
Setelah kepergian suaminya, Amayra mengajak kedua bayinya berjemur di depan rumah. Menikmati cahaya ultraviolet pagi hari yang baik untuk kesehatan.
Anna dan Nilam yang ada di rumah, juga ikut berjemur bersama si kembar. Mereka senang karena si kembar masih tinggal di rumah itu.
"Halo, adik-adikku yang gemoy...ish gemes..." Anna mencubit pelan gereget kedua bayi yang tidur di roda bayi itu. "Oh ya Zahwa, Zayn, nanti kalau kalian udah gede...kakak ajakin kalian main, jajan, beli mainan kesukaan kalian. Tapi kalian harus cepat gede ya, biar bisa main sama kakak Anna." Anna mencium pipi Zahwa dengan lembut.
Amayra tersenyum melihat Anna mengajak anak-anaknya bicara. "Iya kakak Anna." sahur Amayra dengan suara kecilnya.
"Haha, aku jadi gak sabar deh lihat Zahwa sama Zayn sudah besar nanti. Mereka pasti tampan dan cantik, menggemaskan juga!"
"Kamu benar An, itu sih tidak diragukan lagi. Amayra dan Satria kan sama-sama tampan dan cantik, tapi yang Oma khawatirkan itu sikap mereka nanti kalau sudah besar." Nilam berucap tentang si kembar.
Kedua wanita itu menatap Nilam penuh pertanyaan. Memangnya ada apa dengan sikap si Kembar?
"Lho emangnya si kembar kenapa Oma?" tanya Anna pada neneknya.
"Gini ya, Zayn...dia kalem orangnya mirip Satria dan kamu May. Sudah besar dia pasti akan menjadi cowok cool, sama seperti papanya tapi lembut seperti kamu. Tapi, Zahwa...dia sangat aktif, berbeda dengan kamu dan Satria. Mama jadi heran menurut dari siapa sikapnya ini ya?"
"Hehe, mama...udah besar pasti sikap mereka akan berbeda kok. Zahwa dan Zayn kan masih bayi, jadi sikapnya belum kelihatan."
"May! Mama mau ingat, kalau Zahwa agak mirip dengan Bram dan Bima!" Tiba-tiba saja Nilam mengaitkan baby Zahwa dengan kedua omnya.
Amayra dan Anna terdiam sambil berpikir, apakah benar Zahwa akan seperti itu kalau sudah besar nanti?
🍀🍀🍀
Sore itu, sepulang dari operasi. Satria tidak langsung pulang ke rumah, dia melaksanakan dulu shalat ashar di mesjid yang ada di dekat rumah sakit sebelum dia pulang ke rumah. Wajahnya tampak lelah, tangannya pegal karena berada lama di ruang operasi.
"Haahhh.. Alhamdulillah bapak itu akhirnya selamat," Satria menghela nafas lega, teringat seorang pria yang baru saja ditolongnya di meja operasi. "Sekarang aku tinggal pulang ke rumah, ke acara syukuran Zahwa dan Zayn....semoga saja si Iqbal itu belum datang!"
Saat Satria tiba di parkiran, dia melihat Diana dan Bram yang hendak naik mobil. "Kak Bram, kak Diana?"
"Eh, Satria....mau pulang juga?" tanya Bram pada adiknya
__ADS_1
"Iya, kak."
"Oke, sampe ketemu di rumah ya." kata Bram sambil naik ke dalam mobil bersama istrinya.
"Ya kak, hati-hati!" Seru Satria pada Diana dan Bram.
Satria naik ke mobilnya juga. Diana dan Bram juga sudah berangkat dari rumah sakit menuju rumah, namun saat berada dalam perjalanan. Dia melihat ada seorang anak laki-laki sedang membawa ibu hamil di atas roda barang dengan susah payah.
"Mas...berhenti Mas!"
"Ada apa Diana?" Tanya Bram pada istrinya yang meminta berhenti tiba-tiba.
"Ada ibu hamil dan anak laki-laki disana, kumohon berhenti dulu!"
"Oke."
Bram menepikan mobilnya di pinggir jalan. Diana buru-buru keluar dari mobil itu dan berjalan menghampiri seorang anak laki-laki yang sedang mendorong ibunya dengan roda.
"Ya Allah nak, apa yang sedang kamu lakukan disini? Ibu kamu kenapa?" Diana melihat keadaan ibu hamil sekitar 5 bulanan itu tidak sadarkan diri diatas roda.
Ya Allah, kasihan sekali anak ini...kakinya sampai terluka demi menolong ibunya. Wajahnya juga banjir keringat, entah seberapa lama dan seberapa jauh dia berjalan sambil membawa ibunya?
"Tenang saja, ibu akan bantu bawa ibu kamu ke rumah sakit ya!" Seru Diana kasihan pada anak itu.
"Jangan ke rumah sakit Bu, saya takut..."
"Takut kenapa nak?" tanya Bram pada anak itu.
"Saya tidak punya uang banyak," jawab anak laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu jangan khawatir ya nak, yang penting kita selamatkan ibu dan adikmu dulu ya!" Kata Bram pada anak itu seraya menenangkannya.
"Terima kasih bapak dan ibu,"
__ADS_1
Bram dan Diana pun kembali ke rumah sakit dengan membawa ibu hamil dan anak laki-laki itu. Sesampainya disana, Diana dengan tangannya sendiri dia sigap menangani si ibu hamil itu. Sementara si anak laki-laki, duduk bersama Bram di luar ruangan UGD.
Anak laki-laki itu terlihat sekitar berusia 6 tahunan, penampilannya lusuh, bajunya juga robek-robek. Bram kasihan melihatnya, dia pun mengobati luka anak laki-laki itu setelah meminta perban dan obat merah pada salah satu suster yang ada disana.
"Bapak, saya tidak apa-apa..." anak laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan Bram yang mengobati luka dikakinya.
"Kamu anak yang sholeh dan baik nak, ibu dan adik kamu pasti akan baik-baik saja! Kamu tenang ya nak," ucap Bram pada anak laki-laki itu seraya menenangkannya.
"Apa benar ibu dan adik saya akan baik-baik saja? Bapak saya membuat ibu saya jatuh dengan keras, bapak juga sering memukul nya, padahal ibu lagi hamil..." anak kecil itu menahan tangis.
"Apa bapak kamu sering begitu? Ya Allah...tega sekali dia!" Bram ikut kesal mendengar cerita anak laki-laki itu.
"Iya, makanya saya suka marah sama bapak...tapi bapak suka pukul saya," ucap anak laki-laki itu pada Bram.
Bram terlihat kesal mendengar ada orang tua yang memukuli anaknya dan tidak sayang pada anaknya. Padahal orang-orang di luar sana ingin punya anak, tapi masih ada orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. "Oh ya nak, siapa nama kamu?"
Aku harus bantu anak ini, agar bapaknya yang jahat itu bersyukur memiliki anak baik seperti dirinya..
"Nama saya Reyndra," jawab Rey sambil menyeka air matanya.
Bram tercekat mendengar nama Reyndra yang terucap dari bibir anak laki-laki itu. "Reyndra? Rey..." Bram tiba-tiba saja teringat sesuatu.
🍀🍀🍀
Di rumah keluarga Calabria, semua orang sudah berkumpul untuk acara syukuran si kembar. Amayra dan Satria juga sudah bersiap untuk menyambut tamu, juga hadir dalam acara itu sebagai tuan rumah.
Satria melihat istrinya sedang bercermin memakai kerudungnya.Setelah si kembar dititipkan dulu pada Nilam dan Anna.
"Tumben May, kamu pakai gros segala? Baju kamu juga rapi banget gak kayak biasanya." Kata Satria sambil menatap tajam ke arah Amayra yang sedang memakai Bros kupu-kupu di kerudungnya.
"Ini kan acara syukuran anak-anak kita dan akan banyak orang yang hadir, jadi aku pakai baju yang pantas untuk acara ini mas..."
"Hem...apa kamu mempercantik diri untuk ditunjukkan pada seseorang?" tanya Satria dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Mas Satria kenapa sih? Dari tadi dia ngomong gj terus. Amayra melihat suaminya dengan bingung.
...****...