
Rey terkejut melihat bapaknya masuk ke dalam kamar itu. Dia menatap Rey dengan marah, kemudian dia menghampiri Rey dan mencekiknya.
"Bapak... kkkeukhhhh!" Rey kesakitan karena dicekik oleh bapaknya itu. Tubuh kecilnya, terangkat oleh kekuatan pria bertubuh besar itu.
Kenapa bapak bisa ada disini? Ya Allah, Zahwa...sama Zayn...Tante Amayra di ruangan sebelah.
"Anak sialan! Anak gak tau balas budi Lo! Bisa-bisanya Lo hidup bahagia di rumah orang kaya sedangkan gue hidup menderita jadi buronan di luar sana!" Pria itu mencekik leher Rey dengan penuh amarah dan dendam.
Owaaa... OWAA...
Zahwa tiba-tiba menangis kencang, membuat pria berjenggot tebal itu melihat ke arahnya. Dia pun melepaskan cekikannya dari Rey dan menggendong Zahwa. "Anak ini cantik banget, kalau di jual pasti harganya mahal nih?" gumam pria itu berpikir jahat pada Zahwa.
Owa....Owaaa....
Bayi mungil nan cantik itu menangis didalam gendongan bapak Rey yang beringas, memiliki niat jahat pada Zahwa.
"Bapak, jangan macam-macam sama de Zahwa! Lepaskan de Zahwa!" Rey berteriak meminta bapaknya melepaskan Zahwa.
"Bayi yang satunya juga tampan," ucap bapak Rey sambil melihat ke arah Zayn yang juga ikut menangis, seperti ada ikatan batin saat melihat Zahwa di gendong orang dengan niat jahat.
Owaaa....owaakkk...
Mendengar suara gaduh dari kamarnya, Amayra yang masih memakai mukena dan baru saja selesai shalat segera berlari menuju ke kamarnya. "Non Mayra?" Tanya Lulu melihat Amayra yang terlihat panik.
"Bi, bibi dengar suara Rey teriak?" Tanya Amayra pada Lulu.
"Iya non," jawab Lulu mengiyakan.
"Ayo kita kesana Bi!" Ajak Amayra sambil melangkah dengan cepat.
Bapak Rey sudah berjalan menuju ke jendela sambil membawa Zahwa. Rey berusaha menghentikan bapaknya itu, dia memegang tangan si bapak dan beberapa kali menggigitnya.
Zahwa dan Zayn menangis kencang, merasakan bahaya yang mengancam mereka.
"Anak sialan! Lepaskan aku!" Pria itu mendorong Rey hingga tubuh kecilnya jatuh ke lantai.
Rey menarik kaki bapaknya, menahan pria itu untuk pergi dari sana. "Turunkan Zahwa, bapak gak boleh bawa Zahwa!!"
__ADS_1
Aku tidak boleh membiarkan bapak membawa Zahwa.
Amayra, Lulu dan Dewi sudah berada didepan pintu sambil membawa sapu dan alat pemukul. "Zahwa!" Seru Amayra melihat salah satu bayinya berada didalam gendongan pria asing.
Siapa pria ini? Apa dia mau menculik Zahwa? Kenapa dia bisa masuk ke dalam rumah?
"Penculik! Lepaskan non Zahwa!" Teriak Dewi sambil mengarahkan pemukul pada pria asing itu.
"Kalau kalian maju selangkah lagi, gue bakalan jatuhi ini bayi!" Ancam bapak Rey pada semua orang disana yang mencoba mendekat padanya.
Amayra merasa resah tak enak hati, apalagi mendengar anaknya yang terus menangis. "Tolong pak, lepaskan anak saya...bapak boleh ambil apapun yang bapak inginkan, tapi saya mohon lepaskan anak saya." ucap Amayra mencoba membujuk dengan lembut pada pria itu untuk melepaskan anaknya.
Namun bapak Rey yang tidak diketahui namanya ini, menolak menyerahkan Zahwa. Dia bahkan menyembunyikan pisau di balik jaketnya.
Semua orang disana panik saat melihat pria itu mengeluarkan pisaunya. Dia pun berusaha melarikan diri dengan membawa Zahwa dan menakuti semua orang dengan pisau. Saat itu, Cakra dan Nilam kebetulan sedang pergi ke acara undangan teman mereka. Bram masih bekerja, begitu pula dengan Diana yang masih sibuk di rumah sakit.
"Diam kalian! Gue cuma mau ngambil anak ini, jangan mendekat atau bayi ini gue bunuh!" Ancam bapak Rey pada semua orang disana.
"Tolong pak, saya sudah bicara baik-baik para bapak... lepaskan anak saya pak!" Amayra bicara serius saat melihat Zahwa menangis dan berada dalam ancaman.
Tepat saat bapak Rey akan keluar dari rumah itu sambil membawa Zahwa, Amayra nekad berlari dan membawa Zahwa dari tangan pria itu.
Lulu, Dewi dan Cecep ada disana berusaha menangkap bapak Rey yang akan kabur. Amayra berhasil membawa Zahwa, namun tiba-tiba dia terdiam mematung dengan wajah pucat. "Alhamdulillah Zahwa...anakku." Amayra menatap Zahwa, suaranya terdengar lemah.
Ya Allah, sakit sekali...perih.
"Tante...Tante kenapa?" tanya Rey sambil melihat Amayra yang terdiam sambil menggendong Zahwa.
"Saya akan laporkan kamu ke polisi! Biar kamu ditangkap!" Seru Cecep sambil meringkus tangan bapak Rey yang meronta ini kabur itu.
"Gobl*k! Lepasin gua!" Teriak bapak Rey meronta-ronta ingin dilepaskan.
Disisi lain Dewi dan Lulu ikut memukul-mukul pria itu dengan pemukul, panci dan sapu. "Huh! Dasar penjahat! Beraninya mau menculik non Zahwa!" Ujar Lulu emosi.
"Apa kamu mau digeprek sama aku hah?!" Teriak Dewi yang juga gemas dengan bapak Rey.
"Iya mbak Dewi, dia gak tau kalau sambel geprek mbak Dewi paling pedas!" Lulu mengangguk-angguk.
__ADS_1
Cecep tercekat melihat pria itu memegang pisau yang berdarah, dia bertanya-tanya siapa yang terkena pisau itu.
Tiba-tiba saja Amayra ambruk ke lantai, dengan tubuh bersimbah darah. Bahkan darahnya sampai mengenai baju yang dikenakan Zahwa.
"Tante Amayra! Tante!!" Rey berteriak panik melihat Amayra jatuh tidak sadarkan diri sambil memegang Zahwa. Rey menangis melihat wanita itu tidak sadarkan diri.
Ini semua gara-gara aku, gara-gara aku Tante Amayra jadi terluka.
"Non! Non Mayra! Astagfirullahaladzim, ya Allah gusti..." Lulu panik sambil menghampiri Amayra.
Dewi menggendong Zahwa yang menangis, sementara Rey, menggendong Zayn yang dibaringkan di sofa sebelumnya.
Owa...Owaaa...
Kedua bayi itu menangis kencang, seakan merasakan keadaan ibunya. Saat Lulu akan menelpon polisi, Bram dan Diana yang baru saja pulang kerja melihat kejadian itu. Amayra yang bersimbah darah tak sadarkan diri di lantai.
"Astagfirullah! Apa yang terjadi?" Bram menghampiri Amayra, Dewi, Lulu dan Rey.
"Amayra...kenapa?" Diana melihat luka di perut Amayra.
"Papa, mama, tolong Tante Mayra! Dia ditusuk pisau..." ucap Rey sambil menangis meminta pada papa dan mamanya untuk menyelamatkan Amayra.
"Apa? Ditusuk??!!" Diana tercengang mendengarnya. "Mas, cepat kamu gendong May dan bawa ke rumah sakit!" ujar Diana pada suaminya.
Bram pun menggendong Amayra, sebelum itu dia menyuruh Lulu, Dewi dan Rey untuk menjaga si kembar. Sementara dia dan Diana akan membawa Amayra ke rumah sakit.
*****
Rumah sakit tempat Satria bekerja, dia baru saja keluar dari ruang operasi. Entah karena tidak teliti atau bagaimana, tangan Satria tersayat pisau bedah saat dia melakukan operasi.
"Dokter Satria, sebaiknya anda segera mengobati lukanya...nanti bisa infeksi kalau anda diamkan terus seperti itu." ucap seorang dokter yang baru saja menjadi rekan di meja operasi.
"Iya dokter Dimas, akan segera saya obati." Satria tersenyum sambil melihat jarinya yang berdarah cukup dalam itu.
Kenapa perasaanku dari tadi gak enak ya?
...****...
__ADS_1