Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 141. Anggap saja impas


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Beberapa menit yang lalu, Ken dan Anton terlihat berjalan masuk menuju ke dalam kampus sambil mengobrol.


Saat sedang mengobrol, tatapan Ken teralihkan pada wanita berhijab yang baru saja turun dari mobil. Dia dan suaminya terlihat berpegangan tangan, mereka saling melempar senyum satu sama lain.


"Ken, Lo harus ingat si May itu bini orang!" Anton kembali menyadarkan temannya yang masih memiliki rasa pada Amayra.


"Ya gue tau, gak usah Lo ingetin! Cuma gue ya punya rasa ini sendiri, jadi Lo gak usah ribut deh." Jelas Ken pada temannya yang selalu mengingatkan tentang Amayra.


Sepertinya sekarang hatiku bukan milikku sendiri lagi, hatiku sudah terbagi. Kapan aku move on?


Ken melihat kesempurnaan pada diri Satria, dalam pikirannya dia sempat membandingkan dirinya dengan sosok suami Amayra itu. Satria yang seorang dokter, berasal dari keluarga konglomerat, tampan, baik hati, dewasa, Sholeh, cerdas juga sudah jelas. Sedangkan dirinya, memang anak orang kaya, tampan juga, tapi masa depan suram karena pernah DO kuliah, masa lalu suram, berandalan, anak band yang jarang shalat, cerdas juga tidak?


Sudah jelas dia kalah dari sosok sempurna seperti Satria.


"Haaahh.. bahkan aku saja itu padanya," gumam Ken saat melihat Amayra dan Satria yang masih mengobrol didepan kampus.


"Lo bilang apa Ken?" Anton bertanya pada Ken karena dia kurang mendengar ucapan Ken.


"Gak apa-apa, yuk masuk kelas!" Ajak Ken pada temannya itu.


Baru saja melangkah, Ken terhenti lagi ketika melihat sosok Reina yang berdiri di belakang gerbang kampus dengan wajah marah. Reina menatap Amayra penuh kebencian, dia membawa batu ditangannya.


"Mau ngapain si ratu nyinyir itu?" Ken bertanya-tanya dengan apa yang akan dilakukan Reina dengan batu.


"Ken, dia bawa batu loh!" Kata Anton yang juga melihat Reina dari kejauhan, dia yakin wanita itu membawa batu.


Melihat tangan Reina bersiap melempar batu itu ke arah Amayra, Ken berlari buru-buru menghampiri Amayra. Saat batu itu akan mengenai kepala Amayra, Ken datang tepat waktu dan menghadang batu itu.


Tangan Ken refleks memeluk Amayra untuk melindunginya. Alhasil, batu itu mengenai kepala bagian belakangnya.


"Ahh..."


"Astagfirullahaladzim! Ken!" Amayra terkejut melihat Ken mulai roboh, dia memegang bahu Amayra untuk bersandar. Sedangkan batu yang berdarah itu sudah berada ditanah.


Satria yang melihat insiden itu langsung keluar dari mobil. Satu hal yang dia tanyakan pertama kali adalah keadaan istrinya. Amayra terdiam dan tampak syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"May, kamu gak apa-apa sayang?" tanya Satria sambil memegang wajah istrinya dengan cemas.


"A-aku gak apa-apa tapi Ken.." jawab Amayra terbata-bata melihat darah mengucur dari kepala Ken. "Ken berdarah...Mas, Ken berdarah kepalanya!" Amayra panik sambil melihat ke arah Ken.


Ada rasa cemburu di hati Satria melihat Ken sempat memeluk istrinya. Tapi dia mengesampingkan dulu semua itu karena Amayra.


"Dasar wanita j*l*ng! Wanita penggoda! Kenapa bukan Lo saja yang kena!" Teriak Reina seperti orang gila. Dia memaki Amayra didepan semua orang bahkan berani menyerangnya.


"Lo udah gila ya Reina!" kata Anton sambil memegang tangan Reina.


"Jadi kamu lagi? Kali ini kamu gak akan bebas dengan mudah!" Seru Satria menatap murka pada Reina. "Pak Anton, tolong bantu saya lapor pada polisi! Saya akan bawa dulu pak Kenan ke rumah sakit," ucap Satria tenang dengan suara yang marah.


"Baik pak Satria!" kata Anton dengan senang hati.


Amayra memegang tangan Ken, "Ken.. kamu gak apa-apa?" tanya wanita itu cemas melihat kepala Ken yang mengucur darah.


"Gue.. gue gak.."

__ADS_1


Sial! Aku pusing sekali.


BRUGH!


Satria menahan tubuh Ken yang ambruk tidak sadarkan diri itu. "Aku akan bawa dia ke rumah sakit, kamu disini saja.."


"Gak! Aku ikut.."


"May.."


"Ken terluka gara-gara aku, Mas!" kata Amayra tegas.


Satria terlihat tenang diluar, namun Sebenarnya hatinya sedang terbakar oleh cemburu. Satria tidak nyaman saat istrinya memperhatikan pria lain selain dirinya.


"Ya udah, ayo!" Satria setuju pada akhirnya.


Satria dan Amayra membawa Ken yang dalam keadaan terluka ke rumah sakit. Amayra juga titip pesan pada Lisa bahwa dia dan Ken tidak akan masuk kelas dulu.


Anton melaporkan Reina ke kantor polisi. Dan karena bukti sudah jelas, Reina langsung ditahan di sel. Tak lama kemudian, orang tua Reina datang ke kantor polisi untuk melihat anaknya.


"Rein, kamu gak apa-apa sayang? Apa kamu terluka, nak?" tanya Mama Reina sambil melihat anaknya yang duduk di lantai dingin dibalik jeruji besi.


"Dasar anak bodoh! Tidak berguna! Papa sudah menyuruh kamu meminta maaf sama wanita itu, tapi kamu malah mau mencelakainya? Kamu gila ya Reina?!" Kata Papa Reina dengan amarah dalam setiap ucapannya.


"Aku gak mau minta maaf sama wanita kotor itu!" kata Reina sama sekali tidak peduli ucapan papanya.


"Jadi kamu mau keluarga kita hancur seperti ini? Reina, jangan keras kepala! Setelah ini minta maaf pada semua keluarga Calabria!" Kata papa Reina tegas.


"Gak mau!" kata Reina sambil memalingkan wajahnya. Dia menangis diam-diam.


"Pah, udah jangan marahi Reina terus.." ucap Mama Reina membela anaknya.


"Ini semua karena kamu Ma, kamu selalu memanjakan dia makanya dia jadi seperti ini. Julid dan keras kepala! Lihatlah karena dia semua bisnis yang sudah Papa bangun dengan susah payah selama ini, dengan mudahnya dihancurkan oleh Bram Calabria! Lalu adiknya Satria Calabria juga melaporkan Reina ke kantor polisi! Belum lagi sekarang malah melibatkan keluarga Anggara! Astagfirullah..." gerutu papa Reina gusar, karena anaknya telah menyinggung orang-orang besar seperti Calabria dan Anggara yang berkontribusi paling besar dalam bisnis di negera itu.


Sedangkan perusahaan papa Reina, hanyalah perusahaan kecil atau cabang dari sebuah perusahaan swasta. Tidak sebanding dengan perusahaan besar seperti Calabria atau Anggara. Bagi mereka, perusahaan ayah Reina adalah debu yang dengan mudahnya bisa mereka sapu dan hilangkan dari muka bumi.


"Rein, kamu jangan keras kepala nak! Turuti apa kata papa mu, ini demi kebaikan keluarga kita."


"Kalau Mama sama Papa mau minta maaf sama wanita kotor itu. Silahkan kalian saja yang minta maaf, aku gak sudi!" Kata Reina tidak mau meminta maaf.


"Dasar anak keras kepala! Tidak mengerti perjuangan orang tua," ucap Papa Reina marah pada Reina. "Ma, kamu ikut aku sekarang! Ayo kita ke rumah sakit dan minta maaf pada keluarga Anggara dan keluarga Calabria," ajak papa Reina pada istrinya itu.


"Baik Pa. Rei, mama harap kamu bisa berubah nak Jangan seperti ini," ucap Mama Reina menasehati anaknya.


Kedua orang tua Reina pergi ke rumah sakit untuk meminta maaf pada keluarga yang sudah disinggung oleh mereka. Demi membebaskan Reina yang saat ini mendekam di penjara karena kejahatan menyerang, mencemarkan nama baik.


...****...


Di rumah sakit tempat Satria bekerja..


Ken dibawa ke salah satu ruang rawat disana. Satria sendiri yang memeriksa kondisinya, bahkan sampai melakukan CT Scan. Amayra terlihat cemas pada pria yang sudah menolongnya itu.


"Mas, gimana keadaan Ken?" tanya Amayra pada suaminya tentang keadaan Ken. Kecemasan Amayra bertambah saat melihat kepala Ken di perban.


"Gue kan udah bilang, gue gak apa-apa.." Ken tersenyum seraya menenangkan Amayra.

__ADS_1


"Kamu tenang aja May, gak ada apa-apa kok. Cuma sedikit gegar otak ringan dan luka luar aja." Jelas Satria pada istrinya.


"Gegar otak ringan? Innalilahi..." Amayra semakin merasa bersalah karena Ken terluka.


"Cuma gegar otak ringan kok, gak apa-apa..hehe," Ken nyengir, dia khawatir melihat Amayra cemas padanya.


Sementara Satria mendelik sinis pada pria yang sudah menyelamatkan istrinya itu. Ken melihat tatapan tajam Satria kepadanya dan menyadari sesuatu.


Kayaknya si pak dokter marah padaku, tapi kenapa ya?. Batin Ken.


"Gak apa-apa gimana? Dulu aku juga sampai mual dan muntah.. pasti sakit ya?" tanya Amayra.


"Ya, anggap aja impas. Dulu gue kan pernah buat Lo kayak gini juga.." ucap Ken sambil tersenyum.


"Dulu apaan?" tanya Satria sambil melirik tajam pada Amayra dan Ken.


"Maafkan saya pak Satria, dulu saya tidak sengaja membuat Amayra jatuh sampai gegar otak ringan." Ken menjelaskan pada Satria tentang kejadian saat MOS dulu.


Satria menatap tajam ke arah istrinya, dia kesal karena Amayra tidak pernah menceritakan ini padanya.


"Mas.. nanti aku jelaskan ya.." ucap wanita itu yang sudah mengerti seperti apa wajah suaminya ketika marah.


"Iya. Karena teman kamu gak apa-apa, lebih baik kamu kembali ke kampus. Biar dia di rawat dulu disini, takutnya ada sesuatu.." ucap Satria cuek.


"Ah.. gak usah pak Satria, saya pulang aja. Saya istirahat di rumah saja," ucap Ken yang takut melihat raut wajah Satria yang selalu masam padanya. Apalagi pandangan matanya selalu tajam, membuat Ken tidak nyaman.


Mending aku di rumah deh daripada sama suaminya Amayra. Mana bisa aku istirahat dalam damai kalau begini.


"Eh benar kata suamiku, kamu disini aja dulu Ken. Takutnya ada apa-apa," ucap Amayra membenarkan sambil mengangguk-angguk.


"Iyah, kamu istirahat dulu aja disini Pak Kenan." kata Satria dengan tatapan sinisnya.


Selama aku berada di Afrika, apa mereka dekat seperti ini juga? Tadi dia bahkan memeluk Amayra. Aku tidak suka!


"Hahaha..gak usah, mending saya pulang aja deh!" Ucap Ken sambil beranjak dari ranjang itu dan duduk. Ken tampak gelisah, dia tidak kuat dengan tatapan tajam seorang suami yang sedang cemburu itu.


Kalau terus berada disini yang ada aku cepat mati!


CEKRET


"Ken! Kamu masih hidup!" Keisha membuka pintu ruangan itu, dia terlihat cemas pada adiknya. "Eh, ada Amayra sama suami nya juga.."


"Satria," jawab Satria cuek.


"Apa?"


"Nama saya Satria," jawab Satria dingin.


Amayra melirik ke arah Satria, dia merasa ada yang aneh dengan suaminya. Dia yang selalu bersikap hangat kenapa tiba-tiba menjadi dingin.


"Ah iya.." Keisha tersenyum canggung.


Kenapa aku merasa hawa dingin disekitar sini ya?


...----****----...

__ADS_1


Insyaallah lanjut lagi pas udah buka puasa ya 😅 authornya lemes nih🤣 Mau ngetik di pf sebelah dulu..


__ADS_2