Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 28. Aku hanya kasihan


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Amayra termenung melihat kotak ponsel mahal di tangannya yang diberikan oleh Satria. Dia mengekori Satria dari belakang. Dia menawarkan suaminya untuk makan malam, atau mau mandi terlebih dahulu. Karena Amayra mencium ada bau darah cukup menyengat dari tubuh suaminya.


Bram melihat mereka dari belakang, dia tidak nyaman mendengar obrolan kedua orang itu. Kemudian dia kembali ke dalam kamarnya. Amayra dan Satria juga pergi ke kamar bersamaan, mereka baru beberapa hari menikah dan keadaan diantara mereka berdua masih canggung. Anna yang tadinya berada di kamar Satria, langsung pergi keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya.


"Apakah benar-benar tercium bau darah dari tubuhku? Apa itu sangat menyengat?" tanya Satria sambil mengendus bau tubuhnya.


"Iya kak, lebih baik kakak mandi dulu." Saran Amayra pada suaminya untuk mandi terlebih dahulu.


"Apa kamu tidak merasa mual? Apa hari ini kamu tidak banyak mual?" tanya Satria pada istrinya.


"Ehm.. enggak, aku gak apa-apa. Mencium bau darah di tubuh kakak juga tidak mual tuh!" Amayra menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aneh, tadi aku mual-mual di dekat om Bram. Tapi di dekat kak Satria, aku baik-baik saja. Amayra mengerutkan keningnya, dia terlihat bingung.


Perlahan senyuman tipis terlihat di bibir Satria, ketika dia melihat wajah polos dan cantik di depannya itu. Senyuman Satria membuat Amayra membalasnya dengan senyuman.


Eh, apa barusan aku tersenyum?


Satria kebingungan, dia langsung memalingkan wajahnya begitu sadar kalau bibirnya tersenyum dan Amayra tersenyum juga padanya. Apa ini yang namanya canggung? Tapi kenapa?


Tanpa sadar ada Amayra disana, Satria membuka bajunya begitu saja. Hal itu membuat Amayra berteriak, dia baru pertama kali melihat tubuh telanjang dada milik suaminya. Sebelumnya dia pernah melihat tubuh telanjang dada, saat Bram mengambil kehormatan nya.


"Akhhhhhh!!" Kedua tangan nya menutup kedua matanya, dia memekik keras.


"Ada apa?" Satria membalikkan badannya, dia melihat gadis yang sedang menutup matanya itu.


"Ka-kakak kenapa buka baju disini?" tanya Amayra tergagap, dengan wajah polosnya.


"Ini kan kamarku, wajar kalau aku membuka baju ku disini." jawab Satria dengan bibir yang mengerucut.


"Ta-tapi kan bisa di buka di kamar mandi? Kenapa di buka disini?" tanya Amayra yang masih menutup matanya.


"Karena aku biasa membukanya disini."


"Tapi kan aku wanita!" Seru Amayra protes.


"Lalu?" Satria masih melanjutkan membuka bajunya. Diam-diam dia tersenyum melihat wajah malu-malu yang merona itu.


Ide licik muncul di kepalanya, Satria semakin dekat pada Amayra yang masih berdiri di depan ranjang dengan menutup matanya.

__ADS_1


Mengapa dia terlihat menggemaskan? Ah, apa aku goda saja dia ya?


"Kakak kan pria!"


"Terus apa? Aku pria dan kamu wanita? Apa hubungannya dengan tidak boleh ganti baju?" tanya Satria pura-pura tidak paham.


"I-itu.. kita kan.. pria dan wanita.." Amayra kebingungan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan rasa malunya melihat pria telanjang dada di depannya.


"Apa? Bukankah kamu bilang sendiri kalau kita ini suami istri? Kalau suami istri, apakah tidak boleh aku sebagai suami ganti baju di depan istriku sendiri?" Goda Satria sambil tersenyum dan mendekati Amayra.


Deg!


Mendengar kata-kata Satria, membuat Amayra terpana. Apalagi saat kata istriku disebut di dalamnya. Hati Amayra berdebar-debar, dia langsung membuka matanya.


Jantungnya semakin berdebar ketika dia melihat dada yang sixpack berada di depannya. Dada sixpack itu adalah milik suaminya. "Masyaallah.." ucap nya terpesona, dia mengagumi otot-otot itu. Beberapa saat kemudian, "Astagfirullahaladzim!!"


Apa yang kamu lakukan Amayra? Ya Allah mataku sudah berdosa!


Amayra tersentak kaget, dia seperti sudah melakukan dosa besar melihat tubuh pria telanjang seperti itu. Satria tersenyum, dia mengelus kepala Amayra yang ditutupi oleh hijab itu. "Kamu seperti melihat hantu saja. Sudahlah aku mau mandi dulu, kamu cepatlah tidur.. jangan lupa minum vitamin nya." ucap Satria perhatian pada Amayra.


Aku seperti menjaga anak kecil saja. Perasaan ini sama seperti aku menjaga keponakan ku, kan?


"I-iya kak." jawab Amayra sambil tersenyum bahagia.


"Ti-tidak, kita tidak usah tidur terpisah. Apa kata papa dan yang lainnya kalau kakak tidur terpisah dengan ku." Amayra menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.


"Baiklah, aku akan tidur di kamar ini dan hanya di sofa. Tapi, tidak apa-apa kalau kamu membuka kerudung mu saat tidur. Bukankah tidak apa-apa kalau kamu membuka kerudung di depan suamimu?" tanya Satria pada istrinya.


"Iya itu benar." jawab Amayra mengangguk.


"Hem, aku mandi dulu."


Setelah Satria selesai mandi, Amayra ingin menyiapkan makan malam. Tapi Satria melarangnya karena dia sudah makan malam bersama dokter Clara. Mendengar Satria menyebutkan nama seorang wanita, membuat Amayra penasaran. Dia memberanikan diri untuk bertanya siapa Clara itu. Satria menjawab kalau Clara adalah dokter magang yang berada dibawah bimbingan nya. Mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu berdua karena bekerja di rumah sakit yang sama dan departemen yang sama.


Entah kenapa Amayra merasa sedih mendengar Satria yang terasa dekat dengan wanita itu. Meski Amayra tidak melihatnya langsung, tapi dia sudah merasa tidak nyaman. Amayra bingung dengan perasaannya sendiri.


"Kamu sudah selesai bertanya? Jadi, sekarang..apa kamu sudah bisa tidur?" tanya Satria yang akan segera mematikan lampunya.


"Hem, iya." jawab gadis itu sambil cemberut dan menarik selimutnya.


Apa kak Satria ada hubungannya dengan wanita itu? Apa dia punya kekasih atau dia punya seorang yang dia cintai sebelum menikah denganku? Aku ingin bertanya tapi aku takut dengan jawaban nya. Kata gadis itu di dalam hatinya.

__ADS_1


Kenapa dia cemberut? Apa ku mengatakan sesuatu yang salah? Ah sudahlah!


TAK!


Lampu kamar itu dimatikan, kemudian mereka tidur di tempat masing-masing. Amayra tidur masih memakai hijabnya, karena dia masih malu dengan pria asing di dalam kamarnya. Amayra resah, dia memikirkan dua orang pria yang sedang tidur di sofa itu dan satunya lagi adalah ayahnya.


πŸ€Satu bulan telah berlalu, sejak Bram bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan nya sendiri dan menjadi pembantu di rumahnya. Bram bersusah-susah untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari ayahnya.


Mual-mual Amayra juga masih sama, ketika dia melihat Bram terlihat di sekitar nya. Satria dan dokter kandungan yang dibawanya beranggapan bahwa itu adalah bawaan bayi. Pada suatu pagi di hari minggu, Amayra sudah membuat kue untuk dijual ke toko Bu Melati seperti biasanya. Hari itu dia berniat pergi mengunjungi ayahnya juga.


"Non, sudah siap?" tanya Dewi sambil memegang keranjang kue ditangannya


"Iya Bi. Aku pamit sama mama Nilam dulu." jawab Amayra sambil tersenyum.


Amayra pergi menghampiri Bu Nilam yang sedang bersantai di ruang tengah. "Ma, aku berangkat dulu ya?" Dia mengambil tangan Bu Nilam dan hendak menciumnya. Tapi wanita itu menepis tangannya seperti biasa.


Bram melihat perlakuan ibunya pada Amayra. Selama satu bulan itu dia mulai merasa kasihan pada ibu dari bayinya.


"Assalamualaikum ma!" ucap Amayra walau salam nya tidak pernah di jawab.


Ketika Amayra akan pergi, dia berpapasan dengan Alexis yang akan mengajak tunangan nya untuk jalan-jalan. Dengan sengaja Alexis mendorong Amayra hingga jatuh.


BRUGH!


Kedua mata Bram membulat melihat hal itu, dia langsung buru-buru turun dari atas tangga.


"Astagfirullah!" ucap Amayra sambil memegang perutnya, dia takut kalau bayi yang baru berusia 2 bulan itu kenapa-napa.


"Upss, maaf gak sengaja." Alexis tertawa sinis melihat Amayra jatuh ke lantai.


Bram menghampirinya Amayra dan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Amayra melihat wajah pria yang akan membantunya itu. Amayra langsung menolak dan menepis tangan Bram. "Saya bisa berdiri sendiri!" ucap Amayra sambil berdiri sendiri, satu tangannya masih memegang perutnya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau dibantu. Sombong sekali!" gumam Bram ketus.


Bram, kenapa kamu peduli padanya? Tidak, ini bukan peduli tapi kasihan. Kamu hanya kasihan padanya.


Alexis memegang tangan Bram, dia tersenyum, "Sayang, aku datang! Kita jalan-jalan yuk!"


"Iya sayang." Jawab Bram dengan nada datar, dia melihat Amayra yang berjalan pergi menjauh dari sana.


Apa dia dan bayinya baik-baik saja? Bram penasaran karena dia melihat Amayra memegang perutnya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2