Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 83. Jadi dia orangnya


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Semua orang disana terkejut begitu melihat Iqbal tiba-tiba berdiri dan menatap Amayra yang sedang menggendong Rey. Bram dan Satria juga terkejut melihat tatapan Iqbal pada Amayra.


Tatapan yang menyiratkan sebuah kerinduan dan perasaan mendalam. Bagaimana bisa orang asing memiliki tatapan seperti itu pada Amayra? Pikir Satria dalam hatinya.


Kenapa dia menatap Amayra seperti itu? Apa mereka saling kenal?


Mata Amayra dan Iqbal bertemu, kemudian Amayra menunduk memalingkan matanya. Menjauhkan diri dari pandangan pria itu.


Jika Amayra tinggal disini, maka ini juga adalah rumah Anna? Amayra... dia bersama bayinya. Ya Allah kenapa perasaan ku masih seperti ini?


Iqbal memegang dadanya, dia masih menatap wanita yang sudah bersuami itu dengan mata berkaca-kaca. Dia tak percaya bahwa dia kembali bertemu dengan cinta pertamanya disana dalam keadaan yang tidak terduga. Wanita berhijab itu sudah bersuami dan menggendong seorang anak. Rasanya Iqbal masih belum percaya.


"Iqbal, kenapa kamu berdiri? Ayo duduk kembali nak!" Titah ust. Arifin pada putranya yang tiba-tiba saja menjadi sorotan semua orang karena tatapannya pada Amayra.


"Astagfirullahaladzim! Ya Allah tolong jaga pandangan hamba dari wanita yang bukan muhrim hamba, jauhkan hamba dari zina mata.." gumam Iqbal mengucapkan istighfar, setelah dia sadar telah menatap Amayra dengan tatapan yang tidak semestinya.


"Kamu bicara apa nak?" tanya Ust. Arifin setengah berbisik pada putranya.


"Iqbal gak apa-apa abi," jawab Iqbal sambil kembali duduk bersila disamping sang ayah yang sedang memimpin acara. Iqbal berusaha menenangkan hatinya yang berdebar.


Amayra dan Satria duduk berdampingan bersama Rey, mengikuti pengajian bersama ibu-ibu yang hadir disana. Harun, Cakra, Bram, Anna dan Nilam duduk disisi yang lain, mereka ikut mengaji juga.


Bukan fokus mengaji, Bram dan Satria malah sama-sama memperhatikan Iqbal yang tadi sempat memperhatikan Amayra. Perasaan kedua pria itu sama-sama resah, melihat tatapan Iqbal pada Amayra.


Setelah selesai mengaji, tibalah mereka pada acara inti dimana cukur rambut bayi akan dimulai. Satria yang menggendong Rey dan melakukan prosesi aqiqah itu. Semua orang disana tampak bahagia karena acara berjalan lancar. Dewi, Lulu, Anna dan Fania membagikan bingkisan pada ibu-ibu disana setelah mereka selesai mengaji dan pulang dari rumah itu.


"Makasih sudah datang ya bu," kata Anna ramah pada tamu yang hadir.


"Makasih doanya ya Bu," ucap Fania yang juga ramah pada tamu yang hadir dan mendoakan baby R.


Sementara itu ust. Arifin dan Iqbal masih berada disana. Mereka mengobrol dengan Cakra, Harun dan Satria sambil duduk di sofa. Tak lupa Cakra berterimakasih pada ust. Arifin karena sudah memimpin acara aqiqah Rey berjalan lancar.


"Terimakasih juga kepada bapak Satria yang sudah mengundang saya. Semoga anak bapak menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua dan agama," doa ust. Arifin untuk Reyndra.


"Aamiin.. terimakasih pak ustad," jawab Satria dan Cakra kompak sambil tersenyum.


Amayra mana sih? Aku ingin menyapanya dan menanyakan keadaannya? Kenapa dia tidak muncul?


"Silahkan diminum dulu pak ustad, jangan buru-buru untuk pulang. Anggap saja rumah sendiri," ucap Cakra ramah pada tamunya itu.

__ADS_1


"Baik pak terimakasih sekali lagi, kebetulan saya tidak ada acara lain," Ust. Arifin mengambil gelas berisi kopi hitam kesukaannya yang berada diatas meja.


Cakra dan Harun juga menikmati kopi untuk menemani tamunya itu. Sementara Satria menatap Iqbal dengan tajam, dia masih mengira-ngira apakah pria didepannya itu adalah Iqbal yang mengirim surat cinta pada istrinya atau bukan?


Aku ingin bertanya, tapi bagaimana jika dia benar-benar pria itu.


"Pak.. maaf.." Iqbal melihat ke arah Satria.


"Ya? Kamu bicara sama saya?" tanya Satria terkejut karena Iqbal menyapanya lebih dulu.


Kenapa dia memanggilku?


"Maafkan saya, daritadi saya lihat bapak terus memperhatikan saya. Mungkinkah ada yang ingin bapak tanyakan pada saya?" tanya Iqbal memberanikan dirinya pada Satria yang daritadi terus melihatnya dengan tatapan aneh dan dahi mengernyit.


"Saya tidak ada yang harus ditanyakan dan saya tidak melihat kamu," jawab Satria dengan suara dingin dan wajah datar.


Siapa yang melihatnya? Aku tidak melihat kamu! Tidak!


Entah kenapa muncul jiwa bersaing dan rasa tidak senang begitu melihat Iqbal, dia curiga kalau Iqbal ini adalah Iqbal yang pernah menaruh hati pada istrinya.


"Oh gitu ya, saya minta maaf sudah bertanya yang tidak-tidak," ucap Iqbal dengan suara rendah menandakan kesopanan didalam sikapnya.


"Oh ya Iqbal, pak Satria ini juga seorang dokter.. mungkin kamu bisa tanya-tanya sama pak Satria tentang kuliah kamu, pak Satria ini adalah lulusan kedokteran terbaik dan paling muda di universitas Harvard," kata Ust. Arifin pada putranya.


"Iya.. kalau boleh tau, pak Iqbal kuliah kedokteran juga?"tanya Satria dengan tatapan tajam.


"Benar pak, saya mengambil dokter spesialis anak," ucap Iqbal sopan.


Entah kenapa aku merasa kalau pak Satria memiliki dendam padaku. Tatapannya itu tajam.


"Kenapa kamu mengambil jurusan kedokteran dan tidak mengikuti jejak pak ustad, jurusannya dokter anak pula?" tanya Satria dengan nada sedikit mengintrogasi.


"Saya suka anak-anak dan cita-cita saya ingin menjadi seorang dokter," jawab Iqbal ramah.


Dia tampan, kelihatannya dia juga pria baik, tapi dia tidak setampan aku. Satria menganalisis pria itu.


"Oh gitu ya, sekarang udah semester berapa? Kelihatannya kamu masih muda, umurmu berapa?" tanya Satria sambil menyedekap tangan di dada.


Iqbal sedikit tercekat mendengar pertanyaan Satria yang seperti sesi wawancara, "Saya kuliah semester 6, usia saya 20 tahun,"


"Usia 20 tahun sudah semester 6? Hebat ya," seringai terlihat di wajah Satria.

__ADS_1


Dia ternyata anak yang pintar juga.. Sial! Kenapa aku marah ya?


"Alhamdulillah pak," jawab Iqbal sederhana.


Anak ini terlihat sederhana dan rendah hati, tapi apakah benar kalau dia pria itu? Bagaimana aku menanyakannya ya? Kalau aku tanya Anna atau Fania, pasti mereka tahu kan?


"Oh ya, apa kamu sudah punya pacar? Atau mungkin sudah menikah?" Satria memberanikan diri keluar dari ranah aman dan menanyakan hal yang berkaitan dengan privasi.


Iqbal tercengang mendengar pertanyaan Satria, "Sa-saya.."


"Anak saya tidak pacaran pak Satria. Dia saja tidak pernah dekat dengan wanita," Ust. Arifin membantu Iqbal yang kesulitan menjawab pertanyaan Satria.


"Oh begitu ya? Padahal pak Iqbal ini sangat tampan dan cerdas, tapi belum ada calon ya? Kalau belum ada calon, mungkin ada seseorang yang pak Iqbal sukai?" Satria melontarkan pertanyaan sambil tersenyum.


Satria, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bertanya seperti ini?


"Ada.. satu orang yang saya sukai sampai sekarang, saya tidak bisa melupakannya," jawab Iqbal jujur.


"Pasti dia wanita yang sangat beruntung ya, bisa dicintai oleh pria baik seperti pak Iqbal," Satria tersenyum pahit.


"Iya dia wanita yang baik, tapi sayang nasibnya tidak begitu baik," ucap Iqbal teringat dengan Amayra hamil diluar nikah, dia sudah menjadi istri orang dan juga sudah punya anak.


"Kalau boleh tau siapa wanita itu?" tanya Satria tajam.


Kenapa pak Satria bertanya seperti ini? Tidak, aku tidak boleh menjawabnya. Batin Iqbal.


Akhirnya tiba juga pada pertanyaan ini, jawaban Iqbal akan membuat rasa penasaran Satria menghilang.


"Eh, kak Iqbal ada disini!" Fania tersenyum memanggil kakak kelasnya itu, seraya menghampirinya. Iqbal menoleh ke arah Fania dan tersenyum tipis, "Assalamualaikum Fania,"


"Waalaikumsalam pak, pak ustad, pak Cakra dan pak Harun.. juga kak Satria," sapa Fania pada semua pria yang sedang duduk di sofa.


Cakra, Harun dan ustadz Arifin menyapa Fania dengan senyuman ramah.


Fania yang menyapa Iqbal, sudah menjadi jawaban jelas untuk Satria, cukup untuk membuat Satria galau.


Jadi dia orangnya? Benar-benar dia? Apa Amayra juga menyukainya?


Satria mengepalkan tangannya dengan kesal, dia tak tau mengapa dia marah dan dia tak paham dengan perasaannya saat ini. "Maaf saya permisi sebentar," ucap Satria yang tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya dengan wajah kesal.


...----****---...

__ADS_1


Hai Readers ku yang baik, budidayakan like dan komen setiap baca ya 🥰🥰😍 biar bantu semangat dan karya author 😘😘❤️


Kalau yang mau up lagi hari ini, cung tangan 👍


__ADS_2