
Pengajian itu pun dimulai dan dipimpin oleh ustad Iqbal, semua orang disana mendoakan keluarga Calabria. Terutama Diana yang sedang mengandung, agar dia selamat dan sehat sampai hari persalinannya.
Usai pengajian dan pembagian makanan, para tamu yang hadir disana satu persatu mulai pamit pulang. Hanya tersisa Iqbal dan keluarga Calabria saja disana.
"Terimakasih ya sudah datang," ucap Amayra dan Nilam kepada tamu yang pulang dari sana.
Akhirnya keluarga Calabria berkumpul di ruang tengah bersama Iqbal dan Rayhan juga. Rayhan tampak sedang mengobrol akrab dengan Zahwa dan Zayn, meski si kembar selalu ada ada saja perdebatan, tapi Rayhan senang bisa berteman dengan mereka berdua.
"Oh ya, kakak sekolah dimana?" Zahwa penasaran dengan kehidupan pribadi Rayhan.
"Aku sekolah di SDN Pancasila 1," jawab Rayhan.
"Serius? Kakak sekolah disana? Aku sama Zahwa juga mau sekolah disana, tahun ajaran baru nanti!" Kata Zayn semangat, terlihat dia menyukai sosok Rayhan dan ingin berteman dekat dengannya.
Rayhan tersenyum lebar mendengar penuturan dari Zayn bahwa mereka akan bersekolah di tempatnya bersekolah juga. "Oh ya? Berarti kalian akan menjadi adik kelasku dong!"
Itu berarti aku bisa ketemu Zahwa setiap hari di sekolah, kecuali hari Minggu.
"Wah kebetulan sekali ya..." gadis kecil itu tersenyum senang.
Yes, aku satu sekolah sama kakak Rayhan. Aku bisa ketemu sama kakak Rayhan setiap hari.
"Kalau kakak sekolah di SDN itu, lalu dimana rumah kakak? Kata mama, rumah kakak jauh dari sini. Sedangkan SD itu lebih dekat dengan rumah kami." Zayn berpikir.
"Iya memang jauh, aku pulang pergi setiap harinya kesana. Tapi sepertinya sekarang sekolah akan terasa menyenangkan walau jaraknya jauh," ucap Rayhan sambil melihat ke arah Zahwa dan dia tersenyum.
Dari kejauhan, Amayra, Nilam, Anna, Fania dan Diana melihat ketiga anak yang sedang mengobrol itu. "Wah wah...Tante, kayaknya perjodohan bakalan berhasil nih." Goda Anna sambil menyenggol lengan Amayra yang duduk tepat disampingnya.
"Anna, perjodohan apaan sih yang kamu maksud?" Amayra mengerutkan keningnya, dia benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud Anna.
"Itu loh May, inget gak waktu syukuran Zahwa dan Zayn 6 tahun yang lalu? Satria, papa mertua kamu kan ada obrolan tentang perjodohan sama ustad Iqbal dan Bu Fatimah."
__ADS_1
Wanita berhijab hijau itu terlihat berpikir, mencerna dan mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan ibu mertuanya. "Ah! Aku ingat ma. Tentang perjodohan Zahwa dan Rayhan, kan?"
Nilam mengangguk-angguk.
"Iya benar," jawab Diana dan Anna kompak.
"Itu kan cuma bercanda ma, hehe." Amayra cengengesan mengingat tentang pembicaraan perjodohan itu.
"Siapa tau memang mereka berjodoh? Mama senang loh kalau udah besar nanti Zahwa bisa bersama Rayhan, anaknya baik...keturunannya jelas dari keluarga yang baik-baik. Kalau dilihat dari sini, mereka sudah terlihat dekat bukan?" Kata Nilam sambil melihat Zahwa, Rayhan dan Zayn duduk sambil mengobrol akrab
"Haha, mama...bisa aja ah." Amayra hanya tersenyum canggung.
Aduh kenapa Zahwa jadi di jodoh jodohin lagi? Dia masih berumur 6 tahun.
"Aku juga setuju ma, kalau misalkan Zahwa dan Rayhan dijodohkan." Diana ikut memberikan suara.
"Kalau Tante Diana setuju, aku juga." Anna manggut-manggut.
Obrolan perjodohan itu terdengar serius di mata orang tua, terutama para pria keluarga Calabria dan juga Iqbal. Iqbal sudah memberikan izin, bila Rayhan dan Zahwa berjodoh maka dia akan mendukungnya. Namun Satria tidak percaya diri karena anaknya berbeda karakter dengan Rayhan, anaknya Iqbal.
Zahwa anaknya periang dan tomboy sedangkan Rayhan orangnya kalem dan tidak banyak bicara.
*****
Hari sudah semakin larut, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Iqbal dan putranya berpamitan pada semua keluarga Calabria.
"Maaf ya, bukannya kami tidak mau berlama-lama...tapi waktu sudah malam,"
"Iya ustad Iqbal, tidak apa-apa. Lain kali kita bisa sengaja bertemu dan bicara lebih panjang." Kata Cakra sambil tersenyum ramah.
"Rayhan, ayo salaman dulu sama opa, Oma, bapak dan ibu." Iqbal meminta Rayhan yang berdiri disampingnya untuk berpamitan pada semua anggota keluarga Calabria.
__ADS_1
Namun anak itu malah senyum-senyum sambil memandang ke arah Zahwa yang berdiri disamping Reyndra dan Amayra.
Loh? Kenapa kak Rayhan melamun begitu ya?. Zahwa melihat Rayhan yang berdiri didepannya.
Rey juga melihat tatapan Rayhan yang tertuju pada Zahwa. 'Kenapa dia melihat Zahwa sambil segitunya ya?'
Rey juga sudah berkenalan dengan Rayhan, dia menganggap Rayhan adalah anak yang baik. Akan tetapi entah mengapa dia tidak suka saat Zahwa berada di dekat Rayhan dan dia menganggap kasih sayang Zahwa jadi terbagi lagi.
Padahal Zahwa selama ini hanya dekat denganku, kenapa dia bisa dekat dengan orang yang baru dikenalnya? Apa dia sudah menemukan sosok kakak baru?
Iqbal menepuk baju Rayhan. "Rayhan, kamu kenapa? Ayo salam dulu sama semuanya, kita akan segera pulang."
"Ah...iya Abi," jawab Rayhan sambil tersenyum.
Rayhan dengan sopan memberi salam pada semua anggota keluarga Calabria dan berpamitan. Semua orang berhasil dibuat takjub oleh sikap Ray yang sedari kecil sudah bersikap sopan dan tau etika seperti orang dewasa. Rayhan berhasil mengambil simpati semua orang disana.
Terakhir Rayhan memberikan pamit yang spesial untuk Zahwa. "Zahwa!"
"Ya, kak Rayhan?" Sahut gadis kecil itu sambil menatap Rayhan.
"Ini buat kamu, semoga kamu suka dan aku harap kita bisa ketemu lagi secepatnya." Rayhan menyerahkan tasbih kecil kepada Zahwa.
Kedua orang tua Zahwa menelan ludah, mereka terpana melihat sikap Rayhan pada Zahwa.
"Sayang, dulu waktu anak kita masih kecil...Rayhan juga pernah-" Satria berbisik pada suaminya.
"Iya mas, sudah jangan diteruskan ucapannya!" bisik Amayra pada Satria.
"Iya, aku juga gak sabar semoga kita cepat bertemu kembali ya kak," Zahwa tersenyum lebar, dia memegang erat tasbih pemberian dari Rayhan.
Rayhan membalas senyuman itu dengan senyuman.
__ADS_1
...*****...