Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 104. Takdir Allah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Dengan tenaga yang tersisa, Bram membuka pintu mobilnya. Diana terkejut melihat Bram menundukkan kepalanya di setir kemudi.


"Pak Bram? Apa anda baik-baik saja?" tanya Diana sambil melihat Bram dengan cemas.


Wajah Bram pucat, sakit kepalanya sungguh tidak tertahankan lagi. "Oh... itu kamu dokter jutek?"


"Apa bapak tidak apa-apa? Bahkan bapak sempat bercanda dengan saya!" Diana membantu Bram keluar dari mobilnya dengan susah payah.


"Haahh...aku tidak baik-baik saja," Bram mendesah dengan napas terengah-engah.


"Kita ke rumah sakit ya pak? Saya akan antar bapak kesana," Diana menyarankan pada Bram untuk pergi ke rumah sakit dengannya.


"Tidak perlu, aku hanya.. hanya.." Bram merintih kesakitan, dia memegang kepalanya.


"Tidak perlu bagaimana? Saya akan bawa bapak sekarang ke rumah sakit," ucap Diana sambil memapah Bram menuju ke mobilnya yang terparkir tepat dibelakang mobil Bram.


Tak lama kemudian, Diana berhasil memasukkan Bram ke dalam mobilnya. Tak lupa dia membawa kunci mobil Bram juga. "Ini kunci mobil bapak, ini air minum."


Diana menyodorkan sebotol air minum untuk Bram. Pria itu langsung meneguknya, sambil bersandar di jok depan mobil Diana. "Ternyata mobil kamu sudah diperbaiki," celetuk Bram dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Bapak masih bisa bicara disaat seperti ini?" tanya Diana heran, disaat sakit Bram masih bisa berbicara.


"Ternyata perbaikannya cepat juga," ucap Bram menghela napas.


"Bapak tiduran saja, saya akan membawa bapak ke rumah sakit," ucap Diana seraya memakaikan sabuk pengaman di tubuh Bram.


"Kenapa aku duduk di depan? Kenapa tidak dibelakang?" tanya Bram dengan kepala yang berkunang-kunang.


"Saya bukan supir bapak," jawab Diana lalu kembali duduk tegap ditempat duduknya, tepat dibelakang setir kemudi.


"Haha lucu sekali, kamu membalikkan perkataan saya!" Bram terkekeh mendengar ucapannya saat itu dibalikkan oleh Diana.


Diana hanya tersenyum, dia pun tancap gas menuju ke rumah sakit untuk mengantar Bram.

__ADS_1


10 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Diana segera meminta dokter Daniel langsung menangani Bram, karena dokter Daniel adalah dokter yang sebelumnya pernah merawat Bram. Jadi dialah yang paling tau bagaimana kondisi Bram dan apa yang terjadi padanya.


Bram sudah tidak sadarkan diri saat dibawa ke ruang perawatan oleh petugas medis disana. Diana terlihat cemas melihat Bram seperti itu. "Huft.. syukurlah aku melihat mobilnya tadi yang sempat tidak terkendali. Ternyata sakit kepalanya kambuh," gumam Diana cemas.


Malam itu Diana terpaksa menunggu Bram di rumah sakit. Sambil menunggu orang tua Bram datang.


"Kenapa juga aku harus disini?" gumam Diana keheranan sambil melihat Bram yang terbaring tak sadarkan diri dalam keadaan lemah di atas ranjang. "Harusnya aku tinggalkan saja dia disini bersama dokter dan suster lain," sambungnya lagi.


Saat Diana hendak pergi dari sana untuk pulang ke rumah, telapak tangan besar memegang tangannya. "Pak Bram, anda jangan kurang aj-" Diana tidak jadi marah karena melihat Bram masih tidak sadarkan diri.


Apa dia masih belum sadar?


"May.. Mayra.. Rey.." Bram mengigau nama Amayra dan Rey.


Deg


Hati Diana terasa aneh mendengar Bram mengigau dua nama itu didalam keadaan tidak sadar. "Katanya dia sudah melupakan Amayra, tapi dia masih saja mengigau namanya? Hati memang tidak bisa dibohongi," ucap Diana dengan senyuman pahit dibibirnya.


Lalu kenapa hatiku merasa tidak nyaman mendengarnya?


Pria itu masih memegangi tangannya dengan erat, sambil mengigau nama istri adiknya sendiri. "Pak Bram, tolong lepaskan saya!" Seru Diana pada Bram. Pelan-pelan Diana berusaha melepaskan pegangan tangan Bram dari pergelangan tangannya.


Bukannya melepaskan Diana, Bram malah semakin erat memegang tangan Diana. Rasanya dia ingin memukul Bram tapi Diana ingat bahwa Bram saat ini adalah pasien. Akhirnya Diana duduk disana, menunggu sampai Bram sadar lalu melepaskan tangannya.


Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka lebar. Terlihatlah pasangan suami istri, Nilam dan Cakra.


Mata Nilam membulat melihat Diana dan Bram seperti berpegangan tangan. Diana juga terkejut melihat Nilam dan Cakra disana.


Ya Allah, pak Bram belum melepaskan tanganku. Bu Nilam pasti salah paham. Diana panik karena takut disalah pahami oleh Nilam. Dia berasumsi seperti itu karena melihat sorot mata tidak bersahabat dari Nilam mengarah kepadanya.


Bukankah dia dokter yang merawat Rey dan gadis kampung itu? Kenapa dia berpegangan tangan dengan Bram?


Benar saja, Nilam yang selalu berfikiran buruk pasti sudah memberikan cap buruk pada Diiana yang tidak salah apa-apa. Kebiasaan buruk Nilam adalah percaya dengan apa yang dia lihat sebelum mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ibu.. bapak, tolong jangan salah paham pada saya. Ini karena-" Diana pun mulai bicara untuk menjelaskan yang terjadi.

__ADS_1


Setelah Bram benar-benar tidur pulas, akhirnya Bram melepaskan pegangan tangannya itu dari Diana.


Menyebalkan sekali, dia malah tidur. Padahal harusnya kamu bangun dan menjelaskan situasi yang terjadi sekarang pada orangtuamu, kalau kamu yang memegang tanganku. Karena sepertinya mereka salah paham.


"Kamu dokter Diana kan?"tanya Nilam sinis dengan tatapan menelisik ke arah Diana.


Cantik sih, dia juga berpendidikan, tapi aku belum tau latar belakangnya. Apakah Bram suka dia?


Diana menjawab dengan sopan, "Iya Bu, saya Diana."


"Dokter Diana? Apakah kamu dokter Diana yang merawat Rey dan Amayra?" tanya Cakra sambil tersenyum ramah pada Diana.


"Benar pak," jawab Diana sambil tersenyum manis.


"Apa kamu yang menelpon kami?" tanya Nilam lagi pada dokter kandungan itu.


"Benar Bu, secara tidak sengaja saya melihat mobil pak Bram oleng. Saya pikir terjadi sesuatu padanya, lalu jadilah seperti ini." Diana menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada Bram.


"Terimakasih ya dokter Diana karena sudah membawa Bram ke rumah sakit," kata Cakra ramah pada Diana.


"Makasih ya dokter Diana," ucap Nilam berterimakasih pada Diana dengan senyuman lembutnya.


Diana terheran-heran, pasalnya belum lama Nilam menunjukkan senyuman sinisnya pada Diana, lalu sekarang wanita paruh baya itu tersenyum lembut kepadanya.


Dengan adanya kehadiran Nilam dan Cakra, Diana bergegas pulang ke rumahnya. Tadinya Cakra meminta Diana disana sampai Bram bangun, tapi dia menolak dan memilih pulang. Cakra tidak enak karena Bram belum sempat berterimakasih pada Diana yang sudah menolongnya.


Pukul 8 malam, Diana sampai di rumahnya yang sepi. Dia menyalakan lampu ruang tengah rumahnya. Dengan wajah lelah, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa dan melepas jas dokternya. Semenjak bercerai dengan suaminya, Diana hidup sendirian. Dia juga tidak punya saudara, makanya dia senang karena memiliki Amayra yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Entah sampai kapan aku hidup seperti ini, apakah Allah memang ingin aku hidup sendiri selamanya?" gumam Diana sambil melihat sepasang sepatu bayi dan satu setel baju bayi berwarna biru, di atas meja ruang tengahnya. "Rey pasti akan cocok dengan baju dan sepatu ini, dia akan sangat menggemaskan bila memakainya." Diana tersenyum senang memikirkan bayi Amayra akan memakai barang yang dibelikan olehnya.


Diana telah memutuskan hidup sendirian sejak dia bercerai dari suaminya yang ternyata sudah memiliki istri sebelum menikah dengannya. Dia menolak di madu dan lebih memilih bercerai. Tapi dia ingin mempunyai keluarga seperti orang-orang di sekitarnya. Setiap melihat seorang istri yang akan melahirkan, dia melihat seorang suami mendampingi istrinya yang melahirkan.


"Aku ingin seperti itu, tapi apalah dayaku. Mungkin takdir Allah memang begini untukku, mungkin jodohku di akhirat nanti.. ya kalau diperbolehkan, aku ingin minta bertemu dengan nabi Yusuf saja," Diana tersenyum sedih sendiri, dia menutup matanya sambil berfikir apakah ada jodoh untuk dirinya di dunia.


Tiba-tiba saja terlihat dikepalanya terbayang sosok Bram yang tersenyum. Membuat matanya yang tadi terpejam jadi terbelalak. "Kenapa aku malah memikirkan si pria narsis itu?"

__ADS_1


...---****---...


Masih kurang kah up nya?😁😁


__ADS_2