Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 114. Sudah rindu saja


__ADS_3

...Sedetikpun aku tak pernah lupakan mu...


...Karena aku terlalu sayang kamu...


...Lihatlah hatiku terluka dan semakin rapuh...


...Karena kamu kini jauh dariku...


...Apakah kau di sana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi.....


...Karena ku tak sanggup lagi aku tersiksa rindu...


...Lihatlah hatiku terluka dan semakin rapuh...


...Karena kamu kini jauh dariku...


...Apakah kau di sana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi...


...Karena ku tak sanggup lagi aku tersiksa rindu.....


...Apakah kau di sana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi yeah...


...Karena ku tak sanggup lagi aku tersiksa rindu...


...Aku merindukanmu...


...Dygta - Tersiksa Rindu...


...🍁🍁🍁...


Amayra tidak kuasa menahan tangisnya ketika sang suami pergi jauh bersama dengan pesawat lepas landas ke benua, negara dan kota lain yang berbeda dengan tanah yang dia pijak.


...Cepat pulang kak, hati-hati di jalan....


Diana menepuk bahu Amayra seraya menenangkannya. Diana dan Bram sudah berjanji pada Satria untuk menjaga Amayra dan Rey, mereka akan menjadi kakak untuk Amayra dan juga orang tua kedua untuk Rey.


Pasti berat untuk Amayra saat ini, dia harus ditinggal oleh Satria.


"May, sini aku gendong Rey!" Bram merentangkan kedua tangannya, dia meminta Rey dari Amayra.


"Iya kak," jawab Amayra sambil menyerahkan anaknya pada Bram.


Bram menggendong Rey dengan penuh kasih sayang, menatap anak itu layaknya ayah yang sayang pada anaknya.


"Ayo kita pulang nak, tenang saja.. Satria pasti akan kembali dengan selamat dan baik-baik saja," ucap Harun seraya menenangkan anaknya itu.


"Iya ayah," jawab Amayra singkat.


Aamiin.. Amayra ayo semangat, kamu dan kak Satria masih berada didalam dunia yang sama, kami masih menapaki tanah yang sama. Hanya tempat saja yang berbeda, semua akan indah pada waktunya. Bismillah ya Allah.


Amayra dan Diana berjalan bersama, sementara Bram, Rey dan Harun berjalan di belakang mereka. Mereka melihat Amayra yang terlihat galau, jalannya pun menjadi gontai. Beruntunglah ada Diana yang menyemangatinya.


Hati siapa yang akan sedih ditinggal sang suami pergi jauh, didalam keadaan bahaya dinegeri yang jauh disana. Tidak tahu mereka bisa sering berkomunikasi atau tidak, seberapa besar rindu mereka satu sama lain ketika tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama yaitu dua bulan.


Jika aku jadi Amayra dan mas Bram pergi jauh dariku. Aku pasti akan galau sama seperti dia. Aku harus menghibur Mayra. batin Diana sambil melihat Amayra yang tertunduk lesu.


"Mas, kita makan siang dulu ya?" tanya Diana pada Bram yang berada dibelakang.


"Iya boleh, di restoran dekat sini saja." Bram menjawab sambil tersenyum.


Diana dan Amayra berjalan lebih dulu ke arah mobil. Sementara Bram, Rey dan Harun masih berada dibelakang. Mereka sedikit mengobrol tentang Satria dan Amayra.


"Bapak tenang saja, saya dan Diana akan menjaga Amayra dan juga Rey. Mereka adalah tanggungjawab kami sebagai keluarga," ucap Bram bijaksana.


"Iya terimakasih ya. Saya percaya pada kamu dan dokter Diana,"


Deg!


Ya Allah kenapa kepalaku.. kumohon jangan sekarang, nanti Amayra dan yang lainnya bisa curiga


Harun tiba-tiba diam membeku ditempatnya, dia merasa jantungnya berdegup kencang dan kepalanya berdenyut-denyut.


"Pak Harun? Apa bapak baik-baik saja?" tanya Bram pada pria paruh baya itu yang tiba-tiba saja diam.

__ADS_1


"Sa-saya tidak apa-apa," jawab Harun gugup.


"Wajah bapak terlihat pucat, bapak kenapa pak?" tanya Bram cemas melihat wajah Harun yang pucat.


"Saya tidak apa-apa pak Bram, hanya saja sedikit kurang tidur dan lelah bekerja," ucap Harun sambil tersenyum tipis.


"Oh begitu, baiklah.. setelah makan siang, saya akan antar bapak pulang supaya bapak bisa beristirahat," kata Bram perhatian pada ayah mertua adiknya itu.


"Iya, terimakasih nak Bram."


Ya Allah aku harus bagaimana? Jika aku memberitahu kondisi ku sekarang, apakah tidak akan menjadi beban untuk Mayra yang baru saja ditinggal pergi oleh Satria? Tidak, lebih baik jangan diberitahukan.


Mereka masuk ke dalam mobil menuju ke restoran untuk makan siang. Mereka makan siang bersama disebuah restoran, setelah itu Amayra dan Rey diantar ke rumah besar Calabria.


Rasanya sepi karena dia tidak pergi bersama suaminya ke rumah itu. Walaupun dia ditemani oleh kakak iparnya. "Assalamualaikum ma," ucap Amayra pada Nilam sambil mengambil tangan wanita paruh baya itu dan menciumnya.


"Waalaikumsalam. Udah ayo masuk, istirahat dulu.. kamu pasti lelah," ucap Nilam pada menantunya itu. Sikapnya sudah menjadi lebih baik pada Amayra walau sedikit ketus, itu karena pengaruh dari Diana.


"Iya ma," jawab Amayra lesu.


"Sini, berikan Rey padaku. Kamu istirahat dan shalat Zuhur dulu," ucap Nilam perhatian.


"Baik ma, May titip Rey sebentar ya." kata Amayra pada Nilam.


Nilam menggendong cucunya dengan penuh kasih sayang. Sementara Amayra pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, karena dia belum shalat Zuhur.


Bram beranjak dari tempat duduknya, dia juga akan melaksanakan shalat Zuhur. "Tunggu dulu Bram! Mama mau bicara sama kamu sebentar.."


"Ya, ma?" Bram kembali duduk di sofa dan menatap mamanya.


"Apa kalian sudah menentukan tanggal pernikahan?" tanya Nilam tiba-tiba.


Bram terlihat bingung setelah mendengar ucapan Nilam. "Tanggal pernikahan siapa ma?"


"Tentu saja kamu dan Diana, memangnya siapa lagi?" kata Nilam ketus.


Pria itu tersenyum dengan hati berdebar, apa maksudnya Nilam menanyakan tentang tanggal pernikahan? Apa Nilam sudah menerima Diana sepenuhnya?


"Kamu jangan gr dulu Bram, mama tanya seperti ini karena mama harus punya rencana untuk pernikahan kamu nanti. Mama mau semua orang tau tentang pernikahan kamu yang sekarang, jadi pestanya harus mewah. Tapi ini bukan berarti mama menerima Diana menjadi menantu mama sepenuhnya,"


"Ma.. " Bram terpana dengan ucapan Nilam yang seperti janur kuning untuk dia secepatnya menikah dengan Diana.


"Mama hanya takut kamu tambah tua, kamu harus berkeluarga biar ada yang mengurus kamu! Hanya karena itu, bukan karena Diana!"


Bram mendekati Nilam, dia memeluk Nilam yang sedang menggendong Rey dengan senyuman bahagia. Pertama kalinya Bram merasa bangga pada Nilam, dibalik sikap cueknya itu ternyata Nilam sangat memikirkan kebahagiaan Bram.


"Jadi kamu baru tau sekarang? Dari dulu mama emang paling sayang sama kamu tau!" keluh Nilam setengah menggerutu. Dia tersenyum tipis melihat Bram bahagia. Senyuman yang jarang dia tunjukkan.


"Makasih banyak Ma, aku juga sayang mama.." Bram mencium pipi mamanya dengan gemas seperti anak kecil.


Nilam jadi teringat masa kecil Bram, saat Bram masih bersikap manja kepadanya. Nilam baru menyadari bahwa kebahagiaan itu sederhana dengan melihat orang yang kita sayangi bahagia. Dan hal inilah yang pernah Amayra katakan padanya.


"Iya Bram, jadi kamu dan Diana jangan kecewakan mama ya! Kita harus segera tentukan tanggal baik untuk pernikahan kalian,"


"Tanggal pernikahan? Gak tunangan dulu ma?" tanya Bram sambil melepaskan pelukannya dari Nilam.


"Iya tanggal pernikahan, tidak usah pake tunangan dulu." Ucap Nilam pada anaknya.


"Tapi ma, Diana mau tunangan dulu. Dia belum mau langsung nikah."


"Apa alasannya dia begitu?" tanya Nilam tercekat.


"Gak ada alasan apa-apa sih,"


"Kalau gitu ayo. Bulan depan saja kalian menikah!" Seru Nilam tegas.


Bram terperangah, dia sangat bahagia karena Nilam yang hatinya beku kini sudah mulai mencair. Dia tidak sabar ingin memberitahukan kepada Diana tentang kabar baik ini.


...*****...


Malam itu Amayra dan Rey sedang bermain di kamar. Rey belum tidur, padahal biasanya Rey sudah tidur jam 8. Anak berusia 3 bulan itu malah asyik bermain, bercanda gurau dengan mamanya di tengah malam yang sunyi saat semua orang sudah tertidur.


"Sayang, kamu kangen papa ya? Biasanya kamu belum tidur kalau papa belum pulang. Papa akan pulang kok tapi nanti, jadi kamu bobo aja dulu ya sayang,"


"Haoo..haaaoo.." Rey mengoceh, tangannya kesana kemari.


Amayra memberikan mainan kecil untuk Rey pegang. "Mama juga kangen papa, sama seperti Rey. Kita do'akan papa semoga papa selalu baik-baik saja ya. Ayo ikuti mama berdoa untuk papa ya,"


Amayra tersenyum, dia mengangkat kedua telapak tangannya. "Bismillahirrahmanirrahim, Allohumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa waatwi ‘annaa bu’dahu. Allohumma antashookhibu fiissafari walkholiifatu fiil ahli.. yang artinya : Ya Allah, mudahkanlah kami berpergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam berpergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga."


Setelah selesai berdoa, Amayra mengucapkan kata Aamiin, kemudian dia melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari, dia memperkirakan waktu sampai Satria ke Afrika daerah Mozambik yang terkena musibah badai Idai itu.


Waktu sampai Satria dari Jakarta ke Afrika, berkisar sekitar 20 jam lebih. Sedangkan waktu sekarang baru 14 jam, pasti Satria belum sampai ditempat tujuannya.


Baru saja beberapa jam terpisah, Amayra sudah merasakan rindu menggebu didalam relung hatinya. Dia yang sudah terbiasa ada Satria, merasa kehilangan dan sepi.

__ADS_1


"Belum sehari saja aku sudah rindu pada kakak, apakabar dengan dua bulan? Ya Allah semoga dua bulan itu cepat berlalu," ucap Amayra berdoa semoga waktu cepat berlalu.


Tok, tok, tok


Amayra menengok ke arah pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Kak Bram?" Dia melihat kakak iparnya berdiri didepan pintu kamar.


"Aku habis dari dapur dan aku mendengar suara Rey, aku pikir aku berhalusinasi. Ternyata dia belum tidur. Atau dia terbangun?" tanya Bram yang masih berdiri didepan pintu. Dia mulai membatasi diri untuk masuk ke dalam kamar itu, apalagi tidak ada Satria disana.


"Rey memang belum tidur, ini mau aku gendong dulu supaya dia tidur," ucap Amayra sambil menggendong Rey.


"Biar aku saja yang gendong, berikan Rey padaku." Kata Bram pada Amayra.


Kasihan Amayra, dia kelihatan lelah.


"Tidak perlu kak, kakak tidur saja. Bentar lagi Rey tidur kok,"


"Biar aku saja. Aku hanya akan menggendongnya sampai dia tidur saja," ucap Bram meminta lagi Rey pada Amayra.


Amayra menggendong Rey sampai ke depan pintu. Dia memberikan Rey pada Bram untuk digendongnya. Rey terlihat resah, matanya masih terbuka lebar belum menunjukkan tanda-tanda bayi mungil itu akan tidur.


Akhirnya Bram dan Amayra membawa Rey ke ruang tengah. "Sepertinya dia sedang resah, apa dia memang suka bangun jam segini?"


"Biasanya Rey akan tidur kalau kak Satria sudah pulang," jelas Amayra sedih.


"Jadi dia belum tidur karena menunggu papanya pulang...haahh.. sayangku, jagoan papa Bram. Jangan khawatir ya, kan ada papa Bram juga disini.. papa Bram akan temani Rey main dan jaga Rey," ucap Bram pada Rey yang masih belum tidur.


"Haaao....haooo.." Rey merespon ucapan Bram kepadanya. Mata polosnya menatap Bram.


"May, kamu tidur saja. Biar aku yang jaga Rey,"


"Eh kenapa begitu? Biar aku saja yang jaga Rey, kakak yang tidur."


"Besok hari Minggu dan aku ingin tidur bersama Rey, kamu tidurlah. Tapi sebelum itu, bawakan dulu susu formula, popok dan air hangat di termos untuk Rey ke kamarku,"


Dengan perhatian Bram berbagi tugas bersama Amayra untuk menjaga Rey. Malam itu dia menjaga Rey, sementara Amayra berada di dalam kamarnya.


Keesokan harinya, Amayra dan Nilam pergi ke kamar Bram untuk melihat Rey. Bram masih tertidur pulas karena dia kurang tidur, Nilam mengambil Rey yang sudah bangun terbaring disampingnya.


"Dasar Bram, katanya mau jaga Rey? Tapi dia malah tidur," gumam Nilam menggeleng-geleng melihat Bram masih tidur pulas.


"Hehe, udah ma gak apa-apa." Amayra hanya tersenyum.


Nilam dan Amayra bahu membahu menjaga Rey, kini sikap Nilam juga sudah menjadi lebih baik walau kadang perkataannya ketus. Setelah Rey selesai dimandikan dan menyusu pada ibunya, Nilam menggendong Rey dan membawanya berjemur di depan rumah bersama Amayra juga.


Saat mereka sedang berjemur dibawah terik matahari pagi, Lulu datang menghampiri Amayra dan Nilam.


"Non, non Amayra!"


"Ada apa bi?" tanya Amayra keheranan melihat Lulu berlari terburu-buru ke arahnya.


"Ada telpon, ada telpon dari tuan Satria ke telpon rumah!" kata Lulu menjelaskan dengan cepat.


Bahagianya hati Amayra mendengar berita dari Lulu, bahwa suaminya menghubunginya. Dia segera beranjak dari tempat duduknya.


Apa kak Satria sudah sampai disana? Alhamdulillah ya Allah, kak Satria baik-baik saja.


"Ma.." Amayra melirik ke arah Nilam yang sedang duduk menggendong Rey.


"Ya sudah kamu pergi saja angkat telpon dari suamimu, cepatlah! Mungkin suamimu tidak bisa menelponmu lama-lama dari sana," kata Nilam pada menantunya.


Amayra buru-buru masuk ke dalam rumah, dia mengangkat gagang telpon rumah dengan wajah sumringah. "Assalamualaikum kak, selamat pagi.." suara Amayra sedikit gemetar karena dia berdebar.


["Waalaikumsalam sayang, disini masih tengah malam,"]


"Oh jadi disana masih tengah malam. Kak, apa kakak sudah sampai disana? Kakak sudah makan? Apa kakak baik-baik saja? Apa tidur kakak nyenyak?" Amayra menyerobot Satria dengan beragam pertanyaan.


["Sayang, tanyanya satu-satu.."]


"Maaf kak,"


["Haahh.. mendengar suara kamu.. aku jadi tenang, tapi aku juga resah May. Aku sudah rindu saja sama kamu,"] suara Satria mendesah.


"Aku juga kak," ucap Amayra dengan suara lembut.


["Kamu tenang saja, aku gak apa-apa. Aku baru saja sampai dan aku baru mau makan. Kamu dan Rey lagi apa?"]


"Alhamdulillah kalau kakak sudah sampai dengan selamat. Aku dan Rey sedang berjemur, Rey sekarang sedang bersama mama Nilam diluar rumah."


["Oh gitu ya? Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Sampaikan salam rindu peluk cium dariku untuk Rey. Kamu jaga kesehatan, jangan lupa belajar untuk kuliah, jangan lupa makan, shalat, jaga anak kita baik-baik. Mungkin aku tidak bisa sering menghubungi kamu, jika aku belum bisa menghubungi kamu.. itu artinya sinyal disini sangat buruk,"]


Amayra terdiam mendengar ucapan suaminya. Dia menunduk sedih.


...----****----...

__ADS_1


Hai Readers! Selamat berbuka puasa untuk yang menjalankan 😍


Terimakasih yang sudah setia menunggu 😍 makasih vote dan gift kalian ya 🥰


__ADS_2