Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 36. Membuktikan perasaan


__ADS_3

...Ketika kamu bersentuhan dengannya dan kamu merasa hati mu berdebar, setelah itu akan timbul rasa canggung. Itu artinya kamu telah jatuh cinta padanya, kamu telah menganggap kalau gadis yang kamu sentuh itu benar-benar seorang wanita. Dan kamu menyukai nya!...


...🍀🍀🍀...


"Pa, apa sudah merencanakan ini sejak awal?" Satria bertanya dengan suara yang agak ketus kepada Cakra.


"Iya, papa berencana mengembalikan semua ke tempat semula. Kenapa papa merasa kalau kamu tidak senang mendengar nya? Satria, papa ingat kalau kamu pernah bilang, kamu tidak mencintainya." Cakra menatap tajam ke arah putra bungsunya itu.


Satria mengepalkan tangannya, dia tidak menyangkal atau mengiyakan ucapan Cakra kepadanya. Dia juga tidak tau perasaan apa yang di miliki nya untuk Amayra. Apakah dia masih menganggap wanita berusia 17 tahun itu hanya sebagai teman keponakan nya, atau malah ada perasaan lain yang tersembunyi.


"Pa, ini salah! Pernikahan bukan pentas drama yang bisa papa ganti peran seenaknya. Papa tidak memikirkan perasaan Amayra, kalau dia tau papa memiliki rencana seperti ini? Memangnya dia mau menikah dengan kak Bram? Pria yang sudah meninggalkannya disaat-saat tersulit nya?"


"Jadi menurutmu, papa salah? Papa merencanakan semua ini demi kebaikan kamu dan Bram. Sejak awal pernikahan kamu dan Amayra adalah kesalahan, kamu juga terpaksa menikahi nya kan? Papa hanya ingin kamu lepas dari ikatan pernikahan yang tidak kamu inginkan ini, Satria." Jelas Cakra.


"Mau seperti apapun penjelasan papa, apa yang papa lakukan ini salah pa. Kalau papa meminta Satria bercerai, kemudian dia menikahi kak Bram. Sama saja dengan mempermainkan nya dan mempermainkan hukum pernikahan."


Cakra merenung, dia merasa kalau apa yang dikatakan oleh Satria itu benar. Dia pun mengganti topik pembicaraan nya ke arah yang lain. Cakra meminta Satria bilang padanya jika dia ingin mengakhiri hubungan nya dengan Amayra, Cakra cemas kalau Satria memiliki hubungan dengan wanita lain di luar sana, memiliki seseorang yang dicintainya. Pada dasarnya apa yang Cakra lakukan adalah untuk membuat Satria dan Bram bahagia. Menempatkan mereka pada posisi semula.


Satria terdiam membeku, entah kenapa dia tidak senang mendengar kata perceraian. Padahal sebelumnya dia yang selalu mengungkit kata cerai pada Amayra istrinya. Mengapa dia tidak nyaman? Ada perasaan aneh yang tidak bisa di jelaskan di dalam hatinya.


Ketika Satria akan kembali masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat tatapan kakak nya pada wanita yang sedang terbaring di ranjang di pasien itu. Matanya memicing, keningnya berkerut, menunjukkan hati nya yang resah.


Perasaan tidak nyaman apa ini? Kenapa aku tidak senang melihat kak Bram menatap nya seperti itu? Rasanya hatiku ini seperti ditusuk-tusuk. Satria membatin, dia mengelus dadanya. Bertanya-tanya perasaan apa yang ada di dalam hatinya.


Satria membuka pintu ruangan itu pelan-pelan, menjaga agar Amayra tidak terbangun. "Apa dia masih belum bisa pulang?" tanya Bram pada Satria.


"Dokter bilang kalau Amayra masih perlu pemantauan lebih lanjut dalam waktu 24 jam, seperti nya malam ini Amayra akan menginap di rumah sakit." Jelas Satria pada kakak nya, dengan suara yang dingin.


Dreet..


🎵🎵


Bram membuka ponselnya, dia melihat ada pesan dari tunangannya.


...Sayang, kamu ada dimana? Aku udah nunggu kamu nih! Kita jadi jalan gak sih?...


"Baiklah, kamu jaga dia baik-baik ya." Kata Bram sambil menatap Amayra.


Benar, aku memiliki Alexis tapi wanita ini memiliki anakku di dalam dirinya. Aku punya tanggungjawab untuk menjaga keselamatan nya, walau aku tidak mencintainya. Batin Bram.

__ADS_1


"Kakak tidak perlu bicara begitu, karena aku akan menjaganya walau tidak disuruh." Jawab Satria ketus.


Nilam, Bram, dan Cakra pulang malam itu setelah menjenguk Amayra. yang masih tidur. Sementara Satria menjaga Amayra disana, Satria juga meminta cuti satu hari lagi pada atasannya dokter Candra untuk menjaga Amayra. Candra mengizinkan nya.


"Dia pasti akan bangun malam dan dia pasti lapar. Aku tidak boleh tidur dulu." Satria baru saja keluar dari ruangan dokter Candra, dia menguap dan terlihat mengantuk.


"Kak Satria, kamu habis ketemu sama papa ku?" tanya Clara yang sudah berdiri di belakang Satria. Wanita itu tersenyum lembut dan ramah.


"Iya." Jawab Satria singkat.


"Oh ya, kakak pasti belum makan kan? Kita makan malam bersama yuk!" Ajak Clara pada Satria untuk makan malam bersama.


"Maaf, aku akan malam dengan Amayra nanti."


"Jadi, namanya Amayra ya? Wanita yang hamil diluar nikah itu dan menikah dengan kakak?" Clara tersenyum tipis, seolah mengejek Amayra


"Lebih baik kamu tutup mulut kamu, aku tau kalau kamu yang menyebarkan gosip itu pada para perawat dan dokter di rumah sakit ini."


"Lah? Memangnya aku salah kak? Bukannya yang aku katakan memang benar? Kakak menikahinya karena terpaksa kan? Dia hanya wanita kotor yang beruntung menikah dengan kakak!" Clara mengutarakan isi pikirannya, dia tidak senang dengan Amayra yang menikah dengan pria pujaan nya.


"Clara! Hentikan, jangan panggil dia seperti itu!Dia bukan wanita kotor! Beraninya kamu menghina dia padahal kamu tidak tahu apa-apa tentangnya!" Satria melotot pada dokter muda dan cantik itu. Dia tidak terima istrinya di hina.


"Aku berani mengatakan kebenaran. Apa kakak tau, ketika seorang wanita sudah kotor dan memiliki riwayat noda di dalam hidupnya. Maka bekas nya akan selalu ada, apa yang sebelumnya putih tidak akan kembali bersih seperti sedia kala, ketika sudah ada noda. Kenapa kakak mau bersama noda itu? Padahal kakak bisa menolak menikah dengannya?" Clara mulai menunjukkan wajah memelas, dia bicara seolah dirinya bersimpati dengan keadaan Satria yang diposisikan sebagai kambing hitam.


Menolak? Benar, aku bisa saja kabur dan menolak saat semua orang meminta ku untuk menikahi nya? Lalu kenapa aku menikahinya? Sebenarnya aku memiliki perasaan apa padanya? Mungkinkah aku...


Satria terdiam dan berfikir. Kemudian dia berjalan menuju ke ruang rawat Amayra. Istrinya terlihat sedang berjalan sambil membawa selang infus, baru saja dia keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lemah.


Deg, deg, deg!


Sejak kapan jantungku berdebar-debar ketika aku melihatnya. Apa mungkin aku sudah... Satria menatap wanita berhijab itu.


"Kak Satria? Kakak kenapa?" tanya Amayra yang heran melihat Satria diam saja. Dia berjalan pelan menuju ke ranjang nya.


"Kamu mau kemana?" tanya Satria sambil berjalan menghampiri Amayra.


"Aku habis dari kamar mandi dan mau kembali ke ranjang." Jawab Amayra dengan wajah polosnya, dia menutup pintu kamar mandi itu.


Wajah polos itu menggetarkan hati Satria, membuat debaran di jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Satria semakin mendekat ke arah Amayra, dia mengangkat tubuh istrinya.

__ADS_1


Ketika logika mu sudah dikalahkan oleh hati. Maka saat itulah, kamu sudah jatuh kedalam perasaan yang indah, yaitu Cinta.


"Kak Satria, kenapa kakak menggendongku?" tanya Amayra bingung.


"Aku akan mengantar kamu ke ranjang." Jawab Satria lembut.


"Ti-tidak usah kak," Amayra tergagap, dia tidak berani menatap suaminya.


Ya Allah, kenapa kak Satria bersikap seperti ini?


Aku harus meyakinkan perasaan ku padanya, tapi bagaimana caranya?. Batin Satria bingung.


Satria merebahkan tubuh Amayra di atas ranjang."Kakak, tolong jangan bersikap baik lagi padaku. Aku tidak bisa menerima kebaikan kakak lagi,"


"Kenapa?" Satria mendongak, melihat ke arah istrinya.


"Aku tidak mau kalau aku semakin menyukai kakak. Aku tidak mau goyah lagi, aku sudah memutuskan untuk melupakan kakak! Jadi, kakak bersikap dingin saja seperti biasanya.. jangan begini...kak.." Amayra mengepalkan tangannya dengan gemas, dia sedih karena Satria bersikap baik padanya.


"Tidak apa, jangan berhenti menyukai ku. Karena aku juga mungkin-" Tangan Satria menaikkan dagu Amayra. Membuat kedua mata mereka bertemu dan saling menatap. Dia tidak menyelesaikan kata-kata nya.


Ya Allah jantungku! Jantungku rasa nya mau meledak!


Amayra semakin berdebar melihat suaminya menatapnya dengan lembut.


Entah apa yang merasuki Satria, dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum nan cantik milik Amayra.


"Akhph!!" Amayra terkesiap, dia terkejut dengan serangan dari Satria. Dia tidak percaya bahwa pria yang dia sukai sedang menciumnya.


Kak Satria, menciumku? Apa ini mimpi? Kenapa seperti ada kembang api yang meledak di dalam hatiku? Mata Amayra membulat, dia menatap pria yang menyentuh bibirnya itu dengan bibirnya.


Ternyata aku menganggap kamu sebagai wanita, bukan teman keponakan ku. Batin Satria yakin dengan perasaan nya.


Tanpa sadar, tangan Amayra meraih kedua tangan Satria. Mereka masih berciuman. Dan tanpa mereka sadari, di luar ruangan itu ada Anna juga Fania melihat adegan mesra pasangan suami-istri itu.


"Apa mereka berciuman? Ah tidak! Aku belum cukup umur untuk melihat semua ini, Anna!" Fania gemas sendiri melihat Satria dan Amayra berciuman.


Anna malah tersenyum melihatnya. Dia menutup mata Fania. "Anak kecil gak boleh lihat!" Anna tidak percaya kalau om nya yang dingin dan tidak pernah pacaran itu, bisa melakukan hal romantis.


Om Satria, apa om mencintai Amayra? Maka aku akan menjadi orang pertama yang mendukung Om.

__ADS_1


...---***---...


Hai Readers! Bantu like, komen, gift dan vote nya ya 😘😘 Biar author rajin update nya..


__ADS_2