
...πππ...
Beberapa kali alat defribrilator itu digunakan untuk mengembalikan detak jantung wanita yang baru saja melahirkan bayinya secara sesar itu. Tapi tetap tidak respon dari Amayra, dokter dan suster itu tidak menyerah begitu saja.
"Bismillah! 1...2...3... !" Diana kembali meletakkan alat itu pada tubuh Amayra.
Tangisan sang bayi masih memenuhi ruangan bersalin itu. Bayi itu menangis keras di dalam gendongan Satria.
Owaaa... Owaaaa!!
Ya Allah.. tolong selamatkan istri hamba, ya Allah hamba mohon padaMu.
Bunyi mesin medis itu masih tetap sama, wajah Diana sudah berkeringat. Dia mencoba sekali lagi untuk menyelamatkan Amayra, tak lupa dia mengucapkan lafadz bismilah.
"May, kamu dengar aku kan? Anak kita masih hidup. Kesayangan kita baik-baik saja, kamu dengar tangisannya kan? May.. bangunlah," bisik Satria pada sang istri yang sedang berjuang hidup dan mati di ranjang pasien.
Sementara itu Harun yang berada di luar ruangan, terkejut mendengar suara bayi menangis dari dalam ruang persalinan anaknya.
"A-Apa aku tidak salah dengar? Aku mendengar suara tangisan bayi dari ruangan bersalin Amayra. Tidak mungkin, tapi-"
Owaaaa.. owaaaa..
Harun merasa suara bayi itu hanya ilusinya saja, akan tetapi suara bayi terdengar lagi lebih kencang dari sebelumnya. Dia yakin kalau dia tidak salah dengar, ada suara bayi di dalam ruangan itu.
Setelah 10 menit berjuang dalam keadaan hidup dan mati, Amayra kembali dalam kondisi yang mulai stabil. Detak jantungnya kembali, ketika tangan bayi mungil itu menggenggamnya.
"Alhamdulillah, Diana terimakasih," ucap Satria pada temannya itu.
"Tidak Satria, jangan berterimakasih padaku. Berterimakasih lah pada Allah yang sudah mengabulkan doa mu. Sekarang aku percaya kekuatan doa memang dahsyat dari apapun di dunia ini," Diana tersenyum sambil memasangkan selang oksigen pada mulut Amayra dan selang infus.
Seperti yang dikatakan di dalam salah satu ayat suci Al-Quran tentang kekuatan doa, βBerdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.β (QS. Al-Mu'min: 60).
Kini Diana melihat betapa dahsyatnya doa Satria untuk istrinya. Betapa sayang dan cintanya Satria kepada wanita baik, sholehah, berhijab itu. Sehingga Allah masih memberikan dia waktu untuk melihat sang istri lebih lama lagi. Sungguh, apa yang terjadi selama beberapa jam di dalam ruang operasi adalah sebuah Keajaiban dan tidak pernah ditemui Diana di dalam hidupnya. Kekuatan doa dan cinta telah membuat Amayra juga bayinya dalam keadaan hidup setelah mengalami kecelakaan yang mungkin merenggut nyawa mereka.
Satria lega melihat istrinya sudah membaik, tapi masih belum sadarkan diri. Namun sekarang yang menjadi kekhawatiran Satria adalah bayi yang baru lahir itu, dia tiba-tiba diam dan tubuhnya dingin. Akhirnya salah satu suster disana membawa si bayi ke ruang inkubator. Dan bayi mungil yang lahir prematur itu terpaksa harus masuk ruang NICU.
Alasan dan sebab kenapa bayi itu harus masuk NICU? Dijelaskan oleh Diana pada Satria. Bayi lahir prematur, yaitu sebelum memasuki minggu ke-37, bayi mengalami masalah saat persalinan berlangsung, bayi lahir dengan berat badan rendah, yaitu kurang dari 2500 gram. Seperti yang dikatakan Diana, bahwa bayi Amayra mengalami gejala gejala itu.
Harun, Nilam dan Cakra terlihat bahagia karena cucu mereka selamat. Walaupun keadaan cucu nya kurang baik. "Alhamdulillah pa, cucu kita selamat!" Nilam melihat cucunya dari balik jendela. Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi nenek untuk kedua kalinya.
"Papa ingin sekali menggendongnya ma, lihatlah dia ma! Dia sangat kecil," ucap Cakra sambil melihat sang cucu yang tertidur di ruang inkubator.
"Cucuku, anaknya Amayra.. kamu sehat-sehat ya cucuku," Harun melihat bayi itu dengan bercucuran air mata, dia tak percaya bahwa anaknya yang belum menginjak usia 18 tahun sudah melahirkan seorang bayi dan membuatnya menjadi seorang kakek.
****
Di ruangan lain, Bram terlihat baru saja siuman. Dia melihat langit-langit berwarna putih, ruangan yang bersih, membuatnya yakin kalau dia sedang berada di salah satu ruangan rumah sakit. Seorang suster datang untuk mengecek keadaannya.
"Bapak sudah sadar?" tanya Suster itu pada Bram.
Tubuhnya lemas, kepalanya masih berdenyut-denyut. "Amayra..dimana dia.. dimana anakku?" Bram berusaha bangkit dari tempat tidurnya, pikiran dan hatinya berkubang pada ibu dari bayinya dan anak di dalam perutnya.
"Pak Bramastya, keadaan anda masih belum stabil. Sebaiknya anda beristirahat dulu," ucap suster itu mengingatkan Bram untuk beristirahat.
Bram masih mencoba bangkit, dia melepaskan selang infusnya. Tangannya sampai berdarah, sekuat tenaga dia mencoba beranjak dari ranjang itu. Bahkan suster pun tak bisa menghentikan Bram dan keras kepalanya. Dia berjalan terhuyung-huyung menuju ke ruangan bersalin Amayra.
Namun, sebelum dia sampai di ruang bersalin. Dia melewati ruang NICU, tempat bayi-bayi yang di inkubator. Disana Bram melihat Cakra, Nilam dan Harun sedang melihat seorang bayi dari luar kaca jendela.
"Bram? Kamwu sudah siuman, nak?" tanya Nilam terkejut melihat Bram sudah berdiri di sampingnya. Wajah Bram pucat pasi, tubuhnya gemetar, pria itu berjalan terhuyung-huyung menghampiri mama dan papa nya.
__ADS_1
"Bram, kamu masih sakit nak!" Cakra menghampiri Bram dan memapah anaknya.
"Pa, Amayra dan bayinya bagaimana? Apa mereka-" Bram tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, dia sangat lemas dan tidak bertenaga.
"Bram, Amayra dan bayinya selamat!" Cakra menjawab pertanyaan Bram.
Pria itu terpana mendengar jawaban sang papa, dia tak percaya bahwa kedua orang itu selamat. Bram bertanya lagi pada ayahnya, apa benar jika Amayra dan anaknya selamat? Lalu bagaimana keadaan Amayra dan bayi itu?
Cakra meminta Bram melihatnya sendiri, Cakra menoleh ke ruangan bayi. Dengan kaki dan bibir yang gemetar, Bram melihat bayi-bayi itu melalui kaca jendela.
"Yang mana bayi ku, pa?" tanya Bram pada papa nya.
"Barisan kedua dari sini," jawab Cakra sambil tersenyum haru.
Bram menoleh ke arah si bayi, dia melihat bayi mungil yang tertidur. Bayi yang kecil dan lucu, kulitnya putih dan bersih, bayi itu berada di dalam ruang inkubator.
"Ba..yiku.." Tangan Bram menyentuh jendela kaca itu, tanpa ia sadari air mata berlinang membasahi seluruh wajahnya. Hatinya bahagia bisa melihat bayi itu lahir ke dunia. Bayi yang dulu tidak dia inginkan.
Jadi ini rasanya menjadi seorang ayah? Hatiku berdebar-debar melihat bayi mungil itu. Anakku, dia anakku.
Bram tersenyum sambil menangis haru, dia ingin sekali menyentuh bayi itu dan menggendongnya. Tapi apakah dia pantas melakukannya setelah semua yang dia lakukan pada Amayra?
Disisi lain, Harun masih menatapnya dengan tatapan tajam dan tidak suka. Tatapan yang sebelumnya dia tujukan pada Satria, kini dia tujukan untuk Bram, orang yang tepat untuk mendapatkan tatapan tajam itu. Bram merasakan tatapan Harun padanya, dia menghampiri kakek dari anaknya.
"Mau apa kamu?"
Belum sempat mendekat, Bram sudah mendapat pertanyaan yang ketus dari Harun.
"Pak, saya-"
"Saya ingin bicara lebih dulu. Pak Bram, terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan anak dan cucu saya. Saya sudah dengar dari polisi tentang kejadiannya, tapi saya bingung kenapa anda bisa tau kalau kecelakaan itu akan terjadi?" Harun mulai mempermasalahkan tentang Bram yang sepertinya sudah tau kalau kecelakaan itu akan terjadi.
"Benar semua penderitaan anak dan cucu saya disebabkan oleh anda. Jadi bisakah kamu menjauh dari mereka?"
Bram tercekat mendengar ucapan Harun yang menyakiti hatinya. Lidah tak bertulang itu membuat Bram tidak berdaya. Dia seperti tersayat sayat, seakan hatinya hancur.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa menjauhi mereka. Saya adalah ayah dari bayi itu, saya ingin dekat dengannya!" Dia menolak permintaan Harun untuk menjauhi Amayra dan anaknya.
"Bram, hentikan! Kamu tidak boleh bicara dengan nada keras seperti itu pada pak Harun!" Cakra membentak anaknya.
"Saya tidak bisa pak, jangan minta saya menjauhi mereka yang saya cintai!"
"Cinta? Apa maksud kamu mereka itu adalah anak dan cucu saya? Kamu mencintai mereka?!" Harun tersenyum sinis mendengar ucapan Bram tentang cinta.
Pasalnya, mengapa Bram meninggalkan Amayra sendirian dulu bersama anaknya. Dan dia bilang dia mencintai Amayra juga cucunya?Harun sangat tidak percaya dengan ucapan Bram, pria tidak bertanggungjawab yang sudah membuat masa depan putrinya hancur. Tidak cukup disitu, Bram juga meninggalkan Amayra seorang diri menanggung malu. Harun masih sakit hati karena sikap Bram, betapa Amayra dulu kesulitan seorang diri harus menanggung beban dan menikah dengan Satria, pria yang bahkan sebelumnya tidak ada hubungan apa-apa dengan Amayra dan bayi itu.
Harun tidak terima dan tetap melarang Bram mendekati Amayra juga anaknya. Dia juga tidak mau Bram mengaku-ngaku sebagai ayah si bayi. Menantu dan ayah bayi itu hanya Satria baginya.
Cakra dan Nilam tak berkomentar, jika mereka menjadi orang tua Amayra. Mereka juga akan melakukan hal yang sama, yaitu membenci Bram dan semua tindakannya yang tidak bertanggungjawab dimasa lalu.
Setelah melihat keadaan bayi itu, Cakra membawa istrinya untuk pulang dan beristirahat lebih dulu karena hari sudah sangat larut. Dia juga meminta Bram untuk melakukan pemeriksaan karena keadaan Bram belum membaik. Tapi Bram menolaknya dan terus berdiri di depan ruang NICU.
"Bram, kamu harus diperiksa dulu. Keadaan kamu tidak stabil," ucap Cakra membujuk.
"Iya Bram, dengarkan apa kata dokter. Lakukan pemeriksaan dan beristirahatlah," ucap Nilam pada Bram yang wajahnya sangat pucat.
"Aku mau disini aja ma..pa..," lirih Bram dengan suara yang lemas. Bram masih teringat ucapan pak Harun beberapa waktu yang lalu. Bram masih memandangi bayi di ruang NICU itu.
Bayiku, ini bayiku. Aku ayahnya, bukan Satria..bukan Satria!
__ADS_1
"Pak Bram, mohon maaf tapi anda harus segera kembali ke ruangan anda dan melakukan pemeriksaan," seorang suster datang menghampiri Bram dan memintanya untuk melakukan pemeriksaan.
Dengan bujukan kedua orang tuanya, akhirnya Bram setuju untuk diperiksa oleh dokter dan suster.
...πππ...
Keesokan harinya, Amayra sudah siuman. Dia membuka matanya perlahan-lahan, dia melihat sang suami tertidur di kursi dengan posisi duduk.
Aku pasti berada di rumah sakit?
Amayra mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Ingatannya hanya sampai dia melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Dengan lemah dia mencoba meraih wajah Satria. Tangan pucat itu membelai pipi sang suami dengan lembut dan gerakan yang sangat pelan.
Satria langsung terbangun ketika tangan dingin itu membelai pipinya. "Alhamdulillah, May! Kamu udah sadar? Aku akan panggil dokter Diana!" Satria tersenyum lega melihat istrinya sudah sadarkan diri setelah seharian penuh dalam keadaan tidur.
Satria berlari keluar ruangan itu untuk memanggil dokter. Amayra sendiri tidak bisa banyak bicara karena dia masih lemah, bahkan untuk bergerak juga sangat sulit. Tubuhnya sakit, terutama bagian perut. Ngomong-ngomong soal perut, Amayra terkejut karena perutnya sudah kembali datar.
"Bayiku? Bayiku mana?" Amayra meraba-raba perutnya yang datar dengan wajah panik. Dia bahkan mencoba beranjak duduk.
Diana dan Satria datang, mereka segera menghentikan Amayra untuk bergerak karena bekas jahitan operasinya belum kering. Dengan histeris Amayra menanyakan bayinya pada Satria, "Bayiku.. mana bayiku kak? Bayiku mana?!"
Diana sibuk mengecek kondisi Amayra, dengan menggunakan stetoskop itu dia menyentuh tubuh Amayra.
"May kamu tenang ya, kamu sudah melahirkan dan bayi kita baik-baik saja. Bayi kita berada di ruang NICU, karena dia lahir prematur," jelas Satria singkat dan padat. Dia berusaha menenangkan istrinya.
"Jadi, aku sudah melahirkan?" tanya Amayra lemas.
"Iya May, sudah. Bayi kita laki-laki, dia sangat tampan," Satria terdengar pada sang istri.
"Alhamdulilah, aku ingin melihatnya kak," pinta Amayra sambil tersenyum lebar.
"Nanti ya, keadaan kamu masih belum pulih. Kamu harus banyak istirahat. Tapi kamu hebat lho, kamu masih bisa bertahan sampai saat ini. Kemarin kamu sudah berada di ambang hidup dan mati. Satria sangat mengkhawatirkan kamu, jadi kamu jangan bergerak dan beristirahat dulu ya," jelas Diana pada Amayra dengan senyuman hangat diwajahnya.
"Ba-ik dok," jawab Amayra dengan suara terbata-bata.
"Kamu istirahat dulu ya May, nanti kalau keadaan kamu sudah lebih baik, aku akan membawamu melihat jagoan kecil kita," Satria mengelus kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.
Terimakasih ya Allah, terimakasih. Sungguh semua ini di luar harapan ku, keduanya selamat berkat kehendakMu.
"Iya kak," jawab Amayra lembut, sebenarnya dia tak sabar ingin bertemu dengan bayinya. Tapi dia tidak membantah suami dan dokter yang merawatnya. Amayra juga menyadari kalau tubuhnya masih terasa sakit dimana-mana.
"Satria kamu juga harus beristirahat lagi, kamu baru saja tidur kan? Tidurlah lagi," ucap Diana pada temannya yang memilik kantong mata tebal itu.
"Ah gak apa-apa kok, udah ini aku akan mengecek keadaan anakku di ruang NICU," ucap Satria.
"Kakak.. istirahatlah," ucap wanita yang berbaring di ranjang itu dengan suara lemah. Dia melihat kantung mata Satria yang tebal, "Kakak, aku senang kakak baik-baik saja. Terimakasih sudah menyelamatkan aku dan bayi kita," Amayra sangat bersyukur kedua orang yang dia cintai baik-baik saja.
Jika Amayra tau kalau orang yang paling berjasa menyelamatkan kami adalah kak Bram. Apa yang akan dia katakan? Apa dia akan berterimakasih pada kak Bram? apa sikapnya akan berubah pada kak Bram? Tidak Satria, ini bukan waktunya kamu untuk cemburu.
Selagi Diana memeriksa kondisi Amayra, Satria pergi ke ruangan bayi. Dia melihat Bram yang masih dengan pakaian pasien, berada di dalam ruangan itu bersama Clara. Wajah Bram terlihat bahagia melihat bayi mungil itu.
"Kak Satria!" Clara menyapa Satria dengan ramah, namun Satria mengacuhkannya seperti biasa.
"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Satria yang tidak senang melihat Bram berada disana.
"Apa kamu gak lihat? Aku sedang melihat anakku," jawab Bram yang tidak mengalihkan pandangannya dari bayi itu.
...---***---...
Hai Readers ku yang baik hati ππ₯° berhubung ini hari Senin, kalau boleh author minta vote atau gift nya dong π biar tambah asupan Semangat!
__ADS_1