali suara Satria.
"Iya Bi, ini saya Satria."
"Ya Allah.. tuan Satria, tuan Satria baik-baik saja? Alhamdulillah ya Allah.."
"Iya Bi, saya baik-baik saja. Bi, bisa tolong berikan teleponnya pada Mayra?" tanya Satria yang terus tersenyum karena bahagia bisa menghubungi istrinya lagi.
"Baik tuan, saya akan panggil nona Mayra-"
"Bi Dewi, ngapain kamu disitu? Siapa yang telepon?" tanya Bram sambil menuruni tangga dan menggendong Rey.
"Tuan Bram, ini ada telepon dari tuan Satria. Tuan Satria menanyakan non Mayra." jelas Dewi sambil menyimpan gagang telepon itu di atas meja.
Bram tercengang mendengar ucapan Dewi, bahwa Satria menelpon. Bram senang karena Satria dalam keadaan baik-baik saja. "Bi, pegang dulu Rey sebentar.. biar saya yang angkat," ucap Bram sambil menyerahkan bayi mungil itu pada Dewi.
"Baik tuan Bram," ucap Dewi sambil menggendong Rey dan membawanya ke tempat lain.
Bram segera mengangkat telepon dari Satria,
"Halo Sat,"
"Kak Bram?"
"Gimana keadaan kamu disana Sat? Kamu tau gak orang-orang disini pada khawatir sama kamu, apalagi Amayra.. hampir setiap malam dia menangis terus karena melihat berita disana dan tidak ada kabar dari kamu," ucap Bram langsung mengomeli Satria karena cemas.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kak, keadaan disini memang sulit untuk berkomunikasi. Tapi aku gak apa-apa kak. Gimana keadaan kakak? Rey sama May gimana kak? Ayah Harun, papa sama mama gimana?" tanya Satria yang semangat menanyakan semua orang di rumahnya.
"Alhamdulillah semua baik-baik saja. Kapan kamu pulang Sat? Apa setelah bencana itu, kamu masih mau berada disana? Pulanglah Sat, kasihan anak dan istri kamu!" kata Bram pada adiknya.
"Aku akan segera pulang kak, insyaallah besok aku akan check in pesawat dengan dokter lain juga. Lalu besoknya lagi aku sudah sampai di Indonesia," jelas Satria dengan suara yang sumringah.
"Syukurlah, keselamatanmu adalah hal yang paling penting Sat." Bram menghela napas lega.
"Kak.. May mana?" tanya Satria pada kakaknya menanyakan istrinya. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?" tanyanya lagi.
"Dia baru saja pergi sama teman kampusnya, katanya ada urusan sebentar. Dan kayaknya dia gak bawa ponsel deh," ucap Bram pada Satria.
"Sama cowok apa cewek?" tanya Satria pada Bram dengan nada yang sedikit tajam.
"Sama cowok sama cewek, kamu gak usah khawatir soal itu Sat. Amayra selalu menjaga kesetiaannya sebagai seorang istri," ucap Bram membela istri adiknya itu.
"Ya udah deh, kalau dia udah pulang. Suruh dia telepon aku ya kak.." ucap Satria menitipkan pesan.
__ADS_1
"Oke,"
"Aku titip Rey juga. Sampaikan pada mama dan papa, kalau aku akan segera pulang. Jadi tunggu aku pulang ya.." ucap Satria sambil tersenyum senang.
"Kami selalu menunggu kamu," jawab Bram sambil tersenyum senang mendengar kabar bahagia dari adiknya, bahwa dia akan segera kembali pulang.
"Iyah kak, aku beres-beres dulu ya. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam.." jawab Bram.
Telpon itu pun terputus. Satria merasa lega karena dia sudah memberikan kabar kepada orang rumah bahwa dia baik-baik saja. Satria dan beberapa dokter terlihat bahagia karena mereka akan segera pulang ke tanah air.
Apalagi sepulangnya Satria dari sana, dia akan diangkat menjadi dokter kepala bedah menggantikan dokter Daniel yang akan pindah rumah sakit. Ya, Satria memang pantas dan berhak dengan posisi itu karena dia selalu berhasil dalam setiap operasinya.
"Dokter Satria!" seru dokter Erlan pada Satria yang sedang beres-beres baju di kamarnya.
"Ada apa dokter Erlan? Kenapa anda buru-buru begitu?" tanya Satria yang keheranan melihat dokter Erlan menghampirinya dengan napas terengah-engah.
"Dokter Clara, katanya dia dihukum.. dia dihukum untuk berada disini lagi selama satu bulan dan dia akan di skorsing setelah ini!" dokter Erlan memberitahu hukuman Clara pada Satria.
Satria tercekat mendengarnya. Hukuman untuk Clara lumayan berat dan pantas dengan apa yang dia lakukan. Jika dia di skorsing, maka ada kemungkinan dia akan sulit naik jabatan meski dia adalah anak dari dokter senior pemegang saham terbesar di rumah sakit tempatnya bekerja.
...*****...
Ken, Lisa dan Amayra pergi bersama ke rumah sakit. Setelah Ken memberitahukan tentang keadaan Harun pada Amayra.
"Ken, kamu gak bohong kan? Ayahku dirawat di rumah sakit ini?" Amayra melihat Ken dengan tatapan tidak percaya, dia meragukan ucapan pria itu.
"Kayaknya dia gak bohong May, tuh udah berani sumpah! Wajahnya juga meyakinkan, mana mungkin Ken bohong untuk masalah serius seperti ini, kan?" kata Lisa yang yakin bahwa Ken tidak bohong.
"Ya, si Lisa bener tuh. Gue gak bohong, bokap Lo memang ada disini! Dia lagi sakit dan mau operasi sore ini," ucap Ken sambil melihat Amayra dengan mata memicing.
"Awas ya kalau kamu bohong.. bohong dosa loh!" Seru Amayra dengan wajah cemberutnya.
Saat Amayra, Ken dan Lisa berjalan di lorong menuju ke ruangan Harun. Langkah Amayra terhenti saat melihat dokter Candra ada di rumah sakit itu dengan pakaian medisnya. Amayra heran, kenapa dokter Candra bisa ada di rumah sakit itu? Padahal rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit tempat suaminya bekerja juga.
Dokter Candra terlihat sedang menelpon seseorang. Wajahnya terlihat marah. "Apa? Beraninya dokter Daniel melakukan itu! Dia menghukum Clara.. pasti gara-gara wanita kampungan itu,"
"Assalamualaikum dokter Candra," sapa Amayra sambil berjalan mendekati Candra.
"Kamu?" Candra menutup teleponnya. Wajahnya masih terlihat marah. Dia menatap Amayra dengan tajam.
Gara-gara anak ini dan suaminya, karir Clara terhambat.
"Maaf dokter, saya ingin menanyakan...apa dokter adalah dokter yang akan mengoperasi ayah saya.. maaf, apa ayah saya sedang sakit?" tanya Amayra pada dokter Candra.
"Iya benar, sebentar lagi ayah kamu akan di operasi," jawab Candra ketus.
Ken tidak senang dengan jawaban ketus dari Candra, dia merasakan bahwa Candra memusuhi Amayra.
Jadi ayah benar-benar sakit? Ya Allah...ayah.. Amayra tertegun syok.
__ADS_1
"Dokter, tolong selamatkan ayah saya dok!" kata Amayra seraya memohon pada dokter Candra untuk menyelamatkan ayahnya.
"Itu sudah tugas saya!" seru dokter Candra sinis.
Tak berselang lama, seorang suster mendorong ranjang beroda ke arah ruang operasi. Diatas ranjang itu ada pak Harun yang sedang berbaring.
"Ayah!" Amayra menghampiri ayahnya dengan cemas.
"May, kenapa kamu ada disini?" tanya Harun sambil duduk di ranjang itu, dia terkejut melihat Amayra ada disana. Kemudian dia melihat Ken yang sedang menunduk dan Lisa disampingnya.
"Ayah..Kenapa ayah gak bilang kalau ayah sakit? Ayah..." Amayra menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan saya pak Harun," ucap Ken dengan suara kecil.
"Tidak apa-apa Kenan," jawab Harun sambil tersenyum.
"Ayah...ayah harus baik-baik saja! Janji padaku yah," Amayra menunjukkan ibu jarinya pada Harun.
"Ayah akan baik-baik saja, ayah kan ingin melihat Rey sampai dewasa. Dokter bilang kemungkinannya berhasil sangat besar, ayah janji ayah akan baik-baik saja!" Harun tersenyum, dia berjanji pada putrinya bahwa dia akan baik-baik saja. Harun menautkan ibu jarinya dan menempelkannya pada ibu jari Amayra.
Begitulah cara mereka membuat janji, dari Amayra kecil sampai sekarang mereka selalu melakukannya.
"Bismillahirrahmanirrahim.. semangat! La tahzan innaloha ma'ana... aku menunggu ayah disini. Ayah harus kembali dengan selamat ya," ucap Amayra sambil memeluk ayahnya dengan penuh harapan.
"Bismillah May, ayah akan kembali dalam keadaan baik-baik saja." Harun menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Dia memegang tangan Amayra.
"Ayo sus, bawa pasiennya ke dalam! Sudah waktunya operasi.." ucap dokter Candra pada suster yang mendorong ranjang beroda itu.
"Baik dok. Ayo pak Harun.." ucap Suster itu ramah. Berbeda dengan Candra yang jutek.
"May, Ayah masuk dulu ya nak...kamu jaga Rey baik-baik ya. Jaga shalat lima waktu.. jadilah istri dan ibu yang baik," ucap Harun sambil tersenyum pada putrinya.
Amayra mengangguk, matanya berkaca-kaca menatap ayahnya yang akan dibawa ke ruang operasi. Pria paruh baya itu tersenyum dengan wajah yang bercahaya.
Amayra terkejut karena melihat ada cahaya di wajah ayahnya, belum lagi saat melihat senyuman Harun yang mengembang itu. Tangan ayah dan anak yang berpegangan itu terlepas, terpisah saat Harun sudah masuk ke ruang operasi bersama suster dan dua dokter yang akan mengoperasinya.
"May, kamu tenang ya.. ayah kamu akan baik-baik saja.." ucap Lisa seraya menenangkan sahabatnya itu.
"Iyah.. ayah pasti baik-baik saja," ucap Amayra dengan tubuh gemetar karena cemas. Dia tak menyangka bahwa sang ayah akan dioperasi. Bahkan ayahnya sakit saja dia tidak tau. "Makasih ya Ken, kalau kamu gak kasih tau aku.. aku pasti gak tau tentang ayah," ucap Amayra.
"Iya, santai aja. Lis, Lo temenin dia disini...gue beli air minum dulu," ucap Ken santai.
"Oke," Lisa mengangguk.
Ken pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman. Sementara Lisa ada disana untuk menemani Amayra yang sedang menunggu ayahnya di ruang operasi.
Lampu ruang operasi menyala, pertanda operasi sedang berlangsung. Amayra menatap ruang operasi dengan penuh harapan.
Apakah pak Harun akan baik-baik saja? Tunggu ya next chapter..
...----****----...
__ADS_1
Maafkan ya readers, hari ini cuma up satu 🙏🤭 author lagi sibuk banget dengan RL... author lagi crazy up novel satunya juga😂