
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di dalam rumah Calabria, ketika mendengar ucapan salam dari seseorang di luar rumah.
"Silahkan masuk pak," ucap Cakra menyambut dokter Sandy.
Dokter Sandy tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Amayra yang tidak asing mendengar suara itu, segera pergi ke ruang tengah untuk memastikan siapa yang datang.
Dan benar saja, itu adalah dokter Sandy. Dokter yang ikut andil dalam operasi alm. pak Harun.
"Dokter kan dokter yang mengoperasi alm. pak Harun?" tanya Ken pada dokter Sandy.
"Benar, itu saya." Jawab dokter Sandy mengiyakan.
"Dokter Sandy?" Amayra melihat ke arah dokter Sandy yang sudah duduk bersama Cakra dan Bram di sofa ruang tengah.
"Selamat siang bu Amayra, saya kemari ingin menyampaikan belasungkawa saya atas meninggalnya pak Harun." Kata dokter Sandy sopan. Matanya dipenuhi rasa bersalah, tangannya gemetar entah kenapa.
"Terimakasih dokter," jawab Amayra sambil tersenyum.
Insting Satria cukup tajam untuk mengetahui ada yang salah disana. Apalagi saat dia melihat gelagat Sandy yang menunjukkan sesuatu.
"Kamu adalah dokter yang mengoperasi ayah mertua saya? Bagaimana bisa dokter junior seperti kamu berada di ruang operasi?" tanya Satria sambil duduk di samping dokter Sandy. Dia menatap tajam ke arah dokter junior itu.
"Saya tidak sendiri, disana ada dokter Candra juga yang memimpin operasi," jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Oh, begitu ya? Memang se-kritis apa kondisi ayah mertua saya saat itu? Dokter Sandy bisa menjelaskannya pada saya?" kata Satria bertanya.
"Kak, gak boleh gitu dong. Dokter Sandy kemari ingin berbelasungkawa, kenapa kakak malah tanya begitu?" Amayra memegang tangan Satria, meminta suaminya untuk tidak bertanya macam-macam dulu.
"Haahh.. ya udah deh sayang," ucap Satria yang tidak ragu menunjukkan kasih sayangnya pada sang istri didepan semua orang.
Disisi lain Ken terlihat gelisah, dia menelan salivanya berkali-kali melihat Amayra dan suaminya tampak mesra. Rasa yang seharusnya tidak pernah ada dan dia lupakan, masih ada didalam hatinya.
__ADS_1
Kenan Anggara! Tenangkan hatimu, kamu tidak boleh marah. Siapa kamu yang berhak marah melihat suami-istri itu bermesraan? Gila!
Dia masih tertarik dengan istri orang, baru kali ini Ken merasakan jatuh cinta. Namun sayang, cintanya mungkin berakhir dengan sad ending.
"Ken, jaga tatapan Lo!" Ujar Anton setengah berbisik pada Ken. Perkataannya menandakan bahwa menyadari Ken sedari tadi menatap istri orang itu dengan tatapan tidak biasa.
"Apa-apaan sih? Emang gua kenapa?" Ken memalingkan wajahnya, seolah dia tidak berbuat apa-apa.
"Terserah Lo aja deh," ucap Anton mendelik malas.
Setelah menyampaikan belasungkawanya, dokter Sandy langsung pamit pulang. Begitu juga dengan Ken, Anton dan Lisa.
Tadinya dokter Sandy sudah ada niatan untuk memberitahu pada Amayra tentang operasi itu. Tapi dia mengurungkan lagi niatnya, dia takut pada ancaman dokter Candra. Karirnya baru saja dimulai dan dia tidak mau disalahkan juga atas kesalahan operasi yang terjadi pada pak Harun hingga menyebabkan pria paruh baya itu meninggal dunia.
"Maafkan saya pak Harun, saya tidak bisa mengatakannya. Mungkin kebenaran nanti akan terungkap, meski bukan dari mulut saya," gumam Sandy sambil menyetir mobilnya dengan hati yang resah diliputi rasa bersalah.
Sementara itu orang yang sebenarnya bersalah dalam operasi, malah bersantai saja di rumahnya. Dia tidak datang melayat pak Harun, ataupun sekedar mengucapkan belasungkawanya pada Amayra juga keluarga Calabria.
Baru pertama kalinya dokter Candra gagal dalam operasi, ya itu karena dia ceroboh saat melakukannya. Semua operasinya selalu berhasil dan kali ini dia melakukan kesalahan besar. Dokter Candra pun memalsukan laporan medis pak Harun, untuk menutupi jejaknya.
...*****...
Malam itu adalah malam yang sunyi dan gelap untuk Amayra yang baru saja kehilangan ayahnya. Setelah menyusui Rey dan menidurkan bayi itu diatas ranjang bayi. Amayra hendak pergi ke dapur dan memasak untuk suaminya.
Amayra teringat bahwa suaminya yang dia tunggu sejak lama baru saja pulang dari perjalanan jauh. Harusnya dia menyambut sang suami dengan bahagia, tapi dia malah menyambut Satria dengan air mata kesedihan.
"Kak, maafkan aku ya..karena aku tidak menyambut kakak dengan baik. Aku malah menyambut kakak dengan air mata," ucap Amayra merasa bersalah pada suaminya.
"Tidak sayang, jangan minta maaf. Akulah yang salah, karena selama ini aku tidak bisa berada disamping kamu, Rey dan ayah. Aku minta maaf telah meninggalkan kamu." Ucap pria itu lembut pada istrinya.
"Kak, aku masak makan malam dulu ya. Kakak belum makan kan sejak tadi pagi? Aku akan masak sesuatu untuk kakak, kakak mau makan ap-"
__ADS_1
Grep!
Sebuah pelukan hangat diberikan Satria pada istrinya. Satria mendudukkan Amayra dipangkuannya. "Kak Satria?"
"Sayang, libur dulu saja masaknya. Aku tidak mau makan apa-apa kok, aku tidak lapar.."
"Kak.. kakak suruh aku makan tadi dan kakak sendirinya tidak makan?" tanya Amayra mengoceh.
"PFut.. hahaha, akhirnya aku bisa mendengar ocehan kamu lagi. Mayra ku yang cerewet," ucap Satria tertawa sambil memegang pipi istrinya. "Eh, kamu kok kurusan sih?" ucap Satria yang menyadari pipi chubby istrinya sudah tidak terasa lagi.
"Enggak, aku gak kurusan kok!" sangkalnya.
"Bohong! Kemana Amayra ku yang chubby ini? Kenapa hanya tinggal tulang saja?" Goda Satria setengah protes dan kecewa karena istrinya kurusan.
"Kalau tinggal tulang saja, aku mati dong?" Amayra tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Satria memegang kedua tangan Amayra, dia tersenyum melihat Amayra tersenyum walau wajahnya masih pucat. "Syukurlah, kamu sudah tersenyum sayang. Daritadi aku hanya melihatmu menangis, tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihat senyuman kamu," Satria sudah rindu melihat istrinya yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka malah harus bertemu didalam keadaan berduka. Ya, tapi ini sudah takdirnya.
Satria melihat Amayra diam lagi dengan wajah sedihnya. Lagi-lagi dia menangis. Sepertinya wanita itu teringat lagi sosok pak Harun.
"May, ada aku disini. Aku dan semua keluarga ini adalah keluarga kamu juga. Masih ada Rey dan aku. Janganlah bersedih sayang, ayah akan sedih melihat kamu menangis begini. Kamu masih punya aku.." ucap Satria sambil menyeka air mata istrinya dengan kelembutan.
"Ya, benar.. aku masih punya kakak. Kakak jangan tinggalkan aku ya," Amayra memeluk suaminya, dia menangis didalam dekapan Satria.
"Aku akan selalu bersama kamu May, aku tidak akan kemana-mana lagi." Satria balas memeluk istrinya dengan erat.
Amayra nyaman berada didalam dekapannya, dia menumpahkan segala kesedihan pada suaminya. Kini Satria sudah berada disamping Amayra dan Rey.
...----****----...
__ADS_1
Hai Readers, author mau up lagi.. komen ya sama like nya jangan lupa 😍😍👍