
7 hari setelah hari raya idul Fitri..
Pagi itu Amayra dan Satria dikejutkan dengan Rey yang menghilang dari atas ranjang. "Kak! Rey ilang kak!" Amayra panik dan menggoyangkan tubuh suaminya seraya meminta dia untuk bangun.
"Rey ilang?" Satria menggosok matanya. Dia beranjak duduk, dan benar saja dia tidak melihat Rey diatas ranjang.
Padahal semalam Rey tidur bersama ayah dan ibunya. Amayra panik mencari Rey, ternyata anak itu sudah berada diatas karpet dilantai.
"Astagfirullah! Rey!!" Amayra mendekati bayi mungil yang dalam keadaan tengkurap itu dengan panik.
Amayra menggendong Rey dengan cemas, anak itu sama sekali tidak menangis ataupun bersuara. Mendengar teriakan Amayra, membuat Satria juga ikut panik. "Astagfirullah Rey!"
"Ya Allah, kak.. gimana ini? Rey kok bisa ada di karpet, gimana caranya?" Amayra menepuk-nepuk punggung Rey.
"Dia pasti berguling-guling dan jatuh, kamu tenang May. Aku periksa dulu Rey, ya.." ucap Satria seraya menenangkan Amayra yang panik.
Amayra membaringkan Rey diatas ranjang, kemudian Satria memeriksanya dengan stetoskop. "Dia tidak ada luka, dia juga tidak menangis.." gumam Satria yakin.
"Tapi Rey tidak bersuara!" Seru seorang ibu panik dan resah.
"Ya sudah, untuk memastikan kondisi Rey. Bagaimana kalau kita bawa Rey periksa ke rumah sakit sama Diana?" kata Satria menyarankan.
Amayra mengangguk, matanya berkaca-kaca. Tangannya menggendong Rey yang daritadi tidak bersuara,hanya menggerakkan tangannya sesekali. "Udah sayang, tenang ya.. Rey gak apa-apa. Aku siapkan mobil dulu, kamu bawa kain gendongan Rey dan susu formulanya ya,"
"Iyah kak," jawab Amayra dengan suara gemetar takut anaknya kenapa-napa.
Setelah bersiap, Satria dan Amayra membawa Rey ke rumah sakit. Diana yang baru datang, langsung memeriksa kondisi Rey.
"Kak, gimana kondisi Rey?"
"Tadi kalian bilang kalau Rey jatuh dari atas ranjang kan? Jatuhnya ke lantai langsung, apa bagaimana?" tanya Diana sambil memeriksa kondisi bayi mungil itu. Melihat-lihat dipunggungnya ada luka atau tidak.
"Iya Rey jatuh, tapi dia berada diatas karpet dalam posisi sedang tengkurap." kata Satria menjelaskan.
"Syukurlah ternyata ke atas karpet, Rey sedang dalam masa aktif bergerak. Dia sedang berusaha mengeksplor dunia disekitarnya, kalian tenang saja. Rey tidak apa-apa tidak ada luka luar maupun luka dalam." Jelas Diana pada pasangan suami istri itu.
Amayra dan Satria mengucap Hamdallah bersamaan. "Alhamdulillah,"
"Kalau ada gejala demam atau gejala lainnya, kamu bisa kasih Rey obat atau membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut ya," kata Diana sambil tersenyum memandangi Rey.
Wajah Rey sangat mirip dengan Mas Bram.
"Terimakasih ya kak. Rey ayo bilang makasih sama mama Diana juga."
__ADS_1
"Mama Diana?" Diana tercekat.
Diana langsung malu dipanggil mama Diana oleh Amayra. Satria juga setuju dengan panggilan itu. Karena Rey sekarang punya dua ibu dan dua ayah.
Satria dan Amayra pun berpamitan pada Diana, "Sekali lagi makasih ya kakak ipar,"
"Satria apaan sih, aku aja belum nikah sama mas Bram. Kamu sudah memanggilku begitu," ucap Diana malu.
"Bentar lagi janur kuning akan melengkung, tidak apa-apa membiasakan diri memanggil kakak ipar lebih awal kan?" kata Satria sambil tersenyum.
"Haha, kamu ini bisa aja. Oh ya, lusa kamu akan pergi ke Afrika kan?" tanya Diana.
Amayra langsung terdiam dengan wajah galau. "Hem, iya.." jawab Satria.
"Hati-hati disana ya, manfaatkan waktu kamu yang tersisa bersama istri dan anakmu." bisik Diana pada Satria.
"Insyaallah, itu pasti!' kata Satria sambil melihat wajah istrinya yang sedih.
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, ramadhan telat berakhir. Lusa, Satria sudah harus pergi ke Afrika sesuai jadwal. Dia sudah mewanti-wanti pada Nilam dan keluarga besarnya untuk menjaga Amayra dan Rey selama Satria pergi dua bulan ke Afrika.
Malam itu Rey sudah tertidur pulas, Amayra membaringkan Rey di ranjangnya yang tinggi. Supaya Rey tidak jatuh seperti yang terjadi tadi pagi.
Satria mencium pipi dan kening Rey dengan lembut. "Tidur yang nyenyak ya jagoannya papa," ucap Satria penuh kasih sayang pada Rey.
Sebuah pelukan hangat mendekap tubuhnya, "Sayang, kenapa dari tadi kamu diam terus? Bukankah kamu belum lama menerima hasil ujian penerimaan masuk universitas? Kenapa kamu malah muram begitu?" Bibir Satria menyentuh leher Amayra.
Amayra sudah lulus ujian paket c dengan nilai yang bagus, dia juga sudah diterima di universitas ternama di luar negeri. Namun dia memilih untuk kuliah di dalam negeri, agar bisa selalu dekat dengan anaknya. 1 bulan lagi Amayra akan menjadi seorang mahasiswa.
"Apa kakak benar-benar tidak tahu apa yang membuatku resah seperti ini?" Amayra malah balik bertanya.
Satria membalikkan tubuh istrinya, hingga mereka saling berhadapan. "Kamu sedih karena lusa aku mau pergi ke Afrika?" ucap Satria berhasil menebak dengan tepat apa yang digalaukan oleh sang istri.
"Hem.." Amayra mengangguk pelan.
"Apa aku batalkan saja kepergianku?" tanya Satria sambil membelai lembut rambut Amayra.
"Tidak boleh kak, ini demi karir kakak!"
"Kalau hanya membuatmu menangis, untuk apa aku pergi? Kamu saja tidak ikhlas aku pergi?"
"Kakak, aku bukannya tidak ikhlas. Tapi, aku hanya merasa cemas dengan keselamatan kakak disana,"
Cup!
__ADS_1
Kecupan mendarat manis di kening Amayra. "Aku akan kembali dengan membawa prestasi dan aku akan baik-baik saja. Kamu selalu mendoakan ku bukan?" Satria membelai pipi Amayra dengan penuh kasih sayang. Kedua mata mereka bertemu saling menyiratkan kasih sayang.
"Disetiap shalatku, aku akan selalu mendoakan keselamatan kakak dan aku berdoa semoga waktu bisa cepat berlalu. Jadi, kakak harus pulang dengan selamat demi kami.." Amayra memeluk suaminya dengan erat.
"Insyaallah, aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu mengabari kamu dan Rey saat aku tidak sibuk, pastikan ponselmu selalu menyala ya,"
Amayra bersembunyi dibalik dekapan suaminya yang hangat. Sebenarnya sangat berat untuknya melepas kepergian Satria. Tapi ini adalah keputusan mereka berdua, demi karir Satria yang cemerlang sebagai dokter kepala.
Mereka sudah sepakat selama Satria berada di luar negeri, Amayra dan Rey akan tinggal di rumah Calabria.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari itu sudah lusa saja. Amayra membantu sang suami membawa kopernya. Amayra, Rey, Bram, Diana dan Harun mengantar kepergian Satria sampai bandara.
Disana juga terlihat dokter-dokter lainnya yang akan pergi ke Afrika bersamanya.
"Ayah, kak Bram, kakak ipar, aku titip Rey dan Amayra ya.." ucap Satria pada Bram, Diana dan ayah mertuanya.
"Kamu tidak usah khawatir Satria, ayah akan menjaga Rey dan Amayra. Kamu kembalilah dengan selamat,"
"Iya Sat, fokus dengan pekerjaan kamu disana. Rey dan Amayra, kami akan menjaganya.." Bram tersenyum pada Satria.
Satria melihat istrinya diam saja sejak tadi pagi dia tidak bicara. Hanya mata berkaca-kaca yang menatap dirinya.
Hati Amayra sendiri gelisah, rasanya sang suami akan pergi jauh darinya.
Satria mendekat ke arah Amayra, dia memegang tangan istrinya. "Sayang, aku berangkat ya?"
"Kak.. hati-hati ya," ucap Amayra sambil menahan tangis.
Hanya itu saja yang bisa aku ucapkan, kakak semoga kakak baik-baik saja.
"Aku akan segera kembali ya," ucap Satria sambil tersenyum pahit memandangi Amayra.
Tanpa tau siapa yang memulainya lebih dulu, mereka berpelukan erat. Satria mengecup kening istrinya dengan lembut. "Jaga anak kita baik-baik ya," kata Satria lembut.
Clara melihat Amayra dan Satria dari kejauhan, di tersenyum melihat perpisahan itu.
Satria melambaikan tangannya dan pergi bersama dokter lain masuk ke dalam area check in. Amayra dan yang lainnya masih berada disana sampai pesawat yang ditumpangi Satria dan para dokter berangkat menuju ke Afrika.
"Dadahh papa, papa cepat pulang ya. Semoga selamat sampai tujuan ya pa," ucap Amayra sambil memegang tangan Rey dan melambaikan tangan mungil itu.
Kak Satria, Allah pasti akan selalu melindungi kakak.. ada aku, Rey dan yang lainnya menunggu kakak disini.
Amayra melihat pesawat yang lepas landas membawanya suaminya pergi jauh dari dirinya dengan sedih.
__ADS_1
...----*****----...