
...*****...
Amayra, Satria dan Rey sampai di depan rumah mereka. Satria langsung keluar dari mobil dan muntah-muntah di dekat taman depan rumahnya. Amayra yang menggendong Rey, langsung panik melihat Satria muntah-muntah.
"Uwek... uwekkk..."
"Mas, astagfirullahaladzim.." Amayra menepuk-nepuk punggung suaminya dengan cemas. "Kita ke dokter aja ya Mas," ucap Amayra.
"Gak apa-apa sayang, ini cuma masuk angin. Minum obat sama istirahat aja pasti sembuh kok." Satria tidak mau istrinya cemas.
"Tapi Mas,"
"Aku gak apa-apa, yuk masuk ke dalam." Ucap Satria mengajak Amayra masuk ke dalam rumah.
Aku kenapa ya? Kok jadi inget waktu Amayra ngidam Rey dulu?. Pikir Satria dalam hatinya.
Bersama bertiga pun masuk ke dalam rumah, Amayra bingung apa yang terjadi pada suaminya.
...*****...
Sementara itu di hotel!
Bram menggendong Diana, sampai mereka masuk ke dalam kamar. Diana yang membuka pintu kamar itu, karena Bram kesulitan menggendong istrinya.
Dalam dekapan Bram, Diana mendengar suara detak jantung yang berpacu begitu cepat. Apa itu suara jantungnya atau suara jantung Bram? Belum lagi suara nafas Bram menggebu-gebu terdengar oleh Diana.
"Mas, kamu gak apa-apa kan? Kenapa suara nafasmu begitu?" Tanya Diana sambil menatap ke arah suaminya.
"Aku gak tahan lagi Di," ucap Bram sambil membaringkan istrinya di ranjang dengan hati-hati.
Bram menatap wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan tatapan nanar, dia melonggarkan dasinya. Melepaskan jas dan kancing lengan kemejanya yang panjang, sepertinya akan terjadi serangan bobol gawang pada malam ini.
Ataukah pria yang sudah lama berpuasa itu akan segera berbuka?
Saliva Bram naik turun, cantiknya Diana bahkan mengalahkan sinar bulan yang baru muncul itu. Wanita yang sebelumnya berstatus janda, namun tak pernah tersentuh oleh pria manapun.
Tangan Bram membuka kancing kebaya Diana dengan perlahan-lahan. "Mas.. nanti dulu,"
__ADS_1
"Di, aku udah gak tahan.. sayang.." lirih Bram yang merasa tidak tahan lagi menahan gairahnya itu.
Diana bangkit dan duduk di pangkuan suaminya, "Mas, kita belum shalat isya...belum mandi juga. Kita shalat isya dulu yuk, biar malam pertama kita berkah dan gak diganggu setan." Bisik Diana pada suaminya.
"Astagfirullah, aku hampir lupa. Shalat isya, mandi.." ucap Bram sambil menepuk jidatnya.
"Mas mandi dan wudhu duluan ya, nanti aku nyusul. Aku mau lepas dulu aksesoris di rambutku," ucap Diana pada suaminya.
"Oke, tapi emangnya harus mandi ya? Bukannya nanti juga mandi habis itu?" Tanya Bram dengan kening berkerut.
"Emang kamu mau kita gituan dengan tubuh lengket penuh keringat? Kamu gak keberatan? Aku bau keringat juga Mas," ucap Diana lembut pada suaminya.
"Aku gak keberatan kita harus lengket lengketan bersama, bau keringatmu aku juga suka." Bram memeluk Diana, lalu mencium dan menjilat leher istrinya yang berkeringat itu. "Hem.. asin.."
"Iya lah asin, namanya juga keringat. Mas, mandi dulu ah." Diana tersenyum dengan tingkat suaminya yang menggoda itu.
"Oke, aku mandi duluan. Sama wudhu juga, kita shalat bersama ya." Bram mencium punggung tangan Diana, tatapan cintanya tak luput dari wanita itu.
"Iya Mas," jawab Diana sambil tersenyum malu-malu.
Diana yang selalu memimpikan pernikahan resmi dan hidup bahagia sepertinya kali ini akan terwujud bersama Bram. Dia tak pernah merasa disayang seperti ini oleh Bram, makanya Diana tak berani meminta ini itu pada Bram. Dia hanya ingin dicintai dan diperlakukan dengan sebagai istri oleh Bram. Menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia tidak seperti sebelumnya saat dia menikah dengan Hans.
Kemudian dia menyiapkan baju untuk dipakainya dan suaminya dari dalam koper, mukena, sarung dan sajadah juga tak lupa dikeluarkannya, lalu dia simpan diatas ranjang.
Cekret!
Bram keluar dari kamar mandi, dia memakai kimono handuk yang menampakkan bagian tengah tubuhnya. Diana terpana melihat otot perut suaminya yang tampak indah dipandang mata.
"Benar kata mama sama papa, kalau Mas Bram rajin olahraga. Tubuhnya aja bagus banget, masyaallah dia begitu tampan." Diana terpesona dengan Bram sampai dia kesulitan untuk berkedip.
Bram berjalan mendekati Diana yang terlihat seperti sedang melamun itu.
"Sayang, ayo cepat mandi. Air hangatnya sudah aku siapkan. Kamu malah bengong," pria tampan berusia hampir berusia 32 tahun itu, tersenyum manis pada istrinya.
"Mas, jangan senyum. Jangan, Mas!" Diana menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Bram keheranan dengan sikap istrinya.
__ADS_1
"A-aku gak apa-apa, aku ke kamar mandi dulu ya Mas." Diana mengambil handuk dan bajunya yang berada diatas ranjang.
Kemudian Diana masuk ke dalam kamar mandi didalam kamar hotel yang mewah itu. Bram tersenyum melihat istrinya.
10 menit kemudian, Diana keluar dari kamar mandi. Dia sudah terlihat bersih dan memakai pakaian lengkap begitu keluar dari sana. Dia melihat Bram sudah memakai sarung dan peci dikepalanya, pria itu terlihat tampan dan bercahaya.
"Ayo sayang, segera pakai mukenamu." Titah sang suami pada istrinya.
Diana mengangguk patuh dan tersenyum lebar.
Mereka pun shalat isya bersama, selepas shalat isya mereka berdua akan malam ini berjalan dengan lancar dan mereka segera diberikan amanah oleh Allah SWT.
Begitu selesai berdoa, Diana mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu. Bram balas mencium kening istrinya. Keduanya sama-sama tersenyum.
Entah bagaimana ceritanya, mereka berdua sudah berada diatas ranjang dengan posisi Diana yang duduk dipangkuan suaminya. Bram sudah telanjang dada, hanya celana pendek saja yang dia kenakan.
"Mas," lirih Diana.
"Jadi kamu mau diatas? Mending kamu dibawah aja, biar cairanku cepat masuk ke dalam tubuhmu." Ucap Bram sambil melorotkan pakaian tidur tipis milik istrinya. Satu tangannya lagi meraba-raba paha Diana yang mulus itu.
"Mas, jangan goda aku terus...Mas mesum ya," ucap Diana sambil memegang tangan Bram dan meremasnya.
"Kita udah nikah, aku hanya kasih tau pengetahuan tentang itu pada istriku. Kenapa kamu bilang aku mesum?" Tanya Bram sambil membuka penyangga dua buah gunung milik istrinya dan melepasnya.
Diana berdebar dan malu, ketika kain yang berada di bagian atas tubuhnya itu sudah terlepas. Bram semakin menatap Diana dengan penuh gairah dan hasrat membara dalam hatinya.
"Mas.." refleks, Diana menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangan.
Bram memegang tangan Diana dan menjilat jari-jari istrinya itu,"Jangan ditutup dong sayang, malam ini aku mau lihat semuanya."
Suara lembut Bram, panggilan sayang yang mesra. Membuat Diana semakin terpesona dengan suaminya itu. "Diana, kamu cantik banget.." Tangan Bram membelai rambut pendek Diana dengan lembut.
"Kamu juga ganteng Mas,"
"Sayang, kita mulai ya?" Tanya Bram yang sudah tidak sabar ingin menjadikan Diana miliknya lahir dan batin. Malam ini adalah malam pertama bagi mereka.
...----****----...
__ADS_1
Nanggung kan?
Yok komen, like, gift atau votenya dulu 😂 biar gak nanggung.