Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 91. Kembali ke rumah lama


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bram panik mendengar Rey terus menangis, sedangkan dia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyeduh susu formula. Niat hati ingin bertanya pada Nilam bagaimana caranya, tapi dia malu bertanya. Akhirnya dia membuka ponselnya, mencari cara di YouTube bagaimana cara menyeduh susu formula.


"Ooh..cuma begini saja, mudah!" Bram tersenyum dengan bibir membulat dan sedikit anggukkan kepala. Dia mulai mempraktekkan apa yang dilihatnya di YouTube. Mempraktekkan menyeduh susu formula yang baik dan benar. Pertama-tama Bram menuangkan sedikit air hangat pada botol itu, kemudian dia menuangkan susu formula 2 sendok, lalu terakhir dia menuangkan air dingin ke dalamnya.


Susu formula yang dituangkan dengan buru-buru itu, berhamburan ke atas meja. Segera Bram mengocoknya, kemudian dia memastikan air susu itu panas atau tidak. Bram sampai merasakannya dulu, meski dia sebenarnya sangat tidak suka meminum susu. "Ternyata begini rasanya meminum susu bayi, inilah sebabnya aku tidak suka susu. Setiap minum susu, aku selalu mual.. bwee.." Bram menjulurkan lidahnya.


"Sayang, minum susu dulu ya. Terus bobo, besok papa kak kerja.. anak papa baik kan?" Bram menghampiri Rey yang masih menangis. Dia menggendong Rey dengan hati-hati. "Uwee... uweee.."


Bram mendongakkan tubuh Rey sedikit, dia memposisikan Rey untuk nyaman didalam gendongannya. "Ini sayang, minum ya.." ucap Bram seraya memberikan botol dot berisi susu formula itu kepada mulut mungil Rey.


Rey langsung meneguknya dengan cepat, Bram masih menggendongnya dengan lembut. Bayi itu juga terlihat nyaman dengan Bram. "Uhh.. anak papa haus ya? Minumnya pelan-pelan ya sayang, jangan sampai tersedak," pria berusia hampir 31 tahun itu tidak pernah sebahagia ini dalam hidupnya. Tanpa sadar dia meneteskan air mata, dia teringat apa yang dikatakan ustad Arifin kepadanya.


Apa aku harus melupakan kamu Amayra?


#Flashback


Kemarin malam saat Bram selesai acara Aqiqah dia mengantar pulang ustadz Arifin ke tempat acara ceramah lainnya. Didalam perjalanan itu, Bram mengajak ustadz Arifin untuk mengobrol.


"Pak ustadz, maaf sebelum saya ingin izin bertanya," ucap Bram sambil menyetir mobil.


"Oh ya, silahkan pak Bram." ustad Arifin tersenyum ramah, mempersilakan Bram untuk bertanya.


"Sebenarnya pertanyaan saya banyak. Tapi saya akan bertanya satu saja dulu," ucap Bram. "Pak ustadz bagaimana agar caranya agar saya menjadi orang baik?"


Ustadz Arifin terperangah mendengar pertanyaan Bram, kemudian dia tersenyum. "Maaf, orang baik dalam konteks apa pak Bram? Ibadah kah atau ada hal lain yang mendasarinya?" ustadz Arifin bertanya.


"Saya ingin menjadi orang yang baik dalam hal beribadah, mendalami agama dan juga meluluhkan hati seseorang yang saya cintai," ucap Bram dengan mata yang memancarkan duka dan harapan.


"Saya tanya dulu kepada bapak Bram, apa alasan yang mendasari bapak ingin menjadi orang baik?" tanya ustad Arifin pada pria itu.


Bram menghela napas, "Saya ingin terlihat baik didepan orang yang ingin saya luluhkan hatinya itu," jawab Bram jujur dari dalam lubuk hatinya.


"Jadi alasan bapak ingin menjadi baik, karena pak Bram ingin meluluhkan hati wanita itu?" tanya ustadz Arifin.


Bram tersenyum pahit, kemudian dia menjawab, "Benar,"


"Maafkan saya pak, sepertinya dari niat saja bapak sudah salah. Menjadi orang baik karena ingin meluluhkan hati seseorang, menurut saya itu bukan hal yang benar. Orang yang bapak sukai, hanya bisa menjadi motivasi bukannya alasan agar bapak menjadi orang baik," jelas ustad Arifin, yang intinya mengatakan kalau niat Bram menjadi baik karena seorang wanita adalah salah.


"Maksud pak ustadz apa ya? Saya tidak paham apa yang pak ustad maksud?" Bram bertanya lagi pada ustad itu, dia tidak bisa mencerna dengan baik apa yang dijelaskan oleh ustad Arifin kepadanya.


"Pak Bram...ubahlah niat anda menjadi lebih baik karena Allah, bukan karena seorang manusia. Jika bapak ubah niat bapak berubah menjadi lebih baik karena Allah, insya Allah..bapak akan mendapatkan sebuah berkah yang tidak terduga. Apa bapak tau kisah nabi Yusuf as dan Zulaikha?" tanya ustad Arifin kemudian.


"Sa-saya hanya tau bahwa Zulaikha menggoda nabi Yusuf," Bram terlihat ragu-ragu, dia hanya tau kisah nabi-nabi pada saat dia masih kecil saja.


"Hem...apa bapak tau akhir kisah nabi Yusuf dan Zulaikha bagaimana?" tanya lagi pak ustad pada Bram.


"Mereka saling membenci dan berpisah, kan?" tanya Bram dengan ragu-ragu.


"Ternyata bapak benar-benar tidak tau ceritanya. Nabi Yusuf dan Zulaikha, akhirnya mereka menikah," jawab ustadz Arifin.


"Apa pak ustad serius?"


Bram tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ustad Arifin padanya. Bagaimana bisa nabi Yusuf bersama dengan Zulaikha, wanita yang pernah menggodanya? Dia sendiri bahkan tidak tahu kisahnya seperti apa dan lupa-lupa ingat.


Ustad Arifin pun menceritakan secara singkat kisah nabi Yusuf as dan Zulaikha. Dari mulai awal pertemuan, Zulaikha yang menggoda nabi Yusuf, bahkan sampai menjatuhkan fitnah karena cintanya pada nabi Yusuf tidak terbalas. Nabi Yusuf as dipenjara, namun takdir Allah berkata lain. Setelah nabi Yusuf dibebaskan, takdir berbalik dengan Zulaikha. Nabi Yusuf menjadi pejabat kemudian pengganti raja, sedangkan Zulaikha telah kehilangan segala miliknya. Saat itulah Zulaikha mulai dekat dengan Allah dan berdoa setulus hatinya, tak lama kemudian dia kembali dipertemukan dengan nabi Yusuf as. Mereka ditakdirkan untuk berjodoh dan menikah.

__ADS_1


"Nah, menurut bapak apa yang bisa kita petik dari cerita ini?" tanya ustad Arifin pada Bram.


"Apa karena Zulaikha mulai dekat dengan Allah?" tanya Bram yang belum paham apa maksud cerita itu dengan baik.


"Intinya.. jika niat bapak berubah, tulus karena Allah SWT. Insya Allah akan ada jalan untuk bersama, awalnya Zulaikha jauh dari Allah dan dia tidak mendapatkan cinta nabi Yusuf. Namun ketika Zulaikha niatkan hatinya untuk dekat bersama Allah, beribadah kepada-Nya, lalu Allah mendekatkan nabi Yusuf kepadanya,"


"Jadi maksud pak ustad, jika saya berdoa dengan tulus dan meniatkan dari dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik karena Allah taala, maka Allah akan mendekatkan orang yang cintai pada saya?" tanya Bram mulai memahami ucapan ustad Arifin sedikit demi sedikit.


"Maafkan saya pak Bram, itu benar. Tapi semuanya tergantung jodoh dan takdir dari yang maha kuasa. Intinya niatkan dulu perubahan anda karena Allah taala bukan karena seorang manusia, kalau kalian berjodoh.. Allah pasti akan mendekatkan kalian. bagaimana pun caranya," jelas pak ustadz pada Bram.


Perkataan ustad Arifin membuat Bram berfikir keras. Niatnya berubah memang karena Amayra, bukan karena Allah SWT. Maka dia akan mengubah niatnya menjadi karena Allah SWT.


Pak ustadz itu memberikan Bram buku-buku tentang Islam, namun alangkah baiknya jika Bram mau belajar langsung tentang Islam secara langsung bukan hanya dari buku saja. Bram pun membuat janji temu dengan ustad Arifin.


#End Flashback


"Sejak awal niat papa salah nak, mulai sekarang papa akan mengubah niat papa. Melihat kamu dan mama kamu bahagia, itu sudah cukup untuk papa. Dan perubahan ini, papa lakukan karena Allah SWT." Bram menangis, dia teringat semua dosa-dosanya pada Amayra dan Rey. Apalagi saat Rey masih berada didalam kandungan ibunya, Bram sama sekali tidak mempedulikan mereka. "Maafkan papa ya nak, papa sudah sangat berdosa. Sempat berfikir bahkan menyuruh mama kamu untuk menggugurkan kamu, sama saja dengan papa membunuh kamu...maafkan papa ya Rey, doakan papa untuk istiqomah dalam berhijrah." ucap Bram pada bayi kecil yang masih belum mengerti banyak hal. Bram menyeka air matanya, dia hanya berharap melihat Amayra dan Rey bahagia, dia berniat untuk memulai hidup yang baru.


Malam itu Bram berada dalam siklus bangun-tidur karena menjaga anaknya. Bram lakukan sebaik mungkin, Rey juga tidak rewel seperti saat pertama kali Bram menggendongnya. Pagi harinya, Bram menyerahkan Rey pada Nilam karena ia harus pergi bekerja ke kantor.


...🍁🍁🍁...


.


.


Setelah menjalani perawatan 2 hari di rumah sakit, akhirnya Amayra kembali pulang setelah keadaannya membaik. Dia sudah sangat rindu pada Rey.


Satria mengantar Amayra ke rumah Calabria, "Assalamualaikum," ucap Amayra dan Satria bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Nilam yang sedang menggendong Rey.


"Baik, kamu udah pulang? Apa kata dokter? Kamu sakit apa? Nular gak?" tanya Nilam sarkas.


"Mayra gak apa-apa ma, bukan penyakit menular. Dia cuma kecapean aja," jawab Satria dengan nada ketus pada Nilam.


Mama belum berubah juga.


"Kakak, gak boleh gitu ah sama mama," ucap Amayra sembari melirik ke arah suaminya.


Nilam menyerahkan Rey pada Amayra setelah yakin bahwa menantunya itu tidak mengidap penyakit yang menular. Amayra menggendong anaknya, dia tersenyum dan menatap penuh kasih sayang. Amayra, Rey dan Satria berada di kamar mereka. "Assalamualaikum sayang, mama udah pulang nih? Kamu sehat-sehat kan?" tanya Amayra pada putranya itu. "Tidak bertemu sama kamu 49 jam, rasanya seperti 49 tahun tidak bertemu," ucap Amayra pada Rey.


Baby Rey tersenyum dengan bibir yang mengerucut gema, dia menatap ibunya dengan kedua mata polosnya. "May, sini biar aku gendong Rey.. kamu makan dulu ya."


"Gak apa-apa kak. Kakak terus terusan menyuruh ku makan, kakak sendiri belum makan kan?" Amayra balik bertanya, dia merasa belum melihat Satria makan.


"Aku sudah sarapan," jawab Satria berkilah, tak mau ditanya soal makan.


"Itu kan sarapan, bukan makan siang. Apa kakak mau aku buatkan makan siangnya?" tanya Amayra menawarkan pada suaminya.


"Tidak perlu! Aku kan menyuruhmu makan, kenapa kamu malah menyuruhku makan?" tanya Satria heran.


"Aku akan makan kalau kakak makan juga," jawab Amayra dengan bibir mengerucut.


Satria tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya dia resah bagaimana caranya dia bicara pada Amayra tentang kepergiannya ke Afrika. "Kak Satria? Kok diam saja? Ayo makan dulu," titah Amayra melihat suaminya melamun.


"Aku mau makan, tapi makan kamu," tangan Satria membelai pipi sang istri dengan lembut.

__ADS_1


Amayra menatap suaminya dengan cemas. Dia heran melihat Satria yang sering melamun akhir-akhir ini. Setiap ditanya pasti Satria akan menjawab tidak apa-apa.


Siang itu mereka makan bersama di rumah Calabria sebelum kembali ke rumah mereka. Saat makan siang bersama Nilam, Satria berbicara pada mamanya tentang kepulangan mereka.


"Jadi kamu dan istri kamu mau pulang kembali ke rumah kamu?" tanya Nilam sambil mengambil air minum didalam gelas.


"Ya ma, Satria udah bilang sama papa. Papa juga sudah mengizinkan,"


"Baiklah, tapi gimana dengan istri kamu dan cucu mama? Kamu gak punya pembantu disana kan?" Nilam khawatir dengan keselamatan cucunya, karena dia tau Satria tidak punya pembantu rumah tangga yang bisa membantu Amayra mengasuh Rey.


"Ini juga yang mau Satria bicarakan sama mama, Satria mau bi Dewi ikut Satria ke rumah Satria dan membantu Amayra di rumah," jelas Satria mengutarakan niatnya untuk membawa Dewi ke rumahnya.


"Maksud kamu, Dewi bekerja disana?" tanya Nilam sambil menaikan alisnya.


"Iya ma, itupun kalau mama setuju. Dewi bekerja pada pagi dan siang atau saat Satria gak ada di rumah saja," jawab Satria.


"Oke, bawa saja dia. Karena Rey bisa tenang sama Dewi," ucap Nilam setuju, sambil menghela napas.


"Makasih ma," jawab Satria sambil menghabiskan makanannya dengan wajah lesu.


"Oh ya Satria, boleh kan nanti mama berkunjung ke rumah kamu untuk bertemu Rey?" tanya Nilam.


"Boleh ma," jawab Satria cepat.


Aku harus gimana ya Allah, May..Rey..


Nilam langsung bicara dengan Dewi tentang pekerjaan ekstranya di rumah Satria. Dewi tidak keberatan, dia senang bisa membantu Amayra dan Satria untuk menjaga Rey ataupun sekedar beres-beres rumah.


Sore itu setelah Amayra bangun dari tidur siangnya. Satria mengajaknya dan Rey kembali pulang ke rumah. Satria terlihat galau dan tidak fokus, tapi setiap Amayra bertanya Satria selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Satu Minggu telah berlalu, Satria masih belum mengatakan soal kepergiannya ke Afrika. Dia masih galau dan sering melamun.


Sepulang kerja saat malam hari, Satria masih terlihat resah. Memikirkan ucapan dokter Daniel dan keputusan dokter Candra yang tidak bisa diganggu gugat. Sepulang dari Afrika, Satria akan mendapatkan jabatan sebagai dokter bedah senior.


"Kak.." panggil Amayra pada suaminya sambil membawa segelas teh hangat. Satria sedang melamun memandangi langit malam di luar rumah.


"Ya May?" Satria membalikkan badannya, dia melihat Amayra berada tepat dibelakangnya.


"Ini teh buat kakak," jawab Amayra.


"Aku tidak minta teh," ucap Satria sambil mengambil gelas berisi teh panas itu dari tangan sang istri.


"Iya aku tau, aku membuatkan kakak teh hangat. Karena aku melihat kakak selalu resah akhir-akhir ini, ada apa kak? Jangan bilang gak apa-apa, karena aku yakin pasti ada apa-apa," Amayra mengajak suaminya bicara tentang apa yang dialaminya. Keningnya berkerut memandangi sang suami dengan cemas.


"May, aku..." Satria memandang istrinya dengan ragu.


"Ya, apa kak? Apa ini...masalah pekerjaan?" tanya Amayra menebak.


"Benar, ini masalah pekerjaan." jawab Satria sambil mengangguk.


"Lalu apa masalahnya kak? Aku khawatir kakak terus melamun, aku takut kakak sakit karena kakak kadang melewatkan makan, aku-" Amayra menatap suaminya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Maaf ya, aku membuat kamu sampai menangis seperti ini. Aku tidak bermaksud membuat kamu cemas, aku hanya ingin mengatakannya disaat yang tepat saja," Satria menyeka air mata yang berlinang dibawah mata Amayra.


GREP!


Kemudian Satria memeluk istrinya dengan galau. "Kak Satria," lirih lembut Amayra.


"May, malam ini boleh ya?" Satria menatap sang istri dengan tatapan nanar. Seperti tidak kuat lagi menahan sesuatu.

__ADS_1


...----****----...


Hai Readers 😍 selamat datang hari Senin, buat yang mau kasih vote, gift, boleh kok ❤️❤️ makasih buat dukungan kalian, like komen selalu dinanti. Mohon maaf komennya tidak terbalas semua ya 🥺


__ADS_2