Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 142. Janji damai


__ADS_3

Ken langsung mengajak pulang kakaknya, begitu Keisha tiba disana. Dia tidak mau dirawat di rumah sakit, inginnya di rawat di rumah saja.


"Ken, tapi takutnya ada apa-apa sama kepala kamu. Mendingan kamu tinggal aja di rumah sakit ya? Tenang, masalah biaya pengobatan.."


"Saya yang bayar," Satria memotong ucapan istrinya. Kedua tangannya menyilang didada, tatapannya tak lepas dari Ken.


"Hahaha.. gak usah pak, saya juga gak apa-apa kok." Ken menghindari tatapan membunuh dari Satria. Dia memegang tangan kakaknya lalu dia berbisik, "Kak, buruan balik! Kakak akan kehilangan adik kakak satu satunya kalau aku tetap berada disini, kak.."


Keisha tersenyum melihat Ken yang ketakutan oleh Satria. "Oke, yuk kita balik aja. Tapi, aku kira kamu gak punya rasa takut loh!" bisik Keira pada adiknya.


"Ayo kak, pulang ah!" Ken memegang tangan kakaknya, wajahnya terlihat berkeringat.


Amayra keheranan melihat kedua orang didepannya berbisik-bisik, dia tak tau apa yang dibicarakan oleh Keisha dan Ken hingga mereka harus berbisik-bisik seperti itu.


Kenapa mereka berbisik-bisik gitu ya?


"Ken, kamu jangan pulang ya.. lihat tuh wajah kamu berkeringat seperti itu. Mas, ayo dong bujukin Ken supaya dia jangan pulang dulu!" Pinta Amayra pada suaminya yang berdiri tepat dibelakangnya.


Wajah Satria yang dingin tadi langsung berubah drastis saat Amayra melihatnya. "Iya sayang," jawab Satria sambil tersenyum.


Istighfar Sat, jangan marah.. jangan marah..ada istrimu disini.


Ken dan Keisha terperangah tak percaya wajah dingin yang tadi mereka lihat itu berubah ketika Amayra melihatnya.


"Pak Kenan, demi kenyamanan bersama dan agar istri saya tenang. Mohon untuk tinggal dulu di rumah sakit, satu atau dua hari saja. Saya akan menjamin semuanya," ucap Satria sambil tersenyum pada Ken, senyuman tipis.


"Ti-tidak perlu pak Satria," tolak Ken sambil memalingkan wajahnya.


Katanya suami Amayra itu baik dan lemah lembut, kenapa malah kejam seperti harimau?


"Pak Kenan!" Kata Satria tegas.


"Tidak pak! Saya tidak mau dirawat!" Seru Ken tetap menolak.


Sebenarnya Satria kesal sendiri, kenapa harus Ken yang menjadi penyelamat Amayra bukan dirinya. Dia juga cemburu, karena Ken memeluk istrinya. Bayangan Ken memeluk Amayra masih belum hilang dari ingatannya.


Jika saja Ken tidak menyelamatkan Amayra, dia pasti sudah menghajar pria itu karena sudah memeluk istrinya. Pikir Satria dalam hatinya.


"Pak Kenan, tolong jangan-" ucapan Satria terpotong saat pintu ruangan itu terbuka.

__ADS_1


Cekret!


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada didalam ruangan itu.


Orang yang mengucap salam itu adalah kedua orang tua Reina. Satria, Amayra, Ken dan Keisha menatap kedua pria dan wanita paruh baya itu.


"Apa benar ini ruang rawat Kenan Anggara?" Tanya papa Reina dengan sopan.


"Benar, bapak siapa ya?" tanya Keisha pada papa Reina.


"Saya papanya Reina, saya datang kemari untuk meminta maaf pada nak Kenan dan juga nak Amayra," ucap pria paruh baya itu sambil menundukkan kepalanya.


Amayra dan Ken tersentak kaget mendengar ucapan pria paruh baya itu. Kemudian papa dan mama Reina meminta maaf pada Ken dan Amayra. "Kami mohon maaf atas nama anak kami karena sudah membuat nak Kenan celaka dan Reina anak kami yang sudah menganggu nak Amayra...tapi kami mohon pada kalian untuk membebaskan Reina dari penjara, masa depannya akan hancur kalau dia berada didalam penjara! Kami mohon..."


Kedua orang tua Reina memohon dengan sangat kepada Amayra dan Ken untuk memaafkan kesalahan Reina. Bahkan mereka mengatakan akan melakukan apapun agar Reina bisa keluar dari penjara.


"Mas.." Amayra menatap suaminya, dia mulai luluh pada kedua orang tua Reina dan merasa tidak enak pada mereka yang sudah tua harus memohon padanya.


"May, jangan paksa aku. Aku gak mau kamu diganggu lagi sama dia," ucap Satria yang tidak mau memaafkan Reina.


"Tapi May, kalau gak ada pak Kenan...sudah pasti kamu yang terkena lemparan batu itu. Aku gak mau hal itu terulang lagi," ucap Satria yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat.


"Mas.. gak boleh loh menyimpan dendam dan kebencian. Kita harus saling memaafkan, kakak ingat surat Al Maidah ayat tiga belas.. Fa bimā naqḍihim mīṡāqahum la'annāhum wa ja'alnā qulụbahum qāsiyah, yuḥarrifụnal-kalima 'am mawāḍi'ihī wa nasụ ḥaẓẓam mimmā żukkirụ bih, wa lā tazālu taṭṭali'u 'alā khā`inatim min-hum illā qalīlam min-hum fa'fu 'an-hum waṣfaḥ, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn...


Artinya: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.


Satria menghela nafas mendengarkan ayat yang dibacakan istrinya tentang memaafkan. Ken dan Keisha terpana disana mendengarkan suara gadis itu yang mengalun indah ditelinga mereka.


Bagusnya Amayra jadi ustadzah saja daripada guru matematika. Batin Ken.


"Baiklah, saya akan cabut tuntutannya.."


Papa dan mama Reina terlihat lega mendengarnya. Mereka mulia tersenyum. "Tapi... tentu saja ada syaratnya. Pertama, saya mau Reina meminta maaf pada istri saya dan juga keluarga saya, kedua saya tidak mau melihat Reina disekitar istri saya lagi kalau perlu pindah kampus dan ketiga tergantung pak Kenan juga sebagai korbannya." Satria memberikan syarat untuk kebebasan Reina.


"Saya juga sudah memaafkan," jawab Ken setuju dan tidak mau memperpanjang masalah dan Amayra juga baik-baik saja tanpa luka.


"Baik pak, kami akan melakukannya. Kami akan pindah dari kota ini, Reina juga akan pindah kampus!" Kata papa Reina sambil menangis.

__ADS_1


"Terimakasih pak Satria, terimakasih nak Amayra dan nak Kenan.." kata Mama Reina berterimakasih.


Keesokan harinya tuntutan untuk Reina di cabut setelah Reina meminta maaf pada Ken, Amayra dan semua keluarga Calabria. Satu hari berada di dalam jeruji besi membuatnya kapok, dia berjanji tidak akan menganggu Amayra lagi.


Mereka pun menempuh jalan damai secara kekeluargaan.


****


Tiga hari kemudian setelah kejadian itu, malam nya setelah Rey tertidur pulas, Amayra segera membuka laptopnya. Dia lupa ada tugas yang belum di kerjakan yaitu membuat power poin untuk persentasi mata kuliah metode statistika.


"Astagfirullah gimana aku bisa lupa," ucap Amayra sambil menyalakan laptopnya dengan buru-buru.


"Lagi apa sayang?" tanya Satria sambil memeluk istrinya dari belakang. Kepalanya bersandar di leher sang istri.


"Sayang sayang..diam ah jangan ganggu aku," kata Amayra sedikit ketus.


"Kenapa sih masih marah-marah aja?" Ucap Satria sambil memainkan rambut Amayra dan memutar-mutarnya.


"Aku sibuk, jadi jangan ganggu!" Seru wanita itu sambil mengetik sesuatu di laptopnya dengan fokus.


Dia masih aja gak ingat tanggal 15, tau ah!


"May, aku kedinginan nih.. bobok yuk," ajak Satria sambil mengecup leher sang istri dengan mesra.


Udah 3 hari ini Amayra gak mau aku ajak tidur bareng. Apa gara-gara tanggal lima belas itu? Ada apa dengan tanggal lima belas?


"Kalau kedinginan ya pake selimut aja sana!" titah Amayra pada suaminya.


"Sayang...kok gitu sih?" Satria merengek pada istrinya.


Kayanya gara-gara tanggal lima belas ini malam ku jadi gak lancar.


"Besok aku ada persentasi, aku lagi buat power poinnya. Jadi, kakak tidur aja duluan ya.." ucap Amayra cuek.


Satria melepaskan pelukannya, dia yang sudah memakai pakaian tidur yang memperlihatkan badannya merasa sia-sia karena Amayra sama sekali tidak meliriknya. Satria merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sambil mengingat-ingat tanggal lima belas. Disisi lain, Amayra memang sedang fokus dengan laptopnya.


Tanggal lima belas..lima belas bulan ini...itu bulan Juli... berarti.. Ahhh! Aku ingat, tanggal lima belas itu adalah...


Satria langsung beranjak duduk, tampaknya dia sudah mengingat arti dari tanggal 15 itu. "Pantesan Amayra ngambek," gumam Satria pelan-pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2