Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 181. Tumpahan minyak


__ADS_3

Setelah kehamilan Amayra tidak lagi dirahasiakan dan menjadi rahasia. Satria selalu menjaga Amayra, memperhatikan setiap yang dia makan dan setiap kegiatan yang ia lakukan. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada ibu dan calon anaknya. Kini Amayra sudah menjadi mahasiswi jurusan matematika semester 3. Padahal Amayra sudah mendapatkan penawaran untuk naik tingkat ke semester 5. Tapi Amayra menolaknya karena dia ingin merasakan masa-masa kuliah dari bawah. Kandungan Amayra sudah menginjak usia 3 bulan.


"Sayang, sarapannya." ucap Satria pada sang istri, sambil meletakkan roti gandum dan selai coklat didalamnya.


"Makasih Mas, tapi lain kali aku yang siapkan sarapan ya Mas." Kata Amayra sambil tersenyum.


"Gak apa-apa, sarapannya bukan buat kamu aja kok. Tapi buat bayi kita juga," Satria duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Amayra duduk.


"Bi, Bi Dewi juga sarapan dulu." Ajak Amayra pada Dewi yang sedang membersihkan meja dapur.


"Bibi udah sarapan kok, non." sahut Dewi sambil tersenyum.


Amayra dan Satria sarapan bersama. Hari itu mereka tidak bekal makanan karena mereka berencana makan siang bersama diluar. "Nanti aku jemput kamu jam setengah 1 ya sayang," ucap Satria pada istrinya.


"Iya Mas. Aku sudah selesai sarapan, aku mau ambil tas ku dulu di kamar."


"Sayang, susunya belum di abisin." Satria melirik pada segelas susu vanila yang masih utuh diatas meja.


"Bisa gak aku gak minum susu? Aku selalu mual kalau minum susu,"


"May, kamu harus minum..ini demi bayi kita. Biar bayi kita kuat dan sehat, waktu hamil Rey kamu bisa minum susu." Satria teringat Amayra saat hamil anak pertamanya. Amayra selalu rajin minum susu ibu hamil.


"Iya waktu hamil Rey, aku suka susu. Tapi gak tau kenapa sekarang aku jadi gak suka."


"Pokoknya harus tetap minum!" Kata Satria tegas tak bisa dibantah.


Dengan terpaksa, Amayra meminum susu itu dengan dua kali tegukan sampai habis. Setelahnya dia harus menahan mual. "Bagus..gak apa-apa, tahan sayang."


"Tetap saja mual, Mas.." ucap Amayra sambil menahan mualnya.


"Tahan sayang." Satria menepuk-nepuk punggung istrinya dengan lembut seraya menenangkannya.


Amayra pergi ke kamarnya untuk mengambil tas. Setelah mengambil tasnya, entah apa yang terjadi dengannya, tiba-tiba saja dia terpeleset didepan pintu kamar, "AHHHh!"


Satria langsung menangkap tubuhnya dari belakang. "Kamu gak apa-apa sayang?" tanya sang suami cemas.


"Ya Mas, aku gak apa-apa." Amayra berpegangan pada suaminya.


Hampir saja aku jatuh, ya Allah


Tanpa mereka sadari ada seseorang bertopi yang baru saja keluar dari rumah itu diam-diam. "Sial! Dia selamat! Tak apa, aku bisa coba lain kali." Gerutu Clara kesal.


Satria memegang tangan istrinya. "Ini gimana sih? Kok bisa ada minyak disini?" keluh Satria kesal melihat ada noda minyak dilantai. Noda minyak itu membuat istrinya yang sedang hampir jatuh. "Bi Dewi! Sini!" Ujar Satria pada asisten rumah tangga di rumahnya itu.


Dengan sigap, Dewi langsung menghampiri Satria dan Amayra yang berada di luar kamar mereka. "Ya tuan? Nona?"


"Bi Dewi gimana sih bersih-bersihnya? Kok bisa ada minyak berceceran di lantai?" Tanya Satria dengan wajah kesal, suaranya meninggi.


"Mas...jangan gitu dong tanyanya." Amayra tidak suka Satria bicara dengan berteriak pada Dewi, bagaimanapun juga Dewi adalah orang yang lebih tua darinya.

__ADS_1


"Maaf tuan, nona. Saya yakin kok kalau gak ada minyak disini. Saya sudah membersihkannya tuan," jelas Dewi yakin bahwa lantai itu sudah bersih dan tidak ada noda. Apalagi bekas minyak? Lalu darimana bekas minyak itu berasal?


"Terus gimana caranya bisa ada minyak disini? Kamu tau gak, Amayra hampir saja jatuh!" Satria terbakar emosi karena dia cemas pada Amayra dan anaknya.


"Mas,udah jangan marah-marah sama bi Dewi. Aku percaya kok sama bi Dewi, lantainya tadi bersih dan gak ada noda.. pas aku lewat ke kamar. Tapi, saat aku keluar kamar tiba-tiba lantainya licin." Jelas Amayra pada suaminya.


Satria terdiam sejenak, dia melihat minyak yang ada di lantai itu. Dia merasa minyak itu bukan berceceran tapi seperti sengaja ditumpahkan.


Gimana bisa ada minyak sebanyak ini di lantai? Seperti sengaja ditumpahkan saja.


"Mas.. minta maaf sama bi Dewi, mas udah berteriak sama orang tua. Gak boleh gitu, Mas." Amayra meminta suaminya meminta maaf pada Dewi.


Satria menghela nafas, "Bi.. saya minta maaf ya, saya sudah berteriak sama bibi dan menyalahkan bibi."


"Gak apa-apa tuan. Saya mengerti kok, tuan seperti ini karena sangat mengkhawatirkan nona. Kalau begitu, saya akan membersihkan lagi lantainya."


"Bersihkan yang benar ya bi! Jangan sampai ada yang licin, kamar mandi juga bersihkan yang bersih ya bi. Hati-hati." Kata Satria mengingatkan.


"Iya tuan." jawab Bi Dewi sambil tersenyum.


Tuan Satria sangat mencintai nona Amayra, beruntungnya nona Amayra. Seandainya suamiku juga seperti tuan Satria, sedikit saja.


...🍁🍁🍁...


.


.


Semua orang sangat sibuk di rumah itu karena hari Senin adalah hari dimana memulai aktivitas dan rutinitas mereka. "Mas, hari ini kamu pulang terlambat ya?" tanya Diana sambil memakaikan suaminya dasi.


"Iya, jadwalku padat hari ini. Aku akan pulang malam karena ada acara makan malam bersama klienku. Kalau kamu mau ikut, ayo kita makan malam bersama."


"Tidak Mas, gak usah. Disana kan hanya ada teman-teman Mas saja, mereka tak bawa istri kan?" Diana bertanya sambil mengancingkan lengan kemeja baju suaminya.


"Iya sih. Tapi aku gak masalah kalau kamu mau ikut," ucap Bram tak keberatan jika Diana ikut makan malam bersamanya.


"Hehe gak usah Mas, aku tunggu aja di rumah." Kata Diana sambil tersenyum.


"Oke deh, kamu makan malam duluan aja ya sama yang lain." Bram mengecup kening istrinya dengan mesra.


Cup!


"Iya Mas," jawab Diana tersipu malu dengan kecupan suaminya.


"Yuk kita berangkat bareng."


Diana menolak ajakan Bram untuk berangkat bersama karena dia membawa mobil sendiri dan akan berangkat mengantar mama mertuanya ke tempat temannya. Bram pun berangkat bersama papanya ke kantor. Sementara Anna pergi di jemput oleh Ken, kini mereka sudah semakin dekat.


Diana pergi ke rumah sakit setelah mengantar ibu mertuanya ke rumah temannya. Disana Nilam bertemu dengan teman-temannya ibu ibu sosialita.

__ADS_1


Mereka dalam pembicaraan tentang menantu, cucu dan anak mereka. "Woah kalau anak saya, dia menikah dengan pramugari loh."


"Haha..hebat ya jeng Sari." kata seorang ibu-ibu sambil tertawa kecil.


"Oh ya jeng Nilam.. gimana sama menantu jeng Nilam?" tanya seorang wanita paruh baya berambut pendek, dia melihat ke arah Nilam dengan wajah keponya.


"Memangnya kenapa dengan menantu saya jeng Maya?" tanya Nilam sambil melihat ke arah Maya.


"Bukannya Bram udah nikah hampir 3 bulan ya? Kok belum ada kabar baik juga dari menantu jeng Nilam?" tanya Maya yang selalu penasaran dengan kehidupan orang lain.


"Iya yah malah yang saya dengar, kalau istrinya Satria yang hamil lagi ya?" tanya Sari pada Nilam.


"Hem..mungkin belum aja. Mereka kan masih pengantin baru," kata Nilam menanggapinya dengan datar.


Sudah hampir tiga bulan, Bram dan Diana menikah tapi mereka masih belum ada kabar juga. Malah Amayra dan Satria yang mendapatkan kabar baik lebih dulu.


"Hati-hati aja loh jeng.. saya cuma mau mengingatkan." Sari mendekati Nilam.


"Memangnya kenapa? Saya harus hati-hati gimana jeng Sari?" tanya Nilam sambil menatap wanita yang digelung itu.


"Saya ada tetangga, mereka tuh udah nikah selama hampir 3 bulan. Mereka pengen banget punya anak, pas diperiksa.. eh ternyata istrinya gak subur alias mandul." bisik Sari pada Nilam.


Nilam terlihat emosi, "Maaf jeng Sari, tapi menantu saya tidak seperti itu."


"Maaf nih jeng Nilam, saya gak bilang menantu jeng Nilam seperti itu. Saya hanya menceritakan tentang tetangga saya, ya untuk jaga-jaga saja...coba deh jeng Nilam periksakan menantu jeng Nilam. Soalnya waktu si Amayra hamil sama si Bram, mereka kan cuma melakukannya sekali. Itu tandanya anak jeng Nilam subur, nah ini menantu jeng Nilam yang sekarang.. saya gak tau ya."


Ucapan Bu Sari yang merembet kemana-mana, membuat Nilam kesal. Siang itu dia langsung pulang dan tidak menyelesaikan acara arisannya. Kata-kata Sari dan ibu-ibu lainnya disana membuat Nilam kepikiran.


"Setelah aku pikir-pikir, benar juga ya.. Bram anakku pasti subur. Karena Amayra saja waktu itu hamil karena melakukan sekali. Tapi kok Diana belum hamil juga? Mana mungkin Diana mandul? Apa mungkin mereka lagi program KB? Astagfirullah! Singkirkan pikiran jelekku ini! Tapi.. bukankah aku juga harus memastikannya. Aku tidak mau Bram mendapatkan wanita yang salah lagi, sebagai menantu keluarga Calabria dan istri Bram... Diana harus sempurna. Gak ada salahnya untuk berhati-hati."


Nilam yang terpengaruh dengan ucapan teman-temannya, dia langsung menelpon Diana yang sedang bekerja dan mengajaknya bertemu saat itu juga.


"Ya Ma, ada apa?" tanya Diana yang sedang bersiap dengan pasien berikutnya.


Tumben mama Nilam menelponku jam segini. Bukankah harusnya dia masih berada bersama teman-temannya?


"Apa kamu ada waktu kosong hari ini?" suara Nilam terdengar tajam dan serius.


"Maaf Ma, Diana gak ada waktu hari ini. Pasien Diana lagi banyak.." kata Diana memohon maaf pada ibu mertuanya.


Suara mama Nilam terdengar serius, ada apa ya? Apa aku melakukan kesalahan?


"Oh gitu ya. Ya udah, kalau besok gimana?" tanya Nilam lagi.


"Insya Allah besok Diana pulang siang," jawab Diana ramah dan sopan seperti biasanya.


"Oke. Diana, apa kamu tau dimana rumah sakit fertilitas?" tanya Nilam tanpa basa-basi.


"Rumah sakit fertilitas?!"

__ADS_1


Kenapa mama menanyakan ini?


...****...


__ADS_2