Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 246. Nama si kembar


__ADS_3

Sore itu di hari pertama mereka sebagai suami istri, Anna dan Ken sudah bersiap-siap pergi mengemasi barang mereka.


"Sayang, kamu udah siap?"


"Hem...iya." jawab Anna lesu dan malas.


Ken mendekati Anna kemudian duduk disampingnya. Dia menatap Anna dengan penuh pertanyaan. "Sayang, kamu marah ya?" Ken membelai rambut Anna dengan lembut.


"Hem..." Anna tidak menjawab dengan benar pertanyaan dari Ken, wanita itu cemberut setelah malam pertama mereka.


"Aku minta maaf ya, semalam aku keenakan jadi aku lupa buat pasang-"


Hup!


Anna tidak mengizinkan Ken menyelesaikan ucapannya. Dengan cepat Anna menutup mulut Ken dengan kedua tangannya. "Udah! Jangan dibahas lagi!" Seru Anna yang kemudian melepaskan tangannya dari bibir Ken.


"Jangan dibahas gimana, kamunya masih marah padaku. Tentu saja ini harus dibahas."


"Apa lagi yang mau dibahas? Semalam kan udah terjadi."


"Ya kamu benar Anna, semalam kan udah terjadi jadi kamu jangan marah lagi dong. Aku kan sudah minta maaf, aku gak tenang dengan bulan madu kita... kalau kamu marah sama aku kayak gini." Ken mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada istrinya karena semalam ia lupa memakai pengaman.


"Aku gak marah kok."


"Kamu masih cemberut gitu, artinya kamu masih marah padaku An!" Seru Ken dengan kening berkerut.


"Aku gak marah, aku cuma takut Ken!"


"Takut kamu hamil? Itu maksud kamu kan? Kalau kamu hamil emangnya kenapa sih?" Ken memegang kedua tangan istrinya dengan terheran-heran.


Anna menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berkata pada suaminya. "Kita kan udah sepakat, kalau kita gak akan punya anak dulu setelah kuliah kita selesai dan karir kita cemerlang. Aku takut kalau aku hamil, itu akan membuat masa depan kita tertunda."


Ken tidak menyangka bahwa Anna akan berpikiran sejauh itu tentang masa depan mereka. "An, sejujurnya aku setuju dan tidak setuju dengan pemikiran kamu...disatu sisi aku setuju bahwa kita punya masa depan dsn harus berkarir dulu, tapi aku tidak setuju kalau kamu menolak amanah dari Allah. Ucapan itu aku tidak suka, An...kalau sudah ada amanah itu tentulah kita harus terima dengan senang hati. Kamu lupa apa kata om Bram dan Tante Diana? Jangan menyia-nyiakan rezeki dari Allah kalau sudah datang dan kita tidak boleh menolaknya," jelas Ken yang mengingat ucapan Diana dan Bram di hari pernikahan mereka.


"A-aku paham tapi...kita masih terlalu muda untuk."

__ADS_1


"Kalau kamu hamil, kan ada bapaknya ini...kamu tidak perlu malu,"


Anna terlihat merasa bersalah pada Ken karena telah berkata seolah menolak rezeki. "Ken maafin aku, bukan maksudku untuk menolak...tapi-"


Cup!


Ken mengecup bibir Anna dengan lembut, "Sudah ya, jangan bahas itu untuk sekarang. Aku gak mau bulan madu kita kacau karena hal ini. Untuk sekarang kamu tenang aja, please..."


Anna mengangguk, walau hatinya sedikit resah karena takut hamil di usia muda. Dia tidak mau kuliahnya tertunda dan karirnya akan berakhir saat mengurus anak nantinya. Mereka pun akhirnya pergi ke Korea, tempat bulan madu yang dipilih oleh Anna.


*****


Keesokan harinya, Satria dan Amayra kembali dari rumah sakit setelah keadaan Amayra sudah mulai membaik. Akhirnya Amayra bisa kembali ke rumah untuk segera bertemu anak-anaknya.


Sesampainya di rumah keluarga Calabria, Amayra buru-buru menghampiri kedua bayinya yang berbaring di atas ranjang kembar yang bisa berayun. Satunya berwarna biru dan satunya berwarna pink, Amayra terheran-heran karena ranjang kembar itu bukanlah ranjang yang dibelinya atau di beli oleh Satria.


"May, gimana? Lucu kan ranjangnya?" tanya Nilam pada menantunya itu.


"Iya ma, lucu banget.. makasih ya ma," jawab Amayra seraya berterimakasih pada mamanya. Dia pun mengambil baby Zahwa dan menggendongnya.


"Iya, papa juga cuma belikan baju buat si kembar," ucap Cakra sambil tersenyum dan melihat bayi laki-laki yang belum diberi nama itu.


"Terus siapa yang belikan ranjang ini?" Tanya Satria pada kedua orang tuanya.


"Aku yang belikan dan aku juga belikan lagi untuk si cantik dan si tampan!"


Tiba-tiba saja Bima muncul bersama Jack dan beberapa anak buahnya, mereka mengangkut perabotan, barang-barang bayi dan bahkan banyak mainan bayi. "Hey, kalian simpan semuanya di ruangan anak-anak ya!" ujar Bima pada Jack dan kedua anak buahnya yang lainnya.


"Baik bos Bim!" jawab pria-pria berpakaian hitam dan bertubuh besar itu dengan patuh. Mereka mengangkut barang-barang ke sebuah ruangan kosong di kamar yang biasa Satria dan Amayra tempati.


Satria dan Amayra terperangah melihat barang-barang yang dibawa oleh Bima dan anak buahnya.


"Aduh Bima, mau berapa banyak lagi kamu bawa barang-barang itu? Kamu habis maling apa gimana? Kamar itu sudah penuh!" Kata Nilam sambil tertawa kecil mengingat kelakuan Bima.


"Hehe, biarin dong mama Nilam...ini kan untuk si kembar."

__ADS_1


"Untuk si kembar kak? Tapi kenapa ada mobil-mobilan untuk anak dewasa juga?" tanya Satria keheranan karena ada mobil-mobilan remote yang biasanya dipakai anak usia 3 tahunan juga disana.


"Nah itu untuk baby boy kalian," jawab Bima sambil menatap Satria dan istrinya.


"Tapi kan masih lama dipakainya mas Bima," ucap Amayra sambil tersenyum.


"Masih lama apanya? 3 tahun kemudian udah bisa dipakai kok! Hahahaha..." Bima tertawa, dia terlihat senang memberikan barang-barang untuk keponakan kembarnya itu.


"Itu masih lama kak," Satria tersenyum lebar dengan kelakuan Bima yang sudah membeli barang-barang sampai mainan anak usia 3 tahun untuk kedua anaknya.


Sepertinya kak Bima sayang sama si kembar.


"Haha bentar lagi kok. Oh ya Satria, Amayra? Apa kalian mau lihat kamarnya?" Bima mengajak Satria dan Amayra untuk pergi ke kamar yang sudah di renovasi Bima.


Pasangan suami istri itu berjalan pergi ke kamar yang dituduhkan oleh Bima sambil menggendong anak mereka. Keduanya terpana melihat kamar bayi itu, dihiasi wallpaper pink dan biru. Pink identik dengan wanita dan biru dengan pria.


Kamar itu penuh dengan mainan anak-anak perempuan dan laki-laki yang dibeli Bima. "Woah...kak Bima, banyak banget barang-barangnya." Satria takjub.


"Hehe, untuk keponakanku yang lucu-lucu apa sih yang enggak?" Bima merasa senang bisa memberikan perhatian pada yang namanya keluarga.


"Makasih mas Bima, Zahwa sama-" Amayra menghentikan ucapannya ketika dia teringat kalau bayi laki-lakinya belum di beri nama.


"Oh ya, si ganteng belum dikasih nama ya?" Bima menatap pasangan suami istri itu.


Amayra menoleh ke arah suaminya lalu bertanya."Mas, apa kamu sudah memikirkan namanya?"


"Zayn, Zayn Aqmar Calabria."


Bayi laki-laki itu tersenyum mendengar sang papa memanggilnya. Bima dan Amayra melihat baby Zayn tersenyum di gendongan Satria. "Sepertinya dia setuju mas, Zayn..." Amayra tersenyum lebar.


...*****...


Hai Readers, sambil nunggu up yuk mampir sini 😍😍


__ADS_1


__ADS_2