
...🍁🍁🍁...
Setelah menghabiskan waktu bersama hampir seharian, Satria dan keluarga kecilnya kembali pulang ke rumah. Satria harus pergi ke rumah sakit untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang tenaga medis.
Amayra sangat bahagia karena Satria sangat memanjakan dirinya. Hari itu dia seperti dilayani bukan melayani suaminya. Satria memijat mijat tubuh sang istri. Memasak, membantu menjaga Rey. Walau hanya sebentar, Amayra merasa terbantu oleh suaminya.
"Kak, kakak mau makan malam di rumah?" tanya Amayra sambil merapikan dasi suaminya.
"Sepertinya kalau kemalaman aku akan makan malam di rumah sakit. Jadi, kamu makan malam dan tidur saja duluan."
Amayra mengangguk pelan, "Kak?"
"Ya?" sahut Satria sambil melingkari tubuh istrinya dengan kedua tangan.
"Boleh gak besok aku menginap di rumah ayah sama Rey juga?"
"Kenapa? Ada apa sama ayah?" tanya Satria cemas, mengira ada apa-apa dengan ayah mertuanya itu.
"Ayah gak apa-apa kok, aku cuma sudah lama saja tidak pergi ke rumah ayah," jawab wanita itu dengan kepala tertunduk.
Satria mengangkat dagu istrinya, "Sayang ada apa?"
"Aku gak apa-apa," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Kebiasaan deh, suka bilang gak apa-apa kalau ada apa-apa. Kenapa kamu mau ke rumah ayah? Apa ada yang kamu khawatirkan?"
"Sebenarnya semalam aku-" ucapnya tertahan disitu.
Ah tidak, mimpi buruk itu tidak boleh diceritakan. Kalau diceritakan, katanya akan terjadi! Astagfirullahaladzim.
Amayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan mimpi semalam?" pria itu menebak.
"Mimpi? Memangnya aku bermimpi apa kak? Kakak tau apa yang aku mimpikan?" Amayra menatap pada suaminya.
"Semalam kamu mengigau tentang ayah," jawab Satria dengan wajah khawatir terlihat pada dirinya.
Apa aku bilang saja ya pada Amayra kalau ada yang aneh dengan ayah Harun? Tapi kalau aku bicara sekarang, bukankah Amayra akan panik? Dia kan selalu panik duluan.
"Ah iya, tapi kakak jangan tanya aku apa mimpinya. Pamali, mimpi buruk gak boleh diceritakan pada siapapun." Amayra menyodorkan tas hitam milik suaminya.
"Aku gak akan tanya," ucap Satria sambil mengambil tas berbentuk persegi berwarna hitam itu dari tangan sang istri.
"Jadi...bolehkah aku menginap di rumah ayah?" tanya Amayra meminta izin suaminya.
__ADS_1
"Boleh, tapi kenapa sama Rey aja? Kamu gak ngajak aku?"
"Kakak kan ada tugas jaga malam di rumah sakit, kakak lupa ya?" Amayra mengingatkan jadwal Satria yang akan jaga malam keesokan harinya.
"Benar juga, memang bagus kamu bersama ayah dan menginap disana. Nanti aku jemput kamu dan Rey pagi harinya,"
"Oke na'am!"
Satria menyodorkan wajahnya mendekat ke arah Amayra, "Ehem..mana isi dayanya?"
"Ckckck, dasar.." wanita itu sedikit berjinjit untuk mencapai wajah suaminya. Tangannya memegang kedua bahu Satria, dia mengecup pipi suaminya.
Satria tersenyum puas dengan ciuman di pipi dari istrinya. "Isi daya baru 50 persen!"
"Terus 50 nya lagi?" tanya Amayra.
Tiada hari tanpa kemesraan setelah pertengkaran mereka yang cukup membuat keduanya sempat tenggang itu.
Satria mendekap istrinya dengan erat. Bibirnya mengecup pucuk kepala Amayra dengan lembut penuh kasih sayang. "Isi daya sudah seratus persen," ucap Satria puas.
Satria pun berangkat kerja setelah berpamitan pada Rey dan Amayra. Hari itu dia harus menjalankan dua operasi besar bersama dokter senior lainnya.
Sesampainya di rumah sakit, Satria langsung berlari terburu-buru sambil melihat jam tangannya.
"Aduh, aku hampir terlambat karena jalanan macet!" gerutu Satria dengan langkah cepatnya.
"Alhamdulillah, ternyata kak Bram sudah berpaling. Semoga kalian memang berjodoh,"
Satria tidak bisa melihat lebih banyak karena dia langsung masuk ke ruang operasi dan memakai baju medisnya.
Diana dan Bram rupanya sedang membicarakan tentang ibu-ibu yang belum lama melahirkan. "Haha, jadi saya salah paham?"
"Iya, kamu salah paham pada saya. Saya tidak melakukan sesuatu pada ibu hamil itu. Ibu hamil itulah yang melakukan sesuatu pada saya," ucap Bram sambil menunjukkan baju dan rambutnya yang acak-acakan.
"Haha..habisnya tampang pak Bram yang narsis ini begitu mencurigakan sih," ucap Diana masih dengan tawa kecilnya.
"Puas lihat saya dijambak sama ibu-ibu itu?" Bram bicara dengan bibir mengerucut.
"Maaf deh, sekali lagi maaf karena sudah salah paham pada pak Bram." Diana mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf.
Diana meminta maaf karena telah memarahi Bram dan salah paham pada Bram yang membawa ibu hamil ke rumah sakit, sebelumnya Diana berfikir bahwa Bram yang sudah menabrak ibu hamil itu dan membawanya ke rumah sakit. Diana tertawa-tawa setelah ibu hamil itu melewati masa persalinannya, karena sang ibu hamil terus menjambak rambut Bram dan mengacak-acak bajunya selama masa persalinan.
"Kali ini kamu sudah keterlaluan dokter Diana," ucap Bram sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Oh gitu ya? Saya kan sudah minta maaf," kata Diana menyesal.
__ADS_1
"Memfitnah, menuduh sembarangan, tertawa disaat orang lain kesusahan kesalahan anda tidak bisa dimaafkan!" Bram mengangguk-angguk.
"Hem.. lalu apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya kepada pak Bram?" Diana langsung menangkap sinyal dari Bram, yang ingin sesuatu darinya.
Bram dan Diana kini semakin dekat saja ,setalah insiden mobil mogok itu. Keduanya menjadi lebih sering bertemu dan berinteraksi lewat telepon. Saling mengejek, lalu akhirnya mereka nyambung saat ngobrol.
"Saya akan menuntut anda kalau anda menolak pergi bersama saya besok malam," ucap Bram sambil tersenyum tipis.
"Pergi besok malam? Kemana?" tanya Diana.
"Jangan banyak tanya, pokoknya ikut saja ya! Pakai kerudung dan baju yang panjang," pria itu tersenyum lembut.
Kerudung dan baju panjang? Mau kemana besok malam dengan kerudung dan baju yang panjang?
"Hey, kenapa kamu malah diam saja dokter jutek?"
"Apaan sih dasar cowok narsis!" Diana mengatai Bram.
"Jadi kamu mau ikut kan?"
"Ya, kalau bapak Bram memaksa. Saya tidak bisa menolak, anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya. Saya takut dituntut pak Bram," candanya sambil tertawa kecil.
"Oke, mari kita pulang,"'
Setelah itu Bram mengantar Diana pulang karena jadwal prakteknya di rumah sakit sudah selesai. Dia mengikuti mobil Diana dari belakang, begitulah cara Bram mengantar Diana sampai rumahnya.
Sesampainya di rumah, Diana kebingungan karena Bram memintanya memakai kerudung juga baju panjang. Kira-kira Bram akan mengajaknya kemana?
Diana duduk di sofa seperti biasanya sendirian, di rumah yang sepi tanpa seorang pun disana."Ya Allah, kenapa aku teru memikirkan dia? Aku kan sudah memutuskan untuk tidak memberikan hatiku kepada siapapun lagi. Lalu kenapa aku begini?" Diana memegang dadanya yang berdegup kencang memikirkan Bram, si duda kaya dan tampan itu.
Seorang pria yang sedang mencoba menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya siang itu Amayra dan Rey bersiap pergi ke rumah Harun, diantar oleh Satria. Saat mereka akan pergi, Nilam datang dengan pak Muin ke rumah mereka.
"Mau kemana kamu? Kayaknya kamu mau pergi ya?" tanya Nilam sinis seperti biasanya. Lirikannya selalu tajam pada ibu dari cucu laki-lakinya itu.
Satria menjawab, "Iya ma, Mayra dan Rey mau menginap di rumah ayah."
"Apa? Menginap di tempat kumuh itu? Gak boleh!" bentak Nilam langsung naik pitam, melarang tegas Amayra dan Rey untuk pergi ke tempat Harun.
Amayra dan Satria terpana melihat reaksi penolakan dari Nilam.
...----****----...
__ADS_1
Apakah kedua couple ini akan selalu bahagia?
Mau lanjut lagi up-nya?