Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 81. Lidah tak bertulang


__ADS_3

Satria melangkah menaiki anak tangga, menuju ke kamar Cakra dan Nilam. Amayra ingin menyusul suaminya yang terlihat marah, tapi dia tidak bisa meninggalkan Rey yang sedang tertidur pulas. Ya, apalagi yang dilakukan bayi usia 1 bulan selain tidur, minum susu, menangis, buang air kecil dan buang air besar.


"Ya Allah kak Satria terlihat marah, harusnya aku jangan bilang sama kak Satria." Amayra resah.


Amayra berjalan ke arah dapur, meminta bantuan seseorang untuk menjaga Reyndra sebentar. Dia melihat Dewi sedang membersihkan alat-alat memasak di dapur


"Non Mayra? Ada apa non? Kayaknya panik gitu, non?" tanya Dewi yang heran melihat wajah Amayra yang panik.


"Bi...saya bisa minta bantuannya sebentar gak?" pinta Amayra pada Dewi dengan gelisah.


"Ya non, bantuan apa?"


"Bisa bibi jagain dulu Rey sebentar, saya mau nyusul dulu kak Satria ke lantai atas. Bisa ya bi?" tanya Amayra seraya mengatupkan kedua tangannya dan memohon.


"Nona gak perlu seperti ini. Saya akan menjaga tuan muda Rey," Dewi dengan senang hati membantu Amayra, bahkan tanpa perlu wanita itu memohon.


"Makasih bi, Rey ada dikamar bi..Rey sedang tidur," kata Amayra terburu-buru.


"Baik non," Dewi langsung bergerak cepat menuju ke kamar Amayra dan menjaga baby R seperti apa yang diperintahkan oleh Amayra.


Amayra menyusul suaminya ke lantai asal, disepanjang perjalanan menuju ke kamar ibu mertuanya. Dia mendengar suara Nilam seperti marah-marah. Sudah dia duga, pasti akan terjadi pertengkaran antara Nilam dan suaminya.


"Ya ampun ternyata si Amayra mulutnya ember juga ya? Gak nyangka...dia malah bilang yang enggak-enggak soal aku," Nilam mendelik sinis, dia tidak mau disalahkan. Bibirnya tertarik ke bawah, dengan mata memutar.


"Kenapa mama malah menyalahkan Amayra? Aku tanya mama, apa benar mama mengatakan seperti itu pada istri dan ayah mertuaku?" tanya Satria serius dan tajam.


"Kalau iya terus kenapa?" jawab Nilam mengakui kesalahannya, dia menatap Satria dengan sinis.


"Kalau memang mama berkata seperti itu, mama harus minta maaf sama Amayra dan ayah mertuaku," Satria meminta keadilan dan permintaan maaf dari Nilam, ibu tirinya.

__ADS_1


Nilam mengernyitkan keningnya, dia hampir terjengkang menndengar ucapan Satria. Apa dia seorang Nilam, harus meminta maaf pada orang yang statusnya lebih rendah dari dirinya?


"Aku minta maaf pada mereka? Kenapa aku harus meminta maaf pada mereka? Kenapa juga kalian terus menyalahkan aku? Aku melakukan semua ini karena aku peduli pada keselamatannya Rey dan Amayra.. kenapa sih kalian gak paham?" Nilam melirik pada Satria dan suaminya yang tengah berdiri di depannya. Kedua pria itu tetap membela Amayra dan pak Harun.


Ketiganya beradu mulut, Nilam tak mau mengalah. Meminta maaf pada Amayra dan Harun, sama saja dengan merendahkan dirinya. Musibah dan kesembuhan yang Allah berikan padanya sebagai peringatan, rupanya tidak membuat Nilam jera.


Amayra datang untuk membawa Satria pergi dari sana.


"Kak Satria!" Amayra memegang tangan Satria. Pria itu masih terlihat marah menatap tajam ke arah Nilam. Dia tidak fokus melihat Amayra yang sudah berada disisinya.


"Ma.. udahlah ma, cukup! Mama mau sampai kapan bersikap angkuh seperti ini? Mama gak bisa menjaga lidah mama," Cakra gusar pada sang istri yang tak bisa menjaga lidahnya.


"Papa tuh kenapa sih marah-marah terus sama mama? Cuma karena anak haram dan menantu kampungan anak tukang sampah itu, papa jadi be-"


Plakkkk


Cakra tak bisa menahan lagi emosinya terhadap lidah tak bertulang milik istrinya. Dia melayangkan tamparan pada sang istri di depan Amayra dan Satria.


Hal itu membuat Nilam sakit hati dan merasa direndahkan didepan pasangan suami istri itu. "Papa berani tampar mamaa!!" Teriak Nilam penuh kemarahan.


Cakra menunjuk ke arah sang istri dengan murka, kemarahannya tak tertahankan lagi, "Tadinya aku tidak ingin menunjukkan ini di depan Satria dan Amayra, tapi kamu sudah keterlaluan.. kamu sudah menguji batas kesabaran ku. Anggap saja ini adalah salah satu caraku mendidik istriku!"


Mata Nilam berkaca-kaca, dia menatap Amayra dengan marah. Amayra menghampiri ibu mertuanya dan membantunya berdiri, dia juga menanyakan keadaan ibu mertuanya. "Ma...mama gak apa-apa?"


Nilam menepis tangan Amayra, Kemudian dia melayangkan tangannya untuk menampar Amayra. Satu tangan kekar menahan tangan Nilam dengan cepat. "Bram? Kamu..." Nilam menatap putra kesayangannya itu dengan terpana.


Satria cemburu melihat Bram berdekatan dengan Amayra, dia langsung menarik istrinya kesamping nya. Satria memiliki kekhawatiran didalam hatinya.


Lagi-lagi aku keduluan kak Bram. Apa dia selalu bersikap seperti ini pada Amayra ketika aku tidak ada di rumah? Kenapa aku merasa kak Bram terlihat tulus?

__ADS_1


"Mama kenapa sih selalu buat ribut? Tinggal minta maaf aja, kenapa sampai ribut seperti ini?" tanya Bram pada mamanya. Bram yang sedang pusing kepala, kepalanya semakin pusing mendengar keributan dari kamar mamanya.


Aku tidak akan membiarkan kamu kenapa-napa May.


Nilam dibuat terperangah oleh ketiga pria yang semuanya membela Amayra. Bahkan Bram, anak kesayangannya juga membela Amayra. Nilam mendengus kesal, dia tetap tidak mau meminta maaf pada Amayra dan ayahnya.


"Haahhh.. bahkan anakku juga membelanya? Ya Tuhan! Amayra.. pelet apa yang kamu gunakan untuk memperalat semua pria di rumah ini? Tidak cukup menjerat Satria, kamu ingin mendapatkan Bram juga?"


"Mama.. mama bicara apa? Aku tidak-" Amayra tersinggung mendengar ucapan Bram.


"Cukup! Kalau kamu bukan ibu dari cucu ku, aku malas meladeni gadis kampung seperti kamu yang tidak sederajat dengan keluarga kami! Wanita bekas seperti kamu, tidak pantas untuk mendapatkan pria manapun! Dasar anak tukang sampah, wanita murahan, wanita kotor, munafik! " Wanita paruh baya itu menunjukkan kembali sifat aslinya, membongkar semuanya.


Air mata Amayra menetes tanpa dia sadari. Sakit hati wanita itu dengan perkataan dari lidah tajam ibu mertuanya. Amayra tidak bisa berkata-kata. Hati Amayra tersayat mendengar ucapan pedas yang terlontar dari lidah tak bertulang itu.


Bram, Cakra dan Satria tak menyangka bahwa Nilam akan berkata separah itu. "Mama!!" Bram dan Satria membentak Nilam dengan kompak.


"Istighfar kamu, Nilam!" Cakra mencengkram tangan istrinya yang sudah seperti kesetanan itu. Cakra meminta Satria membawa Amayra pergi dari sana, sementara dia akan menenangkan Nilam. "Bram, kembalilah ke kamarmu.. dan Satria bawalah istri kamu kembali ke kamar kalian," ujar Cakra.


"Besok setelah acara Aqiqah.. aku,Amayra dan Rey akan langsung pergi dari rumah ini. Dan mama tidak boleh bertemu lagi dengan Rey," kata Satria sinis.


Nilam tersentak kaget mendengar ucapan Satria. Tidak boleh bertemu Rey? Bukankah itu adalah hal yang buruk baginya.


Amayra menggeleng meminta suaminya jangan begitu pada Nilam,"Kak Satria.."


"May, aku suamimu..aku imam kamu, sebagai seorang istri kamu harus turuti patuh pada suamimu. Bukannya begitu? Apa yang aku lakukan ini demi kebaikan keluarga kecil kita," ujar Satria sambil menatap Amayra dengan tajam.


Amayra mengangguk patuh, dia ikut saja apa kata suaminya. Ketika Satria dan Amayra berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke lantai bawah. Nilam menyusul mereka berdua, "Baik! Mama minta maaf..."


...---****---...

__ADS_1


Hai Readers thanks untuk gift dan vote kalian, maaf ya komennya tidak terbalas semua.. mohon sabar untuk yang menunggu malam pertama Satria Amayra 😂👍


Aku mau up lagi nih, mana suaranya dong?


__ADS_2